
Tsamara saat ini berharap wanita yang sudah bekerja selama puluhan tahun di keluarga Dirgantara tersebut dan menjadi orang kepercayaan mertua, bisa membantunya untuk mengawasi Zafer.
Kini, Tsamara memilih untuk menelpon karena berpikir bahwa itu jauh lebih cepat daripada turun karena tidak bisa berlari akibat kakinya yang cacat.
"Iya, Nyonya Tsamara. Apa ada yang Anda butuhkan sekarang?"
"Tolong suruh orang untuk mengikuti suamiku dan awasi ke mana perginya karena ini darurat. Suamiku bisa menghabisi nyawa seseorang saat sedang dikuasai oleh amarah."
Bahkan saat membayangkan hal itu, Tsamara merasa sangat khawatir pada keadaan sang suami ketika pergi dengan wajah memerah dan dikuasai oleh kemurkaan.
"Suruh supir untuk mengikuti suamiku dari belakang. Aku benar-benar sangat khawatir jika terjadi pertumpahan darah," seru Tsamara yang saat ini tidak bisa menyembunyikan rasa khawatir ketika berbicara dengan kepala pelayan.
Tidak ingin banyak bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada majikan, wanita paruh baya tersebut segera melaksanakan perintah dengan mencari sopir dan berharap belum pergi jauh dari rumah.
"Anda tenang saja karena sekarang saya akan langsung menyuruh sopir untuk mengikuti tuan Zafer kemanapun pergi."
"Terima kasih."
Tsamara saat ini langsung mematikan sambungan telpon dan segera menuju para ahli IT karena ingin menceritakan semuanya pada wanita yang baru saja di telpon tadi.
Tsamara benar-benar berharap jika hari ini tidak akan terjadi sesuatu hal buruk pada Zafer, Rayya dan pria yang menjadi selingkuhan.
"Tuhan, lindungi semua orang agar tidak terjadi hal buruk pada mereka semua." Tsamara yang sudah mengarahkan kursi roda ke dalam lift, kini menunggu hingga turun ke lantai dasar.
Kemudian mencari kepala pelayan untuk mencari tahu apakah sopir sudah mengikuti sang suami ketika pergi dari rumah dengan perasaan dipenuhi oleh luapan kemurkaan.
Sementara itu beberapa saat lalu, Zafer yang langsung masuk ke dalam mobil dan mengemudikan meninggalkan area rumah, menghubungi ahli IT di perusahaan dan menanyakan alamat dari rumah pria yang baru saja menelpon dan membuatnya benar-benar sangat murka.
__ADS_1
Zafer sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan Rayya berselingkuh, satu-satunya yang dipikirkan hanyalah merasa bersalah pada orang tua yang dilawan hanya demi bisa menikahi wanita seperti itu.
Satu hal lagi adalah merasa bersalah pada anak kembar yang merupakan benihnya dan saat ini sudah ternoda karena perbuatan era yang bercinta dengan pria lain.
Beberapa kali terlihat Zafer mengempaskan tangan pada kemudi untuk melampiaskan amarah. "Dasar bodoh!"
"Seharusnya kau bisa menebak jika semua ini akan terjadi karena dari dulu Rayya suka berganti-ganti pasangan di atas ranjang. Bahkan orang tuaku juga mengetahui hal ini dan menasehatiku agar tidak bersama Rayya, tapi tidak pernah kudengarkan dan sekarang berakhir seperti ini."
Wajah Zafer saat ini masih memerah karena dikuasai oleh kemurkaan dan sekaligus penyesalan karena merasa sangat bersalah pada orang tua yang telah meninggal.
"Papa, mama, maafkan putramu yang tidak berguna ini. Kalian pasti saat ini sedang menangis melihat kehancuranku. Jika aku mendengarkan perkataan kalian, tidak mungkin hal ini akan terjadi."
Zafer benar-benar merasa berdosa karena selalu mengulang hal yang sama. Bahwa selama ini Zafer menyesal ketika semuanya sudah terjadi dan tentu saja tidak berguna sama sekali.
Bahwa penyesalan tidak akan berguna ataupun mengubah kenyataan yang sudah terjadi.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Rayya dan mengetahui apa yang akan dikatakan padaku setelah berselingkuh. Aku akan membebaskan viral berbuat apapun."
Zafer saat ini berusaha untuk menenangkan diri seperti yang dikatakan oleh Tsamara agar tidak dikuasai oleh amarah saat berhadapan dengan Rayya dan selingkuhan.
Hingga memilih untuk fokus mengemudi dan mendengar suara notifikasi dari ponsel yang sudah memberikan alamat apartemen pria selingkuhan Rayya.
Kemudian ia langsung menuju ke arah alamat yang dikirimkan oleh ahli IT di perusahaan.
Sementara itu di sisi belakang, ada seorang pria yang tengah mengikuti dari tadi semenjak keluar dari rumah karena mendapatkan tugas untuk menyingkirkan pria itu.
Begitu tadi mengetahui jika pria tersebut sudah keluar dari rumah, menghubungi seseorang yang bertugas melakukan eksekusi dengan cara menabrak kendaraan yang dikemudikan oleh Zafer.
__ADS_1
Bahkan menyuruh pria itu untuk mengkonsumsi minuman beralkohol terlebih dahulu agar dianggap sebagai kelalaian, bukan usaha untuk melenyapkan nyawa seseorang.
Setelah mengetahui bahwa orang suruhannya langsung mengiyakan dan berangkat, mengirimkan jalur yang dilalui oleh pria itu.
Pria yang dari tadi masih terus mengikuti di belakang, seolah akan menjadi penonton dari eksekusi yang dilakukan.
Apalagi saat ini kendaraan yang dikemudikan oleh pria itu melaju dengan sangat kencang dan tentu saja lebih memudahkan untuk dianggap sebagai kecelakaan jika nanti ditabrak oleh rekannya.
Hingga beberapa saat kemudian tersenyum menyeringai begitu mendapatkan pesan bahwa saat ini orang suruhannya sudah melihat mobil pria incarannya dan akan mencari celah ketika berada di tempat yang sesuai untuk dilakukan eksekusi.
Sementara itu, Zafer yang saat ini masih mengemudikan mobil dan hampir saja tiba di sekitar area apartemen, berbelok di persimpangan dan merasa sangat terkejut ketika mobilnya dihantam oleh sebuah truk dari bagian samping kanan.
Hingga saat berusaha untuk menghindar, sudah tidak sempat dan mobil yang dikendarai olehnya terhempas sangat kuat ketika ditabrak dan menghantam pembatas jalan.
Saat ini, ia yang merasakan sakit luar biasa ketika mendapatkan hantaman dari sebuah truk, memejamkan mata dan berpikir bahwa hari ini adalah akhir dari hidupnya.
Bahkan ia saat ini bisa melihat kilasan balik dari seluruh perjalanan hidupnya. Zafer kini tersenyum karena berpikir bahwa kecelakaan yang menimpanya akan membuatnya bisa bertemu dengan orang tua.
"Papa, mama, aku datang dan kita akan berkumpul bersama di sana," lirih Zafer yang saat ini memejamkan mata dengan darah yang sudah mengalir di setiap sudut tubuh dan kepalanya.
Hingga kesadaran perlahan menghilang dan tidak lagi bisa melihat apapun karena semuanya terasa gelap.
Sementara itu di sisi berbeda, seseorang yang tak lain adalah orang yang bertugas untuk mengawasi supir truk ketika melakukan eksekusi, kini langsung menghubungi seseorang untuk melaporkan.
"Halo, Bos. Target sudah tepat sasaran dan kita tinggal menunggu kabar kematiannya. Supir truk langsung menyerahkan diri dan semuanya tidak akan ada yang curiga."
"Bagus! Awasi sampai mendapatkan kabar baik tentang kematiannya," seru Raymond dari seberang telpon dan tersenyum menyeringai karena merasa senang saat rencananya berhasil.
__ADS_1
To be continued...