
Zafer yang tadinya merasa sangat emosi ketika melihat apa yang dilakukan oleh Rey karena seperti sangat sombong dengan membanggakan diri akan menang di pengadilan saat melawan keluarga Dirgantara.
Padahal tadi ingin kembali meluapkan amarah dengan cara meninju wajah pria yang dianggap hanya memancing emosi tersebut.
Namun, melihat perbuatan sang ayah yang langsung mengusir pria itu, akhirnya tidak jadi melakukan dan mendengar suara Rayya ketika membahas mengenai masa lalu Tsamara.
Entah mengapa, Zafer merasa tidak suka ketika melihat Rayya yang menyindir wanita di atas pembaringan dengan wajah pucat tersebut.
Apalagi ketika beralih menatap ke arah sang ibu, mendapatkan tatapan tajam mengintimidasi karena merasa harus menghentikan ulah Rayya saat membuat situasi memanas, akhirnya memilih Untuk menghentikan.
"Lebih baik kita pulang sekarang karena kamu harus istirahat dan tidak boleh lelah maupun berpikir hal tidak perlu. Buat apa kamu ingin tahu masa lalu orang lain yang sangat tidak penting?" Zafer bahkan sudah meraih pergelangan tangan kiri Rayya agar mau segera meninggalkan ruangan perawatan VIP tersebut.
Zafer ingin membiarkan sosok wanita di atas pembaringan tersebut menenangkan diri. Apalagi saat ini melihat wajah pucat dari Tsamara yang seperti seseorang yang sangat ketakutan akan kehilangan sesuatu berharga.
Tentu saja sangat mengetahui bahwa saat ini antakut kehilangan Keanu dan berpikir orang tua bisa menghibur wanita itu, tetapi harus mengajak Rayya yang mungkin akan mengacaukan semua dengan kalimat pedas penuh rasa ingin tahu mengenai masa lalu kelam.
Sementara itu, Rayya yang saat ini menoleh ke arah pria dengan tatapan tajam, seolah menghentikan apa yang ingin dilakukan.
'Sebenarnya apa yang dilakukan Zafer? Kenapa sikapnya berubah total pada wanita cacat ini?'
'Ini benar-benar sangat meresahkan dan tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Jangan sampai rasa iba pada Tsamara yang dirasakan oleh Zafer menghasilkan perasaan suka dan berubah menjadi cinta. Itu tidak boleh terjadi dan aku tidak akan membiarkannya,' gumam Rayya yang saat ini memilih untuk berakting tersenyum dan bergelayut manja pada lengan kekar pria dengan tubuh tinggi tegap tersebut.
"Kamu memang sangat pengertian pada istri yang hamil. Suamiku sudah berubah menjadi pria yang bertanggungjawab dan siaga. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Kalau begitu, ayo kita pulang dan anak-anak kita ingin sang ayah menemani."
__ADS_1
Rayya beralih menatap ke arah Tsamara dengan tersenyum smirk penuh kemenangan. "Kamu harus segera sembuh dan kembali ke rumah, agar tidak bertemu dengan mantan suamimu karena mantan mertuamu dirawat di ruangan sebelah."
Kemudian berpamitan pada mertuanya dengan tersenyum simpul. "Papa dan Mama akan seharian berada di sini atau nanti malam pulang?"
"Mama yang akan menginap di sini untuk menjaga Tsamara," sahut Erina yang saat ini menoleh ke arah sang suami. "Sayang, kamu lebih baik pulang malam ini karena besok harus bekerja."
Sementara itu, Adam Dirgantara dari tadi tengah memikirkan mengenai jalan yang akan ditempuh untuk menghadapi pria yang baru saja diusir dari ruangan tersebut.
Dengan menganggukkan kepala tanda setuju, masih tidak membuka suara dan menatap ke arah Zafer karena ingin meminta bantuan dari putranya. Namun, tidak ingin berbicara saat ada Rayya karena khawatir jika wanita itu tidak setuju ataupun marah.
"Kalian pulang saja sekarang karena tidak dibutuhkan di sini," ujar Adam Dirgantara yang akhirnya mengakhiri kecurigaan dari menantu kedua, agar tidak berpikir macam-macam pada Tsamara.
Apalagi Rayya kini mengetahui masa lalu kelam dari Tsamara yang bahkan ingin dilupakan oleh menantu pertama yang malang tersebut.
Zafer dan Rayya hanya bisa tersenyum masam begitu mendengar kalimat pengusiran dari pria paruh baya tersebut.
Zafer pun ingin menginterogasi Rayya untuk menanyakan mengenai Rey yang dianggap telah berbohong dengan mengatakan bahwa semua ini merupakan kebetulan.
Ia merasa yakin bahwa Rey sebenarnya sudah mengetahui bahwa Tsamara adalah menantu di keluarga Dirgantara, sengaja memata-matai dan memanfaatkan situasi dan kondisi, agar bisa terlihat seperti tidak sengaja bertemu dengan Tsamara.
'Semua kebetulan ini rasanya tidak masuk akal dan sepertinya Rey memiliki rencana matang yang sudah disusun semenjak dulu. Aku hanya membutuhkan bukti yang mungkin bisa ditemukan oleh detektif yang kusewa,' ucap sosok pria yang saat ini tengah berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan masuk ke dalam lift.
Tadi saat keluar dari ruangan, Zafer sempat menoleh ke arah sebelah kiri, di mana tadi Rey mengatakan jika sang ibu dirawat di sana.
__ADS_1
'Sepertinya ini pun bukanlah sebuah hal yang kebetulan. Sepertinya aku harus memastikan hal ini,' gumamnya yang saat ini baru saja melihat pintu lift terbuka.
Zafer menepuk pundak Rayya untuk berbicara sesuatu. "Kamu tunggu saja di parkiran. Aku ingin ke toilet sebentar karena sakit perut."
Kemudian berakting memegangi perut dan meringis menahan rasa sakit. Tanpa menunggu komentar dari Rayya, ia berlari menuju ke arah toilet yang tadi ada anak panah ke kiri.
Padahal sebenarnya ingin bertanya di ruang informasi mengenai keluarga Rey. Apakah dirawat di rumah sakit milik keluarga Dirgantara sebelum Tsamara dibawa ke sana atau sesudahnya.
Sementara itu, Rayya masih berdiri di dekat lift dan melihat siluet tubuh pria yang sangat dicurigai. Bahkan mengerutkan kening karena merasa jika Zafer hanya beralasan dan menipunya untuk pergi ke toilet.
'Kali ini, apa yang sedang kamu rencanakan di belakangku, Zafer? Sekali saja kamu berbohong padaku, aku akan membuatmu menyesal.'
'Baiklah, sekarang lebih baik aku mengikuti permainan suamiku dan akan bertindak jika sampai melakukan kesalahan,' gumam Rayya yang saat ini memilih untuk berjalan keluar dari lobby rumah sakit menuju ke parkiran seperti perintah yang diberikan oleh sang suami.
Sudut bibir Rayya melengkung ke atas begitu mengingat bahwa saat ini mempunyai kartu nama dari pria yang akan membantu untuk menyingkirkan Tsamara dari sisi Zafer.
'Takdir bahkan berpihak padaku dan akan kupastikan jika sebentar lagi wanita cacat itu akan menghilang selamanya dari keluarga Dirgantara. Hanya dengan cara bekerja sama, aku baru bisa membuat Tsamara menghilang dan tidak mengancam rumah tanggaku lagi.'
'Sepertinya tadi Rey ingin mengatakan pada Tsamara untuk kembali karena masih mencintainya. Jadi, aku akan membalas kebaikan pria itu dengan cara menyatukan mereka.'
Merasa di atas angin dan akan mendapatkan kemenangan dengan cara memisahkan Tsamara dari keluarga Dirgantara, Rayya tidak berhenti mengulas senyuman karena hari ini sangat senang.
"Aku hanya tinggal menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana." Rayya berbicara sambil membuka tas dan mengambil kartu nama milik Rey.
__ADS_1
"Namun, sebelumnya aku harus menghubungi Rey terlebih dahulu untuk bekerja sama dengan pria tampan itu." Rayya kini tersenyum smirk saat mendapatkan ide untuk menyingkirkan Tsamara dari sang suami.
To be continued...