
"Tentu saja tahu karena setelah Zafer menabrakmu dulu, aku langsung mencari tahu tentang semua hal yang berhubungan denganmu."
"Jadi, saat putraku datang dengan membawa bukti mengenai masa lalumu, aku sama sekali tidak terkejut." Adam Dirgantara selama ini merahasiakan tentang penyelidikan pada Tsamara.
Namun, karena hari ini membahas tentang keluarga Bagaskara, akhirnya memilih untuk membuka suara menanggapi. "Putraku berpikir aku akan terkejut setelah melihat apa yang ditunjukkan, tapi kenyataannya malah sebaliknya."
Refleks Erina ikut menyahut karena dari tadi mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang suami. "Bukan kita yang terkejut, yang merasakan hal itu karena kami sama sekali tidak menanggapi laporan Zafer."
Adam mengingat hari di mana putranya datang ke rumah sambil membawa berkas yang berisi tentang foto-foto masa lalu Tsamara.
"Saat itu, aku bisa melihat wajah Zafer yang dipenuhi oleh kemurkaan karena gagal dalam usahanya membuat kami membencimu."
"Tuan Zafer pasti sangat yakin bahwa kalian akan langsung mengusirku. Jadi, sangat kecewa begitu yang terjadi adalah sebaliknya." Tsamara beralih menatap ke arah putranya yang terlihat sangat lahap disuapi oleh mertua.
"Terima kasih, Pa karena menjadi sosok ayah bagiku setelah lama tidak merasakan kasih sayang orang tuaku yang telah lama meninggal. Di keluarga ini, aku merasakan seperti seseorang yang baru dilahirkan kembali."
"Seolah aku yang berdosa, mendapatkan tempat baru dan kalian mau menerimaku dengan tangan terbuka, tanpa melihat masa lalu kelamku. Sementara dulu, mertuaku sama sekali tidak menerimaku sebagai menantu."
Saat Tsamara mengingat tentang masa ketika hidup bersama dengan Rey saat diusir oleh sang ibu, hanya penderitaan yang didapatkan.
"Lebih baik lupakan saja pembahasan soal hal yang tidak perlu dibahas dan kita nikmati makanannya." Tsamara tidak ingin mengingat pria yang telah menyakiti hatinya. Jadi, memilih untuk melarikan diri dari pembahasan masa lalu.
Pasangan suami istri paruh baya itu bisa mengerti perasaan sang menantu saat ini ketika membahas tentang masa lalu. Jadi, mereka memilih untuk menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Kamu pun makan yang banyak. Jangan sampai bertambah kurus setelah menjadi menantu di keluarga kami. Itu akan menghina kami seperti tidak bisa memberimu gizi yang baik." Erina memilih untuk menguraikan suasana dengan sedikit bercanda.
Berharap suasana hati yang saat ini gelap dan kelam dari sang menantu, tidak bertambah pekat. "Meskipun tidak berselera, tetap saja harus makan karena jika tidak, hanya akan meninggalkan luka di dalam tubuh."
__ADS_1
Tsamara mengangguk perlahan dan kini mengambil sayur dan lauk setelah mengiyakan perintah dari mertua karena berpikir tidak ingin sakit dan membiarkan Keanu kurang merasakan kasih sayang.
Jadi, ia pun sudah menyuapkan makanan ke dalam mulut dan kini sudah sibuk mengunyah.
"Hingga beberapa menit kemudian, suara dari putranya mengalihkan perhatian.
"Kenyang." Keanu menunjuk ke arah gelas karena tangannya tidak bisa untuk sampai menggapai.
Refleks Tsamara langsung memberikan gelas berisi air pada Keanu. "Pelan-pelan, Sayang "
Bocah laki-laki tersebut pun langsung meneguk air dengan perlahan seperti yang dikatakan sang ibu.
Sementara itu, Tsamara mendengar suara bariton dari mertua dan melirik sekilas dan mengerutkan kening karena merasa ada hal penting yang akan disampaikan.
"Tsamara, ada sesuatu yang ingin kubicarakan mengenai niat Zafer untuk menikahi wanita itu." Adam Dirgantara kini memberikan kode pada sang istri untuk mengajak Keanu keluar dari ruang makan.
Sementara itu, Erina pun menuruti perintah dari sang suami dan berjalan menuju ke arah pintu keluar dan mempercayakan semua keputusan karena sebagai seorang wanita, tidak tega dengan nasib menantu yang sangat miris.
Adam sangat berat untuk mengatakan keputusan yang diambil setelah masalah Zafer menghamili wanita lain. "Aku akan memberikan dua opsi untukmu."
"Jadi, kamu bisa mempertimbangkan keputusan." Saat Adam Dirgantara tidak mendengar jawaban dari Tsamara karena terlihat serius mendengarkan, akhirnya memilih untuk melanjutkan.
"Zafer akan menikah siri dengan wanita itu dan ini akan dirahasiakan karena nama baik keluarga Dirgantara dipertaruhkan. Jadi, aku akan menyuruh putraku tidak mengatakan apapun pada publik mengenai Rayya. Sementara kamu adalah istri sah yang harus diketahui oleh semua orang."
"Apakah sampai di sini kamu paham?" tanya Adam Dirgantara yang saat ini menatap wanita malang dan sudah dianggap seperti putri kandung sendiri.
"Iya, Pa. Aku paham soal itu, tapi apakah tuan Zafer mau menuruti? Mungkin wanita itu pun akan tersisihkan. Aku tidak keberatan jika menjadi istri yang tidak dipublikasikan karena kondisiku seperti ini, pasti akan sangat memalukan dan akan menjadi perbincangan hangat di mana-mana."
__ADS_1
Tsamara menundukkan kepala untuk melihat kedua kaki yang cacat.
Sementara itu, Adam Dirgantara yang sama sekali tidak setuju dengan keinginan Tsamara karena akan bertambah berdosa dan mungkin tidak akan bisa hidup tenang.
"Tidak, semua orang akan melihat kelebihanmu. Bukan kondisi kakimu. Jangan berpikir jika semua orang akan mengejekmu. Justru kamu akan mendapatkan simpati dari semua orang dan itu akan membawa kebaikan pada putraku yang selama ini sudah jelek namanya."
Meskipun sebenarnya terkesan seperti memanfaatkan pernikahan sebagai alasan untuk memperbaiki nama baik putranya, Adam memilih untu menjadikan Tsamara wanita kuat yang tidak lemah.
"Aku sering melihat jika istri sah selalu kalah dari wanita simpanan atau istri siri, tapi tidak ingin kamu juga demikian. Jangan lemah dan membuat wanita itu merasa menang. Apakah kamu mengerti apa yang kumaksud?"
Tsamara bukanlah wanita bodoh yang tidak tahu tentang hal itu dan memikirkan bahwa jika mematuhi perintah dari mertua, tidak mungkin meninggalkan rumah ini karena merupakan istri sah.
"Apa Papa ingin mengatakan aku tidak boleh meninggalkan rumah ini?"
Adam Dirgantara menganggukkan kepala sebagai tanda setuju. "Bukan aku melarangmu tinggal di rumah utama, tapi jika kabar ini diketahui oleh publik, pasti akan menggemparkan."
"Bagaimana mungkin istri sah tinggal di rumah mertua, sedangkan wanita itu menguasai rumah ini bersama Zafer."
"Aku akan tetap menyuruh Zafer tinggal di rumah ini bersamamu. Biar Rayya tinggal bersama kami karena harus mengawasi. Apalagi sedang hamil dan butuh perhatian. Zafer hanya bisa menemui tanpa menginap. Itulah keputusanku. Apakah kamu setuju?"
Sementara itu, Tsamara kini masih bingung mengambil keputusan karena ragu sekaligus bimbang jika tinggal bersama pria yang sama sekali tidak mencintai dan membenci kehadirannya.
"Apakah aku boleh meminta waktu untuk berpikir, Pa?" Tsamara masih tetap ragu dan bingung untuk mengambil keputusan terbaik.
"Tentu saja karena aku tahu ini berat untukmu. Pikirkan baik-baik semuanya karena ini demi kebaikan sendiri. Malam ini, kamu tinggal saja di sini sampai mengambil keputusan. Mengenai Keanu, tenang saja karena aku akan menjamin semua, bahwa cucuku tidak akan melihat Zafer bersikap kasar padamu."
To be continued...
__ADS_1