
Tsamara saat ini merasa seperti tidak mempunyai muka di hadapan semua orang. Apalagi ketika membahas mengenai keturunan yang sama sekali tidak diinginkan karena berpikir hanya akan membuatnya hidup menderita.
Bukan merasa tidak bersyukur jika diberikan keturunan oleh Tuhan, tetapi posisi saat ini hanyalah sebagai seorang istri tidak diinginkan dan merupakan pelampiasan semata oleh pria di hadapannya tersebut.
Apalagi ia sangat mengetahui bahwa Zafer selama ini mencintai Rayya dan bahkan sebentar lagi akan memiliki keturunan kembar, sehingga berpikir tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan mereka.
Jika sampai hamil benih Zafer dan diketahui oleh Rayya, wanita itu akan marah dan sekaligus sakit hati padanya, sehingga hanya akan hidup tidak tenang atas kebencian istri kedua.
Apalagi mengetahui bahwa kebanyakan istri pertama selalu hidup menderita dan ia tidak ingin itu terjadi, sehingga berpikir untuk minum obat penunda kehamilan dan berharap Zafer setuju pada perkataannya nanti jika membahas mengenai masalah keturunan.
Saat ini, ia bisa melihat senyuman Zafer ketika melirik dan malah membuatnya merasa sesak napas sekaligus kesal atas sikap kekanakan dan juga mesum dari pria dengan postur tubuh tinggi menjulang di hadapannya tersebut.
'Dasar pria kekanakan tidak tahu malu mengumbar hal intim yang bersifat privasi dan seharusnya tidak boleh didengar oleh orang lain. Menyebalkan sekali dan sayangnya aku tidak bisa membantah di depan para pekerja karena mereka nanti akan berpikir macam-macam pada rumah tanggaku.'
Akhirnya ia terpaksa tersenyum dan menyembunyikan kekesalan yang dirasakan saat ini karena tidak ingin jika semua orang berpikir bahwa hubungan di antara mereka sedang tidak baik-baik saja.
Apalagi tadi sudah berjanji untuk melakukan apapun yang diinginkan oleh Zafer karena pria itu telah menyelamatkan dari ulah licik mantan suami.
"Jangan berbicara lagi karena itu tidak pantas dibahas di depan orang lain. Kasihan orang yang belum mempunyai pasangan." Tsamara memilih beralasan agar Zafer tidak lagi membahas mengenai keturunan ataupun masalah bulan madu.
Sejujurnya boleh dibilang saat ini seperti tidak mempunyai muka di hadapan para pekerja karena dari dulu mereka mengetahui bahwa Tsamara adalah seorang wanita pendiam dan tidak suka berbicara hal-hal tidak penting maupun vulgar.
Hal itulah yang membuatnya disegani oleh semua pekerja, meskipun tidak membuat mereka takut, tapi paling tidak sangat menghormatinya sebagai seorang wanita yang bermartabat.
Namun, seolah semua hal baik yang dijaga dari dulu, seketika sirna hanya karena perkataan vulgar pria berstatus sebagai suaminya tersebut.
Zafer saat ini menatap satu persatu pekerja yang berusia tidak lagi muda tetapi merupakan bahwa mereka mungkin sebagian adalah janda, sedangkan para pria yang merupakan anak buahnya memang sebagian belum menikah.
"Kamu benar juga, Sayang. Sepertinya aku harus meminta maaf dengan cara memberikan bonus pada mereka." Kemudian ia menatap ke arah para pekerja Tsamara karena memang anak buahnya semua sudah ditransfer gaji setelah disuruh tadi.
__ADS_1
"Tenang saja, hari ini kalian bisa makan enak atau membeli sesuatu yang diinginkan dengan bonus yang kuberikan." Kemudian Zafer meraih dompet yang ada di saku celana dan mengeluarkan lembaran uang dari sana.
Ia bahkan bisa mendengar suara tepuk tangan dari semua orang dan memanggil salah satu untuk membagikan uang mewakilinya.
"Terima kasih, Tuan Zafer dan Nyonya Tsamara. Semoga rumah tangganya bisa sampai kakek nenek dan hanya maut yang memisahkan," ucap Anisa yang mewakili semua orang begitu menerima lembaran uang di tangan.
Zafer yang langsung mengaminkan doa dari wanita tersebut, lalu menoleh ke arah wanita di kursi roda yang saat ini berbicara dengan pria yang tadi disuruh untuk mengajak Keanu jalan-jalan ke Mall dan bermain game.
"Nanti jika putraku menangis atau rewel, hubungi suamiku." Tsamara sama sekali tidak memperdulikan perbuatan Zafer karena fokus pada putranya yang saat ini diajak oleh pria berseragam hitam tersebut.
"Baik, Nyonya. Anda tenang saja karena tuan Keanu aman bersama kami," sahut pria dengan kulit putih dan masih muda tersebut.
Tsamara saat ini menatap ke arah putranya dan mengusap lembut punggung serta rambut. "Sayang, paman mau ajak Keanu membeli banyak mainan dan makanan. Keanu jangan nakal, ya!"
Anak laki-laki berusia 6 tahun tersebut seketika berbinar wajahnya begitu mendengar apa yang disampaikan oleh sang ibu dan langsung mengarahkan tangan untuk menggandeng pria di sebelahnya.
Seolah sudah tidak sabar untuk segera membeli banyak mainan seperti yang dikatakan oleh sang ibu. Bahkan tadi langsung menganggukkan kepala tanda patuh pada nasihat.
Refleks pria tersebut langsung membungkuk untuk menggendong Keanu setelah mengukir senyuman di bibir karena merasa gemas dengan sikap anak laki-laki tersebut.
"Siap, Tuan muda. Ayo, pergi." Di saat bersamaan, indra pendengaran menangkap suara klakson mobil dari luar dan mengerti siapa yang datang.
"Taksinya sudah datang. Kami pergi, Tuan dan Nyonya." Berjalan ke arah pintu keluar bersama beberapa rekan yang akan menemani sambil membawa tas milik anak kecil tersebut.
Sementara itu, Zafer juga tidak ingin membuang waktu dan langsung mendorong kursi roda Tsamara setelah melambaikan tangan pada para pekerja di kontrakan.
"Kita juga harus pergi karena Keanu sudah melupakanmu. Ternyata sangat mudah untuk membuat anak kecil melupakan ibunya. Hanya mengatakan akan makanan dan mainan saja, Keanu langsung terlihat senang dan tidak melihatmu lagi."
Sebenarnya Tsamara merasa kesal dengan perkataan Zafer saat ini, tetapi karena tidak ingin ribut, sehingga hanya diam saja dan membiarkan pria itu berbicara sesuka hati. Seolah ia sedang menyimpan tenaga karena sebentar lagi harus melayani pria itu dengan baik untuk membalas budi.
__ADS_1
'Hanya tubuhku yang akan membuatnya diam dan tidak mengejekku lagi,' gumam Tsamara yang masih tidak mempercayai akan menyerahkan diri secara sukarela pada Zafer.
Padahal selama ini berpikir tidak akan pernah ada hubungan khusus di antara mereka karena hanya menjalani pernikahan di atas perjanjian semata.
Meskipun perjanjian itu antara ayah dan anak, tetap saja melibatkannya dan saat ini terjebak dalam pusaran yang diciptakan oleh Zafer dan tidak tahu apakah akan bisa keluar dari sana.
Tubuh Tsamara saat ini berpindah ke atas lengan kekar pria yang sudah menggendongnya dan menurunkan dengan susah payah di kursi mobil bagian depan.
Sementara kursi roda sudah dimasukkan ke dalam mobil oleh salah satu anak buah pria dengan lengan kekar itu. Hingga saat wajah mereka bersentuhan, bahkan bibir tebal Zafer sudah mendarat pada pipinya, Tsamara tetap diam tanpa membuka suara sepatah kata pun.
Ia seolah terbiasa berada pada posisi intim dengan Zafer saat ini, sehingga tidak memperdulikan lagi perasaan sendiri.
"Aku bahkan masih sangat ingat kamu mengirimkan pesan akan melakukan apapun untuk membalas bantuanku tadi, tapi ragu setelah melihat wajahmu yang dari tadi masam dan hanya diam membisu seperti ini."
Zafer masih membungkuk di dekat mobil setelah menurunkan Tsamara karena tengah berbisik di dekat telinga wanita itu.
Ia sangat tidak suka melihat wajah Tsamara yang masam dari tadi dan mengunci bibir dengan rapat. Hingga ketika Tsamara menoleh dan wajah mereka seketika bersentuhan, Entah mengapa perasaannya seperti tidak karuan dan degup jantung berdebar kencang.
"Maafkan aku karena masih kesal padamu saat berbicara vulgar di depan para pekerja. Padahal selama ini mereka tahu bahwa aku adalah seorang wanita yang tidak suka berbicara hal yang tidak penting ataupun mengenai masalah bersifat intim."
Tsamara bahkan terlihat biasa ketika berbicara tepat di hadapan wajah Zafer saat ini. Seolah menegaskan bahwa perasaan pada seorang pria telah mati setelah banyak mengalami penderitaan, sehingga tidak ingin menekankan perasaan lemah dan hanya akan menyakiti diri sendiri.
Sementara itu, Zafer yang merasa jantungnya seperti mau meledak ketika berada pada posisi intim saat Tsamara berbicara dengan sangat santai, seolah tidak memiliki perasaan apapun padanya, akhirnya memilih untuk menjauh.
Zafer menelan saliva dengan kasar dan berdiri di dekat mobil dengan tegak. 'Wanita macam apa ia ini? Apakah normal berbicara pada posisi sangat intim dengan seorang pria, tetapi sangat santai seperti itu?'
Zafer yang asyik bergumam sendiri di dalam hati, mendengar suara Tsamara..
"Ada apa? Kamu masih marah atas sikapku? Aku sudah minta maaf padamu. Apa kamu belum puas?" tanya Tsamara saat ini melihat ekspresi wajah Zafer yang memerah. "Apakah kamu gugup saat berdekatan denganku?"
__ADS_1
To be continued...