
Satu minggu sudah semenjak kematian Adam dan Erina. Suasana rumah keluarga Dirgantara masih terlihat penuh duka karena hanya keheningan terasa dan semua orang merasa kehilangan dua orang yang sangat mereka hormati dan juga sayangi.
Selama satu minggu itu, rumah besar dan megah tersebut didatangi oleh banyak orang yang mendoakan pasangan suami istri tersebut. Dengan diiringi ayat suci yang dilantunkan semua orang yang diundang dalam acara doa bersama untuk Adam Dirgantara dan sang istri yang telah dipanggil oleh Tuhan.
Hingga ketika semuanya berakhir, seolah aura dari rumah yang megah tersebut kehilangan cahaya saat menyadari bahwa dua orang yang sangat berarti telah meninggal dan berada di dunia yang berbeda dengan mereka.
Selama beberapa hari, Zafer memilih menenangkan diri untuk beristirahat di kamar tamu karena tidak ingin berdebat dengan dua istri yang mungkin akan bersitegang. Jadi, memilih untuk menghindar demi bisa menenangkan hati.
Sementara itu, Rayya yang berusaha untuk bersabar dengan tidak langsung mengungkapkan keinginannya pada Zafer karena berpikir bahwa pria itu membutuhkan waktu untuk menata hati.
Jadi, menunda keinginannya untuk menyuruh Zafer segera menceraikan Tsamara karena sudah tidak ada lagi orang tua yang melarang. Jika wanita cacat itu sudah tidak menjadi bagian dari keluarga Dirgantara, Rayya baru akan bergerak untuk menyingkirkan Tsamara dari dunia.
Karena berpikir bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan semua aset keluarga hanyalah dengan cara membunuh. Meskipun sebenarnya saat ini Rayya merasa penasaran dengan surat wasiat dari orang tua Zafer yang belum diungkapkan oleh pengacara keluarga.
Hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Rayya adalah hal itu karena ingin memastikan apakah semua harta diwariskan pada Zafer atau seperti yang dikatakan oleh mertuanya akan menyumbangkan ke yayasan amal jika sang suami mengecewakan orang tua.
Namun, satu-satunya yang paling ditakutkan oleh Rayya adalah orang tua Zafer mewariskan sebagian harta pada Tsamara. Ingin sekali Rayya bertanya pada pengacara keluarga Dirgantara dan menyuruh untuk mengubah surat wasiat dengan cara membayar mahal untuk menyuap.
Bahkan sebenarnya ingin mengungkapkan apa yang ada di pikiran pada Zafer, tetapi berpikir bahwa itu semua akan membuat sang suami berpikir ia mengincar harta keluarga Dirgantara.
Meskipun semua itu adalah faktanya, tetapi Rayya tidak ingin Zafer berpikir seperti itu, jadi berpura-pura untuk tidak mempermasalahkan mengenai harta.
Rayya bahkan saat ini memilih untuk menghabiskan waktu di dalam kamar karena berpikir jika sering berinteraksi dengan Tsamara dan tidak bisa menahan diri melihat wanita itu, akan membuat keributan dan pastinya Zafer marah padanya.
Apalagi suasana masih dalam duka dan juga melihat sang suami seperti tidak bersemangat dalam menjalani hidup setelah kematian orang tua.
__ADS_1
Sebenarnya Rayya pernah berusaha untuk menghibur Zafer dan memberikan semangat, tetapi pria itu menyuruhnya untuk pergi dan memberikan ketenangan.
Hingga Rayya memilih untuk menuruti perintah Zafer meskipun dalam hati dongkol karena niat baiknya tidak diterima oleh Zafer.
Setelah mencoba untuk bersabar dan berusaha mengerti bahwa Zafer benar-benar tengah hancur karena keluarganya yang sangat disayangi telah meninggal, sehingga saat ini berpikir jika akan lebih baik pria itu menenangkan diri.
Di sisi lain, Tsamara yang selama ini sudah berubah tugas untuk mengatur semua pelayan agar bisa bekerja seperti biasa meskipun tanpa majikan utama, berusaha untuk kuat dan tidak larut dalam kesedihan.
Meskipun sebenarnya setiap hari selalu menangis ketika tidur, tetapi berusaha kuat di depan orang lain karena jika sampai menunjukkan kesedihan pada semua orang, khususnya Zafer, sudah bisa dipastikan bahwa rumah itu akan dipenuhi duka dan tidak ada aura kebahagiaan di sana.
Tsamara menyadari bahwa yang terbaik adalah mengikhlaskan dan mendoakan, tapi semua itu butuh waktu dan membiarkan Zafer larut dalam kesedihan untuk mengenang orang tua yang selama ini selalu dilawan.
Berharap dengan begitu, Zafer menyadari semua kesalahan dan berubah menjadi putra kebanggaan untuk orang tua yang sudah tidak ada di dunia.
Kini, Tsamara terlihat tengah berbicara dengan kepala pelayan untuk menu sarapan pagi ini. Meski semua penghuni rumah tidak berselera makan, tetapi tetap harus menyediakan makanan yang memiliki gizi lengkap demi menunjang kebutuhan tubuh.
Karena ini sudah beberapa hari setelah kematian mertua dan selama itu Zafer tidak berangkat ke kantor dan menyerahkan urusan pekerjaan kepada asisten pribadi.
'Jika terus dibiarkan terpuruk dan tidak kunjung bekerja memimpin perusahaan untuk menggantikan papa, akan terjadi hal yang buruk bukan mengorbankan banyak serta perusahaan,' gumam Tsamara yang saat ini tengah memikirkan bagaimana caranya berbicara baik-baik dengan sang suami agar tidak marah padanya.
Sebenarnya ia paling tidak suka menasehati orang lain karena berkaca pada diri sendiri tidaklah pantas. Namun, karena tidak ada pilihan lain, sehingga bertekad untuk melakukan hal itu hari ini.
"Tolong siapkan sarapan untuk suamiku. Aku yang akan mengantarkannya sendiri di kamarnya."
"Baik, Nyonya." Kemudian menyiapkan nampan dan menaruh sarapan berupa sandwich berisi daging dan juga susu hangat.
__ADS_1
Nasib baik Zafer memilih tidur di kamar tamu yang ada di lantai satu, sehingga membuat Tsamara tidak akan kesusahan untuk mengantarkan sarapan.
Setelah siap, Tsamara menyuruh untuk menaruh di pangkuan dan mengarahkan kursi roda ke arah kamar sang suami tanpa dibantu oleh pelayan karena memang ini sendiri.
Tsamara menelan saliva sebelum mengangkat tangan untuk mengetuk pintu di hadapan. Ini adalah pertama kali hendak mengganggu Zafer yang selama ini dibiarkan saat ingin memberikan waktu pada pria itu menenangkan diri.
Setelah merasa bahwa perasaannya sudah jauh lebih baik dan berani, kini Tsamara mengetuk pintu dan menunggu sampai dibuka.
Namun, tidak ada jawaban dari dalam dan sudah mengetuk sebanyak tiga kali, sehingga Tsamara mengerutkan kening dan menatap pintu di hadapan yang masih tertutup rapat.
"Apakah tuan Zafer masih tidur?" Tsamara menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan pemikirannya karena mengetahui bahwa semenjak kematian orang tua, pria itu malah tidak bisa tidur nyenyak karena terlihat jelas dari kantong mata saat sesekali bertemu di meja makan ketika siang hari.
Zafer selama ini jarang sarapan dengan mengatakan bahwa tidak berselera. Namun, saat siang hari, Tsamara mengetahui bahwa Zafer keluar dari kamar dan makan siang yang sesekali bertemu dengannya di meja makan.
Meskipun tidak berbicara apapun, seolah sama-sama tengah merasakan beban pikiran yang teramat besar.
Tidak ingin menyerah begitu saja, Tsamara saat ini mencoba untuk membuka kenop pintu yang ternyata dikunci dari dalam. Akhirnya Tsamara menyuruh pelayan untuk mencari kunci cadangan agar bisa membuka kamar tersebut karena khawatir tidak ada jawaban dari dalam.
Hingga beberapa saat kemudian pelayan membawa kunci cadangan dan membuka pintu. Tsamara kemudian menyuruh pelayan untuk pergi karena ingin mengecek sendiri.
Dengan perasaan gugup untuk masuk ke dalam ruangan kamar Zafer, Tsamara berusaha untuk menguatkan hati dan begitu membuka pintu, langsung mengarahkan kursi roda.
Begitu berhasil masuk ke dalam ruangan kamar tamu yang selama ini menjadi tempat istirahat Zafer, bisa melihat pria yang dari tadi dikhawatirkan, tengah duduk dan bersandar di punggung ranjang sambil menundukkan kepala untuk menatap bingkai foto di pangkuan.
"Tuan Zafer," lirih Tsamara saat ini mencoba untuk memanggil pria yang dari tadi fokus dengan dunianya dan seketika bersitatap dan bisa melihat wajah penuh kemuraman dari sang suami.
__ADS_1
"Anda harus segera bangkit dari keterpurukan dan jangan buat papa dan mama menangis dari atas sana."
To be continued...