Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kesadaran Zafer


__ADS_3

Tsamara pun mulai menceritakan semua hal yang dulu diharapkan oleh mertua. Bahwa mertuanya mengharapkan ia tetap bersama Zafer selamanya dan bisa merubah pria itu menjadi lebih baik dan membanggakan orang tua.


"Sebenarnya aku tidak bisa memenuhi keinginan mereka. Bahkan saat itu menolak karena mengetahui bahwa Anda sangat mencintai Rayya dan pastinya tidak mungkin mengganggu kehidupan kalian yang sebentar lagi akan memiliki dua anak."


"Jadi, saat itu memang menolak dan mengatakan bahwa setelah berjalan akan pergi dari sini dan membiarkan kalian hidup bahagia."


Zafer yang dari tadi hanya diam saja untuk mendengarkan semua cerita mengenai orang tuanya yang lebih mempercayai Tsamara saat mengungkapkan semua harapan dan ternyata hanyalah hal yang berhubungan dengannya.


Bahwa sang ibu ingin ia menjadi seorang pria bertanggung jawab dan bisa mendoakan orang tuanya ketika sudah tidak ada di dunia.


"Jadi, saat itu kau menolak untuk memenuhi harapan orang tuaku, tapi sekarang ingin bertahan dan menuruti perintah karena merasa iba padaku?" Zafer bahkan saat ini merasa miris bahwa hidupnya berdasarkan belas kasihan dari Tsamara, sehingga ia tertawa terbahak-bahak.


Namun, perkataan dari Tsamara yang tidak membenarkan tuduhannya, kini semakin mengingat tentang orang tuanya.


Tsamara tidak ingin kesalahpahaman membuat hubungan mereka semakin lebih buruk. Apalagi saat ini berpikir bahwa yang menjadi pertimbangan bukanlah atas dasar belas kasihan pada pria di hadapannya tersebut.


"Anda salah, Tuan Zafer. Bukan karena saya merasa kasihan pada Anda, tapi ingin memenuhi keinginan terakhir dari mama. Meskipun sadar bahwa ini sudah terlambat, tetapi tidak ada salahnya untuk membahagiakan mereka karena yakin bahwa dari atas sana, bisa melihat kita."


Zafer tidak bisa berkomentar apapun karena saat ini pikirannya benar-benar tumpul ketika memikirkan bahwa saat ini sudah tidak punya orang tua lagi.


"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpa orang tua. Aku tidak mungkin bisa membahagiakan mereka karena yang ada, selalu mengecewakan."


Kemudian kembali menghabiskan sandwich karena berharap sang ibu melihat bahwa saat ini menikmati makanan kesukaan yang sering dibuatkan dulu.


Tsamara hanya diam mengamati pria yang tengah menikmati sarapan. "Paling tidak, Anda sudah mau makan, Tuan Zafer. Jika Anda sakit, papa dan mama akan terbebani dari atas sana."


"Anda harus bersemangat dan melanjutkan perjuangan papa karena jerih payah orang tua tidak boleh sampai sia-sia. Apalagi saat ini ada banyak orang yang menggantungkan hidup dari perusahaan."


"Jangan sampai perusahaan Dirgantara mengalami masalah setelah tuan Adam meninggal. Saya hanya ingin mengatakan itu. Semoga Anda bisa bangkit dari keterpurukan karena ada banyak orang yang menyayangi Anda."


Tsamara saat ini mengarahkan kursi roda menuju ke arah pintu keluar dan membiarkan pria itu kembali menenangkan diri dan berharap apa yang tadi diungkapkan bisa membuat Zafer intropeksi diri.


Sementara itu, Zafer saat ini hanya diam mengamati pergerakan Tsamara di atas kursi roda dan keluar dari kamar. Sebenarnya saat ini merasa bahwa semua yang dikatakan oleh istri pertamanya tersebut memang benar.

__ADS_1


Bahwa tidak boleh terus-terusan larut dalam kesedihan dan membuat perusahaan yang sudah lama dirintis oleh orang tua hancur begitu saja karena ulahnya.


Ia akan semakin membuat orang tuanya menangis dari atas sana dan hidupnya tidak akan berguna karena selalu membuat masalah.


"Aku tidak boleh menghancurkan perusahaan yang sudah susah payah didirikan oleh papa," ucap Zafer yang saat ini menghabiskan sandwich dan minum susu coklat kesukaan yang selalu disiapkan oleh sang ibu dulu.


Kemudian mengembuskan napas kasar dan mengamati kamar tamu yang selama ini menjadi tempat untuk mengungkapkan keluh kesah ketika mengamati foto orang tuanya.


Kemudian beralih mengangkat bingkai foto yang dari tadi ada di pangkuannya. "Aku berjanji pada kalian, bahwa mulai hari ini akan menjadi seorang pria yang baik dan bertanggungjawab."


"Aku akan membuat perusahaan lebih maju dari yang sekarang." Zafer yang kini masih tidak mengalihkan pandangan dari bingkai foto di tangan, mulai membangkitkan semangat dan berusaha bangkit dari keterpurukan.


Jujur saja setelah Tsamara menceritakan semua hal yang dikatakan oleh sang ibu mengenai harapan padanya, seketika membuat rasa bersalah membuncah, tetapi ketika dinasehati bahwa penyesalan selalu tidak berguna, tetapi harus memperbaiki semua.


"Tsamara memang benar bahwa saat penyesalan tiba, itu tidak akan pernah mengubah apapun. Namun, saat ini yang harus dilakukan adalah memperbaiki semuanya agar menjadi lebih baik."


Zafer yang merasa perasaannya jauh lebih baik setelah berbicara dengan Tsamara, kini meraih ponsel miliknya dan menghubungi asisten pribadi sang ayah.


Rencana untuk mengawasi secara langsung di luar kota bersama Rayya, tidak jadi dilakukan setelah kejadian mengenaskan yang dialami oleh orang tuanya hingga meninggal.


Ia saat ini berpikir untuk mempercayakan semua pada asisten pribadi yang ayah yang sudah lebih dari sepuluh tahun dipercaya.


"Halo, Zafer. Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya pria paruh baya yang berusia 45 tahun bernama Patrick Nolie.


"Iya, Om. Aku membutuhkan bantuan. Mengenai tender besar di luar kota, aku ingin Om yang mengurusnya karena sekarang harus menggantikan papa memimpin perusahaan setelah meninggal."


Zafer berusaha untuk membuat pria di seberang telpon langsung setuju karena satu-satunya harapan yang dipercaya bisa membantu untuk membantu.


Hening selama beberapa saat karena pria di seberang telepon tidak membuka suara setelah Zafer mengungkapkan pemikiran.


"Bagaimana, Om?" tanya Zafer saat ini menaruh harapan besar pada pria yang menjadi orang kepercayaan dari sang ayah.


Zafer tidak tahu siapa yang bisa dipercayai untuk memegang kendali atas tenda besar yang meraup keuntungan ratusan miliar tersebut.

__ADS_1


Hingga suara bariton dari pria paruh baya tersebut membuat Zafer bernapas lega karena satu masalah telah selesai.


"Baiklah. Sebenarnya aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan kepercayaanmu, tapi karena mengerti posisimu yang harus mengambil alih perusahaan karena ada banyak staf siang menggantungkan hidupnya dari pekerjaan, sehingga beban berat ada di pundakmu sekarang untuk membuat perusahaan bisa bersaing dan berkembang."


Zafer tahu bahwa asisten pribadi sang ayah itu tidak bisa dilakukan kinerja karena selama ini selalu berhasil dalam semua tugas yang diberikan. Jadi, mempercayakan semua karena mengetahui jika berada dalam tanggung jawab asisten pribadi tersebut, tidak akan ada masalah.


"Papa selama ini mempercayai Om seperti saudara sendiri. Sementara aku, ingin menganggap seperti ayah untuk menggantikan papa yang telah meninggal." Zafer kembali mengingat setiap sang ayah marah dan mengantarnya.


Hingga ia mengingat saat sang ayah mengatakan jika baru akan menyadari kesalahan begitu meninggal. Sekarang merasakan apa yang dulu selalu diungkapkan ketika memarahinya.


Sekarang semua baru terasa bahwa kehadiran orang tua sangat berarti untuk seorang anak, meskipun sudah dewasa sepertinya.


"Tentu saja kamu bisa menganggapku seperti ayah kandungmu sendiri. Jika ingin berbicara mengenai hal apapun, katakan saja."


"Siapa tahu, aku bisa membantu meskipun tidak sepenuhnya menyelesaikan masalahmu," sahut Patrick yang bisa mendengar jika suara Zafer masih diliputi kesedihan, meskipun sudah satu minggu lebih orang tua meninggal.


Zafer sedikit tersenyum simpul dan merasa lega saat bisa bekerja sama dengan asisten pribadi sama ayah yang selama ini selalu dibanggakan dan membuatnya penasaran seperti apa kinerja dari pria paruh baya tersebut yang pasti lebih hebat darinya.


"Mulai besok, aku akan kembali bekerja dan tolong adakan meeting pukul sembilan pagi, Om."


"Baiklah. Ini merupakan kabar baik bagi semua orang karena pemimpin perusahaan telah kembali bersemangat dan pastinya paras tetap akan merasakan hal yang sama."


Zafer saat ini tersenyum simpul begitu mendapatkan semangat dari pria yang sudah dianggap seperti ayah sendiri.


Berharap hari esok akan menjadi lebih baik dan membuat Zafer bisa membahagiakan orang tua seperti yang diharapkan dengan mengatakan pada Tsamara.


Kemudian mengakhiri panggilan setelah dirasa cukup menyampaikan apa yang diharapkan. Namun, mengerutkan kening begitu mendengar suara gaduh dari luar.


Ia sangat hafal dengan suara siapa yang tengah berteriak di luar ruangan. Merasa jangan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Begitu membuka pintu dan berjalan menuju ke arah sumber suara, melihat sosok wanita yang saat ini tengah membanting vas bunga kesayangan sang ibu.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2