
Erina kini berjongkok di hadapan Tsamara untuk sedikit menyamakan posisi. Bisa dimengerti perasaan menantunya yang sedang terluka dan hancur tersebut.
"Jika mereka mendapatkan karma atas perbuatan selama ini, itu adalah hukum alam dan tidak bisa dihindari. Karena itulah aku meminta kamu sedikit demi sedikit menasihati Zafer. Meskipun sikap arogan dan kasar dimiliki putraku."
"Namun, kupastikan jika Zafer tidak akan menyakiti secara fisik karena suamiku sudah mengancam. Jika kamu terluka sedikit saja, sudah dipastikan kamu akan mendapatkan setengah harta keluarga Dirgantara."
"Sementara setengah lagi untuk disumbangkan ke yayasan amal, agar digunakan untuk orang yang membutuhkan dan menjadi amal untuk kami ketika meninggal nanti."
"Hanya itu yang bisa dilakukan untuk menolong kami, agar masuk ke surga dengan mendapatkan pahala dari harta yang disumbangkan. Karena tidak mendapatkan doa dari anak yang berbakti pada orang tua, jadi hanya bisa melakukan itu."
"Jika kami mati nanti, tolong doakan, agar tidak berakhir di neraka karena tidak bisa membuat Zafer menjadi pria baik. Bukankah sebagai orang tua, akan dituntut pertanggungjawaban atas amanah yang dititipkan?"
Entah mengapa Erina bisa berbicara tentang kematian dan merasa takut jika diminta pertanggungjawaban karena tidak bisa mendidik anak dengan baik. Jadi, memilih untuk mengungkapkan pada Tsamara. Berharap wanita yang dalam ucapan selalu sepenuh hati tersebut bisa menenangkan hati yang diliputi kegundahan.
"Jangan berbicara mengenai hal-hal buruk, Ma. Apalagi menyebutkan tentang kematian. Itu sangat dilarang dan aku pun sampai sekarang trauma. Ucapan adalah doa, jadi lebih baik berbicara hal yang baik. Mengenai tuan Zafer, aku akan berusaha melakukan perintah Mama."
"Mengenai urusan akhirat, Tuhan lebih tahu tentang hati kalian yang merupakan orang-orang baik dan tulus. Aku yakin jika kelak kita akan berkumpul bersama di Surga saat hari akhir." Tsamara mengusap lembut lengan wanita paruh baya yang saat ini terlihat pucat tersebut.
Seperti tengah menanggung beban teramat besar di pundak dan sangat tersiksa karena harus selalu melihat keburukan putra sendiri dan merasa gagal dalam mendidik.
"Penuhi pikiran dengan energi positif karena segala sesuatu tercipta karena apa yang dipikirkan. Jadi, Mama harus yakin jika suatu saat tuan Zafer akan berubah menjadi seorang pria baik dan semoga aku pun bisa melihat itu bersama kalian."
Tsamara sebenarnya merasa tidak yakin apakah bisa bertahan di tengah gempuran sakit hati yang dirasakan ketika harus melihat suami menikah lagi dan semakin tidak menganggap kehadiran di rumah itu.
__ADS_1
Bagaikan istri yang tak dianggap dan harus sadar akan posisi saat ini. Bahwa sebenarnya hanya menjadi pajangan di rumah itu. Namun, demi masa depan Keanu menjadi lebih baik, ia rela melakukan apapun. Termasuk mengorbankan diri dan perasaan.
"Setelah berbicara denganmu, selalu merasa tenang dan hati ini menjadi damai. Itulah yang kusukai darimu, Tsamara. Lebih baik kita temui mereka karena suamiku sedang menginterogasi Zafer dan wanita itu." Erina kini bangkit berdiri dari posisinya yang awal tadi berjongkok di depan menantunya.
Dalam hati, mengungkapkan bahwa ingin sekali wanita yang akan melahirkan penerus untuk keluarga Dirgantara memiliki sifat sebaik Tsamara. Meskipun harapan seringkali tidak sesuai ekspektasi karena sudah bertemu sekali dengan Rayya.
Saat acara ulang tahun perusahaan dan dulu Zafer memperkenalkan wanita yang suka memakai pakaian terbuka dan sikap kurang sopan saat berbicara pada orang yang lebih tua. Bahkan bisa tertawa terbahak-bahak dengan beberapa orang ketika membicarakan sesuatu.
Tentu saja semua itu karena mengetahui jika wanita itu dibesarkan dari keluarga berantakan dan akhirnya menjadikannya tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Akhirnya tercetak jiwa pembangkang dan sesuka hati dalam menghadapi apapun.
'Meskipun tidak mungkin, benar apa yang dikatakan Tsamara. Bahwa memenuhi pikiran dengan hal-hal positif, akan membawa kebaikan dan berharap jika mereka berubah menjadi lebih baik,' gumam Erina yang kini sudah mendorong kursi roda dari menantu menuju ke ruang tamu.
Di mana samar-samar terdengar suara bariton Zafer dan semakin lama sangat jelas.
Beberapa saat lalu, ia sangat marah dan meluapkan emosi pada Zafer karena membawa Rayya ke rumah sakit keluarga, sehingga banyak desas-desus mengenai putranya menghamili wanita yang belum dinikahi.
"Aku baru memarahi Zafer karena telah mencemarkan nama baik keluarga saat memperlihatkan keburukan sendiri pada semua orang yang berada di rumah sakit."
Ketika Adam Dirgantara baru saja menutup mulut, melirik ke arah Zafer yang dari tadi menggenggam erat tangan wanita di sebelah kiri dan hatinya berdenyut sakit.
Tidak hanya itu saja, suara bariton dari Zafer seolah tombak tajam yang kini sudah menancap langsung di jantung begitu mendengar tanggapan suami.
Zafer dari tadi sekuat tenaga menahan diri untuk tidak kembali murka atas kemarahan sang ayah, hanya menjelaskan kenapa pergi ke rumah sakit. Namun, tidak terima jika dijelekkan di depan wanita cacat yang bahkan tidak lebih baik.
__ADS_1
"Bukankah aku tadi sudah bilang jika keadaannya darurat karena Rayya pingsan? Dokter keluarga kita tidak bisa datang saat berurusan dengan kantor polisi ketika mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju ke apartemen? Jadi, Papa tidak bisa sepenuhnya menyalahkan aku yang ingin memastikan keadaan anak-anakku."
"Anak-anak?" Refleks Tsamara menatap ke arah Zafer untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh pria itu seperti di pikiran saat ini. "Apakah ...."
Ia tidak bisa melanjutkan perkataan karena sudah dipotong oleh pria yang terlihat sangat bangga dan bahagia, tetapi berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan saat ini.
"Ini adalah kabar baik untuk keluarga Dirgantara karena sebentar lagi akan hadir dua anak yang dilahirkan Rayya. Ya, sekarang kekasihku telah mengandung bayi kembar dan baru kuketahui dengan membawa ke rumah sakit hati ini."
Zafer beralih menatap ke arah Rayya yang memang tadi sudah diperintahkan agar tidak membuka suara karena mengetahui bahwa wanita itu akan semakin dibenci orang tua ketika menunjukkan sifat arogan yang selalu berbicara sesuka hati.
Rayya hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. Meskipun di dalam hati sangat ingin sekali mengatakan pada wanita di kursi roda itu agar segera angkat kaki saja dari rumah tersebut.
'Harusnya setelah melihat ini, dia bisa menyadari jika posisinya di rumah ini tak lebih dari status palsu karena tidak akan pernah mendapatkan cinta dari Zafer. Apalagi setelah aku memberikan kebahagiaan untuk keluarga Dirgantara dengan anak kembar dan akan mewarisi semua harta.'
'Cepat pergi dari rumah ini dan sadar diri bukan siapa-siapa,' umpat Rayya dengan tatapan tajam ketika melihat sosok wanita dengan wajah pucat di kursi roda tersebut.
Tsamara yang seketika meremas kedua sisi pakaian ketika mendapatkan tatapan tajam dan sudah mengerti artinya.
Merasa dunia seperti runtuh menimpa dan menghancurkan hidupnya ketika mengetahui jika saat ini wanita yang lebih berkuasa itu akan memberikan dua anak sekaligus untuk keluarga Dirgantara.
'Pupus sudah harapanku untuk menjadi istri yang sesungguhnya. Sadarlah akan posisimu, Tsamara karena kaku bukan siapa-siapa bagi tuan Zafer. Bahkan saat ini terlihat sangat mencintai wanita bernama Rayya itu,' lirih Tsamara di dalam hati yang memilih untuk pasrah atas apa yang akan dihadapi.
To be continued...
__ADS_1