
"Aku tidak minum minuman beralkohol. Jadi, jangan paksa aku untuk meminumnya," ujar Tsamara yang masih menatap tangan Tsamara ketika memegang botol minuman berwarna merah tersebut.
"Aku tidak akan membuatmu meminumnya. Tenang saja, tapi kamu harus diam saja. Sepertinya, ini akan jauh lebih nikmat saat menikmatinya di atas tubuhmu."
'Belum apa-apa, sudah membuatku merinding,' gumam Tsamara yang sudah meremang bulu kuduknya.
Sementara itu, Zafer kini semakin bertambah besar keinginannya untuk segera melakukan ide yang tadi tiba-tiba terlintas di pikiran. Namun, melihat ekspresi wajah Tsamara yang sangat menggemaskan, membuatnya ingin tertawa.
"Wajahmu sudah berubah seperti udang goreng dan tingkahmu seperti anak remaja saja." Jemari dengan buku-buku kuat Zafer kini mulai menelusuri setiap lekuk tubuh dari wanita yang sudah ia dorong ringan agar berbaring di atas sofa.
"Aku akan membuat sensasi berbeda yang tidak pernah didapatkan dan asal kamu tahu karena ini pertama kali aku melakukannya karena tiba-tiba tadi mendapatkan sebuah ide."
Zafer tidak suka Tsamara selalu menyebut Rayya ketika bercinta. Apalagi jika selalu menyamakan dengan Rayya dan tidak pernah mempercayai semua perkataannya, sehingga berpikir bahwa itu akan membuat kesal saja.
Sementara itu, Tsamara tidak bisa berkomentar apapun karena saat ini hanya membiarkan Zafer melakukan apapun terhadap tubuhnya.
Bahkan saat tangan kuat Zafer sudah sibuk menggerayangi setiap inchi tubuhnya, ia sibuk mendesah dan melenguh, hanya memejamkan mata.
Seolah dirinya kini pasrah atas perbuatan pria yang sudah melucuti pelindung terakhir di tubuhnya dan membuatnya kini terlihat polos.
Tidak hanya itu, Tsamara yang masih memejamkan mata, merasakan tetes demi tetes wine jatuh di atas tubuhnya.
Tentu saja Tsamara tahu bahwa sang suami kini sudah perlahan menyangkan wine di atas tubuhnya. Perasaan berdebar dan menggelora, menguasai Tsamara saat ini.
Sementara itu, Zafer kini kembali menutup botol kaca di tangannya dan menaruhnya di atas meja.
Tanpa membuang waktu, Zafer sudah memenuhi fantasi liar yang diinginkan. Senyumnya mengembang saat melihat pemandangan di depannya. Seolah ia sudah melupakan rasa penat dan pusing dalam hal pekerjaan.
__ADS_1
Hanya suara ******* dari Tsamara yang memenuhi ruangan kamar berukuran sangat luas tersebut saat sang suami sudah menguasai tubuhnya.
Dua insan yang dimabuk gejolak gairah tersebut semakin terbuai dengan kegilaan dan menghabiskan waktu dengan saling memberi dan menerima untuk sama-sama menggapai puncak kenikmatan surgawi yang hakiki.
Hanya ******* Tsamara yang mendominasi ruangan kamar hotel terbaik tersebut. Sementara Zafer baru melenguh panjang ketika menggapai puncak dan berharap jika wanita itu sebentar lagi akan hamil benihnya.
Tanpa memikirkan seorang wanita yang berada di rumah—merupakan istri keduanya dan tengah hamil benihnya. Seolah saat ini hanya ingin menikmati momen yang jarang terjadi di antara mereka. Zafer merasa sangat puas bisa bercinta dengan Tsamara.
Apalagi selama ini penasaran dengan wanita yang selalu saja menolaknya, tetapi hari ini sepenuhnya menyerahkan diri dan tidak lagi bersikap dingin ketika bercinta.
Zafer saat ini masih belum melepaskan kuasa karena masih sibuk mengusap wajah memerah Tsamara. "Bagaimana? Apakah nikmat?"
Tsamara yang hanya bisa menelan ludah dengan kasar atas pertanyaan bernada vulgar dari pria yang berbisik di dekat daun telinga, kini suara tercekat di tenggorokan karena sibuk merutuki kebodohan di dalam hati.
'Aku memang sudah gila! Dari tadi tidak berhenti mendesah atas perbuatannya. Apa karena aku sudah lama tidak bercinta dengan seorang pria? Jadi, membuatku sangat bergairah seperti ini.'
Hingga kembali terkejut atas perbuatan Zafer yang mencuri ciuman di bibir.
"Apakah kamu bisu, sehingga tiba-tiba berubah tidak bisa berbicara setelah kita bercinta? Ataukah masih ingin melakukannya?" Zafer yang tadi merasa sangat gemas dengan sikap Tsamara saat tetap mengunci rapat bibir, sehingga memberikan sebuah hukuman penuh kenikmatan.
Berpikir bahwa Tsamara saat ini sangat mendamba semua perbuatan yang dilakukan. "Jawab aku atau kamu akan kembali kumakan."
"Apa yang harus kujawab?" Kini Tsamara mencoba membuka suara karena tidak ingin Zafer kembali menghajarnya.
Apalagi merasa sudah cukup lama tidak bersama Keanu. Berpikir jika putranya akan menangis mencarinya, sehingga Tsamara ingin segera menjemput setelah membersihkan diri.
Meskipun geram karena Tsamara berpura-pura bodoh dengan bertanya, kini Zafer memilih untuk kembali mengulang pertanyaan. "Apakah nikmat apa yang kulakukan tadi? Hingga kamu tidak berhenti mendesah."
__ADS_1
Sebenarnya Tsamara merasa jika pertanyaan itu ?sangat konyol, tapi terpaksa menjawab untuk membuat pria yang masih mengunci tatapan tersebut senang.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak bercinta. Waktu enam tahun bukanlah singkat. Sebenarnya aku tidak ingin menikah lagi dan juga berpikir tidak akan pernah bercinta dengan seorang pria, tapi sepertinya takdir tidak memihakku."
Tentu saja Zafer merasa bahwa Tsamara tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan yang diajukan barusan, tapi malah berbicara panjang lebar yang dianggap bertele-tele.
"Aku hanya bertanya satu pertanyaan singkat, tapi jawabanmu panjang lebar dan tidak mewakili apa yang kutanyakan." Zafer masih mengarahkan tatapan tajam.
"Bukankah aku sudah menjawabnya?" Tsamara yang saat ini menatap iris tajam yang dari tadi tidak mengalihkan pandangan, seperti seketika menembus jantungnya saat ini.
Tatapan tajam Zafer berhasil membuatnya seperti wanita bodoh karena mendadak suara tercekat di tenggorokan ketika bertatapan.
'Apa yang sedang kupikirkan sebenarnya? Kenapa jantungku bisa berdebar-debar seperti ini? Aku tidak boleh seperti ini!'
Tsamara masih mencoba untuk menyadarkan diri agar tidak terbawa perasaan atas semua yang dilakukan oleh Zafer padanya.
Semua itu karena tidak akan ada kebahagiaan dari hubungan di antara mereka yang terjadi hanya atas dasar saling membutuhkan seperti simbiosis mutualisme.
Tsamara membutuhkan Zafer untuk mengalahkan Rey, sedangkan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut menginginkan tubuhnya. Lalu apa yang diharapkan dari kerjasama mereka?
Meskipun tadi Zafer mengatakan bahwa menginginkan seorang anak lahir dari rahimnya, tetap saja tidak bisa menganggap bahwa itu adalah kebahagiaan sebagai seorang istri.
Hal yang sangat dikhawatirkan oleh Tsamara bukanlah takut pada Rayya dan mendapat kemurkaan wanita itu yang juga merupakan istri sah pria di sebelahnya tersebut.
Namun, ia sangat takut jika Rayya akan berbuat nekat untuk membalas dendam padanya dengan cara menyakiti Keanu. Atau mungkin akan membuat putranya hidup menderita. Bahkan mungkin jika benar-benar hamil, belum tentu bisa melahirkan dengan normal jika Rayya mengetahui hal itu.
Tsamara tahu seperti apa sosok wanita yang menjadi istri kedua dari suaminya. Bahwa Rayya akan melakukan semua hal untuk memisahkan dengan Zafer. Bahkan mungkin sampai berbuat hal diluar nalar, tetapi ia tidak ingin membayangkan hal itu.
__ADS_1
To be continued...