
Setelah Zafer keluar dari ruangan kamar untuk menemui sang ibu, Rayya saat ini terlihat membuat gerakan mengipas dengan tangan karena tiba-tiba merasa tubuh sangat panas karena dikuasai oleh amarah.
Semua itu karena saat ini masih tidak bisa melupakan nasehat yang terdengar seperti sebuah sindiran dan akhirnya dibalas dengan kata-kata yang merupakan pesan dari dokter.
"Jika wanita itu merasa tersinggung dengan perkataanku, apa tidak berpikir jika aku juga sama? Dasar orang tua yang memilih untuk menang sendiri dan berpikir apa yang dikatakan selalu benar."
Rayya dari dulu sangat tidak suka jika ada orang yang lebih tua selalu menasehati, seolah semua yang dikatakan benar. Sementara yang masih muda harus menuruti perkataan orang yang lebih tua, hal itu sangat tidak sesuai dengan apa yang dirasakan.
"Bahkan orang tua pun bisa berbuat salah, lalu kenapa yang muda harus mengalah jika benar. Bukankah itu hanyalah perbuatan orang bodoh? Tiba-tiba aku merasa panas meskipun sudah menyalakan AC di ruangan ini. Semua ini gara-gara wanita tua itu yang sangat cerewet dan sok bijak dengan menasehatiku."
Tidak ingin semakin dipusingkan dengan memikirkan mertua perempuan yang dianggap sangat cerewet tersebut, Rayya memilih untuk berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Lebih baik aku berendam dengan aromaterapi yang menenangkan, agar perasaanku kembali lebih baik. Hari ini, benar-benar sangat stres dengan banyak kejadian yang terjadi."
Kemudian melepaskan semua pelindung tubuh dan terlihat polos tanpa memakai selembar benang, lalu langsung masuk ke dalam bathtub yang sudah ditetesi aroma terapi.
Ia saat ini memilih memejamkan mata untuk merasakan sensasi nyaman demi melemaskan otot-otot yang terasa kaku ketika berada di dalam air hangat.
"Semoga Harry segera menemukan orang yang bersedia untuk menyingkirkan orang tua Zafer. Jika mereka masih hidup dan aku harus tinggal di sini, bisa-bisa nanti darah tinggi dan stroke. Aku ingin bisa hidup tenang bersama Zafer tanpa hadirnya orang-orang tidak penting yang hanya akan mengganggu rumah tanggaku."
Rayya yang masih belum membuka mata, mengingat saat Zafer terlihat kesal ketika menemui sang ibu. "Sepertinya tadi suamiku sangat marah. Pasti ada sesuatu yang terjadi."
"Apakah berhubungan dengan wanita cacat itu? Ataukah pria yang selalu mengancam Zafer?"
Berbagai macam pertanyaan yang saat ini sedang memenuhi otak Rayya ketika mengingat sang suami yang harus mendapatkan omelan dari sang ibu.
"Saat ini, pasti Zafer akan bertambah kesal karena mendapatkan ceramah dari sang ibu. Pasti sebentar lagi akan datang ke sini mengeluh padaku." Kemudian ia membuka mata dan menunggu.
__ADS_1
"Lebih baik aku menunggu di sini. Tidak mungkin wanita tua itu akan mengomel selama setengah jam karena Zafer pasti akan langsung pergi saat merasa bosan."
Mendadak ia berpikir jika sang suami masuk ke dalam kamar dan tidak melihat keberadaan di atas ranjang, pasti akan langsung masuk ke kamar mandi.
Tentu saja Rayya langsung membayangkan bisa berbuat intim dengan sang suami di dalam bathtub dan pastinya akan sangat menyenangkan dan menghilangkan rasa stres.
"Pasti akan sangat menyenangkan," ucap Rayya dengan tersenyum simpul dan membayangkan jika pria dengan paras rupawan dan tubuh sixpack tersebut akan kembali mengirimkan denyut kenikmatan.
"Lebih baik aku bersantai sampai Zafer datang ke sini." Rayya memilih untuk kembali memejamkan mata, berharap sebentar lagi sang suami akan segera datang.
Hingga karena efek kelelahan, terlelap dan sudah larut dalam alam bawah sadar saat tertidur di dalam bathtub.
Setengah jam telah berlalu, Rayya tersadar dari tidur, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mengingat masih berada di dalam kamar mandi.
"Astaga! Aku malah ketiduran saat menunggu Zafer. Apakah aku lama tertidur? Jam berapa ini? Kenapa tidak datang juga?" Ia memilih untuk membersihkan diri dengan cepat, lalu bangkit dari bathtub.
Hal pertama yang ingin dipastikan adalah memeriksa waktu. Ia mengetahui tadi saat masuk ke kamar mandi pukul tujuh malam dan sekarang sudah setengah delapan.
"Aku berada di kamar mandi selama setengah jam, tetapi Zafer tidak kembali juga. Ke mana dia? Apakah wanita tua itu masih mengomel pada suamiku?"
"Lebih baik aku memastikan sendiri," ucap Rayya yang saat ini berjalan keluar dari ruangan kamar.
Dengan kaki jenjang dan telanjang, Rayya mengedarkan pandangan ke sekeliling lantai atas dan sama sekali tidak menemukan keberadaan mertua perempuan ataupun sang suami yang dari tadi ditunggu di kamar mandi.
"Tidak ada." Rayya berhenti di dekat sofa dan berpikir bahwa sang suami tadi dimarahi oleh ibu mertua di sana.
Kemudian berkacak pinggang dan melihat beberapa ruangan kamar dengan pintu tertutup, salah satunya adalah kamar Zafer yang tidak boleh ditempatinya, tapi malah diberikan pada Tsamara.
__ADS_1
Refleks pikirannya saat ini berubah menjadi buruk karena membayangkan sesuatu yang memantik amarah. Bahkan tidak ingin membenarkan apa yang saat ini ada dalam pikiran, ia menggeleng perlahan selama beberapa kali. Seolah tidak ingin membenarkan hal itu.
"Zafer tidak mungkin sedang bersama dengan wanita cacat itu. Apalagi saat ini sedang marah karena papanya memberikan kamar untuk ditempati Tsamara."
Tsamara memilih untuk berpikir positif dan berjalan menuju ke kamar, tapi saat melewati pintu berwarna keemasan yang tertutup tersebut, merasa ada dorongan kuat agar langsung membuka dan masuk ke dalam.
"Aku sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh wanita cacat itu di kamar Zafer." Rayya kali ini berjalan menuju ke arah ruangan kamar sang suami yang gagal ditempati.
Tanpa memperdulikan akan mendapatkan ejekan dari wanita yang sangat dibenci tersebut, Rayya saat ini langsung membuka kenop pintu dan berjalan masuk.
Bahkan ruangan kamar itu terlihat sangat sepi karena hanya ada anak kecil yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. 'Ke mana wanita cacat itu?'
Saat Rayya baru saja menutup mulut, indra pendengaran menangkap suara bariton dari pria yang dicari dan degup jantung seketika berdetak kencang melebihi batas normal saat membayangkan jika sang suami yang dari tadi ditunggu di kamar mandi tidak kunjung datang.
Karena ternyata sedang bersama dengan wanita yang sangat dibenci. 'Tidak mungkin!' gumam Rayya yang saat ini masih mencoba untuk berpikir positif bahwa sang suami tidak bermesraan dengan istri pertama di dalam kamar mandi.
Namun, pemandangan yang dilihat saat ini, semakin menamparnya dan seketika wajah memerah serta tangan mengepal terlihat jelas.
Apalagi melihat saat pria yang dari tadi ditunggu, memakai handuk sebatas pinggang dengan bertelanjang dada sambil menggendong wanita cacat sangat dibenci tersebut ala bridal style.
Bahkan tidak hanya itu saja yang membuatnya merasa semakin murka. Saat Zafer terlihat berbisik di dekat daun telinga Tsamara sambil tersenyum menyeringai seolah ingin menggoda.
Kali ini merasa yakin jika pria yang tadi dibayangkan akan berbuat intim bersamanya di dalam kamar mandi, malah melakukan hal itu dengan Tsamara. Selain merasa sangat sakit hati, ia juga merasa sangat marah, sehingga berteriak tanpa memperdulikan apapun lagi.
"Apa kalian baru saja bercinta di dalam kamar mandi?" Masih mengarahkan tatapan tajam pada pria yang terlihat sangat kebingungan ketika menurunkan Tsamara di atas ranjang.
To be continued...
__ADS_1