Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Perasaan bimbang


__ADS_3

Rayya ingin Tsamara sadar diri dan segera pergi dari rumah karena berpikir bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengusir wanita yang dianggap tidak berguna dan hanya bisa menyusahkan tersebut.


"Selama kau tinggal di sini, hanya akan merepotkan semua orang. Apalagi hanyalah seorang wanita cacat yang tidak berguna dan tidak pernah mendapatkan cinta dari Zafer. Lalu, apa yang membuatmu bertahan di sini selain mengincar harta?"


Kini, Rayya mengungkapkan hal yang tadi sempat terpikirkan olehnya dan mungkin juga ada di kepala Tsamara. "Ataukah kau sedang menunggu pengacara keluarga yang akan membacakan surat wasiat mengenai harta warisan dari papa?"


Saat semua yang dituduhkan oleh Rayya tidak pernah dipikirkan oleh Tsamara, memilih untuk membantah dengan cara bersikap elegan tanpa dikuasai oleh emosi.


"Sepertinya kau sedang membicarakan dirimu sendiri, Rayya. Apakah kau saat ini telah memikirkan warisan dari keluarga Dirgantara?"


"Apakah semuanya akan diwariskan pada tuan Zafer? Ataukah sebagian disumbangkan ke yayasan amal seperti yang pernah dikatakan oleh papa? Aku sangat berharap jika kemungkinan terakhir yang menjadi keputusan papa karena itu bisa menolong di akhirat."


Saat merasa sangat kesal karena berpikir bahwa Tsamara selalu saja memantik amarahnya dan barusan menyindirnya dengan membalik tuduhan, kini Rayya mengincar vas bunga yang ada di dekat meja kaca besar sebelah kanan tempat ia berdiri saat ini.


"Dasar wanita munafik dan tidak tahu malu! Kau hanyalah rubah betina yang licik karena mengincar harta keluarga ini!"


Kemudian Rayya langsung membanting vas bunga ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Jika kau berani macam-macam dengan keluarga ini, akan menghabisimu seperti vas bunga itu."


Saat Rayya baru saja menutup mulut, mendengar suara bariton dari pria yang baru saja berjalan mendekat.


"Rayya, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah gila?" teriak Zafer yang merasa sangat marah melihat perbuatan Rayya ketika menghancurkan barang kesayangan sang ibu.


Saat ini ia menatap ke arah lantai, di mana vas bunga yang selalu diberikan bunga segar yang dipetik dari kebun depan rumah dan menjadi rutinitas sang ibu ketika mengawali hari saat berada di rumah telah hancur tak tersisa dan tidak mungkin bisa diperbaiki.


Tentu saja Zafer merasa sangat marah dan tidak bisa mentolerir perbuatan Rayya yang mungkin jika dimaafkan akan kembali mengulangi hal yang sama dengan bersikap arogan dan sesuka hati.


Rayya yang melihat wajah Zafer memerah saat marah, seketika membuatnya langsung mengarahkan jari telunjuk ke arah Tsamara.


"Sayang, wanita itu yang menjadi penyebab aku menghancurkan vas bunga itu. Ia baru saja menuduhku mengincar harta keluarga ini. Padahal aku bukan berasal dari kasta rendahan sepertinya."


Rayya masih berusaha untuk membuat Zafer menyadari bahwa Tsamara adalah seorang wanita sangat licik. "Wanita ini langsung menunjukkan topeng asli begitu orang tuamu meninggal."

__ADS_1


"Ia hanyalah wanita licik seperti rubah yang akan menghancurkanmu dan sebelum itu terjadi, lebih baik segera usir dari rumah ini!" Raut berapi-api untuk mengungkapkan semua agar Zafer segera mengusir Tsamara.


Apalagi selama ini yang dijadikan alasan Zafer adalah orang tua, tetapi ketika sudah tiada, tidak ingin terlalu lama membiarkan Tsamara tetap tinggal di sana.


Sementara itu, Zafer yang bahkan masih fokus pada vas bunga kesayangan sang ibu, sama sekali tidak memperdulikan apa yang diungkapkan oleh Rayya karena berpikir bahwa itu hanyalah sebuah karangan semata.


Apalagi sekarang sudah mengetahui seperti apa Rayya dan juga Tsamara karena tinggal satu rumah. Zafer beralih menatap ke arah Rayya dan membuat wanita itu menyadari kesalahan.


"Vas bunga itu adalah salah satu benda kesayangan mama dan aku ingin semua kenangan mengenai orang tuaku tetap berada di rumah ini tanpa dipindahkan, tapi dengan mudahnya kamu menghancurkannya dan sekarang membuat ulah untuk mengusir Tsamara."


"Aku yang merupakan kepala rumah tangga di sini dan akan menentukan siapa yang berhak tinggal dan pergi dari rumah ini. Tsamara tidak akan pergi kemana-mana. Jadi, kamu harus menerima keputusanku."


"Kamu tidak boleh menggunakan kartu kredit yang kuberikan selama satu bulan. Ini adalah hukuman untukmu!"


Tanpa berniat untuk menunggu reaksi atau tanggapan Rayya yang pastinya tidak terima dengan keputusannya ketika membela Tsamara sama sekali tidak dipedulikan oleh Zafer dan kini menatap ke arah wanita di kursi roda tersebut.


"Suruh pelayan untuk membereskan kekacauan ini!" Kemudian ia kembali berlalu pergi dan berniat untuk kembali ke kamar karena jika terus berada di sana, sudah dipastikan akan bertengkar dengan Rayya.


Tsamara saat ini merasa lega karena Zafer tidak terpengaruh oleh tipu daya Rayya, sehingga saat ini berpikir bahwa sudah ada perubahan signifikan yang ditunjukkan oleh pria itu setelah tadi menceritakan mengenai semua harapan yang dikatakan oleh mertua.


"Sayang, tunggu!" teriak Rayya karena merasa tidak terima dengan sikap sang suami yang lebih memilih membela Tsamara daripada dirinya.


Bahkan ketika berlalu melewati wanita di atas kursi roda tersebut, mengarahkan tatapan tajam dan sinis.


'Tunggu pembalasanku,' gumam Rayya yang saat ini merasa sangat marah karena gagal mengusir Tsamara dan ingin membahas masalah itu dengan Zafer.


Rayya berlari mengejar Zafer yang terlihat masuk ke dalam kamar. Nasib baik, sebelum itu, langsung menahan dengan tangan dan kakinya. "Aku ingin bicara denganmu!"


Zafer yang sebenarnya sangat malas menanggapi kemarahan Rayya karena sudah sangat hafal jika tidak akan ada habisnya. Namun, karena wanita itu sudah ada di hadapan dan menahan pintu, sehingga membiarkan masuk.


Zafer yang saat ini berjalan masuk dan diikuti oleh Rayya, membiarkan wanita itu mengungkapkan alasan mengejarnya. Meskipun sudah mengetahui bahwa semuanya karena ia tidak mau memenuhi keinginan Rayya untuk mengusir Tsamara dari rumah.

__ADS_1


Tidak ingin membuang waktu dan bertele-tele, saat ini Rayya sudah berdiri tepat di hadapan pria yang terlihat sangat marah tersebut.


"Apakah maksud perkataanmu tadi adalah tidak akan mengusir wanita cacat itu dari rumah ini dan aku harus patuh padamu dengan tidak mengungkapkan protes?"


"Kenapa kamu tiba-tiba membela Tsamara? Padahal dari dulu selalu ingin menyingkirkan wanita cacat itu dari rumah ini, tapi tidak bisa melakukannya karena selalu diancam oleh orang tua."


"Lalu apa yang kamu lakukan sekarang Setelah orang tuamu meninggal? Bukankah sekarang sudah sangat mudah untuk mengusir Tsamara?"


"Karena tidak ada yang melindungi wanita cacat itu. Namun, hari ini sikapmu seperti membuatku merasa yakin memiliki perasaan pada Tsamara."


Semua pertanyaan sekaligus pernyataan panjang lebar dari Rayya sudah ada di pikiran Zafer. Bahwa wanita di hadapannya tersebut akan menanyakan hal itu padanya.


Bahkan saat ini Zafer tidak yakin bisa menjawab semua pertanyaan dari Rayya, sehingga tadi memilih untuk menghindar. Jika Zafer menjawab tidak tahu, pastinya akan terdengar konyol


Namun, jika membenarkan semua tuduhan Rayya, sudah pasti akan terjadi perang dunia di dalam rumah tangganya.


Jika seperti itu, tidak akan ada kedamaian di antara mereka dan membuatnya khawatir jika menyakiti perasaan wanita yang telah hamil benihnya.


'Apa yang harus kukatakan sekarang? Aku tidak tahu harus menjawab apa karena jujur saja saat ini merasa bingung dengan perasaanku sendiri pada Tsamara.'


'Apakah tidak menuruti keinginan Rayya untuk mengusir Tsamara karena menyukainya ataukah merasa iba? Ataukah karena ingin memenuhi keinginan mami yang ingin aku selalu bersama dengan Tsamara?'


Zafer saat ini hanya diam dengan bibir terkunci rapat karena tengah dilanda kegundahan luar biasa untuk menanggapi pertanyaan dari sosok wanita dengan tatapan tajam dan mengintimidasi tersebut.


Sementara itu, Rayya semakin bertambah kesal dan marah karena Zafer tidak langsung menjawab dan sangat yakin jika pria yang selama ini dicintai dan menjadi ayah dari janin yang dikandung, mempunyai perasaan pada Tsamara.


"Jawab aku, Zafer! Apakah kamu menyukai wanita cacat tidak berguna itu? Hingga tidak mau mengusirnya dari rumah ini?" Rayya berteriak ketika bertanya pada Zafer.


Tanpa memperdulikan apapun lagi, Rayya ingin mengetahui jawaban dari pertanyaannya hari ini juga dari bibir Zafer.


Hingga melihat pergerakan dari bibir Zafer dan membuat Rayya menelan saliva dengan kasar karena jujur saja sangat khawatir jika apa yang ditakutkan benar-benar terjadi.

__ADS_1


"Rayya, sebenarnya aku ...."


To be continued...


__ADS_2