
Erina sangat terkejut mendengar kabar yang sebenarnya sangat baik karena Zafer akan memiliki anak kembar. Pastinya akan mendapatkan dua cucu sekaligus. Namun, tidak bisa meluapkan kebahagiaan yang dirasakan karena akan menyakiti perasaan Tsamara.
Belum cukup kaki yang terluka karena perbuatan Zafer, kini hati pun harus patah hati karena kenyataan pahit itu. Meskipun dari sudut pandang berbeda, merupakan sebuah kebahagiaan yang patut dirayakan.
Erina kini mengusap lembut lengan Tsamara untuk memberikan sebuah kekuatan. "Sayang, kamu harus bersabar atas semua ini."
Sengaja ia berbicara dengan lirih, agar tidak terdengar pada wanita yang juga akan menjadi menantu kedua. Berniat untuk menjadi mertua yang adil karena biar bagaimanapun, Rayya tengah mengandung cucu keluarga Dirgantara.
Begitu mendengar jawaban Tsamara, Erina merasa sangat lega.
"Iya, Ma. Jangan khawatir karena aku sudah pernah mengalami hal seperti ini, jadi tidak terkejut. Tenang saja." Tsamara berbicara dengan tersenyum tipis ketika menatap mertua yang sudah dianggap sebagai ibu kandung tersebut.
Kemudian memilih untuk mengalihkan pandangan pada pria paruh baya yang berada di sofa sebelah kiri. "Apa aku boleh meminta sesuatu, Pa."
Adam Dirgantara yang dari tadi merasa bahwa hal saat ini terjadi sudah berhasil menghancurkan hidup sang menantu, kini menatap wanita dengan wajah muram tersebut.
"Ya, Sayang. Katakan saja," ujar Adam Dirgantara yang saat ini tengah menunggu. Hingga seorang wanita yang ada dihadapan tersebut kembali mengungkapkan permintaan.
Tsamara yang baru saja menganggukkan kepala, kini beralih menatap ke arah pasangan kekasih duduk bersebelahan di hadapan. Kemudian mengungkapkan keinginan yang sebenarnya sangat menghancurkan hati saat ini.
"Lebih baik nikahkan saja mereka besok dengan memanggil pemuka agama. Tu ...." Tsamara tidak jadi melanjutkan memanggil tuan pada pria itu karena mengingat petuah dari mertua, agar tidak terlihat lemah di depan wanita itu.
"Aku tidak ingin suamiku semakin membuat dosa jika tinggal bersama seorang wanita yang belum sah menjadi istrinya. Semakin cepat akan lebih baik." Ayu merasa tidak pantas menyebut kalimat dosa karena bukanlah wanita suci.
Apalagi di masa lalu bergelimang dosa dan tidak pantas untuk mengatakan jika sang suami melakukan dosa. Namun, ingin menjadi istri yang berguna dengan menghentikan perbuatan Zafer yang sangat dimurkai oleh Tuhan.
__ADS_1
'Aku yang penuh dosa hanya bisa melakukan hal ini saja, meskipun sangat tidak pantas. Namun, berharap akan sedikit mengurangi dosaku di masa lalu dengan menghentikan perbuatan buruk suami.'
Saat Tsamara sibuk bergumam sendiri di dalam hati untuk membesarkan hati, agar menjadi seorang wanita kuat dalam menghadapi masalah dan tidak berpikir buruk atas takdir Tuhan saat ini, di sudut berbeda, yaitu pria yang tak lain adalah Zafer tengah mengulas senyuman.
Merasa sangat senang karena wanita yang dianggap hanyalah beban dalam hidup, kini telah membuka jalan untuk bisa bersatu dengan Rayya. Kemudian beralih menatap ke arah sang ayah yang masih terdiam di tempat.
Seolah sedang mempertimbangkan permintaan sang menantu. "Istriku benar, Pa. Semakin cepat menikah akan lebih baik. Apakah Papa tidak berpikir jika semua perkataan Tsamara sangat baik?"
Adam masih belum membuka suara karena tengah menahan diri untuk tidak menampar Zafer karena tidak bisa membaca hati Tsamara yang terluka.
'Dasar pria bodoh! Zafer hanya melihat Rayya, tapi sama sekali tidak mengerti apa yang saat ini tengah dirasakan Tsamara. Bahkan dari sini saja, aku bisa melihat hati menantuku sangat hancur, tetapi masih berusaha untuk terlihat baik-baik saja.'
'Tuhan, ampuni aku karena telah menyeret wanita sebaik Tsamara dalam keluarga ini. Hanya demi keegoisan, aku menyuruh menantu menerima Zafer yang bahkan sangat tidak berperasaan.'
Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini Adam Dirgantara mengembuskan napas berat dan mewakili perasaan saat ini yang tersiksa dengan rasa bersalah sekaligus berdosa.
"Apa kamu siap untuk menikah dengan Zafer besok? Mengenai orang tuamu ... maksudku ayahmu, harus kamu beritahu, agar datang untuk memberikan restu."
Adam Dirgantara sudah mengetahui seperti apa hubungan dari ayah dan anak yang tidak cukup baik. Jadi, ingin memastikan jika wanita itu patuh saja tanpa meminta macam-macam.
Seperti lamaran mewah, pernikahan dengan resepsi megah yang tidak mungkin bisa dituruti karena memang hanya akan membuat Rayya berada di balik layar.
Adam memang berencana untuk mengadakan acara resepsi pernikahan untuk Zafer dan Tsamara, tetapi butuh persiapan karena harus menghubungi wedding organizer.
Jadi, berharap tidak ada rasa iri Rayya pada Tsamara—wanita malang yang hanya mendapatkan kepedihan dalam hidup semenjak masuk dalam keluarga Dirgantara.
__ADS_1
Rayya yang kini memiliki banyak pertanyaan di dalam hati, hanya menanyakan satu hal. "Apakah kalian tidak akan datang ke rumah ayahku untuk melamar?"
"Paling tidak, ayahku mengetahui jika kalian meminangku sebagai istri Zafer." Rayya berharap sang ayah akan merasa senang dan bangga karena akan menjalin hubungan kekeluargaan dengan keluarga Dirgantara.
Namun, jawaban dari pria yang dianggap seperti tidak berperasaan itu seketika memporak-porandakan harapannya.
"Tidak perlu karena kamu bahkan sudah hamil. Bukankah yang sangat dirugikan adalah pihak wanita jika dalam kondisi seperti ini? Jadi, bukankah lebih baik segera mengesahkan status kalian? Tidak ada yang lebih baik dari semua hal selain segera menikah." Adam masih tidak bisa bersikap manis pada wanita yang sangat tidak disukai.
Apalagi sudah terlanjur cocok dan suka pada Tsamara dan berpikir jika nanti Zafer akan menjadi seorang suami yang baik dan memberikan cucu. Namun, semuanya tidak seperti harapan karena ternyata menjadi berantakan seperti ini.
Jadi, berpikir jika menuruti apapun yang diinginkan oleh Tsamara, dianggap cara pantas untuk menebus kesalahan.
"Aku yakin ayahmu pasti akan mengerti karena memang keadaan sudah seperti ini. Tidak mungkin membuang waktu sampai perutmu semakin membuncit dan diketahui oleh banyak orang, kan? Bahkan Tsamara dulu menikah juga tanpa lamaran dan hanya secara sederhana di kontrakan."
Ingin sekali Rayya menggebrak meja karena sangat marah ketika kehamilan dianggap kelemahan dan juga disamakan dengan wanita yang bahkan tidak sebanding. Namun, hanya bisa meremas kedua sisi pakaian yang dikenakan untuk mengendalikan diri.
Menyadari jika melakukan itu akan menghancurkan rencana yang sudah sangat matang disusun bersama Zafer.
'Rasanya aku ingin sekali mengatakan bahwa meskipun hamil, tidak akan pernah menjadi wanita lemah yang bisa diinjak harga diri. Bahkan dengan gampang bisa menggugurkan anak-anak ini karena tidak diinginkan oleh mereka.'
'Namun, jika aku melakukan itu, akan kehilangan Zafer, sekaligus harta yang sudah di depan mata. Ini tidak boleh terjadi karena hanya aku yang akan menjadi nyonya rumah dan menguasai semuanya. Bukan wanita cacat itu '
'Apa wanita cacat itu berpikir aku akan berterima kasih karena telah meminta pria tua bangka itu untuk segera menikahkan kami? Tidak, aku akan menyingkirkannya dari rumah ini karena hanya aku satu-satunya yang akan menjadi nyonya rumah utama.'
'Lihat saja nanti. Tunggu pembalasanku pada kalian semua,' lirih Rayya yang kini mendengar suara bisikan Zafer.
__ADS_1
"Sayang, bagaimana? Apa kamu bersedia?" Zafer dari tadi menunggu keputusan dari Rayya.
To be continued...