
Namun, jawaban Zafer yang membalikkan perkataan, membuat Adam Dirgantara ingin sekali menendang kaki pria yang ingin dirubah menjadi lebih baik tersebut menikahkan dengan Tsamara.
"Bukankah ini yang Papa inginkan? Aku tidak menikah dengan Rayya dan tetap menjadi suami Tsamara? Lalu kenapa saat aku memenuhi keinginan Papa, malah menyuruh berubah pikiran? Seharusnya senang, bukan kembali membuat pikiranku bertambah stres hari ini."
Zafer bahkan kini memijat pelipis yang dirasakan menyiksa. Entah karena efek kurang tidur, atau banyak hal dipikirkan, berakhir seperti itu.
Baru saja menutup mulut, Zafer meringis menahan rasa nyeri pada telinga ketika sang ibu sudah menjewer dan memutar di sana.
"Apa yang harus Mama lakukan agar kamu menyadari kesalahanmu, Zafer! Seharusnya kamu bisa membedakan posisi saat ini. Jika Rayya tidak sedang hamil, tentu saja kami tidak terlalu memikirkan atau pun melarangmu untuk membatalkan pernikahan."
"Sementara sekarang, ia saat ini telah hamil anak-anakmu. Apa kamu lupa itu? Bukankah kau kemarin sangat bahagia di depan kami dengan menunjukkan wajah berbinar?" Erina kali ini sudah tidak bisa mentolerir lagi atas apapun yang dilakukan oleh Zafer.
Jika biasanya sang suami yang bergerak untuk mengatasi masalah yang dihadapi atas perbuatan Zafer, kini memilih untuk turun sendiri karena ini melibatkan seorang wanita hamil dua cucu Erina.
"Mama tidak ingin semakin dihukum oleh Tuhan karena perbuatanmu ini, Zafer! Lebih baik tenangkan pikiran dan perasaan sebentar, lalu kembali masuk ke dalam untuk menikahi Zafer."
Erina bahkan belum melepaskan tangan di daun telinga Zafer. Berharap jika pria itu tidak akan kabur. "Atau kamu ingin melihat Mama gantung diri di hadapanmu?"
Zafer bisa melihat jika kali ini sang ibu sangat murka dan bisa dilihat wajah memerah itu telah membangkitkan rasa bersalah sekaligus berdosa karena membuat wanita itu berakhir mengatakan akan mengakhiri hidup karena masalah yang baru saja terjadi.
Zafer kini menampilkan wajah masam dan melepaskan jemari lentik itu di daun telinga.
"Bahkan Mama pun sekarang sangat pintar mengancam rupanya. Mana mungkin aku mau melihat Mama gantung diri. Bahkan apapun akan kulakukan untuk menghentikan niat gila itu."
__ADS_1
Zafer berbicara sambil beberapa kali mengusap daun telinga yang terasa panas akibat perbuatan sang ibu. "Biarkan aku mendinginkan otakku dulu karena benar-benar terasa berkobar karena ulah pria tua bangka itu!"
Geraman amarah kini terlihat jelas oleh Zafer ketika mengingat kejadian hari ini. "Mama lihat sendiri, kan perbuatan pria itu? Aku bisa terima jika yang melakukan adalah Papa saat aku memang melakukan kesalahan."
"Berbeda jika pria sialan itu yang melakukan padaku. Aku tidak bisa tinggal diam. Semarah apapun seseorang, tidak akan berbuat kasar pada seseorang yang bahkan belum menjadi menantu."
Geraman dari rahang tegas putranya, serta bunyi gemeretak gigi yang saat ini bisa didengar oleh Erina dan langsung menatap ke arah sang suami. Berharap pria itu mau menghibur Zafer dari rasa kecewa dan amarah.
Tentu saja Adam kini mengerti apa yang dirasakan oleh Zafer. Memilih untuk berjalan mendekati sosok putra satu-satunya, kini mengarahkan tatapan tajam sambil menepuk pundak itu.
"Kenapa kamu berubah pikiran saat Rayya hamil? Nasi sudah menjadi bubur dan kamu harus bertanggungjawab atas perbuatanmu dengan segala konsekuensi. Seperti yang dikatakan oleh mamamu, jika Rayya tidak hamil, sudah dipastikan kami akan membiarkanmu membatalkan pernikahan."
"Kami tetap lebih setuju jika hanya Tsamara yang menjadi istrimu. Mengenai masalah kakinya, sudah ditangani oleh dokter yang mengatakan jika ada harapan besar bisa berjalan lagi. Papa harap, ia secepatnya bisa berjalan lagi."
"Papa beri waktu sepuluh menit untuk mendinginkan kepala. Setelah itu, masuklah ke dalam dan laksanakan pernikahan!" Adam Dirgantara kini menoleh ke arah sang istri, memberikan sebuah kode, agar menemani putra yang selalu membuat masalah itu.
"Baiklah." Adam Dirgantara kini sudah berjalan meninggalkan istri dan putranya yang masih butuh waktu untuk menormalkan amarah yang membuncah dan memenuhi diri.
Saat Zafer berusaha mengambil napas teratur, kini mendapatkan tatapan mengintimidasi dari sang ibu. Seolah apa yang saat ini ada di hadapan pria itu sangat mudah memantik amarah.
"Sekarang jelaskan pada Mama." ujar Erina yang kini merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Zafer.
"Maksud Mama? Menjelaskan tentang apa?" Zafer masih tidak paham dengan apa yang diinginkan oleh sang ibu karena memang yang terjadi hari ini diluar kendali.
__ADS_1
Tidak pernah terpikirkan jika pernikahan akan diwarnai oleh amarah dan hampir batal tersebut. Padahal dari dulu berpikir akan sangat bahagia menikah dengan bahagia.
Namun, seolah semuanya terasa berbeda semenjak merasa marah ketika melihat sikap Tsamara yang sangat santai saat menanggapi pernikahan dengan Rayya.
Refleks Erina kembali mengangkat tangan untuk menjewer telinga putranya karena tidak paham dengan yang dimaksud. "Apa mau Mama putar lagi telingamu? Cepat jelaskan apa yang membuatmu datang terlambat dan mengacaukan acara hari ini?"
Sementara itu, Zafer sama sekali tidak ingin menjelaskan karena berpikir itu adalah urusan pribadi yang harus diselesaikan.
'Tidak. Mama tidak boleh tahu karena bisa sampai ke telinga papa.' Zafer bergumam di dalam hati dan mulai mengatakan kebohongan.
"Aku tadi ingin meminjam ponsel Tsamara dan saat tiba di kamar, melihat saat makan dengan posisi terbaring telentang, jadi aku kasihan saat kesusahan mengambil gelas dan berakhir pecah ketika jatuh."
"Jadi, aku menyuapi Tsamara karena geram saat melihat lambat makan seperti siput. Saat sakit, wanita itu sangat menyusahkan. Aku tidak ingin menantu kesayangan Mama mati di rumah dan akhirnya aku dituntut pertanggungjawaban."
"Oh ya, ada sesuatu hal penting yang harus Mama ketahui. Pasti akan sangat terkejut." Zafer baru saja menutup mulut, tetapi mendengar suara sang ayah yang memanggil agar segera masuk.
Sementara itu, Erina yang sebenarnya merasa sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Zafer, tapi sadar jika waktu telah habis.
"Sekarang kita masuk dan lanjutkan nanti setelah selesai acara pernikahan ini. Aku yakin ayah Rayya tidak akan berani macam-macam padamu karena telah dibereskan oleh papamu." Erina sedikit mendorong pria yang menjadi harapan utama agar menjadi pria baik tersebut masuk ke dalam rumah.
Zafer yang merasa seperti menjalani dejavu karena menikah dengan suasana hati buruk untuk kedua kali.
"Rasanya sangat aneh mengalami hal seperti ini dua kali dalam kondisi yang luar biasa," lirih Zafer yang saat ini sudah melihat jika semua orang telah duduk di kursi masing-masing, termasuk pria yang tak lain adalah mertuanya.
__ADS_1
'Sekali lagi pria tua itu menyentuh wajahku, akan kubalas dengan luka yang akan diingat seumur hidup,' sarkas Zafer yang kini mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.
To be continued...