
Adam Dirgantara yang kini merasa pusing karena selalu saja Zafer membuat ulah pada detik terakhir dan pastinya akan mempermalukan keluarga Dirgantara.
'Anak itu benar-benar ingin dihajar! Bukankah dari dulu ingin menikahi wanita ini? Kenapa sekarang mendadak seperti tidak bersemangat hanya karena semalaman tidur di ranjang Tsamara. Astaga! Kenapa selalu saja ada masalah yang mempermalukan keluarga kami.'
Saat Adam Dirgantara ingin membuka suara, suara bariton dari sosok pria yang ada di sebelah kiri tersebut memecah keheningan.
"Jika sampai lima menit lagi putramu tidak kunjung tiba, aku akan memberikan pelajaran karena telah mempermalukan putriku yang sangat berharga! Bahkan ada banyak pria yang ingin menikah dengan Rayya, tapi memilih bajingan itu. Apakah putriku harus mendapatkan penghinaan ini?"
Leon Pratama tidak bisa menahan diri lagi karena emosi yang meluap dalam hati saat melihat kejadian hari ini. Jika tahu akan seperti ini, yang terjadi adalah tidak akan pernah setuju dan memilih untuk menikahkan dengan Raymond.
"Sabar, Tuan. Saya akan menunggu sampai mempelai pengantin pria datang. Jadi, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menghubungi pihak keluarga yang berada di rumah sakit." Pria yang akan menikahkan pasangan pengantin itu merasa bersalah karena memicu kericuhan di rumah megah itu.
Sama sekali tidak tahu jika ternyata mempelai pengantin pria tidak ada di rumah itu, jadi memilih untuk meredakan amarah dari ayah sang wanita.
Sementara beberapa orang yang akan menjadi saksi hanya diam dan tidak mengeluarkan pendapat.
Nasib baik pernikahan itu hanya dihadiri oleh beberapa orang terpercaya dan tidak akan menyebarkan kejadian hari ini.
__ADS_1
Sementara Adam.Dirgantara kini memerah wajah dengan rahang mengeras karena berpikir jika yang terjadi sekarang jauh lebih buruk jika dibandingkan saat acara pernikahan dengan Tsamara yang malah berjalan lancar.
'Sebenarnya apa mau bocah tengik itu? Kenapa belum datang juga? Apa yang sedang dilakukan?' gumam Adam Dirgantara yang kini menatap ke arah sang istri dan memberikan kode.
Apakah sudah menghubungi pelayan atau Tsamara. Kemudian berjalan mendekati sosok istri yang berbisik di dekat daun telinga.
"Kata Paijo, Zafer baru berangkat. Semoga tidak macet. Jadi, tidak membuat semua orang menunggu dengan perasaan berkecamuk seperti ini. Awas saja nanti, aku akan menjewer telinganya jika tiba!" umpat Erina yang berbicara lirih karena tidak ingin didengar oleh orang lain selain suami.
Adam yang kini mengepalkan salah satu tangan, merasa sangat marah karena membutuhkan waktu tidak sedikit saat perjalanan dari rumah itu ke sini, sehingga memilih untuk berbicara dengan orang yang akan menikahkan.
Adam menjelaskan jika putranya sudah berada di jalan karena mengalami sedikit masalah tadi. Berharap pria itu mau menunggu dan tidak pergi sebelum menikahkan pasangan tersebut.
Sementara itu, Leon Pratama terus mengumpat di dalam hati saat melihat putrinya yang dipenuhi rasa kekhawatiran.
"Jika kau tidak menolak Raymond, tidak akan merasa malu seperti ini. Dasar bodoh!"
"Ayah, diamlah! Jangan menambah kekesalanku hari ini. Seharusnya menghibur putri yang sedang terluka, bukan malah menambah beban," sarkas Rayya yang semakin bertambah kesal karena saat sedang gelisah dan khawatir jika Zafer tidak datang, malah mendapatkan umpatan dari sang ayah.
__ADS_1
Selama beberapa menit semua orang menunggu kedatangan Zafer dengan perasaan membuncah. Sampai seorang pelayan masuk dan berjalan cepat.
"Tuan Zafer sudah tiba," ucap pelayan pria yang tadi melihat majikan yang membuat kehebohan dan sangat ditunggu semua orang telah datang.
Saat Adam berniat untuk membuka mulut menanggapi, tidak jadi melakukan itu saat mendengar suara bariton dari ayah Rayya yang dikuasai kemurkaan.
"Aku akan memberi pelajaran pada pria itu." Leon Bagaskara berjalan menuju ke arah pintu, tapi melihat Zafer masuk pintu samping yang baru saja dilewati. Refleks langsung mengarahkan kepalan tangan dan meninju wajah pria yang telah membuat Rayya gelisah dari pagi.
"Dasar pria berengsek!" teriak Leon Pratama dengan wajah memerah yang diliputi oleh amarah.
Sementara, tubuh Zafer beberapa saat lalu sempat terhuyung ke belakang karena pukulan dari pria yang akan menjadi mertua, tetapi ingin sekali dihabisi agar babak belur karena selalu memancing amarah.
"Sialan! Apa yang kau lakukan sebenarnya, Pria tua bangka!" teriak Zafer yang kini mengusap sudut bibir yang terasa nyeri dan mengeluarkan darah karena robek.
Sementara itu, Adam Dirgantara dan sang istri yang melihat aksi memalukan antara calon menantu dan mertua itu, sama-sama memijat pelipis karena saat ini dikuasai oleh rasa malu teramat sangat pada semua orang yang hadir di ruangan itu.
"Astaga! Apa mereka tidak merasa malu saat saling berteriak di depan semua orang?" seru Adam Dirgantara yang seolah kehilangan muka.
__ADS_1
To be continued...