Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Mengakhiri semua


__ADS_3

Beberapa saat sebelum kejadian kecelakaan....


Tsamara keluar dari ruangan kamar Zafer dengan bernapas lega dan memegangi jantung karena berdetak sangat kencang melebihi batas normal.


Semua itu karena tadi beberapa kali posisi pria itu terlampau dekat ketika menghentikan saat hendak keluar kamar. Bahkan Tsamara bisa menghirup embusan napas mint dari Zafer saat membungkuk dan menahan kedua sisi kursi roda.


Tsamara merasa sangat bodoh karena mengingat hal yang bahkan tidak penting tersebut dan mulai mengingat sesuatu. Kemudian menggerakkan kursi roda menuju ruang tamu.


Begitu melihat ponselnya sudah bernasib nahas, ia memilih untuk membungkuk dan dengan susah payah akhirnya bisa mengambil benda pipih yang tidak bisa diselamatkan lagi tersebut.


"Ada banyak kontak para pelanggan catering dan mereka hanya tahu nomor ini saja. Jadi, harus mengambil SIM card di ponsel ini."


Setelah menaruh ponsel yang sudah hancur tersebut, kini Tsamara mulai menuju ruangan kamar dan langsung mengunci pintu.


Hal pertama yang dilakukan adalah melepaskan semua atribut di tubuhnya dan menyisakan gaun tidur tipis yang selalu dipakai dan memudahkan saat berangkat tidur karena tidak perlu susah payah mengambil gaun malam lagi.


Seperti biasa, saat tidur memang selalu melepaskan bra. Kemudian melipat pakaian panjang agar rapi, lalu menaruh di atas nakas. Semenjak tidak bisa berjalan, memang tidak pernah memakai ****** ***** karena kesulitan.


Sebelum pindah ke ranjang, ia berniat untuk memindahkan SIM card dari ponsel hancur tersebut ke ponsel yang satu lagi karena selama ini memisahkan antara bisnis dan hubungan dengan teman, serta keluarga. Tsamara terlihat menunduk menatap ke arah lubang SIM card.


Tsamara berniat untuk mengambil alat kecil panjang seperti jarum yang digunakan untuk mengambil SIM card, tetapi tiba-tiba terjatuh dan mencari-cari di atas lantai.


Melihat alat seperti jarum itu tergeletak di lantai, Tsamara kini membungkukkan dengan kesusahan mengambil jarum tersebut. Namun, sangat sulit dah tiba-tiba terjatuh di atas lantai dengan tengkurap.


Bahkan keningnya terbentur lantai dan meninggalkan rasa nyeri luar biasa. Suara Tsamara yang meringis menahan rasa sakit terdengar menyayat hati dan membelah keheningan malam.


"Sakit sekali," lirih Tsamara dengan bulir bening air mata yang sudah membasahi pipi putih.

__ADS_1


Bola mata berkaca-kaca karena merasa seperti seorang wanita tidak berguna dan tidak bisa menggerakkan tubuh yang terasa nyeri. Bahkan selama beberapa menit terdiam dan membiarkan tubuh yang menggunakan pakaian tipis itu menyatu dengan dinginnya lantai.


"Kenapa aku bisa terjatuh hanya karena ingin mengambil alat kecil ini. Aku kedinginan dan harus segera pindah ke atas ranjang." Tsamara berniat untuk menggerakkan tubuh, tapi saat merasakan sakit luar biasa, tidak jadi melakukannya dan memilih diam.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" lirih Tsamara dengan suara serak menahan rasa sakit.


Kemudian menggerakkan tangan untuk mengambil ponsel yang tadi berada di pangkuan dan seketika ikut terjatuh ke atas lantai.


"Sumi dan Paijo, aku harus meminta bantuan mereka untuk membantuku." Saat berniat untuk menekan tombol panggil, mengingat penampilan saat ini yang hanya memakai gaun malam tipis tanpa bra dan ****** *****.


"Tidak mungkin aku membiarkan orang lain melihatku seperti ini? Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus seperti ini sampai pagi? Hingga ada yang menolongku?"


Baru saja Tsamara menutup mulut, mendengar suara serak dari Keanu.


"Ma ... Mama ...."


"Mama di sini, Sayang," sahut Tsamara yang menampilkan seulas senyuman saat putranya bergerak dari ranjang dan melihat posisi saat ini yang mengenaskan.


Keanu yang merasa khawatir terjadi sesuatu pada sang ibu yang tetap pada posisi seperti itu, beranjak turun dari ranjang dan menangis.


"Mama ...."


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Jangan menangis, ya!" Tsamara mengusap lembut kepala, lengan dan tubuh Keanu untuk menenangkan.


Berharap bocah laki-laki itu diam dan tidak menimbulkan kebisingan di malam yang penuh kesunyian. 'Jika sampai Zafer mendengar suara tangisan Keanu, pasti akan marah.'


Namun, yang terjadi adalah sebaliknya karena Keanu tetap saja menangis dan membuatnya kebingungan. Gagal menenangkan bocah laki-laki yang sangat disayangi tersebut, akhirnya terpaksa meraih ponsel dan menelpon pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.

__ADS_1


"Aku tidak ada pilihan lain selain menghubungi tuan Zafer karena adalah suami dan tidak masalah jika melihat penampilanku yang seperti ini."


"Lagipula ia tidak akan pernah melihatku atau tertarik padaku. Apalagi sudah memiliki Rayya yang akan dinikahi besok." Tsamara mencoba untuk berpikir positif.


Bahwa tidak masalah jika Zafer yang memang berstatus sebagai suami tersebut melihat penampilan ketika hanya memakai gaun malam tipis.


Begitu sambungan telpon tersambung, ia langsung mengutarakan apa yang terjadi. Namun, belum selesai berbicara untuk mengatakan jika sudah mengganti kunci pada pintu karena dulu ingin berjaga-jaga jika malam hari Zafer pulang dalam keadaan mabuk dan berpikir kamar ini adalah ruangan pribadi pria itu.


Apalagi jika sampai nanti tidak sadar menyakiti Keanu karena dalam pengaruh alkohol. Itulah yang paling ditakutkan olehnya.


"Jika hanya menyakiti aku tidak masalah, tapi jika putraku, akan merasa bersalah. Padahal aku tadi ingin menjelaskan ini padanya, tapi malah sudah memutuskan panggilan." Tsamara seketika menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara Zafer dari luar.


Tanpa memperdulikan apa yang akan dilakukan oleh Zafer, memilih untuk menenangkan Keanu agar diam dan tidak menangis lagi. Namun, hasilnya tetap sama karena tidak berhenti juga.


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Jangan menangis, ya!" Tsamara masih sibuk mengusap lembut punggung putranya dengan posisi tengkurap.


Seolah mengerti jika sang ibu sedang tidak baik-baik saja, Keanu semakin mengeraskan suara karena berharap ada yang segera membantu mengangkat tubuh wanita yang sangat disayangi tersebut.


Merasa bingung harus melakukan apa lagi untuk mendiamkan Keanu, akhirnya menyerah dan menunggu sampai Zafer yang terdengar mengumpat di luar karena masalah kunci cadangan, membiarkan sampai pintu terbuka.


"Zafer mendobrak pintu? Kenapa tidak memakai alat saja? Apa sekarang pria itu tidak punya akal? Kenapa mengandalkan otot alih-alih memakai otak? Kerja cerdas lebih nyata hasilnya dibandingkan kerja otot. Apa itu saja tidak tahu?"


"Biarkan saja merasakan sakit pada sebagian tubuhnya. Anggap saja itu balasan karena mencekikku tadi." Tsamara merasakan rasa nyeri pada tenggorokan untuk menelan.


"Rasanya sangat sakit untuk sekedar menelan ludah. Sekarang ditambah lagi dengan seluruh tubuhku yang sakit." Tsamara seketika terdiam begitu mendengar suara bariton dari Zafer yang berhasil masuk dengan merusak pintu.


'Apa yang harus kulakukan? Tuan Zafer akan bisa melihat seluruh tubuhku. Kenapa aku tadi melepaskan bra? Sekarang aku menyesal tidur tanpa bra dan memang selama ini tidak pernah memakai ****** ***** semenjak cacat,' umpat Tsamara yang kini masih tengkurap dan mendengar Zafer asyik mengumpat.

__ADS_1


'Aku harus segera mengakhiri ini dan menyuruh tuan Zafer kembali ke kamar sendiri setelah menolongku ke atas ranjang,' gumam Tsamara yang memilih untuk mengawali semua dengan permohonan maaf.


To be continued...


__ADS_2