
Namun, saat ini Tsamara melihat warna-warni pakaian harus dikenakan di depan pria yang berdiri menjulang di hadapannya, seolah membuatnya sama sekali menolak mentah-mentah.
Akan tetapi, tadi baru saja berjanji untuk melayani suami dengan baik demi menebus dosa-dosa yang dilakukan di masa lalu, sehingga tidak jadi melakukan itu.
'Sepertinya Zafer sangat senang melihatku marah dan kesal.'
Puas mengumpat di dalam hati, lalu Tsamara membuka paper bag dan mengambil satu gaun yang akan dikenakan. Ada gaun panjang berwarna merah yang menyilaukan mata dan sebenarnya sangat tidak disukai, tetapi apa boleh buat selain harus menuruti perintah Zafer untuk memakainya.
"Bagaimana aku berganti pakaian?" tanya Tsamara yang saat ini menatap Zafer masih berdiri tepat di hadapan.
"Apa maksudmu?" Zafer memicingkan mata karena tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Tsamara. "Apakah kamu ingin aku memakaikan gaun itu di tubuhmu karena tidak bisa berpakaian sendiri?"
Bahkan ia berbicara sambil tersenyum menyeringai karena berpikir bahwa saat ini ayo tengah menggodanya.
Refleks Tsamara memijat pelipis karena Zafer salah paham dengan pertanyaan yang baru saja diajukan. "Aku harus berganti pakaian di ruang ganti, bukan? Namun, tidak bisa melakukannya karena kau tidak membawa kursi roda."
"Astaga!" Zafer seketika tertawa terbahak-bahak begitu mengerti maksud dari Tsamara yang seperti seorang wanita perawan saja. "Apa kamu lupa statusmu sebagai istriku dan kita sudah melihat setiap sudut tubuh masing-masing?"
"Apalagi tadi sudah bercinta dan tidak ada lagi yang disembunyikan karena sudah sama-sama saling melihat, bukan? Jadi, ganti pakaian saja di situ agar aku bisa melihatnya secara langsung."
Zafer bahkan saat ini bersedekap di dada karena seolah bersiap untuk menikmati pemandangan indah di hadapan. Seolah sangat bersemangat ketika melihat Tsamara berkali-kali berganti pakaian di hadapannya.
Tentu saja saat ini sangat berbeda respon yang ditunjukkan oleh Tsamara ketika membulatkan mata karena tidak percaya dengan perintah Zafer.
__ADS_1
Meskipun mereka sudah melihat tubuh masing-masing dan berstatus sebagai suami istri, tetap saja Tsamara merasa canggung melakukan hal itu.
Kini, Tsamara mengerjapkan mata beberapa kali sambil menelan ludah dengan kasar ketika memikirkan apa yang harus dilakukan untuk merubah perintah Zafer
'Aku berganti pakaian di depan Zafer? Padahal aku selama ini tidak pernah memakai ****** *****. Nanti akan mengetahui hal ini. Mau ditaruh di mana mukaku? Kenapa aneh-aneh saja keinginan pria ini.'
Tsamara bahkan masih menatap gaun panjang berwarna merah di tangan dan belum mengungkapkan jawaban atas perintah Zafer karena merasa bingung apa yang harus dilakukan saat ini.
Hingga suara pria itu kembali menggema dan membuat Tsamara tidak berkutik.
"Sepertinya kamu ingin aku membantumu," ucap Zafer yang merasa tidak sabar saat melihat Tsamara hanya diam saja dan tidak bergerak untuk melakukan perintah.
Zafer bahkan saat ini berjalan mendekati Tsamara dan berniat untuk melepaskan gaun yang melindungi tubuh wanita dengan wajah menunduk tersebut.
"Stop!" Tsamara seketika mengarahkan kedua tangan ke depan untuk menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Zafer saat berniat untuk membantu melepaskan gaun yang dikenakan.
Ia memang sering melihat film-film romantis ketika tokoh utama pria merubah penampilan wanita yang dicintai dengan mengajak ke Mall dan mencoba beberapa pakaian cantik.
Namun, tentu saja mengganti pakaian di ruang ganti dan kemudian menunjukkan hasil di depan sang kekasih. Sangat berbeda dengan keadaannya saat ini yang bahkan tidak bisa bangkit dari sofa untuk berdiri, apalagi harus berjalan.
Bahkan hubungan di antara mereka bukanlah didasari saling mencintai dan memuja seperti di film-film, tapi hanyalah karena keterpaksaan sehingga bisa terikat dalam status pernikahan.
Mungkin Tsamara tidak akan segugup ini jika memakai pelindung pada bagian inti. Menganggap bahwa itu adalah rahasia besar untuknya dan tidak boleh diketahui oleh siapapun, tetapi sekarang pria di hadapannya akan melihat secara langsung.
__ADS_1
Lebih tepatnya, Tsamara tetap saja merasa malu meskipun Zafer adalah suaminya yang sah. Namun, karena tidak bisa menolak perintah dari pria yang masih berdiri menjulang di hadapan.
Apalagi dari tadi Zafer tidak mengalihkan pandangan terhadapnya dan membuatnya sangat risi, sehingga terpaksa harus menuruti perintah.
"Kenapa hanya mengganti pakaian saja sangat lama? Padahal aku belum menyuruhmu telanjang bulat di depanku. Apa saat ini kamu malu padaku? Astaga, bahkan kamu bukanlah seorang perawan, Istriku."
Zafer yang dari tadi masih menatap intens sosok wanita di atas sofa tersebut, semakin tidak sabar untuk melihat pergerakan Tsamara ketika melepaskan pakaian dan memakai gaun berwarna merah di tangan.
Sebenarnya merasa sangat gemas karena ingin sekali membantu, tetapi saat Tsamara melarang, sehingga masih dengan sabar menunggu. Hingga jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh Zafer, membuatnya mengerjapkan mata.
"Aku memang bukan seorang perawan yang belum pernah dilihat oleh pria, tapi saat membuka pakaian, sama saja aku telanjang bulat di hadapanmu. Semenjak tidak bisa berjalan, aku tidak pernah memakai ****** ***** karena sangat kesusahan melakukannya."
Akhirnya Tsamara menjelaskan hal yang dari tadi mengganggu dan mengangkat pandangan karena ingin melihat seperti apa respon dari pria di hadapannya tersebut.
Jika tadi Tsamara berpikir bahwa Tsamara akan terkejut dan membatalkan perintah, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya karena melihat wajah pria itu berbinar seperti seorang anak kecil baru saja mendapatkan mainan yang diinginkan.
"Oh ... jadi seperti itu? Maafkan aku karena membuatmu kesusahan memakai ****** *****. Sepertinya kamu lupa jika aku sudah mengetahuinya tadi pagi. Tidak masalah, itu akan membuatku lebih mudah ketika bercinta nanti. Cepatlah! Aku sudah tidak sabar melihatmu memakai gaun berwarna merah di tanganmu itu."
Zafer yang sudah tidak sabar ingin melihat Tsamara yang memang diketahui tidak memakai pelindung pada bagian inti, sehingga hal itu membuatnya sangat bersemangat. Berharap Tsamara santai dan tidak gugup hanya karena berganti pakaian di hadapan.
"Rileks dan tidak perlu gugup karena percintaan kita bahkan belum dimulai." Kemudian Zafer mengedipkan mata untuk menggoda wanita yang terlihat memerah wajahnya dan semakin membuatnya gemas.
Meskipun tidak sabar untuk segera menyerang wanita itu, tetapi tidak ingin melakukan karena berpikir bahwa jauh lebih menarik dan menantang jika sebelumnya membuat Tsamara beberapa kali mengganti pakaian dengan gaun berwarna-warni tersebut.
__ADS_1
Karena tidak ada pilihan lain selain mematuhi perintah Zafer, akhirnya Tsamara mengangkat tangan untuk perlahan melepaskan gaun berwarna hitam yang melekat di tubuhnya dengan hati dongkol.
To be continued...