
Saat ini, Tsamara hanya memejamkan mata dan membiarkan Rayya melakukan apapun padanya. Namun, tamparan yang hampir mendarat di wajahnya terhenti ketika suara tangisan Keanu menggelegar di dalam mobil.
Anak laki-laki yang dari tadi berada di pangkuannya, tentu saja bisa melihat pertikaian itu dan ketakutan, sehingga langsung menangis dengan kencang untuk meluapkan perasaan ketika khawatir jika wanita yang dianggap jahat tersebut menyakiti ibunya.
Tsamara sebenarnya bisa menghentikan perbuatan Rayya yang ingin menamparnya, tapi memilih membiarkan karena berharap bisa meninggalkan jejak di bagian pipi dan membuat banyak orang melihat.
Jika ada yang bertanya mengenai pipinya yang memerah karena tamparan Rayy,, akan memilih untuk berbicara jujur sesuai fakta. Bahwa Rayya yang melakukan itu ketika mengusir dan tidak diturutinya.
Kini, Tsamara sibuk menenangkan putranya dengan beberapa kali mengusap lembut punggung dan juga rambut hitam berkilat tersebut sambil memeluk erat.
"Keanu, tenang, Sayang. Mama tidak apa-apa." Masih berusaha untuk mendiamkan putranya agar tidak menangis.
Sementara itu, Rayya merasa sangat kesal melihat anak laki-laki yang menimbulkan suara berisik di mobil, sehingga membuatnya gagal memberikan pelajaran pada Tsamara.
Padahal tadi sangat bersemangat untuk menampar wanita yang sangat dibenci agar sadar diri dan segera pergi dari rumah keluarga Dirgantara.
Namun, gagal melakukan karena suara memekakkan telinga dari tangisan anak laki-laki tersebut.
Tidak ingin tangisan dari Keanu sampai di rumah dan dilihat oleh para tamu yang datang untuk mengucapkan belasungkawa, Rayya menatap tajam Tsamara.
"Cepat diamkan putramu agar tidak berisik karena menyakiti gendang telingaku!" Bahkan saat ini Rayya menutupi kedua daun telinga karena sangat tidak suka dengan suara tangisan anak kecil.
Terkadang Rayya sempat berpikir bagaimana jika nanti dua anaknya yang telah dilahirkan menangis secara bersamaan dan membuatnya stres.
Namun, hal itu tidak akan dipusingkan karena berpikir akan ada dua baby sitter yang akan membantu merawat karena berpikir bahwa tidak mungkin mengurus semua sendiri.
Mungkin akan menjadi stres jika merawat dua anak sekaligus yang pastinya tidak akan mudah. Jadi, memang sudah merencanakan untuk membayar dua baby sitter yang membantu.
__ADS_1
Saat Tsamara masih berusaha untuk mendiamkan putranya agar tidak menangis, kini hanya geleng-geleng kepala melihat jika Rayya sama sekali tidak ada sifat keibuan.
'Bagaimana ia menjadi seorang ibu jika mendengar suara tangisan dari anak kecil saja bereaksi seperti itu. Bahkan nanti akan jauh lebih susah karena melahirkan anak kembar. Aku bahkan tidak bisa membayangkan wanita arogan sepertinya merawat dua anak.'
'Semoga dua anak yang dilahirkan Rayya tidak akan mempunyai sifat yang sama seperti ibunya. Meski sebenarnya anak itu merupakan cerminan diri dari orang tua karena gen yang memenangkan segalanya.'
Saat Tsamara baru saja selesai bergumam sendiri di dalam hati, mendengar suara dari ponsel dan langsung mengambil dari saku gaun yang dikenakan.
Begitu melihat kontak Rey yang menghubungi, sehingga tidak berniat untuk mengangkat telpon dan memilih untuk mengaktifkan mode getar.
'Apa yang diinginkan pria itu saat momen duka ini? Apakah ingin menunjukkan kekuasaan setelah mertuaku meninggal?' gumam Tsamara yang saat ini merasa tidak takut lagi pada Rey meskipun sekarang kehilangan orang-orang yang sangat disayangi seperti mertuanya.
Apalagi keputusan pengadilan telah keluar bahwa hak asuh Keanu tetap berada di tangannya karena Zafer membawa bukti-bukti mengenai perbuatan Rey di masa lalu yang suka berganti-ganti wanita di atas ranjang.
Hal itulah yang menjadi pertimbangan hakim dan menolak tuntutan Rey agar hak asuh jatuh ke tangan pria itu.
Rayya menoleh sekilas ke arah Tsamara dan menatap curiga karena wanita itu tidak mengangkat telpon. "Siapa yang menghubungimu dan tidak kamu angkat? Apakah itu adalah Rey?"
Merasa tidak penting untuk menjawab pertanyaan Rayya, Tsamara saat ini hanya kembali memasukkan ponsel ke dalam saku gaun hitam yang dikenakan sambil terus mengusap lembut punggung putranya yang sudah tidak menangis lagi.
Sementara itu, Rayya yang merasa semakin kesal karena pertanyaan tidak dijawab, berniat untuk kembali berteriak, tetapi tidak jadi melakukan hal itu karena mobil sudah berbelok ke area istana keluarga Dirgantara dan sudah ada banyak orang berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa.
Akhirnya saat ini memilih untuk diam dan tidak mungkin meledakkan amarah saat ini ketika ada banyak orang yang datang, sehingga langsung keluar dari mobil begitu terparkir rapi di tempat kosong.
"Tolong kau bantu dia untuk turun dari mobil!" Rayya masih menunggu Tsamara keluar di sebelah kendaraan karena tidak mungkin langsung pergi tanpa perduli saat ada banyak orang yang datang.
Sementara itu, beberapa orang datang membantu supir karena tidak mungkin kuat untuk mengangkat majikan perempuan tersebut karena usia sudah tidak lagi muda.
__ADS_1
Begitu Tsamara sudah duduk di kursi roda, kini melihat Rayya bergerak dan mendorong kursi roda masuk ke dalam pintu utama.
'Rayya selama ini menyebutku adalah seorang wanita munafik, tapi sekarang melakukannya di depan para tamu yang datang.'
Tsamara saat ini bisa mengerti bahwa Rayya ingin terlihat menjadi seorang istri yang baik dan pantas untuk Zafer.
Tidak ingin mengambil pusing dengan hal itu, Tsamara memilih untuk fokus menyapa beberapa orang yang langsung menyambut kedatangan dengan mengungkapkan turut berduka cita.
Dengan mengucapkan terima kasih atas kedatangan semua orang, Tsamara sudah bersikap selayaknya menantu tertua di rumah keluarga Dirgantara agar tidak mempermalukan Zafer.
Namun, seketika membulatkan mata ketika melihat sosok pria yang tadi menelpon dan tidak diangkat berjalan mendekat ke arahnya.
'Rey? Apa yang dilakukannya di sini? Meskipun kewajiban orang untuk mengucapkan belasungkawa atas kematian, tapi aku yakin ada niat jahat yang tengah direncanakannya.'
Tsamara yang saat ini berpikir bahwa Rey tengah mencari cara untuk membuatnya terpisah dari Zafer, merasa khawatir jika pria itu berhasil melakukan rencana jahat tersebut.
"Aku turut berduka cita atas kematian tuan Adam dan juga nyonya Erina," ucap Rey saat ini mengulurkan tangan pada Tsamara yang tidak langsung disambut.
Bahkan tangannya menggantung di udara selama beberapa detik dan tersenyum begitu melihat Tsamara membalas dengan menjabat.
"Terima kasih." Tsamara sengaja menjawab singkat dan bersikap ketus agar Rey segera pergi setelah mengucapkan bela sungkawa.
Namun, respon sangat berbeda tanpa dari Rayya yang terlihat bersemangat ketika melihat Rey. "Terima kasih karena sudah sudah datang ke sini. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan mertua, baik yang disengaja ataupun tidak."
Rayya saat ini sudah menjabat tangan Rey dan berharap pria di hadapannya tersebut tidak langsung pergi agar memberikan ketidaknyamanan pada Tsamara.
To be continued...
__ADS_1