
Begitu melihat Tsamara tersedak dan wajah memerah, seketika merasa khawatir karena seperti terlihat kesusahan menelan. "Apa kamu tersedak obat?"
Tsamara sama sekali tidak mengeluarkan suara karena saat ini memang merasa obat berhenti di tenggorokan dan karena air minum habis, hanya memberikan gelas itu pada Zafer.
Refleks Zafer menuangkan air dari teko ke dalam gelas Tsamara dan melihat langsung meneguk minuman hingga habis.
Merasa sangat kesal, Tsamara seketika mengerahkan tenaga untuk memukul lengan Zafer. "Kamu hampir membunuhku! Jika aku yang mati tidak apa-apa, tapi bagaimana jika kamu melakukannya pada orang lain? Jangan selalu melakukan hal seperti ini."
Tsamara mengetahui bahwa akibat sumbatan yang terjadi pada jalan pernapasan karena tersedak makanan, menjadi sesak napas dan kesulitan bernapas juga tadi.
"Kenapa kamu terlalu berlebihan hanya karena masalah tersedak. Bukankah hanya dengan minum, langsung sembuh tadi?" Zafer kini kembali mendaratkan tubuh di tepi ranjang dan menghabiskan makanan Tsamara yang masih tersisa banyak.
Karena kesal, Zafer melampiaskan dengan makan makanan sisa Tsamara dan sudah sibuk mengunyah.
Ingin Zafer tidak melakukan kesalahan yang berisiko membahayakan orang lain, Tsamara kini menjelaskan hal yang dulu didengar dari petugas medis ketika menangani pasien yang tersedak hingga berakhir meninggal.
"Tersedak tidak boleh dianggap sepele karena akan terjadi sumbatan total. Hal yang seperti itu bisa menyebabkan sesak napas yang berat. Bahkan aku pernah melihat sendiri anak kecil berakhir meningggal dunia karena kekurangan oksigen dari tersumbatnya jalan napas."
"Jadi, jangan lagi melakukan hal seperti itu karena akan merugikan orang lain. Aku masih bernasib baik karena bisa lolos dari kematian. Sepertinya tanah dan Tuhan tidak menerimaku sampai mempertanggungjawabkan dosa di masa lalu."
Setelah mengingatkan Zafer, Tsamara menaruh gelas kosong itu ke atas nakas dan melihat pria itu terlihat lahap menikmati makanan sisanya.
'Apakah saat ini kamu sangat kelaparan? Hingga menghabiskan sisa makananku? Apa tidak merasa jijik?' gumam Tsamara yang masih tidak berkedip menatap Zafer yang lahap mengunyah makanan.
__ADS_1
"Kenapa menatapku seperti itu? Heran ada orang kelaparan?" tanya Zafer yang kembali menyuapkan makanan ke dalam mulut.
Tsamara hanya diam tanpa menjawab karena selain menatap Zafer makan makanan sisa, juga mengatakan meminumkan obat dengan cara tak biasa ketika pingsan.
Ingin mengetahui sesuatu, Tsamara kini mengungkapkan sesuatu yang ingin diketahui jawabannya. "Memangnya dari mana mendapatkan ide untuk memberikan obat dengan cara menyalurkan dari mulut?"
Zafer yang saat ini sudah menghabiskan makanan, kembali menaruh di atas nakas dan mengambil gelas Tsamara, lalu menuangkan air minum.
Kemudian langsung menghabiskannya. "Hanya sekilas muncul di kepalaku saat melihatmu tidak bisa minum obat saat memakai sendok. Atau kamu memang sengaja untuk melakukan itu, agar aku menciummu?"
"Apa kamu selalu memutarbalikkan fakta untuk melindungi diri?" sahut Tsamara yang kini sudah tidak lagi berbicara formal karena Zafer bersikap lebih baik semenjak sakit.
Perubahan sikap pria itu yang merubah Tsamara menjadi merubah panggilan dengan tidak lagi memanggil tuan dan sekarang nyaman dengan sebutan kau.
Bahkan saat ini Tsamara bisa mendengar suara tawa pria yang masih berdiri menjulang di hadapannya tersebut. Mungkin jika dulu berbicara seperti itu, pasti akan mendapatkan teriakan dan caci maki.
"Kenapa kamu tertawa? Apa ada yang lucu dengan pertanyaanku?" Ingin mendengar jawaban Zafer yang seperti menganggapnya bahan lelucon saat sedang serius, sangat malas untuk melanjutkan obrolan.
"Pergilah jika sudah selesai. Rasanya telingaku akan sakit besok karena tertusuk suaramu yang bagaikan paku."
Sementara Zafer yang tadi mengalihkan kekesalan dengan tertawa karena sindiran Tsamara sangat tajam dan membuatnya tidak berkutik. Bahkan bingung untuk menjawab.
Kini, baru saja berhenti tertawa setelah mendapatkan jawaban yang akan menampar Tsamara. "Kamu selalu menuduhku seperti pria paling jahat dan tidak bisa berbuat baik, kan? Jadi, menganggapku memanfaatkan situasi dan kondisimu yang sedang pingsan."
__ADS_1
"Asal kamu tahu, meskipun telanjang di depanku sekalipun, aku tidak akan tertarik padamu. Jadi, jangan berpikir jika perkataanku untuk meminta hakku benar karena itu hanyalah sebuah kebohongan semata."
Jika Zafer berpikir Tsamara akan merasa sangat kecewa dan terluka, tapi semua tidak seperti yang saat ini dikatakan oleh wanita dengan tatapan datar mengintimidasi tersebut.
"Syukurlah. Aku benar-benar sangat lega mendengar itu karena tadi sebenarnya ingin memberitahu bahwa memiliki suatu penyakit yang mungkin akan membuatmu jijik."
Kini, Zafer menyipitkan mata. "Penyakit apa? Jangan mencoba untuk berbohong dan menganggapku adalah orang bodoh yang gampang percaya padamu."
Tsamara yang sama sekali tidak berbohong, kini menunjuk ke arah laci di sudut kanan ruangan kamar karena menyimpan sesuatu di sana.
"Kamu bisa lihat sendiri apa penyakitku di laci itu." Tsamara masih mengarahkan jari telunjuk pada laci dan berharap Zafer segera membuka, agar tidak lagi berniat untuk meminta hak dengan melayani kebutuhan ****.
Di sisi lain, Zafer sangat tertarik, tapi merasa sangat khawatir jika menyesal setelah mengetahui sesuatu hal yang disembunyikan oleh Tsamara.
'Memangnya apa yang ingin ditunjukkan oleh Tsamara? Aku sangat gengsi untuk melaksanakan perintah dari wanita yang sangat berbahaya ini,' gumam Zafer yang kini berubah pikiran karena mulai melangkahkan kaki menuju ke arah laci yang ditunjuk oleh Tsamara.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu tunjukkan?" tanya Zafer yang kini berjalan menuju ke laci dan membuka bagian paling bawah. Begitu melihat sebuah map coklat, beralih menatap ke arah wanita yang dari tadi hanya diam saja.
"Apakah ini yang kamu maksud?"
Tsamara hanya mengangguk perlahan sebagai kode pembenaran dan berharap setelah melihat itu, Zafer tidak akan pernah lagi membicarakan tentang hal-hal berbau intim.
Tentu saja sesuatu hal yang selama ini tidak diketahui oleh orang lain, kini diungkapkan pada pria yang berstatus sebagai suami tersebut agar tidak ada hal yang nantinya akan menjadi masalah di antara hubungan mereka yang disebut pasangan suami istri.
__ADS_1
'Aku ingin melihat seperti apa reaksi dari pria ini setelah membuka amplop coklat berisi laporan kesehatanku ketika hamil Keanu dulu. Apakah akan langsung merasa jijik padaku dan menghindar?' gumam Tsamara yang saat ini tidak berkedip menatap wajah dengan rahang tegas tak jauh dari hadapan.
To be continued...