
Mendengar jawaban konyol dari Tsamara, saat ini membuat Zafer tertawa terbahak-bahak. Hingga mengingat kejadian ketika menabrak wanita itu dan tanpa memikirkan bagaimana nasib seorang wanita yang mengalami kecelakaan tragis di jalanan karena ulah ceroboh Tsamara.
"Bahkan saat aku menabrakmu dulu, malaikat pencabut nyawa tidak datang padamu, bukan? Jadi, bagaimana mungkin kamu bisa berkata setelah lolos dari kematian."
Zafer masih pada posisi berbaring miring dengan tangan menyangga kepala dan tidak berkedip menatap sosok wanita yang bersandar pada punggung ranjang. Hingga kembali dipusingkan oleh jawaban Tsamara yang terdengar seperti penyesalan tak bertepi.
"Ya, kamu memang benar karena Tuhan masih tidak menerima jasad wanita hina ini." Sadar akan dosa di masa lalu dan merasa hanyalah seorang wanita yang nista, Tsamara saat ini berpikir jika Sang pencipta alam semesta tidak mau menerima karena belum cukup menebus dosa yang dilakukan di masa lalu.
Seolah tertampar dengan kalimat Tsamara yang menganggap diri tidak pantas untuk apapun, mengingatkan Zafer pada hinaan yang selama ini dilakukan pada wanita itu. Kini, merasa sangat tertarik untuk berbicara dengan Tsamara mengenai penyebab wanita itu berada di jalan salah ketika mengkhianati sang suami di masa lalu.
"Aku jadi penasaran dengan apa penyebab kau bisa mencintai seorang pria bajingan seperti Rey. Apakah karena memiliki paras rupawan, sehingga kamu langsung jatuh cinta dan tergila-gila? Sampai berakhir berselingkuh hingga hamil Keanu."
"Aku sudah menutup kisah itu sangat lama dan tidak berniat untuk membahas dengan orang lain." Tsamara saat ini ingin sekali menyuruh pria itu kembali ke ruangan kamar Rayya, agar wanita yang sedang mengandung tersebut mendapatkan perhatian dari seorang suami dan tidak lagi salah paham maupun cemburu.
Namun, khawatir jika pria yang sudah bersikap lebih baik tersebut ilfil dan marah lagi. Jadi, memilih untuk membiarkan apapun yang akan dilakukan oleh Zafer. Meskipun mengetahui bahwa itu semua bisa berakibat kesalahpahaman oleh wanita di ruangan sebelah.
'Apakah tuan Zafer sama sekali tidak merasa khawatir jika nanti Rayya kembali murka dan menamparku? Rasanya panas dan membekas karena sangat kuat ketika melakukannya.' Tsamara saat ini sedikit menyentuh pipi yang kemarin ditampar oleh Rayya.
Zafer mengerti bahwa wanita itu sama sekali tidak mau menceritakan apapun mengenai mantan suami. Hingga melihat apa yang sedang dilakukan oleh Tsamara saat ini.
"Apakah terasa sakit sampai sekarang? Rayya semalam sangat emosi, jadi kamu harus bisa memahami karena wanita yang sedang hamil mengalami perubahan hormon. Kamu pasti dulu juga sering marah-marah saat hamil. Apalagi sudah mempunyai anak dua."
Tsamara masih tidak berkutik ataupun membuka mulut untuk berkomentar karena saat ini memikirkan putra pertama yang dibawa oleh mantan suami pertama dan pasti sangat membencinya.
"Meskipun tidak sesakit hatiku, tapi aku tidak ingin Rayya menamparku lagi. Bahkan menghadapi kakiku yang seperti ini saja sudah terasa sangat sakit. Apalagi jika ditambah dengan tamparan untuk kesekian kali."
Memang semalam Zafer tidak bisa berbuat apa-apa saat dua istri sedang berhadapan. Hingga ketika melihat Rayya yang tiba-tiba menampar Tsamara, Zafer gagal menghentikan karena tidak berada di dekat Rayya.
__ADS_1
"Itu adalah yang pertama dan terakhir. Kamu tenang saja karena tidak akan terjadi lagi hal seperti semalam. Aku sudah menjelaskan pada Rayya mengenai kesalahpahaman yang terjadi. Namun, butuh waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya aku berakhir di kamar ini."
Kemudian berakting meringis menahan rasa nyeri pada bagian punggung dan pinggang. "Sialnya, rasanya tubuhku seperti baru saja dipukuli setelah bangun tidur dari sofa."
"Saat melihat tempat tidur kosong yang sangat sayang dilewatkan, aku ingin memanfaatkan itu. Jadi, berakhir di sini." Zafer kini memilih untuk bangkit dari posisi berbaring dan telah berubah duduk seperti Rayya.
"Jangan menceritakan kejadian semalam pada papa. Jika sampai orang tuaku mengetahui bahwa Rayya telah menamparmu, sudah bisa dipastikan langsung diusir dari rumah ini. Tidak mungkin aku membiarkan Rayya pergi sendiri, bukan?"
Memang sebuah hal yang sangat susah untuk dijelaskan, tetapi Zafer tidak bisa berpikir jernih selain mengancam Tsamara agar tutup mulut.
"Jika aku ingin mengadu pada papa, sudah kulakukan dari dulu. Sementara sekarang, aku sama sekali tidak mempermasalahkan apapun yang Anda lakukan, Tuan Zafer."
Tsamara yang saat ini berpikir jika Zafer hanya memperdulikan tanggapan orang tua dan juga Rayya, menganggap bahwa kehadiran di rumah ini memang tidak penting untuk pria itu.
Bahkan masih mengingat Zafer mengatakan bahwa saat ini hanyalah dianggap sebuah alat untuk melampiaskan hasrat ketika Rayya hamil muda.
Namun, Tsamara berharap, ketakutan yang dirasakan tidak akan pernah terjadi lagi. Saat ini menatap ke arah sosok pria di hadapan.
"Hari ini adalah jadwal pertama aku melakukan terapi. Aku akan berusaha keras agar bisa segera menyingkirkan rasa bersalah papa dan mama saat kembali berjalan nanti."
Tsamara kini menatap intens Zafer dan bersikap seperti layaknya tidak pernah terjadi perdebatan di antara mereka. "Aku tidak ingin kita selalu bertengkar saat menghadapi masalah sepele karena itu akan membuat papa dan mama bersedih."
Sementara itu, Zafer saat ini memilih diam karena ingin mengetahui apa yang akan diungkapkan oleh Tsamara selanjutnya.
"Lalu?"
Kemudian Tsamara mengulurkan tangan. "Akan lebih baik jika kita berdamai dan berteman saja." Masih menunggu balasan dari Zafer, Tsamara berpikir bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar terbaik yang bisa dilakukan.
__ADS_1
Namun, niat baik Tsamara tidak ditanggapi oleh Zafer yang kembali tertawa. karena berpikir bahwa yang dikatakan oleh wanita tersebut sangatlah konyol dan tidak masuk akal.
Apalagi setelah kejadian di kamar mandi, ia tidak yakin apakah melakukan itu satu kali saja. Atau memanfaatkan Tsamara untuk menyalurkan gairah saat tidak bisa menyentuh Rayya.
Ada sesuatu yang memantik keserakahan Zafer dan memilih untuk memanfaatkan apa yang dimiliki.
"Berteman? Suami dan istri berteman karena memikirkan bahwa itu lebih baik di pandangan semua orang. Hal itu yang saat ini ada di pikiranmu, bukan? Mungkin itu bisa terjadi jika kita sudah menandatangani surat cerai secara sadar dan orang tuaku bisa menerima dengan baik."
Zafer sangat malas membicarakan mengenai niat Tsamara yang mencoba untuk mengubah takdir dengan menyebut persahabatan karena berpikir bahwa itu adalah hal yang sangat konyol.
Apalagi mereka akan tinggal dalam satu kamar karena sang ayah tidak mengizinkan tidur di kamar Rayya, sehingga saat ini menatap Tsamara dan memilih untuk mengatakan perintah tersebut.
"Aku lupa jika papa menyuruhku untuk tidur di sini karena kamu masih sakit dan membutuhkan perhatian seorang suami. Itulah yang dipikirkan papa."
"Bahkan tanpa memperdulikan putra kandung sendiri, memaksaku untuk masuk ke dalam labirin yang bahkan sudah berusaha, tetapi tidak menemukan jalan keluar." Zafer turun dari ranjang dan menatap ke arah Tsamara saat berjalan.
"Aku akan membantumu ke kamar mandi."
"Tolong bantu aku ke kursi roda saja, jadi kamu tidak perlu menggendongku. Nanti istrimu merasa jijik karena telah menyentuhku. Jadi, kamu nanti harus segera mandi dan mencuci tangan yang digunakan untuk menggendongku." Jujur saja Tsamara sangat sakit hati dengan perkataan
Rayya semalam.
Seolah menganggap adalah wanita murahan karena berhubungan dengan seorang Zafer Dirgantara. Padahal seharusnya Tsamara yang berhak untuk marah pada Rayya karena merebut suami.
Namun, tidak melakukannya karena berpikir bahwa meladeni wanita keras kepala hanya akan menunjukkan tingkat kedewasaan seseorang.
Ingin menjadi seorang wanita bijak dan tidak gampang terpancing amarah, itulah yang saat ini berusaha dilakukan oleh Tsamara dan berharap bisa memenuhi janji pada diri sendiri.
__ADS_1
Sementara itu, Zafer kini tidak ingin berdebat pagi-pagi dan hanya menjawab dengan singkat. "Demi papa dan mama."
To be continued...