Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Sebuah ide


__ADS_3

Tentu saja Tsamara saat ini merasa kebingungan untuk menjawab karena tidak tahu harus mengatakan apa. Apakah memilih berbohong demi kebaikan, ataukah mengatakan hal sebenarnya, tetapi menyakiti perasaan.


Tsamara saat ini ikut menoleh ke arah pintu karena putranya mengarahkan jari telunjuk ke sana. Akhirnya memutuskan untuk mengatakan kebohongan hal yang biasa dilakukan oleh seorang ibu.


"Itu hanya bercanda, Sayang."


"Coklat." Keanu saat ini beralih menatap ke arah meja dan mengarahkan jari telunjuk ke sana. "Keanu mau itu."


"Tidak boleh. Bukankah tadi sudah berjanji pada Mama? Nanti kita beli di toko dekat rumah, oke!" Tsamara masih berusaha merayu putranya agar tidak menyentuh barang pemberian pria yang sangat dibenci.


Namun, tanggapan dari putranya seolah tidak mau mematuhi perintah karena terlihat merajuk dengan menggelengkan kepala sambil mengerucutkan bibir.


"Coklat. Mau makan itu," rengek Keanu yang saat ini berkaca-kaca bola matanya sambil menunjuk ke arah meja.


Sementara itu, Adam Dirgantara yang merasa tidak tega melihat Keanu hampir menangis karena ingin makan coklat, kini mengulurkan tangan. "Ayo, ikut Kakek pergi membeli coklat."


"Biar aku saja yang pergi, Pa. Ini sudah siang. Papa akan terlambat ke kantor." Tsamara memilih untuk bersikap egois pada putranya karena rasa benci pada Rey tidak bisa dihilangkan, sehingga membiarkan Keanu menangis dan berniat untuk mengajak membeli coklat sebanyak-banyaknya agar tidak mengingat pemberian mantan suami.


Tentu saja Adam Dirgantara tidak sependapat dengan perkataan Tsamara karena mengetahui bahwa menantunya tersebut sedang kurang sehat. Dengan langsung menggendong anak laki-laki tersebut, kini mengusap lembut kening Keanu sambil tersenyum.


"Kita beli coklat dan aneka jajan kesukaan Keanu, oke."


"Oke" sahut Keanu dengan tersenyum senang karena akan membeli banyak makanan kesukaan.


Lalu beralih menatap ke arah Tsamara. "Aku akan ke kantor nanti siang sekalian. Jadi, pagi ini akan menemani Keanu untuk pergi jalan-jalan membeli makanan kesukaannya. Sekarang istirahat saja di kamar dan minta mama untuk membantumu."


Tidak bisa menolak perintah mertua yang selalu baik tersebut, Tsamara hanya menganggukkan kepala sambil melambaikan tangan pada Keanu yang sudah berada di gendongan sang kakek.

__ADS_1


"Terima kasih atas semuanya, Pa." Menatap punggung lebar mertuanya yang sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar dan menghilang di balik dinding.


Tsamara saat ini tidak bisa melupakan rentetan kejadian yang berhubungan dengan Rey. Hal paling menyakitkan yang dirasakan adalah ketika mantan suaminya tersebut menyebut jika Keanu adalah darah dagingnya.


Sebenarnya Tsamara tadi ingin berteriak pada Rey ketika mengatakan itu, tapi sangat lelah dan merasa percuma berdebat dengan orang yang egois dan tidak pernah mengerti perasaan seorang wanita.


'Kau bilang Keanu adalah putramu? Lalu di mana kau berada di saat kami membutuhkanmu? Kau seperti hantu yang datang dan menghilang sesuka hati.'


Kini, ia mengarahkan kursi roda menuju ke arah lift yang akan membawa ke lantai atas. Tak lupa bola mata saat ini sudah berkaca-kaca dan beberapa saat kemudian mengalir membasahi wajah pucatnya.


Tsamara tidak ingin terlihat lemah di depan mertua, sehingga saat ini pergi sendiri dan hanya berharap bisa mengurung diri di dalam kamar.


Begitu tiba di dalam ruangan kamar, mengamati suasana bahwa kamar pria yang berstatus sebagai suaminya. Nuansa gelap yang mendominasi, seolah mewakili perasaan saat ini.


Bahwa saat ini hanya kegelapan yang dirasakan olehnya dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi Rey yang saat ini melakukan tes DNA.


Sebagai seorang wanita, tentu saja tahu bahwa Keanu adalah darah daging Rey karena saat bersama suami pertama memang selalu memakai pengaman. Bahkan setelahnya, selalu minum obat penunda kemahalan.


Saat berada dalam kesunyian di kamar, ia memikirkan cara agar Rey tidak memenangkan gugatan. Namun, ketika menatap ke arah kedua kakinya, seolah harapan sirna dan pesimis.


"Kaki yang cacat ini adalah kelemahanku. Apakah pria jahat itu akan menggunakan ini untuk menyerang, agar bisa merebut Keanu dariku? Aku sangat takut jika itu benar-benar terjadi."


"Apa yang bisa aku lakukan untuk menghentikan kegilaan Rey?" Tsamara saat ini berusaha untuk mencari ide menyelesaikan masalah yang dihadapi.


Hingga tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang dianggap bisa menyelamatkan dari Rey. Namun, merasa takut karena itu adalah sebuah konspirasi besar dan sangat berdosa.


"Tidak! Jika melakukan itu, aku tidak akan sanggup menanggung dosa besar itu." Tsamara saat ini berkali-kali menggelengkan kepala karena merasa takut melakukan itu.

__ADS_1


Hingga suara ketukan pintu terdengar dan Tsamara menoleh ke belakang. Saat melihat wanita paruh baya yang baru saja masuk, Tsamara hanya tersenyum.


"Mama."


"Mama tadi menemani Rayya sarapan dan berbicara panjang lebar untuk mengalihkan perhatiannya. Jika tidak, mungkin sudah kembali ikut campur urusanmu dengan Rey." Erina yang baru saja mendekati Tsamara, kini mendorong kursi roda tersebut menuju ke dekat ranjang.


Berniat untuk membantu Tsamara merebahkan tubuh di atas ranjang yang nyaman. "Hari ini, kamu terlalu banyak memforsir tenaga dan otak. Pasti sangat lelah, bukan? Kamu harus banyak beristirahat."


Saat pertama kali melihat mertuanya tersebut masuk ke dalam ruangan kamar, hal yang terpikirkan oleh Tsamara adalah ingin meminta pendapat wanita itu. Namun, merasa ragu dan memilih untuk mematuhi perintah.


Setelah berhasil merebahkan tubuh di atas ranjang, ia melihat ibu mertuanya kembali menceritakan tentang pembicaraan dengan Rayya.


Tsamara memang seperti mendengarkan dengan serius, tetapi sebenarnya pikiran tengah mengacu pada ide jahat di kepala. Meskipun dalam sisi putih hati melarang, tapi sisi merah seolah semakin gencar mendorong agar melakukan itu.


'Apa yang harus kulakukan? Aku memang akan melakukan apapun untuk membuat Keanu tetap bersamaku selamanya. Aku tidak akan pernah bisa hidup jika sampai Rey berhasil merebut hak asuh Keanu.'


Erina yang baru selesai membicarakan tentang Rayya saat bersikap sangat aneh hari ini karena tidak lagi membantah nasihat atau pun menyindir, kini mengerutkan kening kala melihat Tsamara hanya diam tanpa berkomentar.


Refleks menyentuh lengan Tsamara untuk menyadarkan dari lamunan. "Tsamara, kamu tidak mendengarkan ceritaku tentang sifat Rayya yang aneh?"


Merasa sangat bersalah, kini Tsamara memilih untuk jujur dan meminta pendapat dari mertua mengenai ide jahat yang sempat terlintas dan membuatnya merasa ragu.


"Maafkan aku, Ma. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih hari ini setelah Rey berani datang ke rumah. Aku ingin meminta saran, mengenai jalan keluar yang terbersit di pikiranku."


"Aku bisa mengerti apa yang kamu rasakan saat ini. Sekarang katakan apa yang kamu maksud jalan keluar?" tanya Erina yang kini tengah menatap menantu perempuannya membuka suara.


Sementara itu, Tsamara yang merasa tidak bisa mengambil keputusan sendiri, memilih untuk meminta saran dari wanita yang sudah dianggap sebagai ibu kandung sendiri tersebut.

__ADS_1


"Setelah aku memikirkan apa yang dilakukan oleh Rey, ingin membalas, agar Keanu tetap bersamaku. Aku ada ide untuk ...."


To be continued...


__ADS_2