
"Mama? Kenapa membawa ponsel Tsamara?"
"Mama yang seharusnya bertanya. Kenapa kamu menelpon Tsamara?" Melirik ke arah menantunya yang kini terlihat merasa lega begitu mengetahui bahwa Zafer menghubungi dengan memakai nomor baru.
"Memangnya aku tidak boleh menghubungi menantu kesayangan Mama? Aku ada urusan penting yang ingin kusampaikan, jadi tolong berikan pada Tsamara."
Zafer yang berada di seberang telepon beberapa saat yang lalu merasa sangat terkejut sekaligus kecewa begitu mendengar suara ibunya, bukan wanita yang ingin dihubungi.
Saat ini, sedang berada di gerai yang menjual berbagai macam jenis ponsel karena akan membeli untuk Tsamara sebagai ganti perbuatan yang menghancurkan milik wanita itu.
Jadi, memilih menelpon untuk bertanya ingin ponsel dengan jenis apa. Namun, tidak mengatakan pada ibunya karena ingin berbicara sendiri pada wanita yang membuat Zafer hari ini mempunyai mood baik setelah tadi membicarakan masalah kegiatan intim untuk membuktikan kekuatan.
Merasa jika ada perkembangan hubungan antara putranya dengan Tsamara, Erina tidak ingin menghalangi dan segera memberikan benda pipih tersebut kepada pemiliknya.
"Baiklah. Berbicaralah sendiri karena Mama akan memeriksa pekerjaan pelayan." Kemudian terlalu pergi setelah memberikan ponsel tersebut ke tangan Tsamara setelah memberikan kode akan keluar ruangan.
Tentu saja Erina ingin memberikan waktu untuk Tsamara dan Zafer berbicara empat mata tanpa ada yang mengganggu. Berharap jika keduanya menyadari saling membutuhkan dan tumbuh benih-benih cinta di antara mereka.
Itulah yang diinginkan olehnya karena berpikir Zafer akan berubah menjadi pria bertanggung jawab setelah mencintai Tsamara.
Sementara di sisi lain, Tsamara yang saat ini sudah memegang ponsel merasa heran kenapa Zafer menelpon dengan memakai nomor lain. Sebenarnya merasa sangat malas karena saat ini perasaan tidak baik-baik saja setelah kedatangan Rey ke rumah.
"Ya, Tuan Zafer Apa ada yang Anda butuhkan?"
"Aku saat ini sedang berada di toko ponsel karena ingin mengganti yang menghancurkan malam itu. Jenis apa atau warna yang kau inginkan? Sebutkan saja." Zafer saat ini berbicara sambil mengamati satu persatu ponsel di etalase kaca.
Sementara itu, Tsamara yang sama sekali tidak menginginkan ponsel karena sedang dipusingkan oleh masalah Rey. Ingin sekali mengatakan pada pria itu agar tidak mengganggu ketenangan hari ini karena ingin menenangkan pikiran.
Namun, berpikir jika itu sangat tidak sopan dan juga akan memantik amarah dari pria di seberang telpon, akhirnya menjawab singkat.
__ADS_1
"Tidak perlu karena aku tidak membutuhkan ponsel lagi." Tsamara sebenarnya bisa membeli ponsel lagi karena mempunyai cukup uang di tabungan.
Tsamara adalah seorang wanita mandiri yang pastinya memiliki usaha yang sudah terbilang besar.
Apalagi banyak memiliki pelanggan besar yang menghasilkan keuntungan lumayan. Jadi, jika hanya untuk membeli ponsel sangat mudah dilakukan, tetapi memang menganggap itu belum penting karena masih memegang satu.
"Sebutkan saja karena aku tidak menawarimu, jadi tidak menerima penolakan!" Suara penuh ketegasan terdengar sangat jelas dari Zafer di seberang telepon, seolah ingin Tsamara menjawab pertanyaan tanpa menolak.
Tsamara yang merasa pusing, kini semakin memijat kepala karena pria di seberang telpon selalu saja memaksakan kehendak dan berbuat sesuka hati tanpa memikirkan apa yang diinginkan olehnya.
Bahkan suara Tsamara kini tercekat di tenggorokan ketika tidak berniat untuk menjawab. Namun, akhirnya terpaksa asal menjawab.
"Belikan saja seperti warna ponsel lama yang Anda banting hingga hancur. Apakah ada lagi yang ingin Anda tanyakan?"
Saat Tsamara berpikir Zafer akan mematikan sambungan telpon saat mendapat jawaban sini. Akan tetapi, tidak seperti yang diharapkan karena sekarang melihat panggilan dialihkan menjadi video.
Tsamara berpikir bahwa Zafer sangat berlebihan karena hanya membeli ponsel saja harus video call seperti sepasang kekasih yang ingin saling menatap.
Tidak ingin menggeser tombol pada ponsel, Tsamara mendengar suara notifikasi dan langsung buka untuk membaca sebuah pesan yang baru saja dikirimkan oleh Zafer.
Angkat telponnya!
"Apakah tidak bisa membiarkanku tenang selama beberapa menit saja? Aku bahkan sedang memikirkan ide mengenai memasukkan hasil tes DNA yang dilakukan oleh Rey, tapi pria itu melakukan hal yang tidak penting."
Tsamara berpikir dengan membiarkan, Zafer akan menyerah dan tidak menelpon lagi. Namun, itu tidak terjadi karena suara dering ponsel kembali menghiasi ruangan kamar penuh keningan tersebut.
Dengan mengembuskan napas kasar, akhirnya Tsamara terpaksa menggeser tombol hijau ke atas dan melihat deretan ponsel yang tampak dari layar.
"Kenapa kamu lama sekali mengangkat video call dariku? Jangan berpikir bahwa aku akan melihat wajahmu karena saat ini hanya ingin kamu memilih diantara tiga ponsel ini." Zafer merasa sangat kesal karena dari tadi menunggu Tsamara menerima telpon, tetapi tidak langsung menjawab.
__ADS_1
Perlu kesabaran menunggu hingga video call diangkat oleh Tsamara dan langsung mengarahkan pada beberapa benda pipih yang akan dibeli.
Zafer bisa melihat dengan jelas wajah Tsamara di layar ponselnya. Namun, tidak membuat wanita itu bisa menatapnya karena mengarahkan kamera pada etalase yang menunjukkan beberapa ponsel terbaik.
Sementara itu, Tsamara yang tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Zafer, saat ini langsung memilih dan berniat mematikan sambungan telpon setelah selesai.
"Warna ungu saja. Bukankah ponsel lamaku yang Anda hancurkan berwarna serupa? Kenapa harus membuat hal yang mudah menjadi rumit seperti ini?" Tsamara terlihat kesal ketika berbicara karena sangat malas untuk membahas hal yang dianggap tidak penting, tetapi sayangnya tidak bisa menolak pria yang selalu ingin menang sendiri.
Tentu saja di seberang telpon, Zafer bisa melihat wajah Tsamara yang dari tadi sangat masam dan marah-marah. Setelah mengatakan pada pegawai di gerai ponsel tersebut saat memilih warna ungu agar segera dikemas, lalu memberikan kartu kredit.
Kemudian mengalihkan kamera dan kini menghadap pada layar depan ponsel. Seolah ingin menunjukkan wajah di depan Tsamara.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu dari tadi memasang wajah masam dan marah-marah tidak jelas seperti itu?"
Zafer merasa heran dengan Tsamara karena jika orang lain yang dibelikan olehnya, pasti akan merasa sangat senang dan tak lupa selalu tersenyum dengan berbinar bahagia.
Namun, yang dilihat dari Tsamara hanyalah wajah masam dan seperti menahan amarah, sehingga terlihat sangat kesal.
"Aku sangat lelah dan ingin beristirahat, Tuan Zafer." Tsamara tidak ingin berdebat panjang lebar dengan pria yang sama sekali tidak mengerti tentang kejadian yang dialami hari ini.
Hingga Tsamara refleks mengingat perkataan dari Zafer ketika tadi membahas Rey dan berakhir berbicara vulgar.
'Rey selalu membuatku merasa terpojok dan menderita. Bahkan tuan Zafer pun memanfaatkan nama si berengsek itu untuk keuntungan pribadi. Apa ponsel itu merupakan suap agar aku mau melayaninya di atas ranjang?' gumam Tsamara yang saat ini menatap pria di balik layar datar tersebut.
Karena merasa pertanyaan perlu diungkapkan pada yang bersangkutan, Tsamara saat ini langsung membuka suara.
"Apakah Anda ingin menyuapku dengan ponsel itu agar nanti malam mau melayani di atas ranjang?" Seolah Tsamara sama sekali tidak memperdulikan apapun ketika berbicara hal itu karena otaknya saat ini hanya memikirkan bahwa Zafer mencari keuntungan di balik nama Rey ketika tadi tidak sengaja membahas mengenai kelebihan pria itu di masa lalu.
To be continued...
__ADS_1