
Tentu saja sebagai seorang ibu, Erina sangat tidak tega jika melihat putranya disakiti. Selama ini, ia sangat menyayangi putra tunggalnya itu karena tidak bisa hamil lagi setelah mengalami masalah di rahimnya.
Selama 25 tahun menjadi seorang ibu, ia mencurahkan kasih sayang pada putranya dengan cara sangat berlebihan dan selalu memberikan apapun yang diminta oleh Zafer.
Selain itu, ia tidak pernah melarang putranya jika ingin bersenang-senang dan semua itu baru disesalinya saat mengerti bahwa putranya suka bermain wanita dan minum-minuman keras.
Di saat yang bersamaan, suara Tsamara menyahuti perkataan dari mertuanya, membuat semua orang beralih menatap ke arahnya.
"Jangan sakiti putra Anda karena tidak bersalah. Tuan Zafer benar, ini semua memang salahku."
Sontak saja perkataan Tsamara membuat senyum mengejek terbit di wajah Zafer "Dasar wanita munafik. Kau pasti sedang berakting membelaku, agar mendapatkan dukungan dari mereka, kan?"
Tsamara sama sekali tidak memperdulikan penghinaan dari pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Ia hanya merasa iba melihat seorang ayah memukul putranya. Ia mengetahui bahwa di dunia ini, tidak ada yang suka menghukum keturunan.
Jadi, ia merasakan bahwa pria paruh baya tersebut jauh lebih terluka perasaan dibandingkan Zafer.
Bisa dilihatnya pria paruh baya yang sudah memukul sang suami dan juga suara permohonan dari wanita yang memohon agar tidak memukul putranya.
Tsamara tidak ingin membuat suasana semakin memanas dan kacau, sehingga sudah mengeluarkan suara untuk menghentikan kekasaran dari mertuanya.
Sontak saja, Adam dan Erina beralih menatap ke arah sosok menantunya yang sudah berdiri di dekat mereka.
"Jangan membela kelakuan buruk suamimu dengan menahan luka kesedihan, Tsamara karena Papa tahu bahwa kamu saat ini sedang terluka dan berakting baik-baik saja," ucap Adam Dirgantara dengan tatapan kesal.
"Aku sama sekali tidak membela, tuan Zafer, tapi hanya ingin melindungi perasaan Papa. Bukankah saat ini Papa sangat terluka menyakiti putra sendiri? Jika kehadiranku membuat kalian bertengkar, lebih baik aku pergi."
Tsamara merasa bahwa dosanya terlalu banyak dan tidak ingin menambah lagi, sehingga berpikir jika pertengkaran yang terjadi tidak akan ada tanpa kehadirannya.
__ADS_1
Erina refleks berjalan mendekati menantunya yang sudah menangis terisak dengan berurai air mata itu. Sebagai seorang ibu, tentu saja ia merasa miris melihat menantunya yang sudah ia anggap sebagai putri sendiri itu menangis sesenggukan.
"Tsamara, jangan menangis. Maafkan kami karena telah membawamu masuk ke keluarga ini."
Erina memeluk erat tubuh sang menantu yang terlihat bergetar hebat karena efek menangis.
Sementara itu, Tsamara kini menggelengkan kepala. "Tidak, Ma. Ini bukan salah kalian, tapi ini adalah murni kesalahanku. Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri. Tolong, izinkan aku pergi."
"Kamu tidak boleh pergi Tsamara karena sekarang adalah tanggungjawab kami," ucap Adam Dirgantara yang sudah menghampiri menantunya.
"Aku tidak ingin orang tuamu yang telah lama tiada menyalahkan kami karena kamu jadi seperti ini adalah kesalahan Zafer. Jadi, kamu harus tetap di sini. Jika kamu pergi, Zafer pun harus pergi dari sini karena dia adalah suamimu."
Sontak saja Zafer merasa sangat murka karena secara tidak langsung diusir hanya gara-gara wanita yang dianggapnya sangat tidak penting dan menyusahkan itu.
"Apa Papa sudah gila? Ia yang ingin pergi, kenapa aku yang harus bertanggungjawab padanya dengan keluar dari rumah ini? Menyebalkan," sarkas Zafer dengan bersungut-sungut.
"Astaga, aku benar-benar bisa gila," teriak Zafer sambil mengacak frustasi rambutnya.
Sementara itu, Tsamara merasa sangat kebingungan karena tidak diizinkan pergi oleh mertuanya, sehingga melakukan cara terakhir untuk membuat mertuanya mengizinkan pergi meninggalkan istana megah yang hanya membawa penderitaan untuknya.
Ia bahkan sudah menangis tersedu-sedu di depan pria paruh baya yang sudah berada di sebelahnya.
Dengan posisi tangan yang menyatu, ia mulai mendongak menatap ke arah wajah pria paruh baya yang sangat terkejut dengan perbuatannya.
"Aku mohon, izinkanlah kami pergi. Aku tidak bisa tinggal di sini saat tuan Zafer membenciku."
"Apa yang kamu lakukan, Sayang? Jangan menangis," ucap Erina yang berusaha untuk membuat menantunya segera berdiri.
__ADS_1
Namun, usahanya hanya sia-sia belaka karena melihat jawaban dari wanita yang memakai hijab berwarna biru itu langsung menggelengkan kepala.
"Kamu benar-benar menganggap kami bukan apa-apa? Papa hanya ingin kamu bisa membawa sebuah kebaikan di rumah ini. Terutama untuk membawa kebaikan pada bajingan yang sedang tersesat itu," ucap Adam Dirgantara yang sudah mengarahkan jari telunjuknya pada putranya.
Tidak berhenti sampai di situ saja, ia pun kembali melakukan hal yang seperti beberapa saat lalu di depan pintu gerbang. Tangannya terlihat menyatu dan mengarahkan tatapan penuh permohonan.
"Jadi, Papa mohon padamu. Jangan pergi dari sini. Bawalah kebaikanmu pada putraku. Zafer membutuhkan sosok wanita sepertimu, jangan pergi. Kami mohon padamu."
"Iya, Tsamara. Mama mohon padamu jangan meninggalkan kami." Erina yang sudah melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya.
Untuk kesekian kalinya, Tsamara benar-benar merasa sangat terkejut dan sama sekali tidak pernah menyangka atau pun berpikir bahwa seorang pengusaha terkenal yang merupakan konglomerat itu sudah berkali-kali memohon kepadanya.
'Ya Tuhan, apa yang harus hamba lakukan? Di satu sisi, suamiku sangat senang aku pergi, tapi di sisi lain, mertuaku memohon padaku untuk tinggal. Kenapa hamba dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit ini?' batin Tsamara yang bingung untuk mengambil keputusan.
Tsamara menatap iba pada wajah mertuanya yang terlihat penuh ketulusan saat memohon kepadanya. Bahkan ia yang merasa sangat tidak enak, kebingungan untuk mengambil keputusan.
Saat ia tengah bimbang, sentuhan jemari lembut mertuanya mendarat di wajahnya untuk menghapus bulir bening di pipinya.
"Tsamara, Mama mohon padamu, jangan pergi meninggalkan kami. Tetaplah menjadi menantu kami, Sayang karena akan sangat berdosa jika kamu pergi dan bercerai dari Zafer."
Wanita paruh baya tersebut beralih menatap ke arah putra kesayangannya yang terlihat tengah berdiri menjulang tak jauh darinya.
"Zafer, Mama mohon padamu. Perlakukan istrimu dengan baik. Tsamara adalah istrimu, jangan menyakitinya karena jika sampai kamu menyakitinya, itu sama saja kamu menyakiti Mama. Apa kamu tahu itu? Cepat minta maaf pada istrimu!"
Zafer yang sama sekali tidak tertarik untuk menuruti perintah dari wanita yang telah melahirkannya, hanya diam dan tidak beranjak dari tempatnya. Bahkan ia sangat malas untuk mengeluarkan suaranya.
'Gila, wanita ini benar-benar membawa pengaruh yang buruk untuk orang tuaku. Aku harus mencari sebuah cara untuk membuat orang tuaku membencinya. Jika tidak bisa membuatnya pergi dari sini, aku akan membuat orang tuaku yang akan mengusir wanita munafik ini,' lirih Zafer di dalam hati.
__ADS_1
To be continued...