
Zafer sama sekali tidak pernah menyangka jika Rayya sudah masuk ke dalam, tanpa izin dan melihat ketika menggendong Tsamara keluar dari kamar mandi.
Bahkan sekilas menatap ke arah Tsamara yang baru saja diturunkan di ranjang. Seolah sama-sama merasa bingung harus berkomentar apa untuk menjelaskan pada wanita dengan wajah memerah dan berteriak hingga membuat anak laki-laki bernama Keanu tersebut terbangun dari tidur.
Zafer saat ini berjalan mendekati Rayya karena ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Meskipun tidak akan menceritakan hal yang tadi dilakukan untuk memaksa Tsamara.
"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Aku bisa menjelaskan semua. Lebih baik kita keluar dari sini dan berbicara di kamar sebelah." Zafer berniat untuk merangkul sang istri yang sedang marah tersebut, tetapi tidak bisa melakukan karena diempaskan oleh Rayya.
Rayya masih merasa sangat marah dan murka, sehingga tidak ingin disentuh oleh dibayangkan baru saja bercinta di dalam kamar mandi dengan wanita yang paling dibenci.
"Jangan sentuh aku dengan tangan bekas wanita lain! Apalagi wanita cacat tidak berguna itu!" Rayya bahkan langsung membuat gerakan membersihkan pundak yang tadi disentuh Zafer sambil menatap ke arah sosok wanita yang tengah duduk di atas ranjang dengan sibuk berbicara pada anak laki-laki yang baru saja terbangun.
Sementara itu, Tsamara hanya mengembuskan napas kasar dan memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk berkomentar karena khawatir akan menambah pertengkaran antara suami dengan istri kedua tersebut.
Tsamara memilih untuk sibuk dengan Keanu, agar tidak menangis karena tadi terkejut dengan suara Rayya. "Tidak apa-apa, Mama ada di sini." Mengusap lembut rambut putra kesayangan.
Saat Tsamara berpikir jika Zafer akan segera mengajak wanita itu keluar dari ruangan kamar untuk menyelesaikan masalah kesalahpahaman, yang terjadi tidaklah seperti itu karena kembali mendengar suara Rayya yang menghinanya habis-habisan.
"Dasar wanita munafik! Kau pasti berpikir merasa menang karena telah berhasil merayu Zafer, bukan? Sementara di depan papa dan mama berakting seperti seorang malaikat tanpa dosa yang berbuat baik." Rayya masih menatap tajam Tsamara dan ingin melampiaskan amarah pada wanita yang malah terlihat tidak memperdulikan semua yang terjadi.
Sementara itu, Zafer saat ini tidak ingin terjadi pertengkaran antara dua istri dan pastinya akan membuat sang ayah kembali marah. Jika itu terjadi, khawatir jika akan diusir malam ini juga dari rumah.
Refleks ia memilih untuk menarik pergelangan tangan Rayya agar mau ikut keluar dari ruangan kamar. Namun, suara teriakan Rayya kembali memekakkan telinga dan memecah keheningan malam.
"Lepaskan! Aku tidak sudi kau sentuh karena masih ada bekas wanita cacat itu. Jika kau ingin menyentuhku, harus membersihkan diri dengan mandi lagi!" sarkas Rayya yang masih belum selesai membuat perhitungan dengan Tsamara, sehingga saat ini melepas kasar kuasa sang suami dan berjalan mendekati wanita itu.
__ADS_1
Tidak bisa menahan diri karena berpikir bahwa Tsamara tadi merayu suaminya, refleks secepat kilat mengarahkan tangan untuk menampar pipi putih di hadapannya.
"Dasar wanita munafik!"
Tsamara merasakan panas pada wajah dan memegang pipi yang pastinya meninggalkan bekas memerah di sana. Saat ia ingin membuka mulut untuk menjawab penghinaan dari wanita yang menurutnya tak lebih baik tersebut, tidak jadi melakukan karena mendengar suara tangisan dari Keanu yang memeluk.
Seolah menunjukkan tidak tega ketika disakiti oleh orang lain. Anak laki-laki tersebut menangis tersedu-sedu sambil menghambur memeluk erat sang ibu.
Akhirnya ia sibuk dengan Keanu yang menangis tersebut dan tidak memperdulikan penghinaan yang didapatkan dari Rayya karena masih tidak berhenti untuk mengumpat.
"Mama tidak apa-apa, Sayang." Tsamara sibuk mengusap lembut punggung Keanu.
Bahkan sama sekali tidak menatap ke arah sosok wanita yang baru saja meninggalkan rasa panas di pipi.
Tamparan yang didapatkan tidak sesakit ketika melihat putranya menangis. Tsamara akhirnya memilih untuk mengarahkan tatapan tajam pada Zafer.
Zafer yang masih berdiri di dekat pintu karena merasa bingung harus melakukan apa untuk menghentikan kemurkaan Rayya, hingga mendengar suara Tsamara, seolah memberikan titah dengan nada datar dan dingin.
Tidak ingin semakin bertambah pelik masalah yang terjadi, Zafer akhirnya memilih untuk berjalan mendekati Rayya dan meraup tubuh sang istri.
Rayya menjerit karena merasa terkejut saat tubuhnya tiba-tiba melayang ke atas saat Kenzo menggendong ala bridal style dan berjalan keluar dari ruangan kamar.
Dengan sibuk menggerakkan tubuh karena tidak ingin merasakan bekas tangan yang tadi digunakan untuk menggendong wanita cacat tersebut.
"Zafer turunkan aku! Apa kamu tidak mendengar perkataanku tadi? Aku sangat jijik kamu menyentuhku dengan tangan bekas wanita cacat itu!" sarkas Rayya yang saat ini merasa sangat marah karena tidak diperdulikan oleh Zafer.
__ADS_1
Di sisi lain, Zafer yang merasa jika sikap Rayya terlalu berlebihan karena bertingkah seperti seorang perawan yang tidak pernah berhubungan dengan pria lain.
Suara teriakan Rayya sangat dikhawatirkan terdengar oleh sang ayah, sehingga langsung masuk ke dalam ruangan kamar yang menjadi tempat tinggal wanita itu.
Begitu berada di dalam kamar, ia langsung menurunkan tubuh Rayya dan mengunci pintu. "Jangan berteriak malam-malam begini! Papa akan mendengar dan pastinya sangat marah jika sampai mengetahui perbuatanmu."
"Apa kamu mau diusir dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun harta? Bukankah sudah kukatakan bahwa di antara aku dan Tsamara tidak terjadi apapun tadi di dalam kamar mandi! Kamu terlalu berlebihan dengan menuduhku."
Rayya yang sama sekali tidak mempercayai semua perkataan dari pria yang berdiri di hadapan tersebut, kini tertawa terbahak-bahak sambil berkacak pinggang.
"Apakah kamu berpikir aku adalah seorang wanita bodoh yang bisa ditipu begitu saja?" Rayya bahkan merasa sangat marah melihat rambut Zafer saat ini basah karena membayangkan jika pria itu baru saja mandi setelah bercinta dengan Tsamara.
"Tidak mungkin seorang wanita dan pria yang merupakan suami istri keluar dari kamar mandi bersama tanpa melakukan apapun. Apakah kamu berpikir aku adalah anak berusia 5 tahun yang akan mempercayai perkataanmu?"
Masih tidak bisa menormalkan rasa yang membuncah di dalam hati karena dikuasai oleh amarah, Rayya berjalan mendekat dan mengarahkan tangan ke atas, hingga mendarat di pipi dengan rahang tegas tersebut.
"Tamparan ini bahkan tidak cukup untuk menebus rasa sakit di hatiku karena luka yang kamu ciptakan, Zafer! Aku sangat percaya dan mencintaimu melebihi apapun, tapi kamu malah berselingkuh tepat di hadapanku."
Kemudian Rayya memilih untuk mengibaskan tangan karena tidak ingin semakin merasa marah jika lama-lama menatap pria yang masih diingat tadi tersenyum menyeringai ketika membisikkan sesuatu di telinga Tsamara.
"Keluar! Aku tidak ingin melihatmu hari ini!" sarkas Rayya yang saat ini memilih untuk berbalik badan dan langsung merebahkan tubuh di atas ranjang dengan posisi memungguli sosok pria yang berhasil menciptakan luka di dalam hati.
Sementara itu, Zafer saat ini masih memegangi yang terasa panas dan hal yang dipikirkan saat ini adalah Tsamara tadi juga merasakan hal sama.
'Tsamara pasti tadi merasa kesakitan karena tamparan Rayya,' gumam Zafer yang saat ini masih mengarahkan tatapan pada Rayya di atas ranjang.
__ADS_1
'Apa aku harus pergi dan membiarkan perasaan Rayya tenang dulu?' gumamnya yang saat ini masih merasa ragu untuk meninggalkan ruangan kamar tersebut.
To be continued...