Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Kemurkaan Zafer


__ADS_3

"Apa kamu puas sekarang?" sarkas Zafer yang baru saja mengantar orang tua sampai di halaman depan. Ia merasa sangat marah setelah masuk ke dalam rumah masih melihat wanita di atas kursi roda tersebut.


Padahal tadi berpikir setelah mengantar Rayya masuk ke dalam mobil orang tua dan menenangkan agar tidak khawatir karena akan tinggal di rumah utama, tidak akan melihat Tsamara karena sudah masuk ke dalam kamar.


Namun, seolah wanita itu seperti sengaja ingin menampakkan batang hidung tepat di hadapannya. Jadi, semakin bertambah murka.


Sementara itu, Tsamara yang sengaja belum masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sesuai dengan perintah mertua, karena ingin mengatakan sesuatu pada pria yang berstatus sebagai istri di atas kertas itu.


"Aku ingin berbicara dengan Anda, Tuan Zafer yang terhormat!" Ada penekanan dalam perkataannya saat ini karena kali ini seolah keberanian terkumpul di dalam diri saat memikirkan masa depan Keanu.


Zafer yang kini merasa aneh melihat sikap Tsamara tiba-tiba berubah berani, refleks terbahak dan berkacak pinggang. "Wah ... sepertinya kamu sekarang menjadi besar kepala, ya karena orang tuaku lebih menyayangimu dari pada kekasihku."


"Dasar rubah betina yang munafik. Sepertinya kamu sekarang menunjukkan sifat aslimu padaku. Sekarang aku ingin tahu apa yang kamu inginkan. Apa kamu akan mengancamku dengan kekuasaan sebagai nyonya rumah ini?"


Tsamara merasa dongkol dalam hati, tetapi tidak bisa meledakkan amarah pada pria dengan posisi menjulang di hadapan. Setelah memutuskan untuk membiarkan Zafer menikahi wanita yang telah dihamili, ia bertekad untuk segera menyembuhkan kaki dengan terapi yang akan dilakukan.


Tadi sebelum pergi, mertua mengatakan jika dokter sudah mengirimkan pesan, yaitu mencoba melakukan terapi pertama untuk melihat perkembangan dan harus dilakukan tindakan apa setelah melihat hasilnya.


Jadi, ia merasa dibalik kabar buruk nan menyakitkan hari ini, ada secercah harapan begitu mendengar kabar baik itu. Kini, Tsamara masih menatap intens wajah memerah dengan rahang tegas di hadapan.


"Aku akan segera pergi dari sini!"


Refleks Zafer merasa terkejut sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan diungkapkan oleh Tsamara. Bahkan sudah kembali tertawa terbahak-bahak menanggapi.


"Kali ini apa rencana licikmu, hei wanita munafik! Lebih baik katakan saja sekarang dan jangan bertele-tele. Aku bukanlah pria bodoh yang bisa kamu tipu karena jika memang ingin pergi, kenapa tidak mengatakan pada orang tuaku?"

__ADS_1


Tsamara menahan semua penghinaan Zafer karena masih belum bisa keluar dari rumah itulah sekarang. Jadi, mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan berharap pria itu mau mengerti dan tidak lagi menyiksanya.


"Aku pasti akan pergi dari rumah ini setelah kembali bisa berjalan. Aku menganggap niat baik tuan Adam dan nyonya Erina untuk mencari dokter yang menangani terapi kakiku adalah sebuah pertanggungjawaban darimu karena telah membuatku menjadi seperti ini."


"Aku tidak akan marah padamu karena menabrakku hingga seperti ini. Namun, aku harap kau bersikap baik padaku dan dan juga Keanu. Aku tidak akan pernah mengusik rumah tanggamu bersama wanita itu."


"Aku tetap akan menjalankan peran sebagai istri palsu untukmu demi nama baik keluarga Dirgantara. Jadi, aku akan melakukan terapi dengan dokter yang telah dicari oleh tuan Adam, agar segera bisa berjalan dan pergi dari sini."


"Tidak mungkin aku pergi dalam keadaan cacat dan membuat hidup Keanu menderita karena harus menanggung hinaan dari orang lain memiliki ibu cacat. Aku harap Anda mengerti apa yang saat ini kuhadapi tak lepas dari perbuatanmu. Jadi, jangan asyik menyalahkanku atas nasibmu yang memiliki istri cacat sepertiku."


Kalimat panjang lebar dari sosok wanita yang saat ini seperti tidak mengenal takut karena percaya diri dalam menyalahkan, tentu saja Zafer merasa heran atas keberanian itu.


'Apa wanita cacat ini salah makan? Bagaimana bisa mendadak berubah berani seperti ini?' gumam Zafer yang kini masih tidak bisa menahan amarah yang mulai menyeruak di dalam hati.


Namun, sebelum membuka suara, ia kini mengarahkan tangan pada leher di balik penutup kepala yang menjuntai sampai bawah tersebut.


"Ternyata kamu berani juga, wanita cacat! Aku sama sekali tidak perduli akan apa yang kau lakukan. Mau terapi atau selamanya cacat, terserah! Hanya satu yang kuinginkan, segera menghilang dari hidupku karena aku sangat muak melihat wajahmu!"


Zafer mengarahkan tatapan tajam sambil semakin mengeratkan genggaman pada leher Tsamara dan terlihat wanita di hadapan kesulitan bernapas dengan wajah tersiksa.


Namun, merasa seperti sangat menikmati perbuatan itu dan begitu mengetahui pasokan oksigen wanita itu hampir habis, Zafer melepaskan tangan dan tersenyum smirk.


"Jaga sikapmu saat berbicara denganku. Jika berani menaikkan nada suara padaku, aku akan kembali mencekikmu!"


Tsamara masih terbatuk-batuk atas rasa panas dan nyeri di leher. Merasa jika permohonan sekaligus penjelasan panjang lebar tadi, sama sekali tidak bisa menyadarkan Zafer, kini memilih dengan mengikuti cara kasar.

__ADS_1


Dengan meraih ponsel di saku gaun panjang yang dikenakan, Tsamara memilih untuk menghubungi nomor polisi karena memang menyimpan saat kecelakaan. Saat itu, ada salah satu polisi datang dan menginterogasi macam-macam.


Namun, karena tidak menuntut tersangka dan memilih cara damai, membuat polisi itu berpikir jika ia telah disuap dan terakhir sebelum pergi, memberikan nomor jika sewaktu-waktu mendapatkan ancaman atau kejahatan, bisa menghubungi.


Seolah polisi itu sudah mengetahui apa yang akan terjadi padanya, sehingga memberikan nomor ponsel.


Kini, Tsamara menekan tombol hijau dan tidak membutuhkan waktu lama, panggilan tersambung karena mendengar suara serak seperti bangun tidur.


"Halo. Siapa ini?" ujar suara sang polisi saat terbangun dari mimpi indah.


"Halo, Pak polisi." Tsamara sengaja mengeraskan nada suara karena ingin Zafer yang baru saja berbalik badan dan berjalan menuju ke arah ruangan kamar mendengar.


Benar saja, Tsamara bisa melihat Zafer tidak jadi membuka pintu kamar dan berbalik badan mengarahkan tatapan tajam.


"Ini saya—Tsamara yang mengalami kecelakaan di depan perusahaan Dirgantara. Saya ingin melaporkan ...."


Tsamara tidak bisa melanjutkan perkataan karena ponsel di tangan sudah direbut oleh Zafer dan sama sekali tidak merasa takut.


Zafer yang merasa jika ancaman barusan sama sekali tidak membuat jera wanita itu, tetapi malah makin menjadi karena menghubungi aparat keamanan negara, yaitu polisi. Merasa sangat murka, refleks langsung membanting ponsel milik wanita yang telah memantik api amarah tersebut.


Kini, benda pipih tersebut sudah bernasib nahas dan berantakan di atas lantai dingin yang berkilat.


"Bangsat! Dasar wanita murahan tidak tahu diri! Apa kau ingin mati sekarang juga?" Tatapan penuh kilatan api tercipta saat ini dan Zafer ingin sekali segera menghabisi nyawa wanita yang dianggap hanyalah penghalang untuk mendapatkan seluruh harta keluarga.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2