
Tsamara dan pasangan suami istri yang tak lain adalah Aldi serta Erina berjenggit kaget atas perbuatan Zafer yang membanting pintu setelah keluar.
"Astaga! Zafer benar-benar memancing amarahku saja!" sarkas Adam yang berniat untuk mengejar, tetapi tidak jadi melakukan itu karena mendengar suara dari sang menantu.
"Jangan memarahi tuan Zafer, Pa. Akulah yang salah," ucap Tsamara yang kali ini tidak ingin suasana rumah kembali dihiasi pertengkaran antara ayah dan anak laki-laki tersebut.
Merasa jika apapun yang dikatakan selalu salah di mata Zafer, ia kini memilih untuk tidak lagi mengeluarkan pendapat apapun dan memutuskan untuk bertanya pada mertuanya.
"Apa yang harus kulakukan, Ma? Maksudku, aku bingung dengan sikap tuan Zafer. Apakah harus tinggal di kamar ini atau kamar tamu?"
Tsamara memang tidak bisa memutuskan sendiri karena berpikir jika Zafer nanti akan kembali bersikap marah-marah dan bukan itu yang diinginkan.
Mengerti jika saat ini Tsamara dilanda kegalauan, kini Erina mencoba untuk menenangkan perasaan menantu perempuan itu dengan mengusap lembut pundak.
"Kamu adalah istri pertama Zafer dan berhak tinggal di kamar ini. Apalagi saat ini sedang sakit, jadi akan lebih baik suami yang menemani jika sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat malam."
Sebenarnya Tsamara tidak mempermasalahkan berada di kamar itu, tapi kini menatap ke arah putra yang berada di gendongan ayah mertua. "Putraku yang sangat aktif akan mengganggu tidur tenang tuan Zafer nanti karena terkadang rewel saat malam."
Sementara itu, Adam Dirgantara kini memijat pelipis karena berpikir jika saat ini Tsamara selalu saja memikirkan orang lain dari pada diri sendiri.
"Biarkan Zafer belajar menjadi seorang ayah yang baik karena sebentar lagi juga akan merasakan bagaimana susahnya merawat seorang anak yang baru saja dilahirkan. Apalagi Rayya akan melahirkan anak kembar dan pasti membuat Zafer akan jauh lebih repot."
Kemudian menurunkan Keanu di atas ranjang untuk melanjutkan permainan mobil-mobilan yang tadi sempat dibeli saat pulang dari rumah sakit.
"Lebih baik kamu beristirahat saja karena dokter menyarankan agar lebih banyak berada di ranjang. Biar istriku yang membantumu. Aku ingin berbicara dengan putraku, agar bersikap lebih baik pada orang yang sedang sakit."
__ADS_1
Kemudian Adam yang masih merasa sangat kesal atas perbuatan Zafer yang sesuka hati, kini memilih segera berjalan keluar tanpa menunggu komentar dari Tsamara.
Tentu saja setelah memberikan kode kepada sang istri untuk membantu Tsamara ketika berbaring di atas ranjang.
Sementara itu, Tsamara hanya terdiam sambil melihat siluet belakang ayah mertua tersebut yang telah menghilang di balik pintu. Kemudian beralih menatap ke arah ibu mertua yang saat ini membantu untuk turun dari kursi roda dan berbaring di atas ranjang.
Dengan sangat hati-hati, Erina membantu, agar tidak sampai terjatuh terjerembab di lantai. Meskipun agak sedikit kesusahan karena harus menopang beban tubuh Tsamara yang masih lemas, akhirnya merasa lega karena berhasil membantu.
"Jika nanti membutuhkan sesuatu, tinggal telpon saja. Kamu bisa menelponku jika tidak ada Zafer atau nomor kepala pelayan."
Kemudian Erina meminta ponsel Tsamara dan begitu menerima, langsung mengetik nomor kepala pelayan yang selama ini mengatur semua hal di rumah.
"Ini sudah ada nomor kepala pelayan di ponselmu. Jadi, kamu tinggal menelpon siapapun jika membutuhkan bantuan. Aku akan melihat Rayya dulu, agar tidak mengatakan pilih kasih."
Erina kini tersenyum dan mengangguk perlahan, lalu keluar dari ruangan kamar menuju ke sebelah kiri dengan jarak dua ruangan yang merupakan tempat Rayya beristirahat.
"Apa Rayya sedang tidur?" lirih Erina yang saat ini sudah berdiri di depan pintu dan berniat untuk mengetuk.
Namun, menyipitkan mata karena mendengar suara dari dalam ruangan kamar seperti tengah berbicara dengan seseorang. Entah mengapa ia merasa sangat penasaran pada Rayya tengah berbicara dengan siapa, akhirnya memilih untuk menempelkan daun telinga ke dekat pintu.
Tentu saja berharap bisa mendengar suara dari dalam ruangan kamar. Selama beberapa detik mencoba untuk mendengarkan, tetapi hanya samar-samar karena tidak jelas.
'Sebenarnya Rayya sedang menelpon siapa saat tidak ada Zafer? Apakah teman laki-laki? Ataukah perempuan?' gumam Erina yang saat ini tidak ingin semakin merasa penasaran dan memilih untuk mengetuk pintu.
Bahkan tanpa menunggu jawaban dari dalam kamar, langsung membuka pintu dan berjalan masuk. Erina saat ini melihat Rayya tengah berbaring telentang di atas ranjang sambil masih memegang ponsel di dekat daun telinga.
__ADS_1
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Erina yang saat ini beralasan.
Raut wajah Rayya yang tadinya terlihat serius saat berbicara dengan salah satu sahabat sosialita karena ingin menghilangkan rasa stres hari ini saat melihat Tsamara tinggal di kamar sang suami, seketika terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari wanita paruh baya tersebut.
"Nanti kita lanjutkan obrolan kita. Ada ibu mertuaku yang bertanya." Rayya langsung mematikan sambungan telpon dan beralih menatap ke arah wanita paruh baya yang berdiri di sebelah ranjang.
Meskipun merasa sangat aneh mendapatkan perhatian dari mertuanya, tetapi tidak menunjukkan apa yang dirasakan dan bangkit dari posisi yang tadi telentang di atas ranjang.
"Mama sangat perhatian. Padahal aku hanya ingin beristirahat karena merasa pusing." Berakting memijat pelipis dan kembali bersuara. "Seandainya Zafer ada di sini, sudah menyuruh untuk memijat kepalaku."
"Tidak mungkin aku meminta Mama untuk memijat kepalaku karena itu sangat tidak sopan." Rayya yang baru saja menutup mulut, mengerjapkan mata dan merasa terkejut dengan perbuatan dari wanita paruh baya tersebut yang tiba-tiba duduk di sebelah kiri.
"Mood Zafer sedang tidak baik. Jadi, biar aku saja yang memijatmu karena kamu adalah menantu yang sedang hamil cucuku, jadi harus diperhatikan dengan baik," ujar Erina yang kini langsung mengarahkan tangan untuk memijat pelipis Rayya.
Berharap jika niat baik untuk berusaha menerima Rayya menjadi menantu, bisa membuat wanita itu berubah menjadi seorang istri yang baik untuk putranya.
Setelah tadi Tsamara mengatakan bahwa wanita hamil membutuhkan banyak perhatian, akhirnya memutuskan untuk berdamai dengan hati.
Erina ingin menerima Rayya dengan baik tanpa membedakan, agar tidak dianggap pilih kasih. "Bagaimana sekarang? Apa sedikit berkurang rasa pusing yang kudu rasakan?"
Rayya yang dari tadi hanya diam dan menikmati pijatan lembut dari mertuanya tersebut, kini membuka suara setelah menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Iya, Ma. Pijatan Mama sangat nyaman dan berhasil meringankan rasa pusing yang dari tadi kurasakan."
To be continued...
__ADS_1