
Dengan menelan kasar saliva, Rayya kini menepuk lembut bahu kokoh pria dengan wajah memerah dan dikuasai oleh kemurkaan tersebut.
"Sayang, apa yang kamu katakan? Apakah kamu akan membunuh orang yang menyebabkan orang tuamu meninggal? Apa kamu ingin pergi di penjara dan meninggalkanku seorang diri tanpa suami? Bagaimana dengan nasib anak-anak kita?"
Rayya ingin menyadarkan bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh Zafer benar-benar sangat mengerikan karena jika sampai itu terjadi, masa depan mereka akan hancur.
"Kamu harus memikirkan kami, Sayang. Jika kamu berakhir di penjara, aku sangat yakin jika orang tuamu akan bersedih dari surga sana. Bukan itu yang mereka inginkan karena berharap kamu menjalani hidup dengan baik."
Saat Rayya masih menatap sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya sambil berpegangan pada dinding, merasa sangat kesal karena menganggap jika Zafer berubah menjadi lemah hanya gara-gara orang tua yang selama ini sering menyusahkan itu telah meninggal.
Berpikir bahwa sikap Zafer terlalu berlebihan. Seharusnya merasa senang karena sudah tidak ada lagi yang setiap hari marah-marah ataupun melarang ini itu, sehingga tidak akan pernah mengeluh lagi mengenai apapun
"Kamu harus memimpin perusahaan dengan baik dan pastinya itu merupakan harapan dari orang tuamu. Bukan malah menghancurkan hidup dengan membunuh orang lain yang menyebabkan papa dan mama meninggal karena kecelakaan."
"Aku sudah mengurus administrasi dan kita bisa langsung pulang untuk mengurus pemakaman. Pasti sanak keluarga sudah datang ke rumah untuk membantu dan mengucapkan bela sungkawa. Jadi, kuatkan hatimu, Sayang."
Rayya yang masih melihat Zafer hanya diam saja. Tadi ka bergerak mundur kala mendapatkan tatapan penuh kilatan amarah.
Hingga ia pun memutuskan kembali berjalan mendekat dan beberapa kali mengusap punggung lebar pria itu agar lebih tenang dan bisa berpikir rasional.
'Aku ingin kamu kembali menjadi seorang pria yang kuat dan tidak lemah seperti ini, Zafer karena sebentar lagi akan ada banyak tugas untukmu untuk memimpin perusahaan yang pasti menjadi milikmu.'
__ADS_1
Bahkan saat ini Rayya sudah membayangkan menjadi nyonya rumah utama di istana besar keluarga Dirgantara. Tidak akan ada yang melarang ataupun marah padanya saat ingin melakukan apapun di rumah itu.
Hal pertama yang akan dilakukan oleh Rayya adalah menyingkirkan Tsamara dari rumah dengan cara mengusir dan menyuruh Zafer menceraikannya.
Kemudian menyuruh orang untuk menyingkirkan Tsamara dari dunia agar menyusul mertua dan tidak akan pernah mengganggu hubungan rumah tangganya bersama dengan Zafer.
Sementara Keanu sudah tidak punya siapapun lagi dan akan menjadikan pelayan di rumah untuk sementara karena mengetahui bahwa Rey pasti akan merebut dari tangannya saat merupakan ayah kandung.
Beberapa menit hanya ada keheningan diantara pasangan suami istri tersebut karena Zafer masih mencerna dan mempertimbangkan semua yang dikatakan oleh Rayya yang memang ada benarnya.
Memang sebuah hal yang paling berat dirasakan oleh Zafer adalah membiarkan orang yang membunuh orang tuanya masih bernapas.
"Aku ingin sekali menghabisi supir yang telah menabrak orang tuaku hingga meninggal, tapi kamu benar bahwa papa dan mama pasti tidak akan menyukai apa yang kau lakukan. Mereka makan kecewa padaku dan bersedih dari surga sana."
Merasa bahwa sekarang menjadi seorang wanita dewasa dan bijak, berpikir bisa mengalahkan Tsamara yang dianggap sok baik tersebut.
"Aku yang akan mengemudi. Ayo, kita pulang ke rumah untuk melaksanakan proses pemakaman." Rayya mengajak Zafer untuk berjalan keluar dari area di dekat kamar mayat.
Apalagi dari tadi merasa bulu kuduk merinding saat berada di tempat paling menakutkan tersebut. Jika bukan karena ingin terlihat menjadi seorang istri yang baik di depan Zafer, Rayya mana mungkin mau melakukan hal itu.
Berada di depan ruangan orang-orang yang sudah meninggal, membuatnya takut dan serasa ingin muntah.
__ADS_1
Nasib baik tadi tidak sampai muntah-muntah karena jika seperti itu, ia akan lemas dan pasti tidak akan punya tenaga untuk mengemudikan mobil pulang ke rumah.
Sementara saat ini masih melihat jika sang suami benar-benar terpukul dan pastinya belum bisa mengemudi karena tangan yang gemetar saat efek bersedih setelah kehilangan orang tua.
Zafer tidak bisa lagi berbicara karena hanya berjalan di belakang Rayya. Sebenarnya ingin mengemudi sendiri dan membiarkan Rayya beristirahat, tapi saat ini bahkan tangannya masih gemetar dan khawatir jika malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan dan membuat mereka tidak selamat.
'Apa yang harus kulakukan sekarang tanpa kalian? Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi secepat ini? Aku selama ini berpikir jika kalian akan panjang umur dan bisa melihat anak-anakku lahir ke dunia dan merawat mereka dengan penuh kasih sayang.'
'Namun, kalian pergi tanpa pesan. Aku benar-benar sangat menyayangi kalian, tapi tidak sempat mengatakan dan malah selalu membuat kecewa. Maafkan aku, pa, Ma. Aku akan berusaha untuk memenuhi keinginan kalian.'
Zafer berjalan dengan tatapan kosong sambil bergumam sendiri untuk meluapkan kesedihan dan mengingat semua perkataan Tsamara. Bahwa wanita itulah yang sering mendapatkan pesan dari orang tuanya.
Hal yang selalu membuatnya merasa iri, tetapi sekarang menyadari bahwa ada alasan dari orang tua yang lebih percaya pada Tsamara daripada dirinya.
'Kalian bahkan mengirimkan pesan terakhir pada Tsamara, tapi tidak mengatakan itu pada putra sendiri. Apakah aku harus marah dengan perbuatan papa dan mama?'
Merasa jika apa yang baru saja dipikirkan malah membuatnya menyesal, Zafer tidak ingin orang tuanya semakin kecewa karena menyalahkan Tsamara dan tidak bisa melihat kesalahan sendiri, sehingga saat ini berusaha untuk menerima semua takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan pada orang tuanya.
Zafer mencoba untuk bangkit dan tidak terpuruk karena saat ini menyadari bahwa akan ada banyak tugas untuknya untuk menjadi putra bertanggung jawab dan membanggakan orang tua.
'Aku akan membuat kalian tersenyum dari surga setelah melihatku menjadi manusia yang berguna dan bertanggung jawab,' gumam Zafer yang saat ini sudah tidak lagi berpikir untuk membenci Tsamara karena lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya.
__ADS_1
To be continued...