
Rayya mengerutkan kening dan menghentikan perbuatannya karena melihat raut wajah sang kekasih berubah muram begitu menatap ke arah benda pipih di tangan. Seketika perasaan buruk saat ini dirasakan karena memiliki firasat buruk, sehingga ia tidak membuang waktu untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran.
"Siapa, Sayang?"
Zafer saat ini melihat kontak sang ayah yang sedang menghubungi. Sebenarnya ia sangat malas untuk mengangkat panggilan dari pria yang diketahui tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan sang kekasih yang dicintai.
Bahkan wanita yang sangat cantik dan dipujanya tersebut telah mengandung benihnya. Zafer yang masih belum mengangkat panggilan telepon dari ayahnya, kini menoleh ke arah sang kekasih.
"Papa. Rasanya aku sangat malas untuk menerima telpon ini."
"Angkat saja telponnya. Siapa tahu wanita itu telah mengatakan pada ayahmu ingin bercerai darimu. Bukankah itu yang akan terjadi?" Rayya sebenarnya juga kesal karena tidak bisa melanjutkan aksi penuh gairah di antara mereka.
Namun, rasa penasaran saat ini mengelilingi pikirannya dan ingin mengetahui kabar apa yang dibawa oleh pria paruh baya yang akan menjadi mertuanya.
"Kamu bener juga, Sayang. Mungkin wanita itu sudah benar-benar pergi dari rumah dan mengatakan pada papaku, bahwa ia ingin bercerai denganku."
Zafer yang membenarkan semua perkataan dari sang kekasih, hendak menggeser tombol hijau ke atas.
Namun, sambungan telpon terputus karena dari tadi tidak diangkatnya. "Mati. Apa aku hubungi atau menunggu papa menelpon lagi?"
Zafer berbicara sambil menatap sang kekasih yang tidak langsung menjawab pertanyaannya. Ia ingin meminta pertimbangan dari wanita yang terlihat juga ragu untuk menanggapi.
Rayya yang masih terdiam di tempat karena saat ini tengah memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan pada pria dengan paras rupawan yang digilainya tersebut.
"Lebih baik kamu menunggu hingga beberapa menit dulu. Jika papamu belum menghubungi lagi, kamu menelpon." Akhirnya Rayya memberikan jawaban menurut versi terbaiknya.
Akhirnya Zafer memilih untuk patuh dan menunggu telpon dari sang ayah selama berapa menit. Namun, tidak ada panggilan masuk saat ia sudah bersabar.
__ADS_1
"Sepertinya ini telpon tidak penting karena papa tidak lagi menghubungiku." Baru saja Zafer menutup mulut, ia mendengar suara notifikasi dan langsung memeriksanya.
Bahkan Rayya yang dari tadi juga ikut merasa penasaran, kini tidak mengalihkan tatapannya dari ponsel yang berada di genggaman tangan dengan buku-buku kuat tersebut.
Cepat pulang sekarang karena ada hal yang harus diselesaikan.
Mendapatkan pesan ambigu dari sang ayah, membuat Zafer memicingkan mata karena ada dua kemungkinan yang saat ini ada di otaknya.
"Hal yang harus diselesaikan? Apakah ini menyangkut perceraian ataukah wanita itu melapor dan mempengaruhi papaku?" Beralih menatap ke arah sang kekasih karena selalu meminta pendapat dari wanita dengan tubuh seksi tersebut.
"Dari pada kasih pertanyaan sendiri seperti ini dan aku pun tidak bisa menjawab, lebih baik bertanya sendiri pada papamu. Telpon saja sekarang!" Rayya saat ini sangat berharap jika nanti mertuanya tersebut merestui pernikahannya dengan Zafer yang akan bertanggung jawab dengan kehamilannya.
"Aku harap orang tuamu akan mau menerimaku dengan tangan terbuka sebagai seorang menantu setelah mengetahui ada janin yang saat ini berkembang di perutku."
Rayya yang mengusap perut datar dengan menatap intens sang kekasih, seolah ingin memberitahukan bahwa ia sangat mengharapkan pertanggungjawaban dari pria itu sebelum perutnya membesar.
"Itu pasti, Sayang karena orang tuaku tidak akan berbuat jahat dengan orang lain. Apalagi tidak menerimamu sebagai menantu setelah mengetahui bahwa kamu sedang mengandung calon penerusku."
Ia pun memilih segera memencet tombol panggil pada kontak sang ayah untuk menanyakan apa yang saat ini ingin membuatnya penasaran.
Hingga beberapa saat kemudian, sambungan telpon sudah langsung diangkat oleh sang ayah.
"Halo, Pa. Ada apa sebenarnya? Aku sedang ada urusan penting di luar dan tidak bisa pulang sekarang." Zafer reflek langsung menjauhkan benda pipih dari telinga karena mendengar suara teriakan di seberang telpon.
"Cepat pulang sekarang atau kau tidak akan menerima sepeser pun warisan dariku!"
Baru saja Zafer hendak membuka mulut untuk menjawab kemurkaan dari sang ayah, ia semakin bertambah kesal begitu mendengar suara sambungan telpon yang telah terputus.
__ADS_1
Zafer juga ikut merasa kesal dan emosi, sehingga refleks mengangkat tangan ke atas dan berusaha menahan diri agar tidak membanting ponsel miliknya ke lantai.
"Papa selalu membuatku marah. Kenapa selalu saja mengatakan tidak akan memberiku warisan? Astaga! Sebenarnya apa yang diinginkannya?"
Zafer refleks bangkit dari sofa dan memilih untuk berpamitan pada wanita yang terlihat sangat kecewa karena tidak jadi berduaan di apartemen.
"Maaf, Sayang. Kamu dengar sendiri, kan seperti apa papaku? Aku selama ini tidak berbohong padamu tentang ancaman warisan. Jadi, aku harap kamu tidak marah karena harus pergi sekarang juga."
Tentu saja Rayya sangat marah sekaligus kesal dan rasanya ingin sekali memberikan pelajaran pada pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Zafer
'Sial! Rasanya aku ingin mencekik pria tua itu agar segera membusuk di neraka. Mungkin bisa melakukannya nanti setelah tinggal serumah dengan orang tua Zafer. Atau aku akan membuat mereka menandatangani surat peralihan harta warisan pada Zafer dengan mengancam mereka.'
Rayya saat ini tidak bisa berpikir lagi untuk mencoba memenuhi otak dengan hal-hal positif setelah mendengar suara teriakan calon mertuanya.
"Apa yang harus kulakukan tanpamu di sini? Itulah alasan membeli minuman untuk menemani rasa kesepian yang kurasakan saat sendiri di sini. Pergilah! Sebelum papamu tidak memberikanmu harta sepeser pun."
Setelah berbicara dengan perasaan berkecamuk karena menahan amarah yang membuncah, Rayya memilih untuk membuka botol minuman yang berada di atas meja.
Zafer yang masih berdiri mematung di tempatnya, seolah tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan ulah dari sang kekasih.
Tentu saja ia merasa bersalah karena mengingkari perkataannya. "Sayang, jangan minum lagi. Kamu mungkin bisa mengisi waktu luang dengan cara menonton film atau mendengarkan musik."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anakku jika kamu terus mengkonsumsi minuman beralkohol. Bahkan kita belum memeriksakan kondisinya, jadi tolong jaga janin yang ada dalam rahimmu itu, Sayang."
Setelah berbicara dan berharap sang kekasih mau mematuhinya, Zafer berjalan mendekat dan mencium kening wanita yang masih tidak menanggapi nasihatnya.
"Aku pergi, Sayang. Lebih baik, sekarang kamu beristirahat dan jangan banyak pikiran, oke. Aku akan kembali setelah selesai urusanku dengan papa."
__ADS_1
Tidak ingin melihat sang kekasih bersedih karena kepergiannya, Zafer kini memilih segera berjalan meninggalkan wanita itu menuju ke arah pintu keluar.
To be continued...