Hasrat Terlarang CEO

Hasrat Terlarang CEO
Memeriksa kehamilan Rayya


__ADS_3

Ia awalnya ingin melihat respon dari Rayya yang terlihat sangat marah atas keputusan yang diambil untuk menggugurkan kandungan. Kini, telah mengerti bahwa putrinya sendiri yang dari dulu sudah dipenuhi segala kebutuhan dari kecil hingga dewasa, ternyata dengan mudah membela orang lain.


Masih menatap tajam Zafer yang seperti bersembunyi di depan Rayya, akhirnya ia memutuskan untuk tidak ikut campur lagi atas keputusan apapun yang diambil sang putri.


"Aku tunggu besok di restoran favorit keluarga karena sudah memesan tempat untuk membicarakan pernikahan dengan keluarga Raymond. Jadi, kalian sendiri yang harus membereskan."


Merasa jika amarah akan memenuhi diri ketika melihat Zafer yang telah berani memukul, kini ia memilih berbalik badan dan melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift.


Tanpa menunggu respon atau jawaban dari sang putri, kini Leon Pratama sudah masuk ke dalam ruangan pintu kotak besi tersebut. Begitu pintu lift tertutup, kini langsung mengarahkan tendangan pada apapun yang dilihat.


Seolah meluapkan emosi atas apa yang terjadi hari ini. "Berengsek! Rencana gagal untuk menjalin kerja sama dengan sahabatku. Apa yang harus kulakukan saat Club hampir bangkrut?"


Dengan memijat pelipis, ia mencari ide untuk menyelesaikan masalah bisnis yang sudah hampir bangkrut karena ulah beberapa oknum yang merupakan saingan bisnis.


"Jika sampai aku bangkrut, tidak akan mempunyai apapun lagi karena semua aset sudah menjadi jaminan bank. Sepertinya aku harus berbicara dengan orang tua Zafer untuk bertanggungjawab."


"Padahal jika bekerjasama dengan sahabatku, akan mendapatkan setengah dari keuntungan yang didapat. Sekarang keluarga Dirgantara yang harus mengganti keuntungan itu karena sudah melayang."


"Ya, lebih baik aku nanti menemui pria itu saja. Daripada pusing sendiri atas apa yang terjadi padaku." Ia kini berjalan keluar setelah lift terbuka.


Berencana untuk kembali ke Club karena selam beberapa terakhir ini sibuk mengecek sendiri mengenai masalah keuangan yang selalu saja tidak mendapatkan hasil sesuai.


Begitu dekat di tempat parkir, ia sudah berjalan menuju ke arah mobil dan masuk ke dalam. Kemudian melajukan kendaraan roda empat tersebut membelah jalanan ibu kota menuju Club miliknya.


Sementara di sisi lain, yaitu di dalam apartemen, Rayya baru saja mengajak Zafer untuk masuk ke dalam dan keduanya duduk di ruang santai.


"Maafkan sikap ayahku, Sayang? Aku tahu jika kau pasti tidak akan pernah bisa melupakan kejadian hari ini, tapi paling tidak, kita bisa menikah. Bukankah ini yang paling kita tunggu? Apalagi aku sangat mencintai dan ingin menjadi istrimu."

__ADS_1


Rayya masih mencoba untuk menenangkan emosi yang dirasakan sang kekasih dengan cara memeluk dan bersandar pada dada bidang itu.


Berharap jika sikap manja yang selalu disukai oleh Zafer selama ini akan berhasil mendinginkan bara api di hati pria itu.


Sementara itu, Zafer masih diam karena belum melupakan penghinaan dari calon mertua ketika semena-mena. "Aku tidak bisa melupakan apa yang dikatakan ayahmu. Jadi, jangan membuatku mengingat saat menyuruhmu untuk mengakhiri nyawa keturunanku."


"Bahkan pria itu jauh lebih buruk dari pada binatang karena menyuruhmu membunuh cucu sendiri. Jika sampai itu terjadi, mungkin akulah yang membunuhnya!"


"Aku tidak akan memperdulikan jika pria itu adalah ayahmu karena satu-satunya yang kupikirkan hanyalah anakku." Zafer kini mengalihkan perhatian pada perut datar Rayya.


Bahkan sudah mengusap lembut di sana. "Anakku harus dilahirkan, agar bisa melihat indahnya dunia dan pasti aku akan memberikan semua yang terbaik."


Rayya hanya diam ketika merasakan usapan lembut di perut dan sekaligus sangat terharu atas apa yang saat ini ditunjukkan oleh Zafer.


Bahkan bola matanya kini berkaca-kaca karena bisa melihat kasih sayang seorang ayah pada anak yang belum dilahirkan. "Anak kita nanti akan sangat bahagia karena memiliki ayah yang sangat menyayangi."


"Selalu alasan klise ketika marah karena tidak pernah mengajakku pergi, yaitu bekerja demi aku dan yang merasakan bukanlah anak orang lain."


Rayya semakin mengeratkan pelukan pada pinggang kokoh Zafer dan mencari kehangatan dari tubuh kekar yang selalu membuat nyaman.


"Terima kasih karena mencintaiku sebesar ini. Aku juga sangat mencintaimu, Zafer. Malam ini kau menginap di sini, kan?"


Zafer yang berniat untuk menjawab, mendengar suara dering ponsel dan mengingat sesuatu. "Dari tadi dokter keluargaku belum datang juga. Apa ini telpon darinya?"


Tanpa membuang waktu, kini ia meraih benda pipih tersebut di saku celana dan benar apa yang baru saja dipikirkan. Kemudian langsung menggeser tombol hijau ke atas.


"Halo." Zafer menyipitkan mata ketika mendengar suara beberapa pria di telpon.

__ADS_1


"Kenzo, aku tidak bisa datang karena saat perjalan menuju ke sana, mobilku ditabrak dari belakang dan aku sedang mengurus pelaku."


"Dokter terluka? Apakah sekarang sedang di rumah sakit?" Zafer sangat terkejut dengan kabar yang baru saja didengar.


"Aku hanya luka pada bagian dahi saja. Hanya saja, aku sedang di kantor polisi karena diminta keterangan. Lebih baik kau bawa pasien ke rumah sakit saja."


Sementara itu, Zafer merasa lega dan beralih melirik ke arah Rayya yang dari tadi masih duduk di sebelah. "Syukurlah kalau baik-baik saja. Baiklah, aku akan membawa kekasihku ke rumah sakit saja."


Zafer kini mematikan sambungan telpon dan belum membuka mulut, sudah melihat respon Rayya


Rayya dari tadi bisa mendengar percakapan dari Zafer dan dokter, jadi begitu mendengar rumah sakit yang identik menakutkan, refleks langsung menggelengkan kepala.


"Aku tidak mau ke rumah sakit karena sangat takut jarum suntik. Lebih baik kita habiskan malam ini dengan penuh gairah di kamar." Menampilkan wajah penuh permohonan dan berharap jika Zafer tertarik dan mengurungkan niat.


Namun, yang terjadi adalah sebaliknya karena kini Zafer langsung merengkuh tubuh Rayya dan menggendong ala bridal style.


"Kau harus patuh padaku karena ada janin di rahimmu ini. Jadi, harus segera diperiksa bagaimana keadaan anakku. Sekarang kita pergi ke rumah sakit. Mengenai masalah menghabiskan malam dengan liar, kita tunda dulu."


"Meskipun sebenarnya aku sangat ingin dan merindukan aroma tubuhmu, tapi tidak bisa melakukannya saat kondisimu seperti ini. Lihatlah wajahmu, sangat pucat seperti mayat hidup. Bagaimana jika pingsan ketika belum selesai bercinta?"


Rayya terdiam karena tidak tahu harus berkomentar apa atas perhatian dan kekhawatiran Zafer. "Tidak mungkin aku pingsan lagi. Jadi, jangan berlebihan."


"Astaga! Dasar bandel! Jika aku tidak datang ke sini tadi, mungkin kamu masih tergeletak di kamar mandi. Jadi, jangan menolak dan patuhlah padaku, oke!" Zafer kini telah berjalan masuk ke dalam lift tanpa memperdulikan wajah sang kekasih yang masam.


Satu-satunya hal yang diinginkan hanyalah ingin mengetahui perkembangan janin di rahim wanita dengan wajah pucat itu. Apakah keadaan anak-anaknya baik-baik saja atau tidak.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2