
"Mi, pakai baju yang ini ya! Aku mau mengajakmu jalan-jalan hari ini," ucap Dion menunjukkan satu dress warna biru tua.
"Jalan-jalan kemana? Mas gak kerja?" tanya Mia.
"Kita kan pengantin baru. Masa aku harus masuk kerja? Ya masih libur dong, Mi. Kamu gak mau jalan-jalan sama aku?" tanya Dion.
"Bukan begitu mas. Maaf ya kalau Mia menyinggung. Tapi jujur saja Mia senang kok mas bisa ngajak Mia jalan-jalan hari ini," ucap Mia membawa dress itu dan memakainya.
Setelah selesai mengganti bajunya, Mia keluar dari kamar mandi. Dion nampak menatap Mia dari ujung kepala hingga kaki. Dress selutut itu menunjukkan kaki jenjang milik Mia yang begitu bersih. Mungkin malam tadi Dion tidak begitu memperhatikan tubuh Mia karena ia sibuk menikmatinya. Tapi siang ini, Dion benar-benar melihat Mia dengan sangat jelas.
"Mia ganti bajumu. Kamu tidak cocok pakai baju itu. Pakai ini saja," ucap Dion memberikan sebuah tunik dan celanja panjang.
Enak saja kamu pakai dress itu. Akan banyak yang menikmati kaki mulusmu itu. Cukup aku yang puas dan sangat menikmati tubuhmu Mia. Tidak yang lain.
Mia tidak menjawab ucapan Dion. Ia hanya menerima baju itu dan menatap Dion penuh kebingungan.
"Kenapa? Kamu gak mau ganti baju?" tanya Dion.
"Mau, mas. Sebentar ya!" jawab Mia.
Mia langsung kembali ke kamar mandi dan mengganti bajunya. Di dalam kamar mandi, Mia menggerutu. Jujur saja Mia kesal dengan sikap Dion yang begitu seenaknya memintanya mengganti baju.
"Mia, lama sekali." teriak Dion.
"Iya sebentar," jawab Mia.
Dasar gak sabaran. Kamu gak pernah ganti baju mas? Kamu pikir aku superman yang tinggal ngedip bajunya langsung ganti? Sabar kenapa sih.
Mia keluar dari kamar mandi. Dion menatapnya dengan senyum lebar. Dengan baju yang tertutup seperti itu, sama sekali tidak mengurangi kecantikan Mia.
"Tunggu sebentar ya mas. Mia mau pakai bedak dulu," ucap Mia.
"Iya, aku tunggu di luar ya!" ucap Dion.
Mia mengangguk. Setelah melihat Dion keluar dari kamarnya, Mia mulai memoles wajahnya. Tak butuh waktu lama, karena Mia hanya menggunakan makeup natural saja. Mia keluar dari kamarnya dan menemui Dion.
"Mas," panggil Mia saat melihat Dion sedang duduk di ruang depan.
"Mi. Ayo!" ajak Dion.
Dion menggenggam tangan Mia dan membawanya ke dalam mobil. Kali ini Dion menggunakan sopir, karena ia tidak ingin melewatkan waktu spesialnya dengan Mia. Dalam perjalanan, Dion beberapa kali menciun tangan Mia.
"Mas, malu." ucap Mia memberi kode kalau di depan ada sopir.
"Dia tidak melihat kita. Dia melihat jalanan. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan sama dia." ucap Dion.
Mia diam. Percuma dia bertanya karena sopir itu akan menjawab sesuai dengan keinginan Dion. Mia hanya menggelengkan kepala melihat sikap Dion yang menurutnya berlebihan. Mia sampai menjauhkan tubuhnya saat Dion terus memeluknya.
"Mia," ucap Dion kesal.
"Mas, ini tempat umum. Nanti saja ya di rumah," ucap Mia.
"Ok. Kamu yang minta ya! Aku tunggu nanti di rumah," ucap Dion dengan seringainya.
Emm mampus. Salah jawab nih kayaknya Mia. Apa yang mau dia lakukan nanti ya? Bu, tolongin Mia.
Mia tidak menjawabnya. Ia hanya berusaha menikmati jalanan ibu kota. Masih sama. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi menjadi pemandangannya kali ini. Udara yang terik membuat Mia sesekali membuat Mia mengerutkan dahinya.
Setelah cukup lama, akhirnya mereka sampai ke sebuah mall.
"Ayo!" ajak Dion.
Mia mengangguk dan turun dari mobil. Mall yang tak asing karena sebelumnya Mia pernah beberapa kali menginjakkan kakinya di sana. Mia tersentak saat tangan Dion kembali menggenggam tangannya. Mia merasa bahagia saat Dion tak melepaskan tangannya. Mia merasa dirinya benar-benar dihargai dan dilindungi sebagai seorang wanita.
"Mas mau cari apa?" tanya Mia.
"Aku mau cari kemeja buat Reza," jawab Dion.
"Buat Reza?" tanya Mia.
"Ya, teman aku. Aku yakin kamu pasti ingat sama dia," jawab Dion.
"Ya, Mia ingat. Memangnya Reza ulang tahun ya mas?" tanya Mia.
"Gak. Memangnya kenapa?" tanya Dion.
__ADS_1
"Terus mas kenapa beli kemeja buat Reza?" tanya Mia.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Dion.
"Bukan tidak boleh mas, Mia hanya ingin tahu dalam rangka apa mas membelikan kemeja buat Reza?" tanya Mia.
Ya Tuhaaaaan, nanya begini aja urusannya jadi panjang. Kan tinggal jawab saja. Apa susahnya sih. Ini juga mulut ngapain sih pakai nanya-nanya sama dia segala? Sejak kapan Mia mulai kepo sama urusan mas Dion?
"Kamu gak usah cemburu. Aku bukan Haji Hamid kok," jawab Dion sambil tertawa.
"Hussst. Mas, gak boleh begitu ah. Takut ada yang dengar. Bahaya," ucap Mia.
Dion segera menutup mulutnya namun ia tak bisa berhenti tertawa. Mia sampai cemberut melihat kelakuan Dion.
"Jangan marah dong. Nanti cantiknya hilang," ucap Dion.
"Wah, jadi Mia cantik ya mas? Pantas saja mas mau nikah sama Mia," goda Mia.
Eh Mia. Sejak kapan kamu ganjen begini? Dihh apa yang sudah aku katakan? Kenapa harus memuji Mia begitu sih? Kan jadi tengsin ih.
"Ah, aku mau pipis dulu. Kamu tunggu di sini ya!" ucap Dion mengalihkan pembicaraan.
Bahaya kalau Dion tidak menghindar. Dion pasti akan ketahuan kalau ia benar-benar memuja Mia. Dan itu tidak seharusnya Mia sadari. Cukup Dion yang merasakan semuanya. Tak perlu Mia menggodanya seperti itu.
Mia menahan tawanya. Cukup lama bersama Dion, Mia bahkan sudah sedikit menyadadi tingkah laku Dion. Termasuk saat ini, Mia tahu kalau Dion tengah menyembunyikan rasa tegangnya.
"Mia?" panggil seseorang.
Suara itu? Mia tidak asing dengan suara yang baru saja memanggilnya. Mia membalikkan badannya, dan benar saja.
"Nyonya Nathalie?" panggil Mia.
Mau apa lagi wanita ini? Apa jangan-jangan dia mau cari masalah lagi sama Mia? Tenang Mia, tenang. Hadapi saja. Kamu pasti bisa mengahadapi wanita ini. Pasti bisa!
"Pengantin baru ngapain kelayapan sendiri? Kenapa? Suami baru kamu gak mau kan jalan sama kamu? Dia pasti malu kan jalan sama kamu? Lagian kamu jadi wanita itu kok gampangan sekali sih? Danu aja belum menikah lagi. Kok kamu sudah menikah duluan? Katanya kamu cinta sama anak saya, kok belum sampai setahun, kamu sudah melupakan anak saya dan sudah menikah lagi? Karena dapat pria yang jauh lebih kaya ya?" ucap Nyonya Nathalie.
Mia menelan salivanya saat kata demi kata dari Nyonya Nathalie masuk dan menghancurkan hatinya. Ucapan macam apa itu? Mia tidak habis pikir wanita yang dulu sangat menyayanginya tiba-tiba berubah begitu drastis. Kebencian. Ya, hanya kebencian yang mengisi ruang hati dan kepala Nyonya Nathalie.
"Kenapa kamu diam? Kamu malu kan mengakui semua itu? Kamu malu mengiyakan kenyataan kalau kamu itu tidak bisa mencintai pria, kamu hanya mencintai uang dan uang. Kamu sudah tidak bisa mengelak lagi, Mia. Semua kebusukanmu sudah jelas-jelas terbongkar," ucap Nyonya Nathalie.
Mia yang berusaha sabar akhirnya sudah tidak bisa menahan amarahnya. Ucapan Nyonya Nathalie yang menyudutkannya bahkan sampai merendahkannya membuat Mia harus melawan. Jika dibiarkan, Mia yakin Nyonya Nathalie akan semakin menjadi.
DEG.
Nyonya Nathalie membuka matanya lebar-lebar. Ia tidak percaya kalau Mia berani menjawabnya seperti itu.
"Kenapa? Nyonya mengakui semua itu kan? Kalau Nyonya pikir Mia hanya mencintai uang, Anda salah. Mia mencintai Dion. Maafkan Mia jika harus move on dengan begitu mudah. Anak Anda sudah mencampakkan dan membuang Mia begitu saja. Tidak ada alasan Mia untuk berlarut-larut meratapi semua penderitaan ini. Kalau ada pria yang bisa membahagiakan Mia, apa masih pantas Mia meratapi perlakuan anak Anda? Mia ucapkan terima kasih, berkat Anda dan anak Anda, Mia bisa bertemu dengan orang-orang yang tulus menerima semua kekurangan Mia." ucap Mia dengan begitu lantang.
Emosinya yang sudah memuncak membuat Mia tidak takut sama sekali pada Nyonya Nathalie. Bagaikan membangunkan singa yang sedang tidur. Nyonya Nathalie dibuat terkejut dengan sikap dan ucapan Mia yang membuatnya kalah telak. Lidah Nyonya Nathalie kelu, ia bahkan tak bisa menjawab apapun. Kecuali mengangkat tangannya dan siap menampar Mia.
"Hentikan! Apa yang kamu lakukan pada istriku?" ucap Dion dengan geram sambil menahan tangan Nyonya Nathalie.
Hampir saja tangan Nyonya Nathalie menyentuh pipi Mia. Namun dengan cepat dan tepat, Dion menyelamatkan Mia. Menyelamatkan harga dirinya. Saat beberapa pengunjung mall melihat kejadian itu, Dion membela Mia. Hingga mereka tahu kalau Mia benar-benar sedang bersama suaminya.
Kehadiran Dion membungkam mulut Nyonya Nathalie. Mematahkan sangkaannya kalau Mia tidak diakui oleh suaminya. Pembelaan Dion membuat Nyonya Nathalie tak bisa berkutik.
"Lepaskan tanganku!" ucap Nyonya Nathalie.
Dion melepaskan tangan Nyonya Nathalie dan mendekati Mia. Ia menggenggam tangan Mia dan mencium pipi Mia di depan Nyonya Nathalie.
"Jangan pernah ganggu istriku. Anda akan berurusan denganku jika mengulangi kebodohan yang sama," ucap Dion menarik tangan Mia untuk meninggalkan Nyonya Nathalie.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Mia saat melihat Dion membawanya ke luar mall.
"Kita cari mall lain. Aku tidak ingin bertemu dengan dia," ucap Dion.
"Mas," ucap Mia yang tiba-tiba memeluk Dion.
Hey ada apa ini? Mia memelukku saat ada beberapa pasang mata melihat kejadian ini? Padahal tadi Mia marah saat aku mencium tangannya di depan sopirku. Mia, kamu manis sekali. Aku suka ini. Lakukan ini lebih sering, sayang.
"Kamu tidak malu? Banyak yang melihat kita Mia," ucap Dion mengingatkan.
Mia menggeleng dalam pelukan Dion.
"Mia mau semua orang tahu kalau Mia punya mas. Mia gak sendiri. Mas gak malu kan jalan sama Mia?" tanya Mia sambil menengadahkan kepalanya.
__ADS_1
Dion mencium dahi Mia.
"Mana mungkin aku malu jalan sama istriku sendiri," jawab Dion.
Mia tersenyum bahagia dan kembali membenamkan wajahnya dalam pelukan Dion. Dion membiarkan Mia menenangkan dulu hatinya. Mengusap kepala dan bahunya bergantian ternyata mampu membuat Mia jauh lebih tenang.
"Mas, ayo!" ajak Mia.
Dion membawa Mia masuk ke dalam mobilnya. Menggenggam tangan Mia dengan erat. Seolah ia tengah meyakinkan Mia kalau ada dirinya di samping Mia. Mia tidak sendiri. Begitu mungkin maksud yang tersirat melalui sikap Dion.
"Tuan, kita mau kemana lagi?" tanya sopir.
"Pulang!" jawab Dion.
"Mas, kan belum dapat kemejanya. Ke mall saja," ucap Mia.
"Kita bisa mencari kemejanya besok lagi. Masih banyak waktu. Sekarang kamu harus istirahat Mia," ucap Dion.
Mia tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Dion. Mia benar-benar menikmati kehadiran Dion di sampingnya. Mia merasa tenang saat bersama Dion. Mungkinkah cinta itu sudah benar-benar tumbuh di hati Mia? Sepertinya memang begitu. Mia sudah merasa nyaman bersama pria yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Dari mana kalian?" tanya Nyonya Helen saat melihat pengantin baru itu baru pulang.
"Dari mall," jawab Dion.
"Kenapa Mia?" tanya Nyonya Helen.
"Tadi ketemu sama mantan mertuanya. Mia hampir ditampar," jawab Dion kesal.
"Mas," ucap Mia menarik tangan Dion.
"Apa? Kurang ajar si wewe gombel itu ya! Benar-benar cari masalah dia. Tapi kamu tidak apa-apa kan?" ucap Nyonya Nathalie sambil mengusap dan memutarkan tubuh Mia.
"Tidak apa-apa ma. Mia baik-baik saja kok. Ada mas Dion yang melindungi Mia," jawab Mia.
"Bagus Dion. Kamu harus melindungi istrimu dari si wewe gombel itu," ucap Nyonya Helen.
"Iya ma. Dion akan melindungi Mia sebisa Dion. Mama tenang aja ya!" ucap Dion.
"Ya sudah. Bawa istrimu ke kamar. Dia harus istirahat," ucap Nyonya Helen.
"Iya ma. Aku permisi ke kar dulu ya!" ucap Dion.
"Permisi ma," ucap Mia.
"Iya. Istirahat ya! Kamu jangan banyak pikiran," ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih ma," ucap Mia dengan senyum lebarnya.
Mia pergi ke kamar bersama Dion. Jujur saja, rasa kesal dan marah terhadap Nyonya Nathalie kini sudah hilang. Hanya ada perasaan bahagia saat Mia benar-benar merasa diperlakukan sangat istimewa oleh keluarga Dion. Tapi ada rasa takut, Mia takut kasih sayang Nyonya Helen berubah.
"Mia, kamu masih kepikiran masalah tadi ya?" tanya Dion saat melihat Mia melamun.
"Mia gak mikirin itu mas," jawab Mia.
"Lalu apa yang kamu pikirkan?" tanya Dion.
"Mia takut kalau kasih sayang kalian berubah sama Mia. Mia gak mau kehilangan kalian. Mia sayang sama kamu dan mama," ucap Mia.
Apa? Mia bilang apa? Dia bilang sayang? Akhirnyaaaa. Mia katakan itu sesering mungkin. Aku bahagia mendengar semua ini Mia. Aku bahagia.
"Kamu jangan takut. Kita semua akan selalu sayang sama kamu. Kamu adalah bagian dari keluarga ini sekarang," ucap Dion.
"Mas, aku mau ketemu sama Reza dong." ucap Mia.
Baru saja aku senang mendengar kalau kamu sayang sama aku. Eh belum satu menit kamu udah bikin kesal. Ngapain sih mau ketemu sama Reza? Kamu ini keterlaluan Mia.
"Mas, Mia mau mengucapkan terima kasih sama Reza. Karena dia sudah memilih Mia untuk jadi wanita paling beruntung yang bisa mendampingi mas," ucap Mia saat melihat Dion cemberut.
Miaaaa, kamu selalu membuat hatiku seperti naik roller coaster. Senang, kesal, senang lagi. Ah Mia. Kamu ini sebenarnya romantis. Tapi kadang terbungkus sama kepolosan yang membuatku sakit kepala.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..