
Malam ini Dion pulang larut malam. Ia membuka pintu kamar dan melihat istrinya sudah tidur nyenyak. Dion merangkak ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping Mia. Tidak menyentuhnya sama sekali karena takut jika istrinya bangun dan terganggu hanya karena kehadirannya.
Jam tiga pagi, Mia merasa ASInya sudah penuh dan harus segera dikeluarkan. Mia terkejut saat menyadari Dion tengah tidur di sampingnya. Tangan Mia hendak menyentuh kepala suaminya, tangis bayi mengurungkan niatnya. Mia turun dari ranjang dan membiarkan Dion tidur dengan nyenyak.
"Sayang," ucap Mia saat pintu kamar bayinya sudah terbuka.
"Nyonya, ASInya masih ada. Anda bisa tidur lagi," ucap salah satu perawat yang tengah menyiapkan dot pink untuk Naura.
"Tidak usah. ASIku sudah penuh. Mungkin karena Naura membutuhkan ini," ucap Mia.
Mia segera menggendong Naura dan menyusuinya. Ia memang selalu menikmati masa-masa menyusuinya. Namun karena hari ini ia lelah, mungkin Mia masih membutuhkan waktu istirahat. Mia ketiduran saat menyusui Naura.
"Nyonya," ucap salah satu perawat.
Sedikit guncangan membuat Mia berubah posisi. Matanya terbuka namun kepalanya masih terasa berat.
"Naura sudah tidur. Anda kembali ke kamar saja," ucap perawat.
"Ah iya. Aku tidurkan Naura dulu," ucap Mia.
Selesai menidurkan kembali Naura ke dalam box bayinya, Mia pamit kembali ke kamarnya. Ia melanjutkan tidurnya karena kepalanya terasa pusing.
"Sayang," panggil Dion.
"A," ucap Mia.
"Kamu dari mana?" tanya Dion.
"Mia baru selesai menyususi Naura. Aa pulang jam berapa?" tanya Mia.
"Sini!" ucap Dion melambaikan tangan dan menepuk kasur di sisinya.
Mia mendekat dan merebahkan tubuhnya di sana. Ia kembali ke tempat tidurnya semula.
"Ceritanya besok siang ya! Sekarang kita tidur lagi," ucap Dion sembari memeluk tubuh Mia.
Setelah Dion bangun, Mia menagih janjinya untuk menceritakan bagaimana ia bisa pulang.
"Aku sama Mama dan Papa pulang jam satu," jawab Dion.
"Lalu Tuan Felix?" tanya Mia.
"Ada perawat yang aku tugaskan di sana. Kamu jangan khawatir," jawab Dion.
"Lalu anak itu?" tanya Mia.
"Dia masih di rumah sakit," jawab Dion.
"Untuk apa?" tanya Mia.
"Dia menunggu ayahnya yang dirawat di sana. Dia juga menolak imbalan yang aku berikan, tapi saat aku tahu ayahnya dirawat, dia senang dan berterima kasih." Dion menjelaskan.
"Anak baik. Semoga aku bisa diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan anak baik itu," ucap Mia.
"Ayo sarapan!" ajak Dion menyudahi obrolan pagi itu.
__ADS_1
Mia mengikuti langkah suaminya saat tangannya di genggam dan ditarik. Sudah ada Nyonya Helen dan Tuan Wira di ruang makan.
"Ma, pagi ini aku mau ke rumah sakit boleh?" tanya Mia.
"Kenapa izin ke mama? Ke aku dong Mi," ucap Dion.
"Kan ke rumah sakitnya sama Aa," ucap Mia.
"Memangnya aku mau ngajak kamu?" tanya Dion.
Wajah cemberut Mia membuat Nyonya Helen membelanya.
"Biarkan Mia ikut. Bagaimanapun Mia adalah orang yang menolong Tuan Felix dan berhutang budi pada anak itu," ucap Nyonya Helen.
Bibir Mia mulai merekah. Ia senang saat Nyonya Helen tahu apa yang ada di kepalanya.
"Tapi Narendra sama Naura gimana?" tanya Dion.
"Hari ini Mama gak kemana-mana. Mama mau di rumah aja jagain cucu Mama. Tapi sebelum berangkat jngan lupa pompa ASI dulu," ucap Nyonya Helen.
Mia mengangguk cepat dan segera menghabiskan sarapannya dengan sangat semangat. Ia selesai lebih dulu dan pamit untuk pompa ASI. Sebenarnya sebelum sarapan Mia sempat memompa ASInya, tapi ia khawatir tidak akan cukup jika ia pergi ke luar hari ini.
"Ayo berangkat!" ajak Mia setelah selesai memompa ASInya.
Dion dan Mia berangkat ke rumah sakit. Tuan Wira pergi ke kantor dulu, sedangkan Nyonya Helen berjaga di rumah. Entah kenapa, Mia merasa jantungnya berdebar tidak karuan saat mobil semakin mendekati kawasan rumah sakit.
"A, terakhir kondisi Tuan Felix gimana?" tanya Mia.
"Sudah membaik dan melewati masa krisisnya," jawab Dion sembari fokus menyetir.
Mia menatap jendela mobil yang menunjukkan pemandangan gedung tinggi hampirbl di setiap jalan yang dilaluinya.
Mia memegang dadanya yang berdebar tidak karuan. Ia merasa tidak enak hati. Ada apa sebenarnya? Begitulah racauan di kepala Mia. Mia tersadar saat tangan Mia digenggam oleh suaminya.
"Masih tidur," bisik Dion.
Mia menarik tangan Dion untuk keluar kamar. Ia tidak ingin mengganggu istirahat pria itu.
"Biarkan saja. Mia mau ketemu sama adek itu dulu dong. Bukannya ayahnya masih di rawat di sini?" tanya Mia.
Dion mengangguk dan membawa Mia ke ruangan ayah dari anak itu. Saat Mia akan membuka pintu ruangan, anak itu baru saja akan keluar dari ruangannya. Mia terperanjat dan mundur cepat hingga ia menabrak suaminya.
"Kakak," sapa anak itu.
"Hai," jawab Mia.
"Kakak ada apa ke sini? Masih butuh donor darah?" tanya anak itu.
Mia menggeleng cepat lalu mengulurkan tangannya dan menyebutkan namanya.
"Rian," jawab anak itu sembari menerima uluran tangannya.
"Ah, aku mau mengucapkan terima kasih atas semua kebaikanmu. Kamu memang anak baik," ucap Mia.
"Terima kasih Kak. Aku hanya merasa harus membantu orang yang membutuhkan bantuanku saja. Lagi pula suami Kakak telah membayar mahal apa yang aku lakukan. Kak Dion membayar semua pengobatan bapak," ucap Rian.
__ADS_1
"Bapak sakit apa?" tanya Mia.
"Paru-paru kak," jawab Rian.
"Boleh ku bertemu?" tanya Mia.
Rian membuka pintu ruangan dan mempersilahkan Mia untuk masuk. Mata Mia membulat saat melihat pria yang terbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Semakin dekat, Mia semakin yakin dengan dugaannya.
"Mia," ucap pria yang terbaring itu dengan suara pelan.
"Bapak kenal sama Kak Mia?" tanya Rian.
Tidak mendapat jawaban dari Bapaknya, Rian menatap Mia untuk mendapat jawabannya. Mia masih bungkam. Ia hanya melihat raut wajahnya berubah. Matanya mulai memerah dan air mata yang mulai menggennang.
"Mia, apa kamu mengenalnya?" tanya Dion.
"Dia Pak Baskoro. Bapakku," jawab Mia dengan memamlingkan wajahnya lalu mengusap sudut matanya.
"Bapak?" tanya Rian yang merasa tidak puas dengan jawaban Mia.
"Aku permisi dulu ya!" pamit Mia pada Rian.
"Mia, sebentar. Aku minta maaf jika selama ini aku banyak salah. Aku minta maaf," ucap Pak Baskoro.
Ya, pria itu adalah Pak Baskoro. Pria yang penuh dengan cerita buruk dalam kepala Mia. Jadi pria itu menikah lagi dan memiliki anak bernama Rian.
Tunggu dulu! Sekarang Rian sudah remaja. sedangkan Ibu dan Bapak bercerai sejak Mia menikah dengan Haji Hamid. Saat usia Mia tujuh belas tahun. Dan sekarang Mia berusia dua puluh empat tahun. Harusnya anak itu baru berusia tujuh tahun. Itu artinya?
Mia menghela napas panjang dan menahan air matanya agar tidak jatuh kembali. Mia benar-benar hancur saat ini. Ia ingin berteriak dengan sekencang-kencangnya untuk melepaskan apa yang membuat dadanya sesak.
"Semua sudah menjadi masa lalu Pak. Kita hidup di masa sekarang untuk menata masa depan. Jadi Bapak tidak perlu membahas masa lalu lagi," ucap Mia.
Setelah Mia merasa sudah tidak tahan, ia pamit pada Rian dan segera keluar dari ruangan itu. Rian yang tidak mengerti apa yang terjadi antara Mia dan Pak Baskoro hanya mengerutkan dahinya dan menatap kepergian Mia.
Sementara Dion yang tahu kisah masa lalu Mia hanya merangkul bahu istrinya. Menenangkannya kalau semuanya baik-baik saja.
"Kamu tidak perlu khawatir Mia, ada aku di sini." Dion mengusap kepala Mia.
"Kenapa dunia ini sempit sekali? Kenapa Mia harus bertemu sama Bapak? Padahal Mia berharap gak pernah ketemu lagi sama Bapak," ucap Mia.
"Semua sudah ada jalannya Mi. Kalau ini bukan jalan yang kamu inginkan, kamu bisa pergi dari jalan ini. Kita masih punya banyak jalan yang bsia kita lalui," ucap Dion.
"Kenapa Mia harus berhutang budi pada Rian? Kenapa anak itu begitu baik?" tanya Mia dengan tatapan yang kosong.
Dion segera menggenggam kedua bahu Mia dan menatap bola matanya. Sedikit mengguncang Mia namun tidak menyakitinya.
"Kamu tidak harus mempedulikan apa yang tidak seharusnya kamu pedulikan. Masalah balas budi, aku sudah membayar biaya pengobatan ayahnya. Lagi pula Tuan Felix bukan kerabat kita. Kamu tidak perlu merasa berhutang budi begitu," ucap Dion.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.