
"Mba, Mba," panggil sopir taxi itu.
Ehh.. dia malah tidur.
"Mba," panggil sopir taxi sambil mengguncang bahu Mia.
Mia terperanjat.
"Apa sih pak?" tanya Mia kesal.
"Ini sudah sampai. Mau turun di sini?" tanya sopir taxi.
Sampai? Dimana ini?
Mia mengucek matanya dan melihat ke sekeliling.
Kuburan? Sialan. Dia mau ngerjain Mia nih.
"Pak, bapak gak tahu orang lagi sedih ya? Bapak gak bisa lihat mata saya sampai bengkak begini gara-gara sudah nangis dari tadi? Bapak gak tahu." Belum selesai Mia bicara, sopir itu sudah memeotong ucapan Mia.
"Ya, saya tidak tahu mba mau kemana. Dari tadi mba bilang belok kanan terus. Ini sudah mentok. Apa mau saya masukan ke dalam sekalian mobilnya?" tanya sopir taxi itu kesal.
Mia diam. Mencari pembelaan. Mana mungkin ia mau turun di kuburan. Yang benar saja. Ini daerah mana lagi? Semakin jauh dari apartemennya. Bahkan ia saja tidak mengenal daerah ini.
Ah benar. Mia pikir jalur kanan akan sslalu membawanya ke dalam kebaikan. Tapi nyatanya tidak selalu begitu. Nanti Mia coba jalur kiri saja ah!
"Ayo kembali," ajak Mia.
"Kembali kemana? Gak mau turun di sini?" tanya sopir taxi.
"Gak," jawab Mia singkat.
Siapa yang mau turun di kuburan. Yang benar saja!
"Jadi mba mau saya antar kemana? Saya kan harus jelas," ucap sopir taxi itu sebelum ia kembali memacu mobilnya.
"Bawa saya ke alamat ini!" ucap Mia menunjukkan sebuah alamat yang ia tulis dalam kertas kecil.
Mia selalu membawa kertas kecil itu. Jaga-jaga kalau sampai dia diculik atau ada yang menghipnotisnya, jadi Mia bisa dikembalikan ke tempat asalnya.
Nah begitu dong mba, kan saya jadi gak pusing muter-muter.
Sopir taxi kembali memacu mobilnya untuk segera menuju alamat yang ditunjukkan oleh penumpangnya.
"Mba sudah sampai." Sopir taxi itu menarik rem tangan agar ia bisa bersantai dulu sebentar. Pinggangnya terasa panas setelah hampir 6 jam terus menyetir yang tidak jelas arahnya.
"Terima kasih ya pak. Berapa?" tanya Mia.
"Ini," sopir taxi menunjukkan angka yang tertera di depan.
"Apaaaaa?" teriak Mia.
Mia segera membungkam mulutnya sat menyadari sikapnya.
"Kenapa?" tanya sopir taxi.
"Itu gak salah pak?" tanya Mia.
"Apanya?" tanya sopir taxi.
"Itu angkanya," ucap Mia sambil menunjuk angka itu.
"Maksud mba?" tanya sopir itu.
"Ya, kali aja ada kabel yang konslet gitu. Di cek lagi bisa kan pak?" ucap Mia yang merasa menyesal karena telah muter-muter tidak jelas.
Melihat tatapan dari sopir taxi yang tidak bisa diajak berdamai, Mia segera membuka tasnya.
"Iya sebentar," Mia menghitung uang dengan wajah cemberut. "Ini," ucap Mia ketus sambil menyerahkan uang itu.
Nah begitu dong. Jadi kan saya gak perlu cape lagi harus marah sama mba.
"Terima kasih," ucap Mia sembari membanting pintu dengan kesal.
Tahu begini, Mia mending naik angkot saja.
Mia melangkahkan kakinya menuju kamar apartemennya. Mia melempar tas dan amplop coklat itu. Lalu Mia menjatuhkan tubuhnya yang sudah terasa sangat pegal.
Maaaaas. Kamu jahaaaat.
Air mata kembali mengalir deras di pipinya. Kali ini Mia benar-benar menangis sampai sesenggukan. Mia benar-benar merasa dunianya sudah berakhir. Tidak ada lagi alasannya untuk berjuang. Menangis hingga lelah akhirnya Mia tidur meskipun belum sempat mandi dan berganti pakaian.
__ADS_1
Pagi hari Mia bangun dengan kepala yang terasa berat. Mentari yang mulai menghangatkan bumi, tak serta mampu menghangatkan hatinya yang dingin bahkan cenderung beku.
Dering ponsel membuatnya meraih ponsel yang terletak di atas nakas itu dengan mata yang masih tertutup. Merasakan perpaduan rasa pusing dan kecewa. Sedikit membuka mata hanya sekedar melihat nama si pemanggil dalam layar ponselnya.
"Kalin?" ucap Mia.
Mia segera menjawab panggilan itu. Sesuai dugaan Mia, Kalin memang menghubunginya karena khawatir seharian kemarin Mia tidak menjawab panggilannya.
Jangankan ingin menjawab panggilanmu, rasanya Mia ingin menjawab panggilan ilahi saja. huhuu
"Ya sudah, Mia siap-siap dulu ya. Nanti cerita lebih lengkapnya di kantor saja. Sayang kuota kalau cerita di ponsel. Mending dipakai buat nonton drakor. Eheheh," ucap Mia.
Secepat mungkin Mia mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Berusaha seceria mungkin. Tidak ingin ada yang tahu tentang apa yang terjadi padanya. Mungkin dengan bekerja Mia akan merasa sedikit menemukan obat dari kekecewaan dan rasa sakitnya.
"Mia, aku tagih janjimu! Ayo cepat cerita!"
Udah kayak ketemu rentenir aja nih. Padahal masih pagi..
Dengan mempertahankan tekadnya untuk tetap terlihat ceria, Mia menceritakan semua yang terjadi padanya seharian kemarin. Rasanya Mia tidak perlu menyembunyikan apapun pada Kalin. Saat ini memang hanya Kalin yang paling dekat dengannya. Namun saat mengingat bagaimana wajah Danu yang memberikan amplop coklat itu, membuat benteng pertahanan Mia jebol. Air matanya tumpah ruah dan membanjiri pipinya.
"Miaaaaa," ucap Kalin menyeka sudut matanya lalu memeluk Mia.
Kalin merasa ikut sakit saat mendengar semua itu. Tapi saat mendengar Mia menyerah. Kalin orang yang paling menentang kata-kata itu. Tidak ada kata menyerah dalam hidup. Terlebih untuk Mia, wanita paling tangguh yang ia temui.
"Saat perceraian pertama, Mia hanya kecewa dengan keputusan Pak Haji. Karena Mia malu dengan status janda. Tapi kali ini, rasa kecewa itu bukan karena malu dengan status Mia. Tapi kecewa karena Mia dikhianati. Mia kehilangan cinta pertama Mia," ucap Mia sambil menangis terisak.
Kalin tidak bisa berucap. Rasanya hatinya juga ikut sakit. Beban Mia sangat berat. terlebih dia sendiri. Tapi tidak. Ada Kalin dan Dev yang akan selalu bersama dengan Mia. Namun keyakinan itu harus runtuh saat Mia justru pamit untuk tidak bekerja lagi di perusahaan Kalin.
"Justru kamu harus buktikan kalau kamu bisa Mia. Kamu akan sukses dan siap bersaing dengan mereka. Buat Nyonya Nathalie menyesal karena sudah membuatmu seperti ini," ucap Kalin berapi-api.
"Maaf Kalin. Aku tidak siap jika harus berhubungan dengan mereka terus menerus. Aku ingin keluar dari kehidupan mereka. Urusan membalas, biar Tuhan yang membalas mereka. Aku yakin, karma itu pasti ada. Kalau aku beruntung, aku bisa melihat Nyonya Nathalie merasakan penyesalan itu." Mia mengusap matanya.
Berusaha menegembalikan keceriannya, meskipun itu hanya sebuah kepura-puraan. Menghela napas panjang untuk mengisi ruang paru-parunya dengan banyak oksigen, berharap bisa merelaksasi pikiran buruknya.
"Jadi kamu mau kemana? Apa kamu sudah memikirkan ini matang-matang?" tanya Kalin.
Mia mengangguk.
"Kemana?" tanya Kalin.
Mia bahkan tidak tahu mau kemana. Tapi kalau jujur, Kalin pasti tidak akan mengizinkan Mia kan? Bohong saja lah ya. Maaf ya Kalin.
"Tentu. Aku akan selalu menerima kamu, Mia. Kembalilah ke Jakarta. Aku menunggumu. Aku merasa sangat kehilangan kamu," ucap Kalin.
Kalin akan mengantar Mia ke Bandung, namun Mia menolaknya. Mia tidak ingin diantar dengan air mata. Karena kalau Kalin mengantarnya, Mia yakin kepergiannya akan terasa sangat berat.
Padahal Mia cuma tidak mau kalau ketahuan bohong. Maaf lagi ya Kalin.
Dengan berat hati Kalin membiarkan Mia pergi. Entah sampai kapan. Mungkin juga ini pertemuan terakhirnya. Tapi ia meyakini kalau kemanapun Mia pergi, pasti akan menemukan kebahagiaannya karena Mia adalah orang baik.
Hari ini Kalin bahkan tidak membiarkan Mia bekerja. Kalin mengajak Mia untuk jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Kalin mengajak Mia ke mall, ke salon, makan-makan dan nonton. Seharian mereka ada di luar dan bersenang-senang.
"Kalin, terima kasih ya!" ucap Mia memeluk sahabatnya itu.
"Aku yang harusnya terima kasih karena sudah memberikan kesan yang indah di hidupku. Kamu bahagia ya di Bandung," ucap Kalin.
Mia menggangguk. Kalin pulang setelah mengantar Mia kembali ke apartemennya. Ini terkahir kali Kalin ke apertemen Mia, karena besok Mia sudah tidak di tempat itu lagi. Mobilnya melaju semakin jauh tapi air matanya semakin deras. Merasa sakit saat mengingat semuanya bersama Mia.
Mia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit kamarnya dan membayangkan masa depannya nanti akan seperti apa.
"Selamat tinggal mas Danu. Mia akan bahagia dengan cara Mia sendiri. Tanpa mas Danu. Ya, Mia bersama ibu yang selalu mendoakan Mia dari surga," ucap Mia setelah menghela napas panjang.
Mia meraih amplop coklat yang selalu menyayat hati saat melihatnya. Mia segera bangun dan memasukkan beberapa bajunya ke dalam tas. Tak lupa amplop coklat itu Mia bawa.
Mia harus pergi sekarang. Kalau besok, Kalin pasti akan ke sini. Dan itu akan semakin membuat Mia berat meninggalkan Jakarta. Ayo Mia semangaaaat!
Setelah mandi dan bersiap, Mia membawa tas itu dan melangkah keluar dari apartemennya. Melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah jam lima sore. Tapi tak apa. Berangkat saja. Urusan nanti sih terserah nanti saja.
Mia menyewa taxi online menuju sebuah terminal. Duduk di sebuah bangku. Melihat beberapa orang yang berlalu lalang. Tidak begitu ramai. Mungkin karena sudah hampir malam.
Mau kemana ini? Haruskah ke Bandung? Ah Tidak. Orang kampung pasti akan heboh kalau mereka tahu Mia sudah bercerai lagi. Mia merasa semakin gilaaaaa.
BRRUUGGHHH...
"Aw," teriak Mia pada seseorang yang menabraknya.
"Maaf mba. Saya tidak sengaja," ucap pria berjas yang terlihat tergesa-gesa itu.
"Makanya kalau jalan itu lihat-lihat dong mas. Duh," ucap Mia kesal.
Setelah membantu Mia untuk bangun, pria berjas itu langsung berlari kembali. Mia juga sama, melanjutkan langkahnya sambil berpikir akan kemana ia sekarang.
__ADS_1
BRUGGHH
Lagi-lagi Mia terjatuh karena ditabrak seseorang. Mia sudah tak merespon lagi. Biarkan saja. Mia sudah lelah. Bahkan mau mati juga Mia sudah pasrah.
"Mba, maaf ya! Sini saya bantu," ucap pria yang bertubuh tinggi besar dan memakai pakaian serba hitam.
"Terima kasih," ucap Mia lemah.
"Mba mau kemana?" tanya orang itu.
Kemana? Mia juga tidak tahu mau kemana. Ah, sudah terlanjur gila. Mari lanjut kegilaan ini!
"Mas, saya mau naik bus yang itu!" Mia menunjuk ke arah depan.
Pria itu mengerutkan dahinya.
"Mba, maaf. Di sana tidak ada bus," jawab pria itu.
"Oh tadi busnya di sana. Sekarang dimana ya?" tanya Mia.
"Ada banyak bus di sini mba. Ada di sana, di sana, di sana juga ada." pria itu menunjuk beberapa bus yang berjajar.
"Kalau gitu tolong antar saya ke bus yang paling dekat dari depan sini," ucap Mia.
Karena terburu-buru, pria itu menuntun Mia untuk menaiki bus.
"Terima kasih mas," ucap Mia.
"Sama-sama mba. Ini buat ongkos, semoga selamat sampai tujuan ya mba!" ucap pria itu memberi dua lembar uang pecahan seratus ribu.
"Eh, tidak usah. Ini mas. Saya sudah ada ongkos kok," ucap Mia.
"Gak apa-apa mba. Terima saja. Maaf saya tidak bisa membantu lebih. Saya permisi ya mba," ucap pria itu.
"Iya mas. Terima kasih," ucap Mia sembari menunduk hormat.
Kasihan wanita itu. Sudah hampir malam, tapi harus pergi sendirian padahal dia tuna netra. Kalau seandainya saya gak ngejar si bos, saya anterin mba. Cantik sih. Eh, mana nih si bos? Duh, kehilangan jejak. Tuan besar pasti marah besar.
Di dalam mobil, Mia membuka kacamata hitamnya. Mia celingukan saat melihat beberapa penumpang yang ada dalam bus itu.
"Mas, mas, maaf mau tanya. Ini bus jurusan mana ya?" tanya Mia.
"Surabaya. Mba memang mau kemana?" tanya penumpang itu.
"Oh, iya. Saya ke Surabaya." Mia mengangguk dan menatap ke luar jendela.
Surabaya? Mas baik hati tadi membawa Mia masuk ke dalam bus ini. Ok, kita mulai hidup yang baru di Surabaya. Semangat Mia. Semoga nanti akan merubah hidup Mia ya Tuhaaaaan.
Berpura-pura buta untuk naik ke bus mana saja oleh seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali, adalah sebuah kegilaan yang luar biasa. Tapi apa boleh buat, Mia sudah tidak tahu lagi harus kemana. Rasanya pikiran Mia sudah buntu. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini.
Mas Danu, Mia ke Surabaya. Mia gak mau ketemu lagi sama mas. Mia mau kubur dalam-dalam semua harapan dan cinta Mia. Mia mau buktiin sama mas kalau Mia bisa bahagia tanpa mas.
Setelah menunggu sepuluh menit, mobil melaju. Dengan perasaan kacau, Mia melihat jalanan yang semakin lama semakin asing baginya. Suasana malam ditemani udara dingin membuat Mia kembali menitikkan air mata.
Nasib Mia kok begini amat ya?
Mia menyapu sudut matanya dan kembali memandangi jalanan. Semakin larut, mata Mia semakin berat dan akhirnya terlelap juga. Sebentar saja melupakan beban hidupnya yang terasa sangat berat.
"Mba, mau kemana? Ini sudah di terminal." kondektur mengguncang bahu Mia.
Mia membuka matanya dan celingukan. Ternyata sudah tidak ada orang di bus itu.
"Emm, ini pak. Kalau dari terminal sini, ada angkot apa saja ya?" tanya Mia.
"Angkot?" tanya kondektur.
Mia menulis angkot yang beroprasi di sana.
"Terima kasih ya pak," ucap Mia sambil turun dari bus itu.
Dengan perasaan aneh, kondektur itu melihat Mia sampai akhirnya benar-benar turun dari bus.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1