
"Mia, kamu list semua orang yang akan kita undang. Kamu juga Sindi. Jangan kalah sama dia. Kita bisa sebar undangan lebih banyak," ucap Nyonya Helen.
"Ma, kan tanggal pernikahannya belum ditentukan. Minggu depan kita baru lamaran," ucap Mia.
"Dia juga lamaran udah heboh ngundang sana sini kok," ucap Nyonya Helen.
"Kalin itu rekan kerja paling dekat dengan Tuan Ferdinan. Mama juga kalau mau ngundang yang dekat aja dulu. Nanti kalau pesta pernikahan, baru kita undang semua." Mia memberi saran.
"Ya sudah terserah kamu saja," ucap Nyonya Helen.
"Nyonya, maaf ya aku jadi merepotkan keluarga ini." Pelan sekali, Sindi merasa tidak enak pada keluarga Nyonya Helen yang sangat baik.
"Keluargamu di kampung sudah dikabari? Biar nanti dijemput sopir," ucap Nyonya Helen.
DEG
Dada Sindi berdebar lebih cepat. Ia menyesal sudah ikut bicara, kalau ujung-ujungnya akan mempertanyakan tentang keluarganya. Mata Mia menangkap kegugupan Sindi. Ia segera berusaha mengalihkan pembicaraan. Namun Sindi justru membuka jalan itu kembali.
"Sebelum aku jawab tentang keluargaku, tolong jawab dulu pertnyaanku. Apa Nyonya Helen bisa menerima semua keadaanku?" tanya Sindi.
"Tentu," jawab Nyonya Helen begitu yakin.
"Meskipun aku bukan berasal dari keluarga baik?" tanya Sindi.
"Tidak baik? Apa maksudmu?" tanya Nyonya Helen.
"Mi," ucap Sindi.
Mia menggenggam tangan Sindi. Ia berusaha menguatkan Sindi.
"Kita semua nerima kamu apa adanya," ucap Mia.
Sindi mengangguk. Ia meyakinkan dirinya lalu mulai bercerita tentang keluarganya.
"Apa?" teriak Nyonya Helen.
"Nyonya," ucap Sindi panik.
"Ma, mama baik-baik saja?" tanya Mia.
Mia dan Sindi memburu Nyonya Helen yang nampak memegang dadanya.
"Ya, ya aku baik." Nyonya Helen mulai terlihat tenang.
"Minumnya Nyonya," ucap Sindi.
Nyonya Helen menerima segelas air dari Sindi dan meneguknya hingga habis.
"Sindi, hidupmu berat sekali. Aku tidak menyangka jika keluargamu begitu berantakan," ucap Nyonya Helen sembari mengusap kepala Sindi.
Sindi hanya bisa menatap Nyonya Helen penuh kebingungan.
"Nyonya tidak marah?" tanya Sindi.
"Apa alasanku marah padamu? Kalau ada pamanmu, aku baru marah. Biar aku lempar pakai batu dia kalau ketemu," jawab Nyonya Helen.
"Terima kasih Nyonya. Aku gak nyangka Nyonya bisa begitu santai menerima semua kenyataan ini," ucap Sindi begitu bahagia.
Justru Mia yang terlihat begitu panik. Mia terkejut dengan cerita Sindi. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
Dering ponsel milik Nyonya Helen menyudahi obrolan saat itu.
"Sindi, kalau ada apa-apa kamu cerita aja sama aku. Anggap aku dan suamiku orang tuamu ya! Jangan sungkan. Aku angkat telepon dulu ya!" ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih banyak Nyonya," ucap Sindi.
Nyonya Helen mengangguk dan melambaikan tangannya. Kini hanya tersisa Mia dan Sindi di ruang makan.
"Sin, Mia masih gak percaya sama cerita kamu. Kapan kejadiannya? Bukannya waktu kita masih kerja di pabrik, kamu selalu mengirim uang untuk keluargamu?" selidik Mia.
__ADS_1
"Kejadiannya hanya beberapa bulan setelah kamu menikah Mi. Saat itu aku diminta pulang karena akan dijodohkan dengan juragan tanah. Tapi aku gak mau, karena waktu itu aku lagi pacaran sama teman pabrikku." Sindi terlihat begitu sedih.
Tatapan matanya kosong. Sepertinya Sindi tengah membayangkan kisah masa lalunya yang begitu pahit.
"Terus?" tanya Mia penasaran.
Sindi kembali menceritakan semua kejadian masa lalunya. Karena saat bercerita pada Nyonya Helen, Sindi hanya menceritakan garis besarnya saja.
"Kata orang kampungku, ibu disantet sampai meninggal. Karena bapakku marah, dia bertengkar dengan juragan tanah. Bapakku sampai dipenjarakan. Tapi tidak lama, karena bapak juga meninggal. Aku sempat kembali tinggal di kampung. Tapi di sana pamanku kembali menjodohkan aku. Karena bapak banyak utang dan aku harus bayar dengan cara nikah sama juragan itu," ucap Sindi.
"Jadi kamu kabur lagi ke Surabaya? Dan gak bilang sama aku?" tanya Mia.
"Aku gak mau jadi beban buat siapapun. Tapi pada akhirnya aku tetap jadi beban juga buat keluarga Tuan Dion," ucap Sindi.
"Sin, jangan begitu dong. Kita kan sahabat. Aku gak mau kita hanya berbagi senang. Aku justru ingin saling menguatkan saat kita sedang terpuruk," ucap Mia.
"Mi, sekarang aku gak punya apapun dan siapapun. Bahkan pamanku menganggap aku adalah penyebab kepergian ibu dan bapakku. Katanya gara-gara aku gak mau dinikahkan dengan juragan tanah itu, ibuku disantet sama dia. Aku benar-benar tidak berguna Mi," ucap Sindi.
"Sin, apa bedanya aku dengan kamu? Kita ini sama," ucap Mia.
"Setidaknya kamu masih punya rumah dan kebun di kampung. Kamu juga punya suami dan keluarganya yang menyayangi kamu. Ada Tuan Felix juga," ucap Sindi.
"Kamu juga sebentar lagi akan punya suami dan keluarga yang menyayangi kamu. Kalau bicara rumah, aku bahkan tidak tahu gimana rumah dan makam ibu sekarang. Tidak ada yang mengurus. Soal Papa Felix, dia juga bisa kamu anggap sebagi ayahmu sendiri Sin." Mia menggenggam tangan Sindi.
"Mi, kenapa gak ada yang ngurus rumah kamu di kampung?" tanya Sindi.
"Awalnya aku gak punya uang buat bayar orang. Pas kemarin Dion ke Bandung, dia nyuruh orang buat ngurus rumah. Tapi gak ada yang mau. Katanya rumah di kampung banyak hantunya," jawab Mia.
Salah satu sudut bibir Mia terangkat. Miris memang disaat zaman serba modern, masyarakat di kampungnya masih tidak mau membantunya karena alasan hantu. Tapi itulah kenyataannya.
"Sabar ya Mi. Kamu harus ingat kalau aku jauh lebih sengasara dibanding kamu," ucap Sindi sembari tersenyum.
"Kita bersaing dalam hal kesengsaraan," ucap Mia sambil tertawa keras.
"Iya Mi. Tapi aku berusaha belajar dari apa yang terjadi dalam hidupku. Aku selalu berusaha untuk bisa berdiri sendiri. Walaupun akhirnya aku harus tergantung dengan keluarga kamu Mi," ucap Sindi.
"Aku bersyukur saat Nyonya Helen bisa dengan mudah menerima latar belakangku yang begitu berantakan. Tapi aku masih takut Mi. Aku takut keluarga Danu yang gak bisa nerima," ucap Sindi.
"Seharusnya Mas Danu menerima. Dan Mia yakin Nyonya Nathalie akan menerima semua masa lalu kamu. Jangan khawatir," ucap Mia.
"Kalau gak terima gimana?" tanya Sindi.
"Positif thinking dong. Ingat, seucap kata adalah doa Sin. Jadi kalau ngomong mending yang baik-baik aja," jawab Mia.
"Tapi kan kadang kita juga harus pesimis atau negatif thinking biar bisa jaga hati kita dari kecewa. Aku gak mau kalau nanti terlalu percaya diri, kecewanya semakin besar. Dan aku semakin sakit," ucap Sindi.
"Iya sih. Mia ngerti. Tapi yang kamu harus tahu kalau keluarga Nyonya Nathalie itu adalah keluarga yang baik, dan tidak memandang latar belakang calon istri Mas Danu." Mia meyakinkan Sindi.
"Kalau begitu, kenapa kamu bisa cerai dengan Danu? Bukankah mereka baik? Dan aku mengenalmu Mia. Kamu ini wanita baik. Bahkan sangat baik," ucap Sindi.
Jantung Mia seakan mau copot. Ia merasa bagaikan tersambar petir di terik mentari. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika Sindi akan mempertanyakan hal ini.
Gimana ini? Kenapa Sindi harus nanya ini? Apa Mia harus jujur? Ah tidak! Lebih baik Mia bohong saja. Bohong demi kebaikan itu gak dosa kok, Mia. Maaf ya Sin, untuk kali ini Mia gak bisa jujur sama kamu.
"Sin, semua yang lalu biarlah berlalu. Jangan pernah mengungkit kesalahan di masa lalu. Tugas kamu sekarang, menata masa depan dengan Danu." Mia tersenyum cemas.
"Aku tidak bermaksud untuk mengungkit masa lalu. Aku hanya ingin belajar dari kamu. Biar aku gak ngelakuin kesalahan yang sama," selidik Sindi.
Ya Tuhaaan. Pintar sekali Sindi menembak Mia dengan pertanyaan seperti ini. Mia harus jawab gimana ya?
"Hanya sebuah kesalahpahaman kecil saja. Mia juga gak nyangka bakal sampai sejauh ini. Meskipun pada akhirnya Mia harus bersyukur karena berkat semua itu, Mia bisa bersama A Dion. Yang semoga bisa jadi cinta terakhir Mia," jawab Mia.
"Berarti Nyonya Nathalie gak bisa memaafkan kesalahpahaman sepele?" tanya Sindi.
Nampaknya Sindi terus mendesak Mia. Ia tahu kalau Mia tidak jujur padanya. Sementara rasa ingin tahunya begitu besar. Belum lama mengenal Danu dan keluarganya membuat Sindi khawatir.
Jika hanya dengan kesalahpahaman kecil saja Ibu Nathalie tidak bisa menerima Mia, apalagi jika seandainya tahu latar belakang keluargaku. Tidak! Sebelum semuanya terlambat, aku harus bicarakan ini. Aku gak mau kalau sampai pernikahanku kandas begitu saja. Aku hanya ingin menikah sekali dalam seumur hidupku.
"Sin, makanya tugas kita belajar supaya kita kuat. Saat itu memang karena Mia saja yang tidak sabar menghadapi semua masalah sepele seperti itu. Tapi Mia yakin kamu jauh bisa bersikap lebih dewasa," ucap Mia.
__ADS_1
Maaf ya Sin. Tapi untuk kali ini Mia benar-benar gak bisa jujur. Mia yakin Nyonya Nathalie itu baik dan tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Mia yakin Nyonya Nathalie sudah tahu betul apa yang terjadi sama Mas Danu. Masalahnya, apa Sindi sudah tahu keadaan Mas Danu? Mia harus bicara dengan Mas Danu. Paling tidak, Mas Danu harus jujur dengan keadaannya.
"Terus kenapa kamu tidak punya anak dari Danu? Apa kalian memang sengaja menunda?" tanya Sindi.
Mia tersentak saat Sindi tidak berhenti sampai di sana. Sindi terus menyelidikinya hingga Mia benar-benar bingung dengan jawabannya.
"Maaf Nyonya, Naura menangis. Namun stok ASI sudah habis," ucap salah satu perawat.
"Habis?" tanya Mia terkejut.
"Maaf Nyonya, tapi Narendra menyusu sangat banyak. Mungkin karena sekarang Narendra sudah mulai tumbuh besar. Kebutuhan ASInya pasti akan semakin banyak. Selain itu, Narendra juga bayi laki-laki. Menyusunya lebih banyak dibanding dengan Naura," jawab perawat itu.
"Oh, begitu. Baiklah, ayo ke sana!" ucap Mia. "Sin, aku menyusui Naura dulu ya!" lanjut Mia.
"Oh iya Mi," ucap Sindi.
Meskipun agak kecewa, namun Naura memang jauh lebih penting dibanding dengan obrolan itu. Sindi tentu harus mengalah. Membiarkan Mia pergi menyusi anaknya.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan apa yang Mia rasakan. Mia tentu sedang sangat bahagia. Tangisan Naura ternyata mampu menyelamatkannya dari pertanyaan yang benar-benar sulit ia jawab.
Ketika menyusui Naura, Mia melamun. Ia memikirkan jawabannya untuk Sindi. Di satu sisi ia merasa sangat jahat atas jawabannya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa jujur pada sahabatnya itu.
Mia berpikir jika Sindi pasti akan kecewa jika tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Danu. Tapi di sisi lain, Mia merasa ini bukan tugasnya. Rasanya tidak pantas jika ia harus memberi tahu keadaan Danu yang sebenarnya.
Yang Mia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar Sindi tahu keadaan Danu. Akhirnya ia yakin satu-satunya cara adalah mendesak Danu agar bisa jujur dan terbuka pada Sindi.
Mia gak mau Sindi sampai kecewa. Sindi berhak bahagia. Kalau Danu tidak bisa membahagiakan Sindi, Mia yakin akan ada pria yang jauh lebih tepat dibanding Danu.
Ada waktu satu minggu untuk menyelesaikan semua ini. Mia gak mau semuanya terlambat dan membuat Sindi menyesal.
Mendatangi kantor Danu adalah salah satu cara tepat agar Mia bisa menyelesaikan semua ini. Mia akan meminta Kalin mengantarnya. Ia tidak mau jika pertemuannya dengan Danu akan menjadi salah paham bagi Dion dan Sindi. Sementara jika meminta izin pada Dion, mustahil jika Mia akan mendapat izin.
Tapi kalau A Dion tahu, semuanya bisa panjang. Gimana ya? Kalau Mia diam aja dan Sindi kecewa, sama aja Mia menjerumuskan Sindi. Gimana ya?
"Maaf Nyonya, ASInya banjir." Salah satu perawat menepuk pelan bahu Mia.
"Astaga. Naura, maafkan Mama. Ya ampun sayang, maafkan Mama ya Nak!" ucap Mia.
Mia panik dan segera mengelap tumpahan ASI yang mengenai pipi dan leher Naura.
"Biar saya gendong Nauranya Nyonya," ucap perawat itu.
"Oh iya tolong gendong sebentar!" Mia memberikan Naura dan merapikan pakaiannya.
Astaga apa yang Mia lakukan? Bahkan hanya karena memikirkan Sindi, Mia sampai hampir melukai Naura. A Dion pasti kecewa kalau tahu semua ini.
Membayangkan kekecewaan Dion, Mia jadi berpikir jika suaminya sampai tahu dirinya menemui Danu. Apapun alasannya, Danu adalah mantan suami Mia. Selama ini Dion juga selalu cemburu saat berurusan dengan Danu.
Ah, Mia tidak mau meneruskan bayangan tentang bagaimana kecewanya Dion padanya. Akhirnya Mia mengambil keputusan untuk hanya melibatkan Kalin dalam urusan ini. Mia berpikir jika ia harus mencari aman. Jangan hanya karena tidak ingin membuat sahabatnya kecewa, akhirnya justru mengecewakan suaminya sendiri.
Mia kembali menyusui Naura hingga bayi cantik itu tidur dengan nyenyak. Setelah menidurkan kembali Naura ke dalam box bayinya, Mia pergi ke kamarnya.
"Nanti kalau Narendra atau Naura nangis lagi, kamu kasih tahu Mia aja ya! Mia belum sempat memompa ASI. Mia ada perlu sebentar ya!" ucap Mia.
"Baik Nyonya," ucap perawat itu.
"Kalin, kamu harus bantu Mia." ucap Mia saat ia sudah sampai ke dalam kamarnya.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1