Janda Bersegel

Janda Bersegel
Anak ayam kali ah!


__ADS_3

Hari ini Maya dan Reza bangun lebih pagi. Mereka memeriksa kembali barang yang akan dibawa ke Surabaya. Setelah semuanya siap, mereka sarapan dulu.


"Ini sarapan terakhir kita di sini ya Mas," ucap Maya.


"Iya May. Meskipun sebentar tinggal di sini, tapi rumah ini menyimpan banyak kenangan ya!" ucap Reza.


"Iya Mas. Tapi kan di sana juga kita bisa bikin kenangan yang indah," ucap Maya.


Maya adalah orang yang selalu berusaha membuat semangat Reza tetap full. Ia selalu meyakinkan suaminya kalau dimanapun Reza bekerja ia harus totalitas. Semangat itu paling penting agar semuanya bisa berjalan dengan baik.


"Asal sama kamu, semuanya akan selalu indah." Reza mengusap bahu Maya.


"Emm, pagi-pagi udah kenyang nih. Dikasih sarapan gombal dari suami tercinta," goda Maya.


"Hahaha, aku gak bisa gombal. Ini tuh kenyataan May. Aku selalu merasa bahagia kalau sama kamu," ucap Reza.


"Makan pare jadi manis gak kalau lihat aku?" tanya Maya.


"Tetap pait lah. Aku sih gak lebay May," jawab Reza.


Saling bersenda gurau adalah suatu kebiasaan yang terjadi tanpa sebuah perencanaan. Semuanya terhenti saat ketukan pintu terdengar nyaring di telinga Reza.


"Dion?" ucap Reza.


"Iya Mas. Itu suara Mas Dion," ucap Maya.


Reza bergegas membuka pintu dan menyambut Dion.


"Lama banget sih?" ucap Dion.


"Ah elah, baru sedetik juga. Heboh banget Di," ucap Reza.


"Mana ada sedetik? Ini kaki sampai pegel begini," ucap Dion.


"Ayo Mas, silahkan masuk!" ucap Maya dari bakik tubuh Reza.


"Eh iya May, gak apa-apa santai aja." Dion malu saat tahu kalau ternyata Maya mendengar ucapannya.


"Bisa aja kamu Di. Giliran sama aku aja gak bisa santai," ucap Reza.


"Awas ah, aku mau masuk!" Dion menabrak Reza yang memantung di depan pintu.


"Aduh," ucap Reza saat tubuhnya terpental.


"Maaf ya May, permisi." Dion masuk dan mengabaikan Reza.


"Silahkan Mas," ucap Maya.


Maya tersenyum melihat tingkah Dion dan Reza. Nampak seperti upin ipin. Selalu ada aja tingkah mereka yang membuat Maya tertawa. Melihat Dion dan Reza yang sedang bergurau membuat Maya merasa iri dengan persahabatan mereka.


"Ini lagi musim kemarau ya?" tanya Dion sembari memegang tenggorokannya.


"May, kok malah bengong? Gak denger nih yang lagi nyindir?" ucap Reza pada Maya.


"Eh iya Mas," ucap Maya.


Maya mengambilkan segelas kopi panas untuk Dion dan Reza. Sembari menunggu kepulan asap itu berkurang dari gelasnya, Dion membahas tentang pekerjaannya di Surabaya. Sementara Reza yang harus fokus di Surabaya, Dion akan meningkatkan kualitas kerjanya di Jakarta agar bisa mendapat tawaran kerja sama untuk perusahaannya itu.


"Aku harap kita bisa kerja sama dengan baik. Jangan anggap itu perusahaanku, anggap saja itu milik kamu Za. Biar kamu benar-benar tanggung jawab sepenuhnya akan perusahaan itu. Soal ini dan itu, aku harap kamu bisa terbuka biar kita bisa cari solusinya sama-sama," ucap Dion.


"Iya Di, tenang aja. Aku akan berikan yang terbaik buat perusahaan itu. Masalah rumah, sudsh siap huni. Ada orang yang bisa bantu dan nemenin Maya juga di sana. Jadi kamu gak perlu khawatir kalau lagi ke kantor," ucap Dion.


"Sindi?" tanya Reza.


"Bukan. Ada orang yang biasa di sana buat ngurus rumah," jawab Dion.


"Oh, jadi rumahnya gak ada sarang laba-labanya sama hantunya?" tanya Reza.


"Sialan. Ya gak ada lah Za. Rumah itu gak kosong. Ada orang yang ngisi kok di sana," ucap Dion.


"Eh iya, aku lupa kalau kamu penakut. Kamu gak mungkin mau tinggal di sana sendirian kalau rumah itu kosong dan gak keurus," ejek Reza.


"Emm, lemes banget tuh mulut." Dion melempar kue yang ada di hadapannya pada Reza.


Reza hanya tertawa terbahak saat melihat Dion kesal padanya. Tangannya memungut kue yang jatuh dibajunya. Dengan sangat percaya diri Reza memakan kue yang dilempar Dion itu. Tentu hal itu membuat Dion menunjukkan wajah jijiknya.


"Gak usah begitu mukanya, Di. Makin jelek," ejek Reza.


"Enak aja," ucap Dion yang kembali melempar kue ke arah Reza.


Hal yang sama dilakukan Reza lagi. Memungut dan memakan kue yang dilempar Dion.


"Nih, biar kenyang aku lempar sama kalengnya." Dion mengangkat kaleng kue yang ada di meja.


"Eh, eh jangan. Kenyang gak, benjol iya." Reza mengangkat tangannya, takut kalau Dion sampai beneran melemparkan kalengnya.


Dion menurunkan lagi kalengnya saat Maya menghampiri mereka. Ia memberi kode pada Reza kalau waktu terus berjalan. Maya takut kalau mereka terlambat.


"Ayo berangkat!" ajak Dion yang mengerti maksud Maya.


"Eh maaf ya Mas. Aku gak ada maksud loh," ucap Maya malu-malu.


"Tenang aja May, lagian aku sengaja ke sini mau nganterin kalian sampai bandara," ucap Dion.

__ADS_1


"Wah, kamu memang sahabat yang paling baik. Selain sebagai sahabat, ternyata kamu siap juga bersedia merangkap sebagai sopir pribadi," ucap Reza.


"Sialan," ucap Dion.


Belum sempat tangannya menyentuh kaleng, Reza sudah lebih dulu mengamankan kaleng kue dalam dekapannya.


Mereka berdua tertawa, sampai akhirnya Maya juga ikut tertawa melihat tingkah Dion dan Reza. Sebenarnya itu adalah cara mereka untuk melepas rindu karena mungkin nanti akan banyak momen yang mereka rindukan. Jarak yang memisahkan mereka setidaknya akan membuat mereka rindu hal-hal receh seperti yang baru saja mereka lakukan.


"Berkas ini jangan sampai ketinggalan," ucap Dion menyerahkan tas jinjing.


"Siapp," ucap Reza.


Dion menunggu sampai pesawat yang ditumpangi Reza benar-benar terbang meninggalkan Jakarta.


"Hati-hati Za," gumam Dion.


Dion kembali ke rumahnya setelah mengantar Reza. Padahal ia sudah siap dengan setelan kantornya. Tapi ada yang ketinggalan, hingga ia tidak bisa langsung ke kantor.


"A gak jadi ke kantor?" tanya Mia.


CUP.


"Aku berangkat ya!" ucap Dion.


Mia memegang dahinya yang masih terasa basah. Tatapannya tidak lepas dari Dion yang semakin menjauh meninggalkannya hingga hilang dari pandangannya. Bibirnya tersenyum senang, hatinya berbunga. Hanya karena Dion lupa mengecup dahinga tadi pagi karena buru-buru, Dion pulang dulu ke rumah. Padahal jarak dari bandara ke rumahnya cukup jauh jika dibandingkan langsung berangkat ke kantor.


"A Dion sweet banget," gumam Mia.


"Hey, ngapain senyum-senyum begitu di depan pintu?" tanya Nyonya Helen.


Mata nyonya Helen menyapu setiap sudut ruangan. Ia tidak menemukan apapun. Bahkan ia sampai keluar dari pintu rumahnya, mencari penyebab senyum Mia yang nampak begitu bahagia.


"Ma, ayo masuk! Gak ada apa-apa kok," ucap Mia menarik tangan Nyonya Helen.


Nyonya Helen masuk dan mengikuti Mia ke ruangan bayi. Bayi-bayi itu nampak sedang bermain dengan para perawatnya. Tiba-tiba Nyonya Helen menarik tangan Mia untuk keluar dari ruangan bayi.


"Ada apa Ma?" tanya Mia.


"Mi, apa kamu percaya sama mereka?" tanya Nyonya Helen.


"Kok Mama nanya begitu sih?" tanya Mia.


"Ya gak apa-apa. Cuma kan kita gak kenal sama mereka Mi. Tapi kalau gak ada mereka, kita kerepotan juga ya Mi? Duh kok Mama jadi serba salah begini ya," ucap Nyonya Helen.


"Mama kenapa sih? Kok tiba-tiba bahas ini? Udah hampir sebulan loh mereka kerja di sini. Dari kemarin Mama gak pernah bahas ini. Lagi pula mereka ini adalah perawat yang direkomendasikan sama Dokter pribadinya Mama juga," ucap Mia menenangkan Nyonya Helen.


Nyonya Helen nampak gelisah tapi bingung cara menyampaikannya pada Mia. Ia terlihat berpikir tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Ma, apa ada gerak gerik mereka yang mencurigakan?" selidik Mia layaknya seorang detektif. Tubuhnya condong seolah mengintrogasi Nyonya Helen.


Mia memundurkan tubuhnya dengan terkejut.


"Terus kenapa?" tanya Mia.


"Mama lihat do film, ada perawat menjual anak yang diasuhnya. Aduh kok Mama ngeri banget sih Mi," ucap Nyonya Helen.


Akhirnya Nyonya Helen mengungkapkan penyebab kegelisahannya. Mia menggelengkan kepalanya.


"Mama ih, korban sinetron deh. Ma, mereka kan tetap di rumah. Di luar juga ada yang berjaga. Data mereka juga lengkap. Aman kok Ma," ucap Mia.


Nyonya Helen cemberut. Kekhawatirannya semakin besar saat ia dan Tuan Wira ada undangan pesta sahabatnya di luar negeri. Siapa lagi kalau bukan Tuan Felix. Namun Mia meyakinkan Nyonya Helen agar berangkat dan tenang. Mia berjanji akan selalu mengawasi Narendra dan Naura selama Nyonya Helen sedang di luar negeri.


"Awas ya kalau kamu berduaan sampai lupa sama cucu kesayangan Mama," ancam Nyonya Helen.


"Mama tenang aja. Semua aman terkendali," ucap Mia.


Saat Dion dan Tuan Wira pulang dari kantor, mereka makan bersama dan membicarakan keberangkatannya ke Jerman untuk pesta Tuan Felix. Sebenarnya Dion dan Mia juga diundang, namun Dion tidak mungkin berangkat karena ia tidak mau meninggalkan Mia dan bayi kembarnya.


Menepati janjinya, saat Nyonya Helen tidak di rumah, Mia benar-benar ekstra mengawas kedua bayi kembarnya. Entah mengapa kini Mia juga menjadi cemas dan khawatir. Bukan saja karena takut kehilangan bayi kembarnya, tapi Mia juga takut dengan ancaman Nyonya Helen.


Sesampainya di Jerman, yang Nyonya Helen lakukan adalah menghubungi Mia untuk melihat kondisi Narendra dan Naura. Kini Nyonya Helen lebih senang diam di rumah, bermain dengan bayi kembarnya. Kalau bukan karena tidak enak pada Tuan Felix, Nyonya Helen enggan pergi jauh dari Narendra dan Naura.


Pesta ini adalah perayaan atas berdirinya perusahaan baru Tuan Felix di bidang tekstil. Perusahaan ini digadang-gadang akan menjadi perusahaan terbesar dan termaju hanya dalam beberapa tahun.


Berbeda dari biasanya, Nyonya Helen yang senang jika berlama-lama di luar negeri kini ingin segera pulang. Ia tidak mau berlama-lama jauh dari cucu kembarnya. Namun Tuan Felix meminta agar Nyonya Helen menginap satu malam lagi, karena ia ingin ikut ke Indonesia. Menengok cucu dari sahabatnya. Selain itu, ia ingin mematangkan perencanaan bisnis dengan Dion yang belum sempat rampung.


Meskipun berat, namun karena bujukan dari Tuan Wira, Nyonya Helen akhirnya manut saja. Meskipun dalam hatinya ia menggerutu. Satu malam tanpa mendengar tangisan cucunya membuat waktu terasa lama sekali baginya.


Pagi sekali Nyonya Helen sudah bersiap. Seperti anak kecil, ia sudah membangunkan Tuan Wira dan mengajaknya untuk pulang. Namun karena tadi malam mereka tidur terlalu larut, baik Tuan Wira dan Tuan Felix bangun lebih siang. Akhirnya tiket yang sudah dipesan hangus begitu saja. Tentu saja membuat Nonya Helen cemberut dan marah pada Tuan Wira.


"Udah Mama bilang, tidur ya tidur. Jadi kesiangan kan? Dibilanginnya susah banget. Udah tua juga," gerutu Nyonya Helen.


Tuan Wira tidak menjawab, karena bukan hanya merasa bersalah tapi karena sebenarnya ia masih ngantuk. Kepalanya pusing. Kalau saja tidak digerutu oleh Nyonya Helen, ia masih ingin menikmati indahnya tidur di negara orang.


"Papa, bangun!" ucap Nyonya Helen saat melihat mata suaminya mulai tertutup kembali.


"Aduh Ma, masih ngantuk ini. Lagi pula kan udah tanggung hangus tiketnya. Nanti kita beli lagi, gak usah heboh ya!" ucap Tuan Wira.


"Papa bener-bener gak ngerti banget ya. Kalau cuma mau tidur, ngapain jauh-jauh ke Jerman? Tidur aja di rumah sepuasnya. Dari bayi tidur kok gak ada bosennya sih?" ucap Nyonya Helen kesal.


Aduhhhh, Mama kalau ngomong sembarangan.


"Mama nuga ngapain ke Jerman cuma marah-marah? Gak bosen marah-marah di rumah? Atau mau cari suasana baru?" tanya Tuam Wira.

__ADS_1


Melihat Nyonya Helen berkacak pinggang dengan bola mata membulat sempurna, yang dibarengi dengan hembusan napasnya yang berat, Tuan Wira segera berlari ke kamar mandi. Karena saat ini, kamar mandi adalah tempat paling aman untuk berlindung dari serangan istrinya.


"Papa mandi Ma," teriak Tuan Wira.


Nyonya Helen mengepalkan tangannya kuat-kuat sebagai pelampiasan kekesaannya.


Untuk menyambut kedatangan Tuan Felix, Nyonya Helen menelepon Mia agar meminta juru dapur menyiapkan jamuan makan spesial, ketika mereka tiba nanti. Tak lupa Nyonya Helen juga memastikan kabar Narendra dan Naura. Pikiran buruknya karena acting penjualan bayi itu masih menghantuinya.


"Aman Ma," ucap Mia.


"Awas ya! Jangan sampai kamu membiarkan mereka membawa cucu Mama keluar dari rumah," ucap Nyonya Helen.


"Ya ampun Ma, gak dong. Mama tenang aja," ucap Mia.


Meskipun masih gusar, Nyonya Helen berusaha menenangkan dirinya sendiri. Perasaan khawatir itu bercampur dengan rasa rindu yang menggebu. Membuat Nyonya Helen tidak bisa diam. Ia mondar mandir sembari berkali-kali melihat pergelangan tangannya.


"Ma, duduk!" ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen duduk. Tapi kakinya masih tidak bisa diam. Bergerak terus sebagai tanda kalau ia benar-benar sedang gelisah.


"Ma," ucap Tuan Wira mengingatkannya kembali dengan kode.


Sampai akhirnya Tuan Felix datang, barulah Nyonya Helen diam. Ia berusaha terlihat sangat santai. Sebelum berangkat, Tuan Felix justru malah basa basi bertanya ini dan itu. Hal itu membuat Nyonya Helen semakin terlihat tidak nyaman.


Dengan alasan takut ketinggalan pesawat lagi, Tuan Wira atas kode dari Nyonya Helen mengajak Tuan Felix untuk segera berangkat. Berdirinya Tuan Felix membuat Nyonya Helen tersenyum senang. Ia sudah tidak sabar melihat kedua cucunya.


Saat sudah menginjakkan kakinya di rumah tercinta, teriakan Nyonya Helen membuat kedua anak kembarnya terbangun dan berteriak. Bukannya merasa bersalah, senyum lebar justru terpampang di bibir Nyonya Helen yang merah seperti cabai.


"Narendraaaaa, Nauraaaa, oma pulaaaang. Oma tahu kalian pasti rindu kan sama Oma? Kalian menangis karena menyambut Oma kan?" teriak Nyonya Helen.


Tuan Wira menatap punggung istrinya dengan tidak percaya.


"Maafkan istriku," ucap Tuan Wira dengan wajah merahnya menahan malu.


"Gak masalah. Santai," jawab Tuan Felix.


Ini pertama kalinya Tuan Felix berkunjung ke rumah Tuan Wira. Matanya menyapu seluruh sudut ruangan. Mengamati setiap foto yang terpajang di dinding rumahnya.


"Silahkan duduk!" ucap Tuan Wira.


"Oh iya. Terima kasih," ucap Tuan Felix.


Ia duduk, namun matanya masih menjelajah setiap tempat yang terjangkau oleh indera penglihatannya. Sampai akhirnya fokusnya berhenti saat melihat Dion yang menggandeng tangan seorang wanita cantik. Tubuh gempal Mia memang tidak mengurangi kecantikan istri Dion itu.


"Mia," ucap Mia memperkenalkan diri.


Mia mengulurkan tangan. Setelah uluran tangannya disambut oleh Tuan Felix, Mia membungkuk dan mencium tangan pria yang seumuran dengan Tuan Wira itu.


"Felix," ucap Tuan Felix yang kembali memperkenalkan diri.


Tuan Felix yang merasa tindakan Mia tidak biasa, terdiam menatap wanita bertubuh gempal itu. Kulit Mia yang putih bersih, nampak sangat cantik mengenakan dress warna kuning cerah.


"Dion, istrimu cantik sekali." Tuan Felix memuji Mia.


Bukan senang, Dion malah risih dan tidak nyaman dengan pujian Tuan Felix. Dion memang paling tidak suka ada yang memuji kecantikan istrinya. Ia tidak ingin ada yang menikmati kecantikan Mia selain dirinya sendiri. Namun karena cubitan Mia di punggung Dion, ia berusaha untuk bersikap sesantai mungkin.


"Masa Aa cemburu sama bapak-bapak begitu sih?" bisik Mia saat Tuan Felix pergi ke kamar Narendra dan Naura.


"Dia bukan bapak-bapak," bisik Dion.


"Hah? Masih bujangan?" tanya Mia.


"Terus kalau bujangan kenapa?" tanya Dion kesal.


"Ih, kan Mia nanya. Kok Aa marah-marah sih?" tanya Mia.


"Lagian kamu ini gak kira-kira. Masa yang begitu dibilang bujangan. Dia itu kakek-kakek," ucap Dion.


"Oh.. Haha.. Iya ya A. Ranbutnya aja putih begitu, itu karena Tuan Felix sudah kakek-kakek." Dengan begitu percaya diri Mia menimpali ucapan suaminya.


Bukan mendapat dukungan, Mia malah bingung melihat wajah Dion yang cemberut dan menatapnya tajam.


"Kenapa?" tanya Mia.


"Rambutnya begitu karena dia bule. Bukan karena usia. Kamu gak bisa bedain mana pirang mana uban," jawab Dion ketus.


Kini giliran Mia yang cemberut dan menatap Dion dengan tatapan tajam. Ia sudah bersiap menyerang Dion dengan kecepatan 180 kilometer per jam. Kumpulan kalimat yang akan dilontarkan sudah berjajar rapi. Tinggal menunggu komando untuk menghambur ketika mulutnya mulai terbuka.


Sayangnya, kumpulan kalimat itu bubar barisan saat kedatangan Tuan Felix dan Tuan Wira ke ruang tamu membuat Mia dan Dion tercengang. Lucu sekali melihat kedua pria itu menggendong Naura dan Narendra.


"Bayi kalian lucu sekali. Aku boleh minta satu?" tanya Tuan Felix sembari tertawa renyah.


Minta? Dikira anak ayam kali ah.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2