
Mia menggeliatkan badannya setelah lelah melewati perjalanan panjang. Mia duduk di salah satu warung. Memesan segelas susu untuk menghangatkan tubuhnya. Mia berpikir mau kemana lagi dia?
Pura-pura buta sudah dan membawa Mia sampai ke sini. Terus sekarang kemana lagi ya? Oh iya!
Mia membuka ponselnya. Kemudian mengeluarkan buku dan pulpen. Menyalin nama-nama angkot yang diberi tahu oleh kondektur tadi. Kemudian Mia merobeknya dan menggulungnya. Persis seperti akan mengocok arisan.
"Aduh bu, maaf dompet saya ketinggalan. Nanti saya bayar ya! Ini saya simpan ponsel saya buat jaminan saja," ucap seorang bapak-bapak yang sudah minum kopi di warung ibu itu.
"Oh, tidak apa-apa. Bapak pulang saja dulu. Bayar kopinya bisa besok-besok lagi. Saya percaya sama bapak," ucap ibu itu.
"Aduh, saya jadi gak enak. Terima kasih untuk kepercayaannya ya bu. Saya permisi dulu," ucap bapak tadi.
"Iya pak. Silahkan," ucap ibu warung yang mengambil gelas kopi bekas bapak tadi.
Ini ibunya kok baik banget sih?
"Bu, bu, bisa minta tolong tidak?" tanya Mia.
"Kenapa mba?" tanya ibu warung.
"Tolong pilihkan satu gulungan kertas yang ada di tangan saya ya!" ucap Mia.
Meskipun tidak mengerti maksud Mia, ibu warung memilih satu gulungan kertas dan menyerahkannya pada Mia.
"Terima kasih ya bu," ucap Mia.
Ibu warung hanya memperhatikan Mia dan menggelengkan kepalanya.
Mia membuka gulungan kertas itu dan membacanya. Mia mulai mencari-cari angkot sesuai dengan tulisan pada gulungan kertas itu.
Ah itu!
"Bu, ini buat bayar susunya. Sekalian sama kopi bapak yang tadi. Kembaliannya ambil saja ya!" Mia menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah.
"Wah, terima kasih banyak ya mba. Semoga diganti berkali lipat rejekinya. Mba sehat dan selalu bahagia," ucap ibu warung.
"Waaaaah, doanya banyak banget. Makasih loh. Saya permisi," ucap Mia.
Mia berlalu membawa tasnya naik ke sebuah angkot. Di sana Mia bingung lagi ketika harus turun dimana.
"Bu, bu, kalau angkot ini kita bisa kemana saja?" tanya Mia.
Ibu itu memberi tahu Mia.
"Sebentar bu," ucap Mia.
Mia mencatat kembali alamat mana saja yang disebut oleh penumpang yang ada di sebelah Mia.
Sistemnya masih arisan. Namun kali ini Mia menggunakan kocokan di ponselnya. Setelah muncul sebuah alamat, Mia segera turun di alamat itu.
Kebingungan Mia tidak berhenti sampai di sana. Ketika turun dari angkot, Mia menundukkan kepalanya.
Mau kemana lagi ini?
"Mba, ojek mba?" tanya seorang pria yang mengaku tukang ojek.
"Gak mas, gak." Mia segera menggelengkan kepalanya.
Mia yang parnoan, tidak bisa semudah itu pada orang baru yang mengaku ojek. Tidak ada yang bisa menjaminnya kalau itu benar-benar ojek.
Mia berjalan membawa sebuah tas hingga ia menemukan sebuah warung. Bertanya rumah kontrakan di sekitar itu.
"Mba dari mana?" tanya ibu warung.
__ADS_1
"Dari Bandung Bu," jawab Mia.
"Ke sini mau ngapain?" tanya ibu warung.
Mau apa ya? Mia juga gak tahu bu mau apa.
"Mau ini, emmm apa, mau cari kerja. Iya bu, saya mau cari kerja." jawab Mia.
"Oh, kebetulan mba. Di ujung sana, ada kontrakan baru. Nah katanya ada lowongan pabrik juga di dekat kontarakannya mba. Kalau mau saya anterin yu!" ucap ibu warung.
"Oh, gak perlu bu. Terima kasih buat informasinya. Saya bisa sendiri. Saya permisi bu!" ucap Mia.
Mia melangkah mengikuti petunjuk ibu warung.
Di ujung. Katanya sih gak jauh. Tapi kaki Mia udah pegel begini. Tahu jauh begini Mia nunggu ajek aja. huhh
"Permisiiiii, permisiii," ucap Mia.
"Iya, mau nyari siapa?" tanya seseorang.
"Mau sewa kontrakan bu. Katanya masih ada yang kosong ya?" tanya Mia.
"Ada. Boleh minta KTP?" tanya ibu kontrakan.
KTP? Udah kayak mau kredit motor.
"Ini bu," ucap Mia menyerahkan KTPnya.
"Mana suaminya?" tanya ibu kontrakan. "Mba diusir ya sama suaminya? Jangan-jangan mba selingkuh ya?" tanya ibu kontrakan.
Mata Mia terbelalak. Mia lupa kalau ia belum sempat ganti KTP.
"Ibu jangan nuduh sembarangan dong. Saya ini baru cerai bu. Tapi belum sempat ganti KTP," ucap Mia.
"Mana buktinya kalau kamu sudah cerai?" tanya ibu kontrakan.
Dengan sangat berat hati Mia mengeluarkan amplop coklat. Bukti perceraiannya dengan cinta pertamanya. Padahal Mia sudah tidak ingin membuka amplop itu, tapi apa boleh buat.
Tiba-tiba raut wajah ibu kontrakan berubah menjadi iba.
"Ayo saya antar lihat-lihat dulu. Mba nanti bisa pilih mau yang mana," ucap ibu kontrakan yang mendadak menjadi baik.
Ini ibu kontarakan abis sarapan apa ya? Kok jadi mendadak baik? Perasaan tadi judes banget deh.
Mia mengikuti langkah ibu kontarakan untuk melihat-lihat rumah kontarakannya. Ada sepuluh rumah kontrakan. Lima baris rumah yang letaknya saling berhadapan. Sudah isi tujuh rumah. Yang kosong sisa satu sisi saja. Bagian ujung kiri, ujung kanan, dan tengah.
"Mia mau yang ujung kanan saja," pilih Mia.
"Oh, namanya Mia toh. Aduh sampe lupa kenalan. Panggil saya Bu Ningrum saja ya!" ucap Bu Ningrum mengulurkan tangannya.
"Eh, iya Bu Ningrum. Mia," ucap Mia mencium tangan bu Ningrum.
Anak baik ternyata. Kasihan kamu Mia. Baru saja bercerai sudah kelimpungan cari kontarakan. Suami kamu jahat sekali.
"Ya sudah. Mau yang ini ya? Boleh. Ini kuncinya. Bayarnya tiap tanggal lima ya," ucap Bu Ningrum memberikan kunci rumah kontrakan di ujung kanan.
Belum juga apa-apa sudah wanti-wanti suruh bayar. Asyiaaap bu.. Asyiaaappp.
Mia masuk ke dalam rumah kontrakan. Tidak besar tapi cukup untuk Mia. Ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, ruang makan, dapur dan WC.
Mia mulai membereskan barangnya. Ah bukan barang. Hanya beberapa potong baju dan berkas pentingnya saja yang ia bawa.
Mas, kenapa Mia masih belum lupa sama mas? Mia rindu sama mas. Eh, ya ampun. Mia kan sudah cerai. Dosa kalau bayangin mas Danu terus ah. Husss mas pergi ya dari kepala Mia. Mia gak mau banyak dosa cuma karena rindu sama mas.
__ADS_1
Mia bangun dan berganti baju. Tidak ada perlengkapan mandi. Mia harus ke warung membeli semua kebutuhan dasarnya. Ada warung yang cukup lengkap tidak jauh dari kontrakannya. Mia membeli kebutuhan mandinya. Tak lupa mengambil beberapa camilan juga untuk menemaninya nanti malam.
"Hallo mba, baru ya?" tanya beberapa ibu-ibu yang sedang berkumpul di kontrakan depan.
"Eh, ibu. Iya, saya baru. Mia," ucap Mia yang mencium tangan semua ibu-ibu di sana.
Basa basi ke sana ke sini hanya untuk mengakrabkan diri dengan tetangga barunya. Setelah selesai, Mia segera kembali ke kontrakannya untuk segera mandi dan beristirahat. Rasanya lelah sekali.
Mia mandi dan memakan camilan yang sudah dibelinya dari warung. Di atas kursi sederhana itu, Mia duduk dan kembali meratapi nasibnya.
Hidup yang tak pernah mendapat kasih sayang dari seorang ayah. Lalu dinikahkan dengan Haji Hamid, setelah lima tahun diceraikan dengan alasan yang Mia pikir tidak masuk akal. Ditinggalkan oleh ibunya pada saat Mia berstatus janda. Namun perceraiannya membuat Mia bertemu dan merasakan apa itu cinta. Bahagia karena ibunya menitipkan Mia pada pria yang mencintainya. Memiliki mertua yang sangat menyayanginya. Namun dunianya berbeda hanya dalam waktu sekejap. Kini ia sudah kehilangan semua itu.
Mia menunduk dan mengepalkan tangannya saat mengingat Nyonya Nathalie yang selalu saja memojokkannya, membohonginya dan berhasil mempengaruhi Danu untuk menceraikannya.
Tuan Ferdinan kenapa Anda tidak bisa tegas pada istri Anda? Mas Danu, kenapa kamu tega menceraikan Mia? Padahal Mia sudah menerima mas apa adanya. Mia tidak pernah menuntut untuk mempunyai anak dalam pernikahan kita. Mia hanya minta mas untuk mencintai Mia. Itu saja tidak lebih. Arumi? Kemana saja kamu? Kenapa baru muncul saat mas Danu sudah menceraikan Mia? Aaahhhh
Mia bangun dan mencuci mukanya. Ia menatap wajahnya pada cermin. Melihat kalau mata dan hidungnya sudah merah karena menangis. Mia membuang pikirannya tentang orang-orang yang sudah membuatnya kecewa dan menderita. Kepalanya ia gunakan untuk mengingat orang-orang yang sudah membantu hidupnya.
Dokter Arumi, terima kasih sudah merawat dan menyayangi Mia.
Kalin dan Dev, terima kasih sudah merubah Mia untuk berubah lebih kuat menghadapi hidup ini.
Mas yang udah bantu Mia naik bus jurusan surabaya dan kasih uang dua ratus ribu, makasih ya.
Ibu penjual susu hangat di terminal terima kasih sudah memilihkan angkot menuju ke sini, terima kasih.
Ibu warung di depan yang sudah nunjukin rumah kontrakan ini, terima kasih banyaaak.
Bu Ningrum, makasih banyak loh udah mendadak baik sama Mia setelah tahu Mia baru bercerai, terima kasih juga loh ya!
Ibu-ibu tetangga baru Mia yang baik hati, makasih banyak kaliaaan.
Mia janji tidak akan pernah melupakan kalian semua yang sudah menolong Mia.
Meskipun Mia tidak tahu apakah dia akan mengalami yang namanya sukses atau tidak, tapi Mia akan membalas kebaikan mereka. Meski tidak dengan uang, tapi Mia bisa membalas kebaikan mereka dengan doa. Semoga mereka semua mendapat kebaikan dari sisi yang tidak pernah disangka-sangka.
Dering ponsel membuat lamunan Mia buyar. Siapa lagi kalau bukan Kalin. Orang yang selalu khawatir dan peduli padanya.
"Iya Kalin," ucap Mia mengawali obrolan.
"Berapa?" tanya Mia.
"Ambil saja. Mia titip dulu ya! Nanti kalau Mia ke Jakarta, diambil sama Mia. Katakan terims kasih. Ya sudah Mia mau tidur dulu ya Kalin," ucap Mia mengakhiri panggilannya.
Kalian menganggap kesedihan Mia bisa dibeli dengan Uang? Ok. Silahkan kalian berpikir sesuka kalian tentang Mia. Tapi suatu saat Mia akan membungkam mulut kalian dengan mengembalikan cek itu.
Dua milyar. Bukan nominal yang main-main. Sangat besar bagi Mia, apa lagi saat ini Mia sedang membutuhkan uang. Belum lagi tabungan dari Haji Hamid semakin susut karena sudah dipakai sewa apartemen selama tinggal di Jakarta. Biaya pengobatan saat kecelakaan juga. Karena saat itu, keluarga Danu meninggalkan Mia sendiri tanpa jaminan apapun.
Pak Haji, insyaalloh nanti Mia ganti. Tapi gak janji ya! Hehe
Tapi bagi keluarga Danu, uang sebesar itu tidak ada artinya. Dan menurut Mia, rasanya untuk keluarga Danu terlalu murah jika mereka membayar sakit hati, kecewa dan harga diri Mia hanya dengan nominal itu.
Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sederhana yang berbeda jauh dengan ranjang apartemennya. Tapi rasanya lebih nyaman karena bayarannya jauh lebih murah, hingga Mia bisa tidur lebih nyenyak tanpa beban sekarang.
Mia yang merasa lelah fisik dan psikis, memilih untuk tidur. Mengistirahatkan tubuh, fikiran dan hatinya sementara waktu. Mia butuh istirahat sampai akhirnya ia siap bertempur kembali dengan kenyataan hidupnya yang sudah terasa sangat pahit.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..