
Tak ingin masalah Rian kembali memicu kekecewaan Mia, dengan alasan mengantuk Nyonya Helen segera pergi ke kamarnya. Meninggalkan Mia yang masih sendiri dan bingung dengan sikap ibu mertuanya.
Mia masih duduk. Perlahan matanya terpejam. Lelah, hingga akhirnya ia tertidur. Keringatnya bercucuran, napasnya tersenggal-senggal. Air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Isak tangisnya mulai terdengar semakin nyata.
"Mia, Mia," panggil Dion.
Guncangan pelan di tubuh Mia membuatnya tersadar dan menatap Dion yang tengah memeluknya. Tak lama Mia mengeratkan pelukannya setelah sadar bahwa semua itu hanya sebuah mimpi.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
Mia menggeleng dan mengusap kedua pipinya. Ia merasa bingung saat melihat banyak orang berkumpul di sana. Termasuk ada Nyonya Helen dan Tuan Wira.
"Sebaiknya bawa Mia ke kamar. Biarkan Mia istirahat," ucap Nyonya Helen.
Dion mengangguk dan segera memapah Mia ke kamar. Membantunya berbaring dengan posisi ternyaman. Dion memijat pelan kaki Mia.
"A, Mia jahat ya?" tanya Mia.
"Kok jahat?" tanya Dion.
Rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan gamblang ternyata mengganggu alam bawah sadarnya. Mia sampai mengigau karena memimpikan Rian.
Dalam mimpinya, Narendra nampak sendiri. Dia terjebak di sebuah ruangan gelap. Hanya terdengar suara tangisnya. Sebagai seorang ibu, Mia frustasi saat melihat anaknya sendiri sementara ia tidak bisa berbuat apapun. Jangankan membantunya keluar, sekedar menaninya saja agar ia tenang, Mia tidak bisa.
Saat itu, sosok Rian jelas dalam penglihatan Mia. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab.
"Dia sama seperti aku. Sendiri," ucap Rian dalam mimpi Mia.
"Sayang, kamu hanya bermimpi. Kita akan selalu menjaga Narendra dan Naura. Kalaupun kita tidak bersamanya, Narendra tidak sendiri. Ada Naura," ucap Dion menenangkan.
Mia diam. Tidak mau berkomentar. Ia lebih memilih untuk memejamkan matanya. Mencoba mencerna setiap kalimat Dion yang menenangkannya. Walaupun bayangan mimpi itu tak bisa enyah dari kepalanya.
"Sayang, tidurlah. Ada aku di sini," ucap Dion.
Mia masih memejamkan matanya. Dion tahu Mia belum tidur. Hanya saja, mungkin Mia sedang ingin sendiri. Namun Dion tidak bisa meninggalkan Mia dalam keadaan seperti itu. Yang Dion lakukan adalah tetap tidur di samping Mia dan memeluknya.
Dalam sadarnya, Mia terus berpikir tentang keadaan Rian saat ini. Anak itu pasti sendiri. Bagaimana anak seusia Rian bisa begitu mandiri? Bisakah Rian menjalani semua itu?
Mia memang iri pada Rian. Tapi ia sadar, semua jalan hidup orang itu berbeda. Ia memang tidak mendapat kasih sayang seorang ayah. Kasih sayang ibunya juga sudah tidak bisa ia rasakan secara langsung. Tapi Tuhan Maha Baik, Mia akhirnya dipertemukan dengan keluarga Dion. Keluarga kelas atas yang tidak mempedulikan asal usul kehidupan Mia.
Lalu Rian? Haruskah Mia mempertahankan egonya? Membiarkan Rian hidup sendiri tanpa belas kasih, hanya karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Pak Baskoro?
Ah, Mia pusing dengan langkah yang harus ia tempuh. Bahkan Mia belum bisa menentukan jalan mana yang akan ia lalui untuk melewati semua masalah ini.
__ADS_1
Setelah hampir satu malam Mia mempertimbangkan ini dan itu, pagi ini Mia izin pada suaminya untuk keluar siang nanti. Dengan alasan ingin ke mall, Dion yang sedikit curiga hanya mengiyakan. Namun ia akan menyiapkan mata-mata sekaligus menjaga Mia melalui orang suruhannya.
"Jadi boleh, A?" tanya Mia.
"Boleh dong. Kamu kan udah lama juga gak shopping. Kamu have fun ya sayang. Beli semua barang yang kamu mau. Ingat, jangan lihat harga. Cukup tanya sama diri kamu sendiri, suka atau nggak. Kalau suka langsung ambil ya?" ucap Dion.
Meeting siang nanti membuat Dion tidak bisa menemani Mia belanja. Namun ia memang harus membiarkan Mia sendiri. Agar ia tahu apa sebenarnya yang akan Mia lakukan.
Setelah memberi kode pada Nyonya Helen dan Tuan Wira, mereka mengizinkan Mia tanpa syarat apapun.
"Maafin Mama ya Mi karena gak bisa nemenin kamu," ucap Nyonya Helen.
"Gak apa-apa kok Ma. Mia juga bisa sendiri," ucap Mia.
"Kamu sih dadakan. Hari ini kan Mama mau ada kumpul sama teman arisan," bohong Nyonya Helen.
"Iya gak apa-apa Ma. Mia juga cuma mau jalan-jalan aja biar fresh," ucap Mia.
Akhirnya siang ini Mia berangkat ditemani sopir. Mia tidak tahu kalau ada satu mobil yang mengikuti kemanapun Mia pergi. Seperti dugaan Dion, Mia tidak benar-benar pergi ke pusat perbelanjaan. Istrinya menemui Rian.
Tidak! Mia bukan menemui Rian, ia hanya mengamati keadaan Rian dari jarak jauh. Ia melihat apa yang Rian lakukan setelah ia benar-benar hidup sendiri.
Mata Mia sudah tidak mampu menahan air mata saat melihat Rian menggunakan celemek dan nampak sedang mengulek. Di depan rumahnya terpampang sebuah dus bertuliskan menu jualan.
Apa yang Rian bisa, mungkin karena ia sering membantu ibunya saat masih ada. Saat masih ada, ibunya punya warung nasi. Warungnya tutup saat ibunya meninggal. Rian hanya menggantungkan hidupnya pada Pak Baskoro.
Ia hanya menjadi anak yang mengurus rumah dan memansak untuk ayahnya sendiri. Saat Pak Baskoro masih ada, pujian tidak hanya diterima oleh Rian. Pak Baskoro adalah salah satu orang yang sering menerima pujian untuk anaknya itu. Alih-alih bangga, ia justru tidak suka dan melarang Rian memberikan apapun pada tetangganya.
Sepeninggal Pak Baskoro, Rian memutar kepalanya agar tetap bisa bertahan hidup. Banyak masakan yang Rian bisa kerjakan, namun ia memilih lotek dan rujak untuk menu jualannya. Selain karena modalnya tidak terlalu besar, pekerjaannya juga lebih mudah dibanding ia membuka toko nasi.
"Dek, beli rujak sama loteknya ya!" ucap salah satu pria yang datang ke warungnya.
Dengan senyum ramah, Rian segera membuatkan pesanan pria itu.
"Ini, Nyonya!" ucap pria itu.
Mia membawa lima bungkus lotek dan 5 bungkus rujak.
"Pulang!" pinta Mia.
Mobil kembali melaju menuju rumah. Hatinya sakit saat melihat Rian harus berjualan hanya untuk bertahan hidup.
"Mia, sudah pulang?" tanya Nyonya Helen saat Mia sudah kembali.
__ADS_1
"Mama, gak jadi kumpul sama teman arisannya?" tanya Mia.
"Gak jadi. Banyak yang berhalangan. Gak asik kalau gak kumpul semua," jawab Nyonya Helen. "Kamu bawa apa?" tanya Nyonya Helen.
Mia mengangkat dua kantong kresek hitam berukuran sedang.
"Lotek sama rujak. Mama mau coba?" tanya Mia.
"Boleh," jawab Nyonya Helen.
Tanpa bertanya panjang lebar, Nyonya Helen langsung mencicipi keduanya.
"Enak," ucap Nyonya Helen.
Tidak membahas dari mana asal usul lotek dan rujak yang sedang ia nikmati, karena Nyonya Helen tahu dari mana makanan itu berasal.
"Mama suka?" tanya Mia.
"Suka. Kamu kok tahu sih makanan yang enak begini?" tanya Nyonya Helen.
Akhirnya rasa keingintahuan Nyonya Helen pecah juga. Sedikit menyelidiki tentang Rian, namun Mia bungkam. Ia tidak sedikitpun menceritakan keadaan Rian padahal ia baru saja membeli dagangan Rian.
"Aku ke kamar Narendra sama Naura dulu ya Ma!" ucap Mia.
Masih dengan sendok di tangannya, Nyonya Helen yang sedang mengunyah hanya mengangguk. Dalam kamar bayinya, Mia duduk dan melihat kedua anak kembarnya dalam box bayi.
Bayangannya kembali pada sosok Rian yang begitu gigih berjualan. Hatinya sakit. Ia membayangkan sosok Rian itu adalah anak kandungnya sendiri. Mia tidak tega. Tak sadar, air mata itu membasahi pipinya. Tidak ingin membiarkan perawat mengetahui apa yang terjadi, Mia segera mengusap pipinya.
Rian harus dijemput. Mia gak bisa biarin anak itu sendirian. Hidupnya akan jauh lebih menderita dari Mia.
Mia menghela napas panjang. Ia berusaha untuk melupakan masa lalunya. Tidak melihat sosok Rian sebagai anak Pak Baskoro. Mia melihat Rian sebagai anak baik yang mendonorkan darahnya untuk Tuan Felix. Rian anak baik yang bisa hidup mandiri.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1