Janda Bersegel

Janda Bersegel
Diinfus


__ADS_3

"Hey, ini ada apa sih rame-rame begini?" tanya Nyonya Helen.


"Eh, tante sehat?" tanya Reza sembari mencium tangan dari ibu sahabatnya itu.


"Baik. Sudah lama kamu Za?" tanya Nyonya Helen.


"Lumayan tante," jawab Reza.


Setelah cukup menyapa merema bertiga, Nyonya Helen kembali ke kamarnya.


"Jangan begadang, besok pagi kan mau berangkat ke Surabaya. Jaga kesehatan ya!" ucap Nyonya Helen mengingatkan.


"Siap ma," jawab Dion.


"Emang besok berangkat ya?" tanya Reza.


"Iya dong. Sama Mia nih," jawab Dion menggenggam tangan Mia.


Walaupun Mia merasa risih, tapi di satu sisi Mia merasa senang. Dion tidak pernah malu mengakuinya sebagai istri.


"Jadi tujuan ngundang aku ke sini sekalian pamit juga nih?" tanya Reza.


"Siapa kamu, kok mesti pamit segala?" tanya Dion.


Tapi memang benar. Niat Dion mengundang Reza, selain untuk memberikan kemeja itu ya untuk pamit. Karena Dion tahu mungkin kali ini, ia akan pergi lebih lama dari biasanya.


Selain untuk kerja, keberangkatannya kali ini adalah untuk bulan madu. Menghabiskan waktu bersama istri tercintanya. Siap bertempur dan pulang membawa sebuah kemenangan. Apa lagi kalau bukan cucu buat Nyonya Helen dan Tuan Wira.


Mengingat kata-kata Nyonya Helen, Reza pamit saat jam sepuluh malam. Sebenarnya itu jam yang masih sangat siang menurut Reza. Bahkan dulu, Reza bisa sampai tidur di rumah Dion. Namun Reza adalah orang yang cukup mengerti keadaan. Reza tahu bahwa setelah menikah, dia harus membatasi dirinya. Meskipun sebenarnya, ada kamar tamu jika memang ia ingin tidur di rumah Dion.


"Hati-hati ya beso! Sorry nih aku gak bisa anter," ucap Reza saat pamit.


"Gak apa-apa santai aja. Kamu hati-hati ya di jalannya!" ucap Dion sambil melambaikan tangannya pada Reza.


Saat melihat mobil Reza sudah pergi, Mia cemberut melihat Dion yang menutup pintu dengan senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa sih mas?" tanya mia kesal.


"Kenapa apanya sih?" tanya Dion yang tidak mengerti.


"Kamu bahagia banget mas udah ketemu sama Reza," ucap Dion.


"Tenang aja, aku bukan Haji Hamid kok." Dion menjawab pertanyaan lucu dari Mia.


"Ish, kamu kok gitu sih?" tanya Mia tambah kesal.


Mia berjalan lebih cepat untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan Dion


"Kamu kenapa sih Mi?" tanya Dion saat masuk ke dalam kamarnya.


Mia tidak menjawab. Ia hanya cemberut dan memainkan ponselnya.


"Mia, kamu dengar aku gak sih?" tanya Dion.


"Apa sih mas?" tanya Mia sambil sibuk dengan ponselnya.


Dion memperhatikan Mia yang tetap fokus dengan ponselnya. Akhirnya Dion merebut paksa ponselnya.


"Mas, balikin!" pinta Mia sambil menengadahkan tangannya.


"Kamu jawab dulu. Apa alasan kamu yang tiba-tiba marah sama aku?" tanya Dion.


"Gak ada," jawab Mia singkat.


"Oh, aku tahu. Kamu marah karena aku nyolong karung jengkol kamu kan?" tanya Dion.


"Gak," jawab Mia.


"Kamu ngaku aja. Kamu marah karena karung jengkol itu buat ngirim mantan suami kamu itu kan? Kamu masih gak terima oleh-oleh buat mantan suami kamu itu aku colong ya? Ya sudah, besok aku balikin lagi. Aku beliin kamu sekarung jengkol. Kasih tuh sama mantan suami kamu itu!" ucap Dion kesal.


Hah? Kok jadi dia yang marah sih? Kan Mia yang lagi marah sama kamu mas? Aduh, repot ini urusannya.


Mia meraih ponselnya yang dilempar ke atas kasur. Lalu keluar mencari Dion. Mia harus menenangkan Dion. Kesalahpahaman ini harus diluruskan secepatnya. Mia tidak ingin menyimpan masalah berlarut-larut. Apalagi dengan suaminya.


"Mas," panggil Mia setelah mengetuk pintu ruangan kerja Dion.


Setahu Mia, kalau Dion keluar dari kamar biasanya tujuan utamanya adalah ruang kerja.


"Apa," jawab Dion dari dalam ruang kerjanya.


"Boleh Mia masuk?" tanya Mia.


Mia, bagaimana mungkin aku marah padamu. Kalau mendengar suaramu saja sudah membuat hatiku bergetar dan luluh.

__ADS_1


"Apa?" tanya Dion saat membuka pintu ruang kerjanya.


"Mas marah ya sama Mia?" tanya Mia.


"Bukannya kamu yang lagi ngambek sama aku?" tanya Dion.


"Mia gak marah kok sama mas. Mia cuma kesal saja," jawab Mia.


"Apa bedanya Mia? Mau marah atau kesal kamu sama-sama cemberut sama aku," ucap Dion yang kembali duduk di meja kerjanya.


Mia mengikuti Dion masuk ke dalam ruang kerjanya. Mia menjelaskan alasan cemberutnya. Mia cemburu saat Reza tidak sengaja menyinggung Niki dalam obrolannya tadi. Kekesalannya di dukung karena Dion terlihat senyum-senyum sendiri setelah Dion pulang.


"Kamu masih inget sama dia kan?" tanya Mia.


"Ya ampun Mia. Itu masa lalu. Aku gak pernah sama sekali berpikir untuk kembali ke masa laluku. Manusia normal itu selalu ingin berjalan menuju masa depan. Masa lalu sih cuma pengalaman aja," jawab Dion.


Bagi Dion, masa lalu itu bukan kenangan. Hingga Dion tidak perlu mengenang masa lalu. Tapi prinsip Dion, masa lalu itu pengalaman berharga yang sudah mengajarkan sesuatu hal untuknya. Tentunya agar dia tidak masuk dalam kesalahan yang sama.


"Terus mas kenapa harus senyum-senyum sendiri tadi?" tanya Mia.


"Aku cuma geli sendiri aja kalau ternyata karung jengkol itu punya kamu," jawab Dion.


"Maaaaaas," ucap Mia sambil duduk di pangkuan Dion dan memeluknya.


Dion menahan rasa bahagianya. Jauh dalam hatinya Dion sangat senang melihat Mia yang cemburu padanya, namun sangat manja dan lucu saat meminta maaf.


Mia, aku senang dengan sikapmu yang seperti ini. Tetaplah menjadi Mia yang seperti ini. Jangan pernah berubah!


"Kamu kenapa lagi ini? Pengen?" goda Dion.


Mia menggelengkan kepalanya di dada Dion.


"Gak?" tanya Dion.


"Tapi kalau mas maksa sih ayo!" ajak Mia.


"Dih, siapa yang maksa?" tanya Dion. "Aku itu cuma penuhi permintaan mama," lanjutnya.


"Gengsi terooooos," ucao Mia.


"Apa kamu bilang hem? Apa?" tanya Dion sambil menggelitiki Mia.


"Ahh, mas. Udah ampun mas. Geli ih," ucap Mia sambil menahan tangan Dion.


"Loh kok Mia?" tanya Mia.


"Ini ngapain coba? Nemplok-nemplok kayak cicak. Minta dipangku begini. Kamu yang godain aku sih kalau begini konsepnya," ucap Dion.


"Ih, gak mas. Mia gak goda mas kok," ucap Mia.


"Terus ini acara apa duduk di pangkuan aku begini hemm?" tanya Dion.


"Mia hanya lucu saja pas mas bilang senyum sendiri karena geli inget maling karung jengkol. Ternyata tuhan sudah mempertemukan kita sejak dulu ya mas? Dulu mas maling karung jengkol Mia, sekarang mas maling hati Mia." Mia kembali menyusup di dada Dion.


Dion tersenyum bahagia dan tangannya semakin erat melingkar di pinggang Mia. Dion memeluk dan mencium kepala Mia. Bsrsyukur atas jalan hidup yang sudah Tuhan berikan untuknya. Dengan semua kekonyolannya dengan Reza, justru mempertemukan Dion dengan jodohnya.


"Ke kamar yuk!" ajak Dion.


"Ayo mas," ucap Mia.


Dion menahan Mia untuk turun dari pangkuannya karna akan menggendongnya ke kamar, namun Mia menolak karena merasa malu kalau sampai ada yang melihatnya. Akhirnya Mia turun dari pangkuan Dion, namun Dion tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya hingga mereka masuk ke dalam kamarnya.


Dion menepuk ranjangnya. Mia mendekat dan naik ke atas ranjang. Berbaring di samping Dion dengan perasaan kacau. Mia membayangkan kalau Dion akan menagih janjinya untuk melakukan pertempuran dua putaran. Namun ternyata dugaan Mia salah.


Dion memeluk Mia dan mengucapkan selamat tidur. Lalu mengecup lembut dahi Mia.


Ah benarkah mas Dion membiarkan Mia tidur nyenyak tanpa pertempuran malam ini? Mas makasih ya! Akhirnya malam ini Mia bisa beristirahat. Menjaga kalori Mia untuk energi besok.


Mia memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur lebih awal agar besok tidak kesiangan. Mia tidak mau kalau besok sampai kesiangan. Dion mengusap pelan pipi Mia yang sangat halus itu. Tanpa respon. Artinya Mia sudah benar-benar tidur dengan nyenyak.


Tidurlah Mia. Istirahatlah. Kamu butuh energi untuk perjalanan besok. Aku sengaja melepaskanmu malam ini. Tapi jangan senang dulu. Nanti di Surabaya, aku akan mengahabisimu. Haha


Pagi hari Mia sudah bangun seperti kebiasaan lamanya. Mandi dan mengecek barang bawaannya untuk ke Surabaya. Setelah semuanya ready, Mia membangunkan Dion. Meskipun agak malas, akhirnya Dion bangun dan bersiap.


Saat akan pergi, langkah Mia diiringi dengan air mata dan lambaian tangan dari Nyonya Helen. Ini adalah hal yang tidak pernah Mia bayangkan sebelumnya. Mendapat mertua baik dan menyayanginya seperti anaknya sendiri. Menerima segala masa lalu Mia.


Ma, pa, aku janji akan selalu membahagiakan kalian dengan segala caraku. Semua yang membuat kalian bahagia akan Mia pelajari. Mia tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa lagi. Mia sayang sama mama dan papa. Sehat-sehat ya kalian! Doakan Mia biar segera hamil.


Sesampainya di Surabaya, Mia disambut oleh Sindi.


"Sin?" panggil Mia dengan wajah terkejut.


"Nyonya Diooon," teriak Sindi.

__ADS_1


"Ku apaan sih Sin? Aku ini tetap Mia yang dulu. Jadi panggil Mia saja," pinta Mia.


Mata Sindi melihat ke arah Dion. Setelah ada anggukan kepala dari Dion, Sindi baru berani memanggil Mia dengan panggilan namanya.


"Iya Mia. Aku kangen sama kamu," ucap Sindi sambil memeluk Mia.


"Mia juga kangen sama kamu Sin. Tapi kamu kok tahu sih kalau Mia sudah sampai?" tanya Mia.


Mia memang mengirim pesan kalau hari ini ia berangkat ke Surabaya. Tapi Mia tidak memberi tahu Sindi kalau ia sudah sampai. Apalagi saat sampai ke Surabaya, Mia langsung menuju rumah Dion. Dari mana Sindi bisa tahu tentang rumah Dion yang di Surabaya?


Ternyata saat Mia tertidur, Dion melihat ada pesan dalam ponsel Mia. Dion membukanya. Membaca pesan dari Sindi. Percakapan yang menunjukkan kalau keduanya saling merindukan itu membuat Dion menelepon Sindi dan meminta sopir untuk menjemput Sindi agar menyambut Mia.


Anggap saja apa yang dilakukan oleh Dion ini hadiah untuk Mia. Agar Mia merasa bahagia saat sampai di Surabaya. Karena Dion tahu bagaimana sayangnya Mia pada Sindi.


"Mas, jadi kamu beneran nelepon Sindi dari ponsel aku?" tanya Mia tidak percaya.


"Tanya sama Sindi aja ya! Aku mau masuk dulu," jawab Dion pada Mia.


Dion masuk meninggalna Mia dan Sindi. Bukan tidak senang melihat mereka berdua, tapi Dion justru memberikan waktu untuk mereka menghabiskan waktu berdua.


"Kau pulang dulu ya!" ucap Sindi setelah satu jam ia menemani Mia sejak kedatangannya.


"Kok cepet banget sih Sin? Aku kan masih kangen sama kamu," ucap Mia.


"Tapi Mi, Tuan Dion pasti butuh kamu. Kapan-kapan aku bisa ke sini lagi. Tenang saja. Aku kan sudah tahu alamat rumah kamu," ucap Mia.


"Rumah mas Dion, bukan rumah aku Sin." Mia seolah tidak nyaman saat Sindi menganggapnya sudah menjadi orang kaya.


"Rumah kita," ucap Dion sambil bergabung dengan Mia dan Sindi.


"Eh, Tuan. Saya permisi dulu," pamit Sindi.


"Kalau mau ke sini bilang sama Mia saja ya! Nanti biar sopir yang jemput kamu," ucap Dion.


"Oh iya. Terima kasih, Tuan." Sindi kembali ke rumah kontrakannya.


Dion menatap wajah Mia yang terlihat sangat bahagia. Seolah lelah dengan perjalanan panjang itu terbayar sudah setelah menghabiskan hanya satu jam dengan Sindi.


"Bahagia ya kamu?" tanya Dion saat melihat Mia masih tersenyum dan melambaikan tangannya meskipun Sindi sudah tidak kelihatan lagi.


"Eh mas. Makasih ya!" ucap Mia.


Dion mengangguk dan menggenggam tangan Mia untuk masuk ke kamar. Sudah ada makanan yang disediakan oleh Dion di sana. Dion ternyata bisa bersikap sangat romantis dan pengertian. Hal itu membuat Mia semakin mencintai suaminya itu.


Hari demi hari Mia jalani kehidupan barunya sebagai Nyonya Dion di Surabaya. Tak jarang Mia ikut ke kantor hanya ingin bertemu dengan Sindi. Di rumah, Mia merasa jenuh karena harus menunggu Dion yang baru pulang sore hari.


Mia merasa hidupnya lebih berarti saat sudah menjadi istri Dion. Menemani suaminya untuk bekerja dan bisa bertemu dengan sahabatnya. Belum lagi, Nyonya Helen yang selalu meneleponnya setiap hari. Mia benar-benar merasa banyak sekali orang yang peduli padanya.


Pertanyaan 'Sudah hamil?' selalu Mia dengar saat Nyonya Helen menghubunginya. Harap-harap cemas, sebenarnya Mia juga menunggu jawaban bahagianya. Namun sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda kalau Mia sudah hamil. Padahal selama di Surabaya, Mia sudah tidak bisa menghitung berapa kali mereka bertempur.


Sudah hampir satu bulan Mia dan Dion tidak pulang ke Jakarta. Ada banyak hal yang harus Dion kerjakan dalam mengurus perusahaan baru itu.


"Besok kita pulang ma," ucap Mia saat hampir lima minggu mereka di Surabaya.


"Akhirnyaaa. Mama kangen sama kamu Mia," ucap Nyonya Helen.


Semua barang bawaan untuk pulang ke Jakarta sudah siap. Namun sayangnya rencana kembali ke Jakarta itu harus kandas saat jam tiga dini hari Mia demam tinggi. Hanya empat jam menjelang kepulangannya ke Jakarta, Mia ambruk hingga harus dilarikan ke rumah sakit.


Mendengar kabar Mia dirawat, Nyonya Helen segera pergi ke Surabaya untuk memastikan kalau menantunya itu baik-baik saja.


"Miaaaa, kamu kenapa sayang?" tanya Nyonya Helen.


"Gak apa-apa ma. Mia hanya pusing dan lemas saja," jawab Mia.


"Dasar kamu anak kurang ajar. Kamu apakan menantu mama? Pasti kamu menghajarnya habis-habisan kan?" tanya Nyonya Helen sambil memukul tangan Dion.


"Kan mama yang minta biar cepat gendong cucu," jawab Dion.


"Iya tapi kan kamu tahu kalau harusnya kalian itu balik ke Jakarta. Kamu jangan hajar Mia malam itu dong. Biarkan Mia istirahat. Kan Mia sampai kecapean begini," ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Mia.


Melihat ibu dan anak itu terus berdebat membahas tempur, Mia menggelengkan kepalanya.


Kalian benar-benar keluarga somplak ya. Masih saja bahas begituan padahal tangan Mia lagi di infus begini. Tapi Mia bersyukur diberi nikmat sakit ini. Mia jadi semakin yakin kalau mama benar-benar sayang sama Mia. Mama sampai menyusul Mia ke Surabaya saat mendengar kabar Mia masuk ruamh sakit. Makasih ya Ma.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2