
Rasa penasaran yang menguasai diri Mia akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Ia memberanikan diri untuk menanyakan hal apa saja yang sudah mereka bahas. Apakah Danu sudah jujur pada Sindi?
"Sin, Mia boleh kepo gak?" tanya Mia.
"Kepo apa sih?" tanya Sindi.
"Tadi apa aja yang dibahas sama Mas Danu?" tanya Mia.
"Apa aja?" tanya Sindi.
"Maksudnya kamu bahas tentang persiapan lamaran atau apa?" tanya Mi ragu-ragu.
Sindi menatap Mia yang merasa tidak enak. Mungkin karena kisah masa lalu Mia dan Danu, hingga membuat Mia takut Sindi salah paham. Tapi sebagai sahabat yang tahu sekali sifat Mia, Sindi tahu keingintahuan Mia adalah rasa peduli yang begitu tinggi.
"Mi, kamu jangan sungkan. Aku tidak ingin kamu menganggap Danu itu mantan suamimu. Aku mohon anggap dia sebagai temanmu. Agar kamu tidak canggung begitu," ucap Sindi.
"Sin, Mia takut kamu gak nyaman. Makanya Mia mau ikut ngurusin pernikahan kalian juga takut salah paham," ucap Mia.
"Aku sama Danu gak mempermasalahkan masa lalu kalian. Meskipun aku tahu dulu kalian saling mencintai, tapi sekarang kamu punya Tuan Dion. Aku yakin udah gak ada ruang lagi di hati kamu buat Danu. Begitupun Danu, ia sudah cukup bahagia melihat kamu bahagia." Sindi tersenyum manis.
"Sin, Mia jadi terharu. Seandainya Aa bisa punya pikiran yang sama dengan kita," ucap Mia.
"Aku yakin Tuan Dion juga akan seperti kita, hanya butuh waktu saja. Lagi pula wajar jika Tuan Dion masih cemburu, itu karena Tuan Dion sangat mencintai kamu. Ambil sisi positifnya aja Mi. Artinya Tuan Dion sangat mencintai kamu," ucap Sindi.
Mia berusaha menerima apa yang Sindi ucapkan. Kadang Mia memang selalu merasa tertekan saat Dion selalu saja cemburu pada Danu, padahal sebentar lagi Danu akan menjadi suami Sindi.
"Oh ya, gimana tadi ngobrol sama Mas Danunya? Ngebahas konsep pernikahan? Mau yang kayak gimana? Apa yang bisa Mia bantu buat kalian?" tanya Mia antusias.
"Ya ampun Mi, sabar. Gimana aku mau jawab, pertanyaan kamu banyak banget. Satu-satu dong," ucap Sindi.
Sindi pun menjelaskan jika tadi ia jujur tentang keluarganya. Danu sama sekali tidak mempermasalahkan semua latar belakang Sindi.
"Terus keluarganya?" tanya Mia tegang.
Mia takut jika Nyonya Nathalie seenaknya saja membatalkan acara lamaran ketika tidak menerima latar belakang keluarga Sindi. Mia semakin takut saat melihat Sindi menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus ke rumah Nyonya Nathalie. Ini harus segera dibicarakan Sin," ucap Mia.
"Tadi juga aku mau ke sana. Tapi kata Danu gak perlu. Udah malam katanya," ucap Sindi.
"Tapi semua ini harus dibahas sebelum acara lamaran nanti digelar," ucap Mia.
"Danu bilang malam ini akan dibahas sama keluarganya. Tapi kalaupun Ibu Nathalie dan Pak Ferdinan menolak, Danu akan tetap melanjutkan pernikahan ini Mi. Menurut kamu gimana?" tanya Sindi.
Mia diam sebentar. Ia takut jawabannya menyakiti Sindi.
"Itu artinya Danu sangat mencintai kamu dan memperjuangkan hubungan kalian sampai benar-benar halal," ucap Mia.
Meskipun Mia gak tahu nanti ke depannya akan seperti apa. Mia hanya berharap kamu selalu bahagia apapun yang terjadi nanti.
"Menurutmu pernikahanku akan bahagia jika tanpa restu Bu Nathalie dan Pak Ferdinan?" tanya Sindi.
Sesak rasanya dada Mia. Apa yang menjadi kekhawatirannya justru dipertanyakan oleh Sindi.
"Kamu tetap berusaha Sin. Mia yakin Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan orang baik. Sepertinya masalah latar belakang keluarga kamu bukan hal yang penting bagi mereka," ucap Mia.
Mia tahu Nyonya Helen dan Tuan Ferdinan itu orang yang baik. Namun pengalamannya dulu membuat Mia khawatir, karena ada fase mereka berubah begitu cepat dan tidak jelas.
"Jadi kalau saja mereka tidak merestui, aku tetap menikah. Begitu?" tanya Sindi.
Menikah tanpa restu? Bukan tidak mungkin jika Nyonya Helen dan Tuan Wira juga merestui. Apalagi Nyonya Helen yang akan merasa tersinggung tentu akan menolak keras pernikahan Sindi dengan Danu.
"Mi, kok malah bengong sih?" tanya Sindi.
"Eh gak kok Sin. Menurut Mia sih mending kamu berdoa aja. Semoga pernikahan kalian lancar ya!" ucap Mia.
"Iya Mi," ucap Sindi.
"Oh ya udah cuma bahas itu aja?" tanya Mia.
"Danu juga bilang nanti setelah menikah, aku akan pindah. Kita akan hidup mandiri," ucap Sindi.
"Gak tinggal di rumah Danu?" tanya Mia.
"Katanya takut Nyonya Helen iri. Kalau tinggal di sini kan gak mungkin. Jadi Danu ambil jalan tengahnya aja. Biar Nyonya Helen juga bisa kapan aja ketemu aku tanpa berantem sama Bu Nathalie," ucap Sindi sembari tertawa.
Mia ikut tertawa saat mengingat tingkah keduanya yang selalu bertengkar jika saja bertemu.
"Terus tema pernikahan kalian nanti gimana?" tanya Mia.
"Kata Danu nunggu keputusan Bu Nathalie. Karena kalau nanti Bu Nathalie tidak merestui kita hanya akan menikah sederhana di KUA saja Mi," ucap Sindi.
Tidak kecewa, bagi Sindi menikah dimanapun bukan alasan untuknya tidak bahagia. Baginya, yang penting menikah dengan pria yang mencintainya itu sudah cukup kado terindah dalam pernikahannya.
"Mia doain semoga Nyonya Nathalie bisa menerima semuanya ya!" ucap Mia.
__ADS_1
"Eh Mi, satu lagi. Katanya nanti Danu juga mau program bayi kembar. Biar lucu kaya Narendra sama Naura. Doain aku ya Mi," ucap Sindi.
Program bayi kembar? Apa artinya Mas Danu sudah sembuh? Paling tidak, kalaupun Mas Danu belum sembuh tapi Sindi sudah tahu semuanya.
"Bagus dong. Mia doain semoga harapan kalian terwujud ya!" ucap Mia.
Obrolan itu selesai saat Mia mendengar tangisan bayi kembarnya. Selama menyusui Narendra Mia tersenyum. Akhirnya satu per satu hal yang mengganjal itu terselesaikan.
"Mana pompa ASI?" tanya Mia.
"Kata Tuan Dion jangan dipaksa. Tuan sudah memberikan susu formula buat Narendra dan Naura, Nyonya." Salah satu perawat itu menyampaikan amanat Dion.
"Kan gak ada salahnya berusaha. Walaupun sedikit, tapi masih tetap ada stok ASI buat kedua anak kembar Mia. Mana pompanya!" pinta Mia.
Perawat itu memberikan pompa ASI. Mia senang luar biasa saat ASInya lebih banyak dari tadi siang. Mungkin karena ia sudah makan banyak dan pikirannya juga sudah tidak mumet lagi.
"Wah, mulai banyak lagi Nyonya." Perawat itu memberi dukungan pada Mia.
"Tapi gak sebanyak kemarin-kemarin," keluh Mia.
"Kalau dibanding tadi siang, ini banyak Nyonya." Perawat itu terus memberi dukungan pada Mia.
Mia tersenyum. Ia bersyukur karena di kelilingi orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Setelah menyusui dan memompa ASInya, Mia membelai pipi gembil Narendra dan Naura bergantian. Melihat bayi kembarnya sudah tidur pulas, Mia kembali ke kamarnya.
"A, mau kemana?" tanya Mia.
Baru saja Mia hendak memegng handle pintu kamarnya, Dion keluar dari kamarnya.
"Mau ke ruang kerja. Reza mengirim file tentang perusahaan di Surabaya," jawab Dion.
"Kenapa gak besok aja A? Ini udah malam. Aa istirahat aja," ucap Mia.
"Besok aku ada meeting pagi. Mana sempat aku ngecek file ini. Kamu tidur duluan aja. Kebetulan aku belum ngantuk," ucap Dion.
Setelah mencium pipi Mia, Dion pergi ke ruang kerjanya. Mia hanya menatap punggung suaminya hingga benar-benar hilang dari pandangannya.
"Mumpung A Dion lagi di ruang kerja, Mia telepon Kalin dulu ah!" gumam Mia.
Setalah pintu kamarny tertutup, Mia segera menelepon sahabatnya itu.
"Kalin," sapa Mia saat panggilan sudah terhubung.
"Mi, ada apa? Aku udah tanyain sama Danu soal itu. Katanya dia udah sembuh," ucap Kalin.
"Ya syukurlah. Mia seneng dengernya," ucap Mia.
"Kamu seneng, aku yang repot. Keringat dingin Mi. Kayak mau sidang skripsi aja tahu deg-degannya," ucap Kalin.
Mia hanya tertawa. Tentu Kalin akan sangat tegang. Hal pribadi yang tidak seharusnya dibahas, malah dipertanyakan oleh Kalin. Padahal mereka siapa? Mia memang membuat Kalin tidak bisa menolak dan menyingkirkan logikanya. Semua demi Mia.
"Terima kasih ya Kalin. Kamu cantik dan baik deh," puji Mia.
"Maaf, sedang tidak menerima sogokan dalam bentuk apapun. Apalagi cuma pujian receh begitu," ucap Kalin.
Tawa Mia semakin keras mendengar ucapan Kalin. Sepertinya saat ini Kalin sedang melampiaskan rasa malunya saat mempertanyakan hal itu.
"Oh iya Mi, kata Danu terima kasih udah jaga rahasia ini dari Sindi. Kamu kok bisa sih gak jujur masalah ini?" tanya Kalin.
"Gak harus berterima kasih juga sih. Memang Mia gak ada kapasitas juga buat bahas ini sama siapapun. Mana mungkin Mia bahas hal begitu. Apalagi sama Sindi," jawab Mia.
"Kamu memang best kalau jaga rahasia Mi," ucap Kalin.
"Maaf sedang tidak menerim pujian receh," ucap Mia.
Kini giliran Kalin yang tertawa terbahak mendengar ucapan Mia.
"Oh ya, gimana Dev. Sudah pulang?" tanya Mia.
"Belum. Katanya Haji Hamid belum sadar," jawab Kalin.
"Pak Haji," ucap Mia.
Tak lama, isak tangis terdengar dari balik sambungan telepon. Kalin berusaha untuk menenangkan Mia.
"Mia, kamu doain aja biar Haji Hamid segera sembuh ya!" ucap Kalin.
"Nanti kalau acara lamaran Mas Danu sama Sindi udah selesai, Mia juga mau ke sana. Mia mau ngasih dukungan buat Pak Haji," ucap Mia.
"Gak perlu lah Mi. Kan ada Dev di sana. Jangan sampai suami kamu salah paham," ucap Kalin.
"Mia berangkat sama Aa kok. A Dion udah ngasih izin," ucap Mia.
"Serius?" tanya Kalin tidak percaya.
Selama ini, Kalin hanya mengamati Dion dari cerita Mia. Yang ia tangkap, Dion begitu cemburu dan sedikit posesif pada Mia. Lalu bagaimana mungkin Dion mengajak Mia menemui Haji Hamid di Singapura.
__ADS_1
"Iya. Oh ya Kalin, Pak Haji sakit apa sih?" tanya Mia.
"Haji Hamid menderita meningitis," ucap Kalin.
"Ya Tuhan, itu kan penyakit orang kaya." Mia terkejut saat mendengar jenis penyakit Haji Hamid.
"Memangnya penyakit bisa dibedain antara orang kaya sama orang miskin ya Mi?" tanya Kalin.
"Ya bukannya begitu. Tapi dulu waktu Mia di kampung gak ada yang sakit begitu. Ya paling demam berdarah sama tipes," ucap Mia.
"Terserah kamu deh Mi," ucap Kalin sembari menggelengkan kepalanya.
Kalin enggan berdebat dengan Mia. Karena ujung-ujungnya ia akan merasa darah tingginya kumat. Kalin segera mengakhiri sambungan teleponnya.
"Eh nanti dulu. Yaaaah," ucap Mia sedih saat Kalin lebih dulu mematikan sambungan teleponnya.
Mia mengirim pesan kepada Kalin. Ia meminta foto Haji Hamid terkini. Tak lama Kalin membalas pesan Mia dengan sebuah foto.
Mia menutup mulutnya saat melihat Haji Hamid yang terbaring menutup matanya. Berbagai selang terhubung antara tubuh Haji Hamid dengan alat medis di sampingnya.
"Pak Haji, kuat ya! Nanti Mia ke sana ya! Tunggu Mia. Maafin Mia Pak Haji," ucap Mia.
Mata Mia masih terus menatap layar ponsel yang ada di genggamannya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Tubuh Haji Hamid yang sudah semakin kurus membuat Mia sedih. Dulu, meskipun usianya terpaut jauh dengannya, Haji Hamid selalu memperhatikan kesehatan tubuhnya.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion.
Dion terkejut saat melihat Mia menangis. Bukannya menjawab, Mia malah memeluk Dion dan menangis kembali.
"Mi, kamu kenapa?" tanya Dion lagi.
"Ini A," ucap Mia.
Tidak bisa menjelaskan apa yang membuatnya menangis, Mia memberikan ponselnya pada Dion.
"Siapa dia?" tanya Dion setelah melihat foto Haji Hamid.
"Dia, dia," ucap Mia.
Ucapannya tidak selesai karena tangisnya semakin keras dan membuat Dion panik.
"Minum dulu, minum dulu!" ucap Dion sembari memberikan segelas air dari atas nakas.
Mia menggeleng. Ia tetap memeluk Dion tanpa menerima gelas itu.
"Minum dulu Mi! Biar kamu tenang ya!" ucap Dion.
Akhirnya Mia menerima gelas itu dan meminum airnya hingga habis. Dion membiarkan Mia agar tenang. Baru ia kembali membahas foto itu.
"Apa dia Haji Hamid itu?" tanya Dion.
Mia mengangguk.
"Lalu kenapa kamu menangis? Nanti kita akan ke sana," ucap Dion.
"Mia takut Pak Haji keburu meninggal," ucap Mia.
"Huusssst, kamu jangan begitu! Doain aja biar dia cepat sembuh," ucap Dion.
Meskipun Dion tahu keadaannya begitu parah, namun tidak ada salahnya jika kita berharap yang baik.
"Tapi penyakitnya parah A. Pak Haji udah gak sadar," ucap Mia.
"Kamu mau ke sana lebih cepat?" tanya Dion.
Mau, Mia mau ke sana sekarang juga. Tapi Mia sadar itu tidak mudah. Ada acara lamaran yang harus dipersiapkan. Meskipun sudah ada orang yang dipercaya untuk mengurus semuanya, tapi Mia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Karena sampai saat ini pun, Mia masih mengontrol perkembangan persiapan acara lamaran itu.
Lagi pula ia berangkat dengan siapa? Haruskah ia meninggalkan Dion untuk menjenguk Haji Hamid.
"Gak A, nanti aja sama Aa. Mia mau ke sana sama Aa," ucap Mia.
Jawaban tepat, sesuai apa yang diinginkan oleh Dion.
Akhirnya kamu tetap memprioritaskan aku, Mi. Terima kasih, sayang.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1