Janda Bersegel

Janda Bersegel
Maaas, awaaaaas!


__ADS_3

"Mas, jadi gimana?" tanya Mia.


"Entahlah," jawab Danu pusing.


"Ini sudah hampir malam, kita mau tidur do hotel mas?" tanya Mia.


Danu mengangguk. Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang akhir-akhir ini selalu menekannya membuat Danu enggan bertemu dengan mereka. Danu tidak ingin ia semakin stres dengan pertanyaan yang itu-itu saja.


"Tapi Mia tidurnya sama mas ya! Mia gak mau tidur sendiri," ucap Mia mengingat Danu memesan dua kamar.


Danu salah jika menganggap Mia akan marah dan tidak ingin tidur dengannya hingga ia harus memesan dua kamar. Mendengar permintaan Mia, Danu langsung tersenyum lebar. Ternyata Mia masih menjadi Mia yang dulu.


Dering ponsel yang tak henti membuat Danu kesal dan mematikan ponselnya. Kini giliran ponsel Mia yang tak kunjung henti. Mia meraih ponselnya namun ditahan oleh Danu.


"Biarkan saja!" ucap Danu.


"Tapi mas, ini mami." Mia menunjukkan ponselnya.


"Iya, aku tahu. Biarkan saja! Aku hanya ingin menikmati malam ini berdua bersamamu," ucap Danu memeluk Mia dan menyimpan ponsel Mia.


Mia hanya bisa pasrah. Mungkin ini lebih baik dari pada melihat Danu begitu tertekan, walaupun hati Mia merasa sangat tidak nyaman. Mia merasa sangat tidak enak hati dengan sikapnya yang mengabaikan panggilan dari ibu mertuanya.


Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan adalah sosok orang tua yang sangat baik dan perhatian. Namun keinginannya untuk memiliki anak yang tak kunjung terwujud membuat Mia merasa kalau mereka berubah. Lebih protektif dan membuat Mia merasa terganggu. Mia harus ini dan itu, tidak boleh ini dan itu. Semuanya mereka atur hingga Mia merasa menjadi seorang budak.


Mia tidak lagi merasa hidup bebas dan bahagia. Tekanan demi tekanan juga tak hanya dirasakan oleh Mia, Danu juga merasakan kembali tekanan itu semakin nyata dan besar.


Perubahan sikap kedua orangtuanya bisa dihadapi oleh Mia, namun tidak oleh Danu. Tekanan yang dialami Danu tidak melulu atas dirinya, tapi melihat Mia ditekan terus menerus tanpa kesalahnnya membuat Danu menjadi semakin tertekan.


Kala mentari pagi mulai memberikan kehangatan pada dua insan yang tengah tidur nyenyak, Mia terbangun saat mendengar gedoran pintu kamar hotelnya.


"Mami?" gumam Mia.


Mia memastikan pendengarannya. Benar, itu suara Nyonya Nathalie.


"Mas, bangun. Di luar ada mami," ucap Mia menepuk-nepuk pelan pipi Danu.


Danu tak bergeming, ia justru mempererat pelukannya. Mia mengguncang tubuh Danu dan memberitahukan kembali kalau Nyonya Nathalie ada di luar. Melihat Danu yang tak mau membuka matanya, Mia melepaskan tangan Danu yang memeluknya dan membuka pintu.


Danu enggan membuka matanya. Bukan karena masih ngantuk, tapi ia tak ingin berdebat dengan ibunya di pagi ini.


PLAAAAK


suara tamparan dan rintihan membuat Danu membuka matanya dan dengan cepat berlari memburu Mia.


Makian Nyonya Nathalie membuat Danu merasa sangat geram. Kenapa harus Mia yang disalahkan? Semuanya salah Danu. Mia selalu jadi korban karena keegoisan Danu yang tidak mau memberi tahu penyakitnya.


Danu membela Mia. Meskipun Mia terlihat baik-baik saja, tapi Danu yakin hati wanita yang ada dalam pelukannya itu sangat hancur. Danu bahkan tidak mengerti saat Mia dimaki dan ditampar oleh Nyonya Nathalie, tak ada sedikitpun air mata yang mengalir di pipinya. Padahal yang Danu tahu kalau Mia adalah wanita yang cengeng.


Mungkinkah Mia sudah berubah? Kenapa bisa seecepat itu Mia yang cengeng menjadi wanita kuat yang bisa menahan air matanya.


"Mas, sudahlah. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik," ucap Mia menenangkan suaminya.


"Tapi Mami sudah keterlaluan padamu," ucap Danu.


"Oh, jadi kamu lebih membela wanita ini?" ucap Nyonya Nathalie menunjuk wajah Mia. "Wanita yang baru kau kenal beberapa hari saja dibanding mami? Wanita yang melahirknmu dan membesarkanmu?" lanjut Nyonya Nathalie dengan kesal dan mulai menangis.


"Tidak begitu mami," ucap Mia menenangkan ibu mertuanya.


"Diam kau! Tidak perlu mencari muka di depan anakku. Kau puas bisa dibela oleh Danu? Kau senang kan melihat anakku lebih membelamu dari pada aku?" ucap Nyonya Nathalie.


"Mami, cukup! Mia tidak salah. Aku yang salah," ucap Danu.


"Ya, kau salah karena selalu membela istriny yang mandul itu," ucap Nyonya Nathalie kesal.


"Mami, masuk dulu. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik," ucap Mia menarik tangan ibu mertuanya.


Nyonya Nathalie menolak tangan Mia namun ia masuk menerobos Mia dan Danu. Ia duduk di atas sofa dengan wajah kesalnya. Mia duduk di bawah dan menunduk. Tidak perlu ditanya Nyonya Nathalie tahu dari mana mereka menginap di sana, itu bukan perkara yang sulit untuk wanita yang tengah emosi itu.


"Apa maksud kalian menginap di hotel? Ingin menghindari mami?" Tany Nyonya Nathalie.


"Bukan begitu Mi," ucap Mia.


"Diam kau! Aku ingin anakku yang menjelaskan semuanya," ucap Nyonya Nathalie.


Apa? Jadi sekarang ibu mertuanya sudah tidak menganggapnya sebagai anak lagi? Sakit hati Mia mendengar semua ucapan Nyonya Nathalie. Danu yang melihat Mia menyeka sudut matanya menjadi ikut kesal. Mia sudah terlalu sakit hingga ia tak bisa menahan rasa sakit atas ucapan Nyonya Nathalie.


Danu sudah memegang dadanya. Rasa sakit dan marah sudah bersatu. Sesak rasanya, Danu bingung apa yang harus Danu lakukan. Danu mengumpulkan keberaniannya untuk jujur pada ibunya tentang apa yang terjadi.


"Mia, Mia tidak salah. Danu yang salah. Bukan Mia yang mandul, tapi Danu yang tak bisa melakukan semua itu." Dengan suara lirih, Danu mengungkapkan semuanya.

__ADS_1


Rahasia yang selama ini Danu pendam akhirnya harus ia bongkar karena tak sanggup melihat Mia diperlakukan seenaknya oleh Nyonya Nathalie.


"Mas?" ucap Mia tak percaya.


"Apa?" ucap Nyonya Nathalie dengan mengerutkan dahinya.


"Ya, itulah kenyataannya." Danu bahkan sudah tak sanggup jika harus menatap kedua wanita yang ada di hadapannya.


"Cukup Danu. Jangan membela wanita ini habis-habisan. Mami gak mau mendengar omong kosong ini. Kamu pulang sekarang! Jangan bawa wanita ini, karena mami akan mengurus surat cerai kalian. Mami akan carikan wanita yang bisa memberimu keturunan," ucap Nyonya Nathalie.


"Aku yang salah. Menikah dengan siapapun, aku tetap tidak bisa memberi mami cucu. Jadi aku mohon jangan macam-macam dengan pernikahanku," ucap Danu.


"Kau ini, lemah sekali. Kau tunduk oleh janda yang mandul ini? Untuk apa kamu mempertahankan pernikahan yang tidak akan membahagiakan ini?" desak Nyonya Nathalie.


"Aku bahagia dengan Mia. Mia kebahagiaanku," ucap Danu.


"Omong kosong! Tidak akan bahagia jika aku tidak memiliki keturunan. Mami menyesal sudah merestui kalian menikah," ucap Nyonya Nathalie.


"Mami lihat ini! Ini bukti kalau Mia tidak mandul. Mia tidak salah apa-apa," ucap Danu menyerahkan sebuah amplop hasil pemeriksaan dokter.


"Mami tidak butuh ini!" ucap Nyonya Nathalie sambil melemparkan amplop yang Danu serahkan padanya. "Yang mami mau kamu pulang sekaranh juga! Mami tunggu kamu di rumah, Danu!" lanjut Nyonya Nathalie.


BLAAAAM


Pintu kamar hotel itu tertutup keras saat Nyonya Nathalie keluar dari kamar Danu dengan sangat emosi.


"Mas," ucap Mia.


"Maafkan mami," ucap Danu pelan.


"Mia yang harusnya minta maaf karena tidak bisa kuat di depan mami," ucap Mia.


Ya, emosi Danu memuncak saat melihat wanita yang ia cintai dan mencintainya dengan tulus itu menangis. Bukan marah pada ibunya, Danu marah pada dirinya sendiri karena sudah menciptakan masalah besar seperti ini.


"Kita pulang ya mas!" ajak Mia.


"Tidak," tolak Danu.


"Mas beruntung karena masih memiliki orang tua yang sangat peduli. Mas gak tahu kan gimana rasanya jadi Mia? Mia rindu Ibu. Ibu yang memarahi Mia karena kepeduliaannya pada Mia," ucap Mia.


Danu menunduk. Mungkin benar apa yang diucapkan Mia, tapi jujur saja sekarang Danu justru merasa sedang tidak beruntung. Bahkan kalau bisa memilih, Danu akan meminta untuk tidak dilahirkan ke dunia ini.


"Aku tidak ingin pulang," jawab Danu.


Mia tidak mau memaksa Danu lagi. Itu hanya akan membuat Danu semakin stres dan tidak baik untuk kesehatannya.


Danu dan Mia berada dalam satu kamar namun mereka tidak bicara sepatah katapun. Mia tidak mau mengganggu suasana hati Danu yang sedang kacau.


Suasana hening itu berlalu cukup lama. Sampai akhirny pukul sebelas siang, Danu menerima panggilan dari ibunya dan langsung mengubah pikirannya. Danu yang enggan pulang kini terburu-buru untuk segera meninggalkan hotel itu.


"Mau kemana mas?" tanya Mia yang melihat Danu panik.


"Aku harus ke rumah sakit, papi kumat. Kamu tunggu di sini!" ucap Danu.


"Apa? Mia mau ikut mas. Mia mau lihat keadaan papi," ucap Mia.


"Kamu tunggu di sini. Baik-baik di sini!" ucap Danu.


Entah mengapa Danu merasakan firasat buruk. Hatinya tak enak dan itu membuatnya tidak nyaman. Mungkin karena rasa khawatirnya pada ayahnya. Semarah-marahnya Danu pada orang tuanya, ia tetap peduli dan takut jika terjadi apa-apa pada mereka.


Namun karena Mia terus merengek dan meminta ikut, akhirnya Danu tidak punya pilihan lain. Danu memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kepalanya dipenuhi rasa khawatir yang terlalu besar pada Tuan Ferdinan.


"Mas, hati-hati!" ucap Mia.


"Kamu mual?" tanya Danu tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan.


"Gak mas. Cuma Mia takut saja. Mas bawa mobilnya terlalu Cepat. Hati-hati mas!" ucap Mia mengingatkan lagi.


"Kamu tenang saja Mia. Jangan banyak bicara," ucap Danu sambil terus memacu mobilnya.


"Maaaas, awaaaaaas!" teriak Mia.


BRUUUGGGHHH


Nyonya Nathalie berteriak histeris saat mendapat informasi kalau mobil yang Danu tumpangi kecelakaan. Mobil mewah kesayangan Danu itu ringsek setelah menabrak truk penganggut semen.


Danu dan Mia dibawa ke rumah sakit. Mia dengan kesadarannya yang minim mendengar suara Nyonya Nathalie menangis histeris dan memanggil nama Danu.


Danu? Apa yang terjadi dengan suaminya?

__ADS_1


Mia memaksa membuka matanya. Meskipun penglihatannya kabur, tapi Mia melihat sosok yang ia kenali. Itu Tuan Ferdinan. Bukankah ayab mertuanya itu sedang dirawat? Tapi kenapa dia ada di sini?


Setelah itu Mia tidak mendengar dan melihat apapun lagi. Mia segera di bawa ke ruangan tindakan oleh Dokter.


Setelah Mia sadar, Mia membuka matanya perlahan.


"Anda sudah sadar Nyonya?" tanya Dokter.


"Dimana saya?" tanya Mia sambil memegang kepalanya yang terasa sangat berat.


"Anda di rumah sakit," jawab Dokter.


"Rumah sakit?" gumam Mia.


Mia mengingat apa yang terjadi padanya. Setelah ia mengingat semua kejadian kecelakaan itu, ia berteriak.


"Mana mas Danu? Dimana suami Mia Dokter?" tanya Mia histeris.


"Tenang Nyonya, tenang." Seorang perawat membantu menenangkan Mia.


Setelah Mia agak tenang, perawat itu memberi tahu semua kenyataan pahit itu.


"Tidak mungkiiiiiiin! Kamu pasti bohong!" teriak Mia.


Mia merasa dunianya gelap. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Napasnya terasa sangat sesak.


"Nyonya, Nyonya," panggil perawat sambil mengguncang bahu Mia.


Mia kembali tidak sadarkan diri. Setelah sepuluh menit, Mia kembali membuka matanya. Tubuhnya yang lemas, dan air mata yang mengalir deras menjadi saksi betapa hancurnya hati Mia.


"Dokter, Mia ingin pulang. Mia ingin bertemu dengan Mas Danu untuk yang terakhir kalinya. Mia mohon," ucap Mia dengan suara yang bergetar.


"Maaf Nyonya, tapi keadaan Anda tidak memungkinkan. Kaki Anda patah dan kami baru saja menindaknya. Lebih baik Nyonya istirahat saja!" ucap Dokter itu.


Dengan menahan rasa sedihnya, seorang dokter wanita berusia empat puluh tahun itu memeluk Mia. Bukan hanya sedih karena melihat kondisi Mia, tapi juga sedih karena Nyonya Nathalie melarangnya untuk menemui Danu. Nyonya Nathalie tidak memperbolehkan Mia menginjakkan kaki di rumahnya.


Bahkan Nyonya Nathalie menyebut Mia adalah pembunuh Danu. Karena Mia ikut dalam mobil itu, Danu menjadi sial. Semua gara-gara Mia.


"Maafkan atas semua kelancangan saya, Nyonya. Tapi saya yakin Anda wanita yang sangat kuat," ucap Dokter itu.


Mia tidak menjawab. Ia hanya terus menangis dan meratapi nasibnya. Mia merasa di saat sebuah kebahagiaan menghampirinya, justru seribu luka merenggut bahagianya.


Bagaimana mungkin di hari pemakaman Danu, Mia tidak melihat jasad terakhir suaminya. Jasad dari pria yang sudah membuatnya merasakan arti cinta. Pria yang mampu membahagiakannya dari hal kecil, pria yang telah mengubah banyak hal dalam hidup Mia.


"Maaaaas," teriak Mia.


"Sabar Nyonya!" ucap Dokter itu menenangkan Mia.


Mia beberapa kali meronta hingga akhirnya ia harus pasrah dan menyerah. Ia memasrahkan dan menyerahkan semuanya pada Tuhan yang sudah mengatur hidupnya. Tuhan yang sudah memberinya jalan hidup seperti itu. Ini bukan keinginannya, bukan harapannya. Namun Mia yakin kalau ini adalah rencana indah Tuhan untuk Mia.


Meskipun Mia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hidupnya nanti. Mia seakan sudah kehilangan arah, namun Mia berusaha mengambil sisi positif dari semua yang terjadi.


"Mas gak akan tertekan lagi. Mas bahagia di surga ya! Mia janji akan selalu mendoakan mas," gumam Mia yang diikuti derai air mata.


Dokter itu menemani dan menenangkan Mia selama Mia masih tidak bisa mengontrol emosinya. Setelah emosi Mia mereda, dokter itu pamit untuk kembali ke ruangannya.


Melihat anggukan Mia, dokter itu mengulurkan tangannya.


"Saya Leoni," ucap Dokter itu.


Mia menatap wajah sang dokter dan menyambut uluran tangannya.


"Mia. Terima kasih sudah membantu dan menenangkan Mia ya Dokter.


Dokter Leoni mengangguk. "Tidak perlu sungkan, jika ada keluhan Anda bisa panggil perawat. Saya permisi," ucap Dokter Leoni.


Mia memandangi punggung wanita berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya hingga hilang dari pandangannya. Mia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Tak ada siapapun. Ia hanya sendiri. Benar-benar sendiri.


"Bu, mungkin ini karma karena saat ibu sakit, Mia membiarkan ibu sendiri. Mia ingin pergi menemui ibu dan Mas Danu," gumam Mia.


Mia menggenggam erat selimut yang menutupi tubuhhya. Ia melampiaskan rasa sakitnya. Tapi tiba-tiba Mia tersenyum saat mengingat kalau Danu sudah membuktikan janjinya. Danu sudah menjaga Mia hingga akhir hayatnya. Ya, Danu sudah membuktikan janjinya itu.


######################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2