Janda Bersegel

Janda Bersegel
Skenario Tuhan


__ADS_3

Mia menggantung pakaiannya dan Dion. Bibirnya tersenyum lebar namun matanya nampak berlinang.


"Kamu sedih atau bahagia sih?" tanya Dion.


"Mia bahagia A. Sebentar lagi Mia akan melihat Sindi benar-benar bahagia di hari pernikahannya. Tapi Mia sedih karena Papa Felix sama Rian gak bisa datang. Padahal mereka deket banget sama Sindi," ucap Mia.


Dion menahan diri untuk tidak menceritakan apapun pada Mia. Ia hanya berusaha untuk membuat Mia tenang dan mengajaknya untuk tidur.


Hari demi hari terlewati dengan kesibukan yang mulai dirasakan oleh Mia. Apalagi saat besok adalah hari yang benar-benar ditunggu. Ponsel berdering dari satu panggilan ke panggilan yang lain. Rumah memang tidak akan digunakan untuk pesta, namun beberapa kamar tamu sengaja disiapkan jika ada teman Tuan Wira atau Nyonya Helen ingin bermalam di sana.


"Semuanya sudah aman kan?" tanya Nyonya Helen pada semua pekerja yang berada di dapur.


"Aman Nyonya. Semua sudah dikerjakan sesuai dengan arahan Nyonya," ucap salah seorang pekerja di sana.


"Baguslah," ucap Nyonya Helen sembari mengusap dadanya.


"Mama cape ya?" tanya Sindi.


"Gak," jawab Nyonya Helen.


"Maafin aku ya Ma," ucap Sindi.


"Kamu kenapa sih minta maaf?" tanya Nyonya Helen sembari memeluk Sindi.


"Aku ngerepotin Mama," jawab Sindi.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang istri dan menantu. Mama takut kalau nanti udah nikah, kamu lupain Mama." Nyonya Helen mengeratkan pelukannya.


"Mama kok ngomongnya gitu sih?" tanya Sindi.


"Kamu akan tinggal di sana kan? Mereka pasti akan menyayangi kamu. Mungkin kamu akan merasa mereka lebih menyayangi kamu, karena Danu adalah suami kamu. Dan dia adalah ibu dari pria yang kamu cintai," ucap Nyonya Helen.


"Tapi Mama juga ibunya aku kan? Mama juga sayang sama aku kan?" tanya Sindi.


"Tentu. Mama sayang sama kamu," ucap Nyonya Helen.


"Gak ada alasan untuk membandingkan Mama sama Bu Nathalie. Kalian adalah ibu hebat yang akan menjadi kebanggaan aku," ucap Sindi.


"Terima kasih banyak ya Sin," ucap Nyonya Helen sembari mencium pipi Sindi.


"Mama, aku yang seharusnya berterima kasih. Mama udah membuat aku jadi orang yang paling beruntung di dunia ini," ucap Sindi.


"Udah ah. Kamu bikin Mama jadi sedih. Sekarang kamu tidur. Istirahat. Besok kita harus ke gedung pagi sekali," ucap Nyonya Helen.


Sindi pamit untuk tidur. Padahal sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Nyonya Helen. Yang mungkin saja nanti waktu itu akan terasa semakin sulit untuknya.


Perasaan Sindi saat ini campur aduk. Bahagia, takut, tegang, yang akhirnya membuat Sindi tidak bisa tidur. Tidak ada komunikasi dengan Danu. Sepertinya malam ini Danu sudah tidur. Atau mungkin ia sibuk dengan persiapan acara besok. Ah, Sindi tidak tahu. Ia hanya sedang berusaha menenangkan hatinya tanpa memikirkan yang lain.


Entah jam berapa Sindi akhirnya tidur. Tidak lama karena alarm di ponselnya membangunkannya. Sindi memijat kepalanya yang terasa pusing karena kurang tidur.


"Sin, bangun!" ucap Nyonya Helen.


"Mama," ucap Sindi.


Dengan cepat Sindi membuka pintu kamarnya.


"Aduh, calon pengantin semangat banget. Mama pikir kamu belum bangun," ucap Nyonya Helen.


"Ah Mama," ucap Sindi malu-malu.


Sindi segera bersiap untuk berangkat ke gedung ditemani dengan Nyonya Helen. Sementara Tuan Wira akan datang nanti bersama Mia dan Dion beserta cucu kembarnya.


"Sin, kamu kok keringetan dingin begini?" goda Nyonya Helen.


"Gak tahu Ma," jawab Sindi.


Selama perjalanan, Sindi tidak melepaskan tangannya dari genggaman Nyonya Helen. Sampai akhirnya penata rias menarik tangan Sindi saat mereka sudah sampai di gedung.

__ADS_1


"Ih, lama sekali. Ayo!" ucap penata rias.


Seperti kebanyakan, dia pria gemulai yang beberapa kali mengungkapkan rasa kagum atas kecantikan Sindi. Karena merasa kurang nyaman, Sindi hanya tersenyum tanpa meladeni ocehan penata rias itu.


Jarum jam terus bergerak. Berputar melewati angka demi angka. Terasa begitu cepat hingga dada Sindi terasa begitu bergemuruh.


"Ma," ucap Sindi saat riasan sudah selesai.


"Sindi, kamu cantik sekali. Ini luar biasa," ucap Nyonya Helen.


"Mama berlebihan," ucap Sindi.


"Mama serius. Kamu jauh lebih cantik dari biasanya," ucap Nyonya Helen.


Sindi hanya tersipu malu saat Nyonya Helen beberapa kali memujinya. Rasanya ini seperti mimpi. Bahkan Sindi sendiri merasa tidak percaya jika tangan si penata rias itu berhasil menyulap dirinya. Riasan yang menempel di wajahnya sangat apik, membuat Sindi puas dengan hasil akhirnya.


"Ayo sayang!" ajak Nyonya Helen.


Langkah demi langkah membawa Sindi menuju tempat akad. Sudah banyak sekali orang yang menunggunya di sana. Mereka siap menjadi saksi pernikahan yang menyatukan dua keluarga sukses di negeri ini.


"Sindi," ucap Danu saat melihat Sindi sudah mendekat.


"Apa?" tanya Sindi dengan polosnya.


"Cantik," jawab Danu.


Sindi hanya tersenyum. Ia berusaha menyembunyikan perasaan bahagianya yang berlebihan. Ia tidak ingin terlihat salah tingkah di hadapan Danu.


"SAH." Kata yang terdengar begitu indah di telinga Sindi.


Suara riuh tepuk tangan membuat Sindi meneteskan air mata. Danu merangkul bahu Sindi untuk menguatkan istrinya. Istri? Ya, kini Sindi sudah resmi menjadi istri Danu.


"Selamat sayang," ucap Nyonya Helen yang segera memeluk Sindi dengan begitu erat.


Tangis Nyonya Helen pecah saat melepas Sindi menjadi istri Danu. Nyonya Nathalie yang duduk di dekat Sindi tidak berulah. Ia justru nampak mengusap air matanya saat melihat adegan penuh haru itu.


"Mia kemana Pah?" bisik Nyonya Helen.


"Tadi sih sama teman-temannya," jawab Tuan Wira.


"Kok belum salaman ke sini ya?" tanya Nyonya Helen.


"Masih ngantri Ma," jawab Tuan Wira yang berusaha membuat Nyonya Helen lebih tenang.


Nyonya Helen tetap berusaha tersenyum sementara matanya sibuk mencari Mia dan Dion di tengah kerumunan banyak sekali tamu undangan.


"Ma," ucap Mia.


"Eh, kamu kemana aja?" tanya Nyonya Helen.


"Tadi Mia ke luar sebentar. Kata perawat, Narendra nangis. Mungkin berisik," jawab Mia.


"Kamu gak lihat ijab kabulnya dong?" tanya Nyonya Helen.


"Ya lihat dong Ma. Mia malah udah rekam," jawab Mia.


"Jadi kamu dari tadi di sini?" tanya Nyonya Helen.


"Iya. Masa Mama gak lihat Mia di sini tadi?" tanya Mia.


"Mama sibuk ngusap air mata dari tadi. Takut make up belepotan," jawab Tuan Wira sembari tertawa.


"Ih Papa," ucap Nyonya Helen.


Mia hanya tersenyum. Lalu sebuah pelukan hangat Mia berikan untuk ungkapan bahagianya pada Nyonya Helen.


"Selamat ya Ma. Mama berhasil membuat Sindi bahagia," ucap Mia.

__ADS_1


"Terima kasih Mi," ucap Nyonya Helen.


Langkah Mia terus bergerak mendekati pasangan pengantin baru yang tengah bahagia. Sementara Dion mengikutinya di belakang. Danu sudah ada di depan mata. Mia tersenyum dan mengulurkan tangan.


"Selamat ya Mas, nitip Sindi." Mia segera melepaskan tangannya.


Mia sadar jika pria di belakangnya siap menjadi harimau galak yang akan menerkamnya.


"Terima kasih. Kamu jangan khawatir Mi," ucap Danu.


"Semalat," ucap Dion.


"Terima kasih," ucap Danu.


Tidak banyak bicara. Keduanya tidak ingin jika ada salah kata yang bisa membuat acara menjadi tidak nyaman bagi keduanya.


Mia melanjutkan langkahnya sampai akhirnya ia berhadapan dengan Sindi.


"Mia," ucap Sindi.


Tangan Sindi langsung menggenggam erat tangan Mia dan memeluknya.


"Selamat ya Sin," ucap Mia.


"Terima kasih karena kamu udah bawa aku sampai ke titik ini. Kalau bukan karena kamu, aku gak mungkin ada di sini. Aku belum tentu sebahagia ini," ucap Mia.


"Sin, ini semua takdir. Takdirmu memang seperti ini. Tuhan memang sudah menyiapkan semuanya untukmu," ucap Mia.


"Mia, kamu memang selalu merendah." Sindi kembali memeluk Mia.


"Selamat ya Sin," ucap Dion.


"Terima kasih Tuan," ucap Sindi.


Sesingkat itu. Percuma Sindi panjang lebar karena pada akhirnya Dion hanya akan menjawab iya dan iya. Apalagi saat Dion tahu jika Mia saat ini tengah berhadapan dengan Nyonya Nathalie.


"Selamat Nyonya," ucap Mia.


Tanpa diduga, Nyonya Nathalie memeluk Mia begitu erat.


"Terima kasih sudah hadir di keluarga kami dan kembali membawa kebahagiaan dengan menghadirkan Sindi," ucap Nyonya Nathalie.


Seketika Mia kembali ingat masa lalunya. Namun dengan kewarasannya Mia segera menepis semua itu.


"Sama-sama Nyonya. Mia hanya menjalani skenario Tuhan saja. Gak lebih," jawab Mia.


Simple dan begitu elegan. Tidak nampak seperti Mia yang Nyonya Nathalie kenal saat menjadi menantunya.


"Maaf sempat mengecawakan dan menyakitimu," ucap Nyonya Nathalie.


"Terima kasih untuk semuanya. Berkat Nyonya, Mia bertemu dengan kebahagiaan hidup Mia. Tdiak perlu minta maaf. Semuanya berjalan dengan semestinya," ucap Mia sembari tersenyum.


Langkahnya kembali dilanjutkan dan menyalami Tuan Ferdinan. Tidak banyak bicara, Mia hanya tersenyum dan mengucapkan selamat. Begitu juga dengan Tuan Ferdinan, hanya mengucapkan terima kasih dan membalas senyuman Mia.


Sementara Dion, ia terlihat senang dan bangga saat Mia begitu santai dan berkelas saat berbicara dengan Nyonya Nathalie.


Maaf Nyonya, tapi istriku bukan lagi menantumu.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2