Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kok cepet?


__ADS_3

"Mama dan Papa kamu lucu, Dion." Tuan Felix tertawa.


"Aku juga gak nyangka kalau saingan Papa ternyata bos kardus," ucap Dion.


"Husssst," ucap Mia menyikut Dion.


Dion mulai berhenti tertawa dan melanjutkan sarapannya. Setelah sarapan, Dion dan Mia berangkat ke kantor. Sementara Tuan Felix dan Rian pergi ke Bandung untuk berkunjung ke makam Bu Ningsih.


Sebenarnya Mia ingin ikut bersama Tuan Felix ke Bandung. Hanya saja, Tuan Felix melarangnya karena ini adalah hari pertama Mia bekerja.


Beberapa foto Tuan Felix dan Rian yang berada di Bandung sampai ke ponsel Mia. Senyum senang dan sedih bercampur dalam diri Mia.


Pah terima kasih atas kasih sayang Papa buat Mia dan Ibu. Seandainya ibu bertemu dulu dengan Papa sebelum pergi, Mia yakin Ibu pasti bahagia.


"Kamu kenapa?" tanya Dion.


"Lihat ini A!" ucap Mia sembari menunjukkan foto-foto yang dikirim oleh Tuan Felix.


"Ya ampun, aku jadi mau ke sana." Dion merasa kagum dengan perubahan tempat itu.


"Kapan A?" tanya Mia.


"Nanti kita atur jadwalnya ya!" ucap Dion.


"Iya A," ucap Mia.


Meskipun Mia sendiri tidak tahu kapan waktu itu datang, namun yang Mia tahu Dion pasti akan menepati janjinya. Ia hanya harus bersabar menunggu waktu itu.


Mia dan Dion bekerja secara profesional. Mereka selalu menerapkan prinsip yang sama. Cara kerjanya menentukan nasib banyak karyawan. Kalau mereka seenaknya, ada berapa karyawan yang akan merasakan dampaknya.


Hari-hari Mia dan Dion berjalan dengan begitu menyenangkan. Tidak ada masalah di kantor maupun di rumah. Hanya saja sikap Tuan Wira yang kadang-kadang berubah saat kembali membahas bos kardus itu.


Sampai akhirnya Mia harus bersedih karena Tuan Felix dan Rian akan kembali ke Jerman. Tangis Mia mengantarkan keduanya dengan sangat berat. Hampir dua minggu Tuan Felix dan Rian tinggal di Indonesia, namun terasa begitu singkat bagi Mia.


"Nanti kita akan ketemu lagi. Jangan menangis seperti ini Mia. Papa gak bisa lihat kamu begini," ucap Tuan Felix.


"Mia maunya sama Papa," ucap Mia.


Tuan Felix segera memeluk Mia. Membiarkan Mia menangis sesenggukan dalam pelukannya. Rian yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup saat melihat Mia begitu sedih.


"Mia, Papa udah berhasil membuat perusahaan ini buat kamu dan Dion. Tugas kamu adalah urus dan kembangkan perusahaan ini. Biar nanti Papa bisa tinggal di sini tanpa bekerja. Kamu mau kan biayai Papa nanti kalau sudah tua?" tanya Tuan Felix.


"Papa jangan bilang begitu. Apa yang Mia punya semuanya milik Papa," ucap Mia.


Tuan Felix tersenyum. Sepertinya ia sudah yakin dengan kasih sayang Mia. Sebenarnya ia hanya sedang menguji Mia. Ia akan menyelesaikan studi Rian dan membuat perusahaannya di Jerman terus berkembang. Biar nanti Rian yang akan melanjutkan perusahaannya.


Tuan Felix juga tidak perlu khawatir tentang biaya masa tuanya. Ia sudah menyiapkan semuanya tanpa harus merepotkan Mia. Ia juga menyiapkan orang yang bisa dipercaya. Jaga-jaga jika suatu hari nanti Rian tidak mau tinggal di Jerman.


"Papa berangkat ya! Jaga cucu kembar Papa," ucap Tuan Felix.


"Iya Pah," ucap Mia dengan mengusap kedua pipinya yang sudah banjir air mata.

__ADS_1


"Tuan Felix tunggu," ucap Sindi.


"Sindi?" ucap Tuan Felix dan Mia bersamaan.


"Ini untukmu," ucap Sindi.


Sebuah foto dengan bingkai hasil karya tangan Sindi.


"Buatku?" tanya Tuan Felix sembari menerima bingkai foto itu.


"Iya," jawab Sindi.


"Kamu yang buat?" tanya Tuan Felix.


Sindi mengangguk. Ia begitu senang dengan hadiah yang diberikan oleh Sindi. Bingkai fotonya memang buatan Sindi, namun foto ynh terpajang adalah foto Mia dan Tuan Felix yang Sindi ambil secara diam-diam.


"Terima kasih ya!" ucap Tuan Felix.


Tuan Felix dan Rian berpamitan pada Mia dan keluarga Dion. Tangis kembali pecah saat Mia tidak lagi melihat dua pria itu dalam pandangannya.


"Mi, ada aku." Dion memeluk Mia.


"Aku juga ada di sini," ucap Sindi.


"Mama juga ada di sini," ucap Nyonya Helen.


"Papa juga Mi," ucap Tuan Wira.


"Terima kasih ya semuanya," ucap Mia.


Mia bergelut dengan waktu. Berusaha menguatkan dirinya. Kemajuan perusahaan menajdi prioritas kedua setelah keluarganya. Meskipun Mia bekerja, ia tidak lupa dengan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri.


Hal itu yang selalu membuat Nyonya Helen dan Tuan Wira merasa bangga dan terus mendukung kinerja Mia. Sehingga Mia menjadi lebih semangat dan perusahaannya bisa berkembang pesat.


Tidak hanya Mia dan Dion, perusahaan pusat yang dipegang oleh Reza pun semakin berkembang. Rupanya kinerja Reza tidak bisa dianggap main-main. Reza yang Tuan Wira kenal sebagai pemain PS yang gila, ternyata seorang pekerja keras yang hebat.


Dalam waktu yang bersamaan. Kedua perusahaan itu menunjukkan grafik yang bagus dalam perkembangannya. Sehingga mereka akan merayakan semua keberhasilannya malam ini. Namun sayangnya, Reza tidak menghadiri undangan itu.


Setelah Dion mencari tahu alasan ketidakhadiran Reza, semua berangkat menuju rumah sakit. Ternyata Maya sedang berjuang, mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan buah cintanya dengan Reza.


"A, jangan cepat-cepat dong jalannya!" ucap Dion.


"Perasaan aku gak cepat-cepat banget kok," jawab Mia.


Mia yang sudah lama tidak menggunakan heels dibuat lelah saat berjalan terlalu jauh. Kakinya lecet dan sakit. Menyadari keadaan Mia, Dion segera jongkok dan siap menggendong Mia.


"Gak mau," tolak Mia.


"Biar gak sakit," ucap Dion.


"Nanti Mia disangka pasien. Gak mau ah," ucap Mia.

__ADS_1


"Dari pada naik kursi roda?" ancam Dion.


"Apalagi naik kursi roda. Ih gak mau," ucap Mia.


"Mau kakinya makin parah?" tanya Dion.


Dion merasa bersalah atas keadaan Mia. Karena memakai heels tinggi itu adalah sarannya. Ia memadukan dres dan heels tinggi itu agar terlihat lebih serasi. Ia tidak tahu kalau mereka akan pergi ke rumah sakit.


"Boleh gak Mia buka sepatunya?" tanya Mia.


"Boleh. Buka aja. Dari pada sakit," jawab Nyonya Helen.


Dion yang tengah bingung dengan permintaan Mia, dibuat geleng-geleng oleh jawaban Nyonya Helen. Benarkah Mia mau berjalan di area rumah sakit tanpa menggunakan alas kaki?


"Mama pikir di mesjid?" tanya Dion.


"Dari pada kita debat makin lama di sini," jawab Nyonya Helen.


Ya. Dion tidak menyadari jika hanya karena sepatu hak tinggi saja, mereka berdebat cukup lama di sana. Menyetujui ide gila Mia, Dion lakukan agar mereka segera bertemu dengan Reza dan Maya. Mereka pasti sedang butuh dukungan dari keluarga Dion.


"A, itu bayi Maya?" tanya Mia.


"Memangnya yang lahiran di sini cuma Maya?" tanya Dion.


"Ya kan cuma nanya A," ucap Mia.


"Tahu nih Dion. Udah mulai darah tinggi kali. Marah-marah terus kerjaannya," ucap Tuan Wira.


"Ya bukanny begitu Pah. Tapi Mia nanya begini udah beberapa kali. Masa tiap bayi yang lewat anaknya Reza," ucap Dion.


"Ya kamu jawab bukan kan cukup. Gak perlu jawab panjang-panjang sambil kesel begitu," ucap Tuan Wira.


Dion tidak menjawab lagi ucapan Tuan Wira. Ia sudah yakin akan kalah. Belum saja ia membela diri, Nyonya Helen sudah siap dengan jawaban yang pasti akan memojokkannya. Diam lebih baik bagi Dion saat ini.


"Dok, pasien atas nama Maya yang akan melahirkan di ruangan mana?" tanya Dion.


"Sudah dipindah ke ruang inap," jawab dokter.


"Loh, gak jadi lahiran?" tanya Mia.


"Sudah selesai Nyonya," jawab Dokter.


"Hah? Kok cepet? Mia waktu lahiran lama banget," ucap Mia.


Dokter menjelaskan bahwa lama atau cepatnya proses persalinan itu berbeda-beda.


"Jadi dimana ruangannya?" tanya Dion.


Dokter pun memberi tahu kamar inap Maya.


"Aduh Mia jadi gak sabar," ucap Mia.

__ADS_1


"Mau lahiran lahiran lagi?" tanya Dion.


"Bukan. Gak sabar lihat bayinya maksud Mia A," jawab Mia panik.


__ADS_2