
"Permisi," ucap pria berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.
Suara pria itu seketika membuat suasana di ruangan yang riuh karena perdebatan ibu dan anak, mendadak hening.
"Silahkan, dokter." Dion membuka pembicaraan.
"Bagaimana keadaan anak saya? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada penyakit yang serius kan Dokter? Tolong se--" pertanyaan Nyonya Helen yang sangat banyak itu membuat Dion harus memotongnya.
"Ma, biarkan Dokter menjelaskan dulu hasil pemeriksaannya." Dion mengingatkan. "Silahkan Dokter," lanjut Dion pada Dokter.
"Ah iya. Terima kasih," ucap Dokter.
Dokter pun mulai memperbaiki raut wajahnya. Maklum, ia cukup terkejut dengan rentetan pertanyaan Nyonya Helen yang menodongnya dengan nada bak ancaman.
"Setelah saya periksa, lambung Nyonya Dion tidak terlalu bermasalah. Tekanan darahnya juga tidak terlalu rendah. Maaf, apa Nyonya Dion tidak menggunakan alat kontrasepsi?" tanya Dokter.
"Aaaah, kamu hamil Mia. Kamu gak pakai alat kontrasepsi apa-apa kan?" tanya Nyonya Helen antusias.
"Ma, tenang dong. Biarkan Dokter memeriksa keadaan Mia," ucap Dion mengingatkan.
Sebenarnya Dion hanya tidak ingin Nyonya Helen kecewa. Sama halnya seperti Nyonya Helen, Dion juga memiliki harapan yang besar atas kehamilan Mia. Namun Dion takut kalau Mia belum hamil, itu akan membuatnya semuanya kecewa. Hingga Dion tidak terlalu percaya diri seperti Nyonya Helen.
"Tidak," jawab Mia.
"Kapan terakhir Anda menstruasi?" tanya Dokter.
"Apa maksud Anda bertanya seperti itu?" tanya Dion yang merasa privasi istrinya terancam.
Bisa-bisanya dokter ini bertanya tentang menstruasi istriku.
Dion yang sangat mencintai Mia mungkin terkesan posesif atas Mia. Pertanyaan dokter itu membuat Dion berburuk sangka. Karena sebenarnya Dion sendiri tidak tahu tentang tanggal menstruasi istrinya dan menurutnya itu adalah hal yang privasi untuk mereka berdua.
"Dioooon, kamu tenang dong. Biar dokter memeriksa keadaan Mia," jawab Nyonya Helen membalikkan ucapan Dion.
Dion cemberut dan menatap Nyonya Helen dengan tajam saat tak asing dengan ucapan Nyonya Helen.
Apa kamu Dion? Kesal kan kamu digituin? Sama tadi mama juga kesal kamu bicara seperti itu. Rasain kamu ya! Satu sama kita.
"Ayo Mia dijawab pertayaan dokternya!" pinta Nyonya Helen.
"Harusnya minggu kemarin Mia menstruasi, tapi sepertinya bulan ini Mia telat Dok." Mia kembali mengingat tanggal terakhir menstruasinya.
"Aaaaah, Miaaaaa. Kamu hamil sayang. Ada bayi di perutmu. Iya kan dokter?" tanya Nyonya Helen dengan sangat senang.
Mimpi aku semalam? Kok bisa ya bertemu dnegan keluarga ambyar begini? Sabar, ini ujian. Aku pasti bisa menghadapi semuanya.
"Sya harus memastikan dengan pemeriksaan lanjutan Nyonya. Mari kita USG dulu!" ucap Dokter.
"Dion, kamu kok bengong? Ayo dong ah, cepat. Mama sudah gak sabar lihat cucu mama," ucap Nyonya Helen.
"Eh iya ma," ucap Dion.
Dion memang sedang melamun. Ia sedang membayangkan kalau Mia benar-benar hamil anaknya.
Dalam ruangan USG, Nyonya Helen tidak berhenti bicara. Mungkin saking senangnya karena harapannya akan mendapat seorang cucu akan segera jadi kenyataan.
Dokter memeriksa Mia, matanya fokus pada layar di hadapannya sedangkan tangannya sibuk menggerak-gerakan alat USG di perut Mia.
"Selamat ya Nyonya. Anda akan menjadi seorang ibu. Ini sudah terlihat ya!" ucap Dokter itu.
"Waaaaaah, Miaaaaa." Nyonya Helen berteriak dan memeluk Mia dengan cucuran air mata bahagia.
Mia juga tak bisa membendung air matanya. Bukan hanya terharu karena akan menjadi seorang ibu. Tapi Mia juga menangis haru atas sikap Nyonya Helen yang benar-benar terasa sangat tulus. Nyonya Helen datang ke Surabaya saat tahu Mia sakit. Sekarang, saat Mia hamil, Nyonya Helen terlihat sangat bahagia.
Semoga dengan kehadiran bayi dalam perut Mia, akan membuat mama semakin sayang sama Mia ya!
"Ma, terima kasih buat semuanya ya! Mia sayang sama mama," ucap Mia.
"Mama juga sayang sama Mia. Mama yang seharusnya berterima kasih karena kamu akan memberikan cucu untuk mama," jawab Nyonya Helen.
"Mas," panggil Mia.
Dion tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Mia dengan erat. Seolah sedang meyakinkan Mia kalau dia adalah orang yang jauh lebih bahagia dengan kenyataan ini.
"Kita lihat sampai sore ya! Kalau Nyonya Dion sudah membaik, bisa pulang. Tapi kalau masih lemas sepertinya masih perlu diinfus," ucap Dokter.
"Iya. Terima kasih Dokter," ucap Nyonya Helen.
Nyonya Helen mengingatkan pada Mia agar tidak memaksa untuk pulang. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Mia dan bayi yang ada dalam perutnya itu.
__ADS_1
Setelah beberapa obat masuk ke dalam tubuh Mia, sore hari saat dokter memeriksa keadaannya, Mia sudah jauh terlihat lebih segar. Sesuai ucapan Dokter, karena keadaan Mia jauh lebih baik maka Mia sudah boleh pulang.
Sore itu mereka pulang ke rumahnya yang di Surabaya dengan perasaan bahagia. Nyonya Helen tak lepas dari senyum yang mengembang di bibirnya. Nampak sangat bahagia. Mungkin senyum di bibir mereka seakan tidak pernah hilang dan menyatakan kalau ini adalah hal yang paling mereka nantikan.
Mia beberapa kali mengusap perutnya yang masih rata. Matanya berkaca karena haru. Rasa tidak percaya kalau ada kehidupan baru dalam perutnya. Mia tidak pernah membayangkan sebelumnya kalau ia akan mengalami hamil. Pernikahan sebelumnya dengan Danu, membuat Mia menyingkirkan harapannya untuk hamil.
Namun hidup adalah rahasia Tuhan. Apa yang Mia rencanakan ternyata tidak seindah kenyataan hidup yang ia jalani saat ini. Rencana Tuhan memang yang terbaik. Ketika Mia sudah memasrahkan dirinya pada Tuhan, justru Tuhan memberikan jalan hidup yang tidak pernah Mia sangka.
"Malam ini, Mia tidur dengan mama ya Di. Jangan di ganggu dulu ya!" ucap Nyonya Helen.
"Mana mungkin aku ganggu Mia, Ma. Aku juga masih waras kali, Ma. Tapi aku juga mau tidur sama anak aku, Ma." Dion protes.
"Ish, kamu kan udah sering tidur sama Mia. Sekarang ngalah dong. Bagian mama yang tidur sama Mia," ucap Nyonya Helen.
"Mama kan mau tidur sama Mia, aku sih mau tidur sama bayi aku." Dion masih mencari alasan agar Nyonya Helan tidak tidur dengan Mia.
Dion yang sudah merasa terbiasa dengan kehadiran Mia saat tidur, mungkin akan sulit tidur saat Mia tidak menemaninya.
"Ah, kamu ini alasan aja. Besok lagi kan bisa?" ucap Nyonya Helen kesal.
Mia menggelengkan kepalanya dan berusaha mencari solusi agar ibu dan anak itu berhenti berdebat.
"Nanti malam kita tidur bertiga," ucap Mia.
"Yeaaay, gak apa-apa deh. Yang penting mama tidur sama Mia," ucap Nyonya Helen.
"Enak saja bertiga," ucap Dion.
"Dion kamu kenapa sih? Mia sudah adil loh biar kita bisa tidur barengan. Kamu ini protes saja bisanya," ucap Nyonya Helen kesal.
"Mama jangan marah-marah terus. Nanti darah tingginya bisa kumat," ucap Dion.
Mia hanya bis menahan tawanya.
"Anak kurang aja. Kamu nyumpahin mama ya?" ucap Nyonya Helen sambil menjewer telinga Dion.
"Bukan begitu ma. Mama kok berburuk sangka terus sih sama anaknya?" ucap Dion.
"Terus maksud kamu apa coba?" tanya Nyonya Helen.
"Maksud Dion, Mia itu salah kalau bilang nanti malam kita tidur bertiga. Kita tidurnya berempat. Kan sama bayi di perut Mia," ucap Dion sambil mengusap perut Mia.
"Mas," ucap Mia sambil tersenyum lebar.
Bebapa foto diabadikan oleh Nyonya Helen. Beberapa foto juga dikirimkan pada suaminya yang tidak bisa ikut ke Surabaya. Telepon Nyonya Helen langsung berdering saat gambar hasil USG Mia sampai ke dalam ponsel Tuan wira.
Rasa bahagia juga bisa dirasakan oleh Tuan Wira meskipun ia belum bertemu dengan Mia. Rencananya besok Tuan Wira akan menyusul Mia ke Surabaya. Namun dicegah oleh Dion.
Banyak alasan yang membuat Dion menolak kehadiran Tuan Wira ke Surabaya. Pekerjaan di Jakarta akan menumpuk saat Taun Wira meninggalkan pekerjaannya. Selain itu, Dion juga akan membawa Mia kembali ke Jakarta beberapa saat setelah pekerjaannya di surabaya selesai.
Selain itu, ada hal penting yang benar-benar menjadi alasan Dion melarang Tuan Wira ke Surabaya. Dion takut Tuan Wira juga akan ikut tidur di kamarnya. Kehadiran Nyonya Helen di kamarnya saja cukup membuat Dion menggerutu, apalagi kalau Tuan Wira juga ikutan tidur di kamarnya.
Papa lebih baik anteng-anteng aja di jakarta ya! Jangan sampai mood aku jadi semakin berantakan karena kehadiran papa. Jadi semua ini adalah yang terbaik. Percaya sama aku ya pa! Hehe
Jam terus berdetak. Angka demi angka terus berputar dan tak terasa, malam kian gelap. Sudah jam sembilan, Nyonya Helen mengajak Mia untuk segera tidur.
Dengan bantuan Dion, Mia masuk ke dalam kamar. Tidak hanya Mia dan Dion. Ini kali pertama mereka tidur dengan Nyonya Helen.
"Mama di tengah ya!" ucap Nyonya Helen.
"Gak bisa begitu dong Ma. Aku kan suami Mia," protes Dion.
"Kan kamu sudah sering tidur sama Mia," Ucap nyonya Helen.
Debat lagi. Tuhaaaan, ini kenapa emak dan anak udah kayak tom and jerry sih?
"Mas, kamu ngalah dong sama mama. Kan besok-besok lagi juga bisa," ucap Mia.
"Aku kan mau tidur sama anak kita, Mi. Mama kok jahat sih memisahkan anak dan ayahnya," ucap Dion.
"Ya sudah biar aman Mia aja yang di tengah ya!" ucap Nyonya Helen memberi solusi.
"Iya, Mia setuju. Ayo kita Istirahat," ucap Mia.
Mia menggeser tubuhnya. Tidur di tengah. Berada diantara suami dan ibu mertua. Keduanya memeluk Mia dengan sangat penuh kasih sayang. Hal itu membuat air mata Mia tidak terasa menetes di pipinya.
Tak ingin mengundang kericuhan lagi, Mia segera mengusap air matanya. Mereka tidur dengan sangat nyenyak malam ini. Ini adalah pertama kalinya Dion tidur dengan Nyonya Helen setelah puluhan tahun tidak melakukan hal konyol seperti ini.
Pagi hari, Dion bangun dengan terkejut saat merasa suhu tubuh Mia lebih panas dari biasanya.
__ADS_1
"Mia, kamu sakit lagi?" tanya Dion.
"Gak mas," jawab Mia.
"Gak pusing lagi kan? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Dion.
"Gak mas. Mia sehat kok," ucap Mia.
"Kalian kenapa sih ribut sekali? Tidak bisa ya melihat orang tidur dengan nyenyak?" ucap Nyonya Helen dengan mata yang masih terasa berat.
"Maaf ya ma," ucap Mia.
"Hemmm," ucap Nyonya Helen.
Dion membantu mengangkat tangan Nyonya Helen dari perut Mia dan membantu Mia untuk bangun. Mia mandi dan segera mengganti bajunya.
Dion keluar dan meminta Mba untuk menyiapkan susu hangat untuk Mia. Dion membawa susu itu ke dalam kamar.
"Mas, minumnya di luar saja. Kasihan mama masih nyenyak," pinta Mia.
"Oh iya. Ayo!" ajak Dion sembari memegang tangan Mia. "Pelan-pelan ya," lanjut Dion mengingatkan.
Mia sangat bersyukur. Kehamilannya ternyata membawa kebahagiaan untuk suami dan mertuanya.
"Ya ampun. Kamu jahat sekali Mia, kok mama ditinggalin sih?" ucap Nyonye Helen.
Sudah dua jam sejak Dion dan Mia bangun, Nyonya Helen baru keluar dari kamarnya. Mata nyonya Helen mengedar ke seluruh sudut ruangan. Tapi matanya tak bertemu dengan Dion
"Kemana Dion?" tanya Nyonya Helen setelah menyerah dengan pencariannya.
"Sudah berangkat ke kantor ma. Mama mau sarapan apa?" tanya Mia.
"Susu saja. Mama belum begitu lapar," ucap Nyonya Helen.
Mia meminta Mba untuk menyiapkan susu. Keduanya banyak bicara hal tentang kehamilan. Mia banyak mendapat ilmu dari Nyonya Helen sepurar kehamilan dan anak. Obrolannya jadi melebar ke sana kemari hingga membahas masa kecil Dion.
Ada haru, sedih, hingga gelak tawa saat Nyonya Helen membahas tentang masa kecil Dion. Ternyata dibalik taruhan-taruhan konyol antara Dion dengan Reza, Dion menyimpan segudang prestasi. Mia sangat kagum dengan prestasi yang diraih oleh Dion.
Mas, kamu kok gak pernah cerita sih kalau kamu itu pria berprestasi? Setahu Mia, kamu hanya berprestasi saat berhasil membuat Mia hamil saja. Hehe
"Ayo, lagi pada bahas apaaan sih? Seru banget kayaknya?" ucap Dion yang tiba-tiba sudah pulang ke rumah.
"Mas, kok sudah pulang?" tanya Mia.
"Pekerjaan aku sudah beres Mia. Lagi pula kh merindukan anakku. Apa kamu tidak senang aku pulang lebih cepat?" tanya Dion.
"Kamu gak bohong kan? Semuanya benar-benar sudah selesai kan?" tanya Nyonya Helen meyakinkan.
"Ya ampun Ma, gak percaya banget sih sama anak sendiri. Heran deh," ucap Dion.
Dion memang tidak berbohong. Semua pekerjaannya sudah selesai walaupun ada beberapa yang memang di handle sama sekretarisnya. Sebenarny hari ini Dion bisa saja tidak pergi ke kantor. Karena memang rencananya hari ini masih waktu libur untuk Dion. Tapi Mia memintanya untuk ke kantor selagi Dion masih ada waktu luang.
Mia mengingatkan suaminya, kalau sebagai pemimpin, Dion harus memberi contoh. Karena sejatinya pemimpin itu adalah pemberi contoh, bukan hanya pemberi perintah.
"Mama cuma gak mau saja kehadiran cucu mama dijadikan alasan untuk kamu bermalas-malasan. Kamu justru harus semakin semangat kerja Dion. Ingat, sekarang bukan hanya Mia yang menilai kamu. Tapi anak kamu dalam perut Mia juga akan ikut menilai kamu," ucap Nyonya Helen mengingatkan.
"Iya ma, iya. Mama tenang aja ya! Dion janji akan menjadi suami dan ayah terbaik buat Mia dan anak kami," ucap Dion sambil. mengusap perut Mia.
Perasaan baru kemarin kamu mama gendong, Dion. Tapi sebentar lagi mama mau gendong anak kamu. Waktu kenapa sangat cepat sekali berlalu? Aku harus benar-benar memanfaatkan waktu yang tersisa ini. Aku tidak ingin melewatkan moment berharga di sisa usiaku. Semoga mama bisa diberi kesempatan lebih banyak waktu untuk menyaksikan kebahagiaan kalian.
"Permisiii," teriak Taun Wira.
"Papa?" ucap ketiganya bersamaan.
Bagaimana mereka tidak terkejut. Tuan Wira sama sekali tidak mengatakan akan pergi ke. Surabaya. Namun malam ini, Tuan Wira sudah ada di Surabaya.
"Kok papa gak bilang mau ke sini sih?" tanya Nyonya Helen.
"Kan kejutan. Mana bisa papa tidur nyenyak tanpa kalian. Papa rindu sama kalian. Terlebih sama cucu papa ini," ucap Tuan Wira sambil mengusap perut Mia.
Ya Tuhan, semoga malam ini semunya baik-baik saja. Jangan sampai papa mau ikut tidur di kamar aku. Bahaya ini.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..