
"Ayo tante," ajak Niki memegang tangan Nyonya Nathalie.
"Pergi!" teriak Nyonya Nathalie.
"Tante, apa maksudnya?" tanya Niki.
"Apa perlu aku panggil donter THT ke sini?" tanya Nyonya Nathalie dengan sinis.
"Tante lebih percaya sama Dion dari pada sama aku? Aku bisa jelasin semuanya tante," ucap Niki.
Niki sedang mengumpulkan beberapa ide yang akan ia gunakan untuk membela dirinya.
"Penjelasan apa lagi?" tanya Nyonya Nathalie.
"Aku tidak seperti yang Dion tuduhkan. Itu hanya alasan Dion saja agar aku tidak bahagia," ucap Niki.
"Kamu pikir Dion orang bodoh? Kurang kerjaan? Mana mungkin ia membual? Apa untungnya?" tanya Nyonya Nathalie.
"Ya karena Dion belum move on dari aku tante. Dion ingin aku tidak menikah dengan siapapun," jawab Niki.
"Percaya diri sekali kamu. Beberapa kali aku bertemu dengan Dion, dia selalu membela istrinya mati-matian. Dan sekarang kamu dengan entengnya bilang dia belum move on? Apa kabar dengan perut buncit istrinya?" ucap Nyonya Nathalie kesal.
"Kok Mmi jadi belain Dion sih?" tanya Danu.
Loh iya ya. Ngapain aku belain si Dion, dia itu kan musuh aku. Ah, sudah gila ini. Gak bisa dibiarin. Sepertinya aku memang butuh psikiater kalau begini caranya. jadi Mia beneran gak mandul? Aduhh, Danu. Mami gak mau tahu pokoknya kamu harus menikah dan punya anak.
"Bukan begitu Danu. Tapi kan kalau dibanding sama Niki, Dion memang ada benarnya juga. Batalkan pernikahannya!" ucap Nyonya Nathalie.
"Batal?" tanya Danu bingung.
Sebenarny Danu bahagia saat mendengar Nyonya Nathalie ingin membatalkan pernikahannya dengan Niki. Namun apa kabar dengan undangan yang sudah dicetak.
"Tante, tenanglah. Kita bisa bicara baik-baik. Gaun dan undangan sudah dipesan. Persiapan kita sudah nyaris delapan puluh persen, dan tante bilang batal?" ucap Niki.
"Gaun dan undangan bisa aku bakar. Uang tidak masalah. Masih banyak stok uang yang aku punya. Kamu tidak perlu ikut memikirkan kerugiannya," ucap Nyonya Nathalie.
"Tapi Mi, sudah banyak orang yang tahu tentang rencana pernikahan ini. Apa nanti Mami tidak malu?" tanya Danu memastikan.
Danu hanya tidak ingin keputusan ibunya yang diambil dalam keadaan emosi, akan memberikan dampak buruk ke depannya.
"Iya tante. Bagaimanapun Dion adalah masa lalu aku. Ucapannya hanya untuk membuat pernikahan ini berantakan. Dan kalau ini benar-benar terjadi, Dion yang menang. Apa tante akan membiarkan kekonyolan ini terjadi?" tanya Mia.
"Konyol? Kekonyolan katamu?" tanya Nyonya Nathalie sinis.
Tatapan tajam dan telunjuk centik Nyonya Nathalie jelas tertuju pada Niki. Tak bisa ia menyembunyikan semua kegugupan dan ketakutannya. Semuanya nyaris berakhir. Tidak! Niki akan tetap berjuang agar tujuannya bisa tercapai. Menikah dengan Danu adalah satu target awal yang bisa melancarkan target-target berikutnya. Kalau step satu saja sudah gagal, bagaimana step dua, tiga, dan selanjutnya?
"Tante, ayolah. Jangan hanya karena bualan Dion, tante jadi ikutan baper. Ingat! Dion itu musuh kita," ucap Niki.
"Kita? Jangan kau pikir aku satu visi dengan kamu ya. Baper, baper, kamu yang caper. Aku sudah tidak mempan dengan caramu membela diri. Apapun pembelaan kamu, keputusan aku tetap sama. Batalkan pernikahan ini," ucap Nyonya Nathalie mantap.
Dion, ini semua gara-gara kamu. Aku harus buat perhitungan sama kamu.
"Tante gak bisa main batalkan saja. Semua bisa kita bicarakan dengan kepala dingin," ucap Niki.
Ya, Niki belum berhenti berusaha untuk menenangkan calon mertuanya itu. Ia tetap pada pendiriannya untuk menikah dengan Danu. Apapun alasannya.
"Kepalaku juga sudah dingin. Malah sudah beku ini. Aduuuuh pusing," ucap Nyonya Nathalie.
Nyonya Nathalie pergi meninggalkan Danu dan Niki yang masih berdiri di mall itu. Entah sudah berapa puluh pasang mata dan telinga yang merekam semua kejadian itu. Menyingkirkan gengsinya, Niki putar haluan. Jika seandainya ia kalah, maka Danu adalah target selanjutnya. Niki harus berhasil membujuk Danu.
"Mas, kamu lebih percaya sama aku kan dibanding sama Dion?" tanya Niki.
Dengan suara lembut dan terkesan manja, Niki meraih tanga Danu dan menggenggamnya.
"Maaf Niki. Aku harus mengejar Mami," ucap Danu.
"Tapi pernikahan kita? Kamu mau kan perjuangin semua ini?" bujuk Niki.
"Mami yang menginginkan pernikahan ini. Maka jika mami sudah bilang tidak, aku hanya bisa menuruti apa yang diinginkan oleh Mami. Aku harap kamu mengerti," ucap Danu. "Permisi," lanjutnya.
Hah? Jawaban macam apa itu? Danu, pantas saja kamu bisa bercerai dengan wanita norak seperti Mia. Kamu itu tidak punya pendirian. Tapi aku harus tetap membujuk Nyonya Nathalie.
"Tante, tante, tunggu!" teriak Niki mengejar Nyonya Nathalie.
"Ada apa lagi sih?" tanya Nyonya Nathalie.
Rasanya kepala Nyonya Nathalie sudah cukup pusing dengan semua kejadian hari ini. Bahkan ia sampai memijat kepalanya saat Niki terus mengejarnya.
"Tante, ini konyol. Sejak kapan tante lebih percaya sama musuh tante sendiri?" ucap Niki.
"Akan lebih konyol kalau aku sampai membiarkan kalian menikah. Bisa jatuh harga diriku," ucap Nyonya Nathalie.
__ADS_1
Lagi-lagi tentang harga diri. Sampai saat ini, Nyonya Nathalie hanya menjunjung tinggi harga dirinya.
"Apa maksud tante?" tanya Niki.
"Aku sudah menganggap keluarga Dion adalah pemulung. Kenapa? Karena mereka sudah memungut Mia. Wanita yang sudah keluarga kami buang. Lalu kalau sampai kamu sama Danu menikah, apa bedanya aku sama mereka? Danu harus memungut wanita yang sudah dibuang oleh Dion. Oh tidak mungkin terjadi dalam hidup ini," jawab Nyonya Nathalie.
Dengan gamblang dan tanpa beban, Nyonya Nathalie menjelaskan alasan pembatalan pernikahan Danu dan Niki. Hal itu sontak membuat Niki sangat terkejut. Tanpa disadari, tangan Niki sudah mengepal erat.
Danu yang menyadari sikap Niki, semakin yakin kalau wanita itu tidak baik.
Dion, terima kasih. Berkat kamu, aku terbebas dengan pernikahan yang sangat tidak aku harapkan ini.
"Aku permisi pulang duluan," ucap Danu.
"Lalu aku?" tanya Niki.
"Tunggu sebentar. Nanti ada sopir aku yang akan mengantarkan kamu pulang," jawab Danu.
Niki hanya bisa menatap bingung melihat kelakuan ibu dan anak, yang sudah meninggalkannya begitu saja.
Kurang ajar kalian. Kalian jangan senang dulu! Aku akan membalas semua yang kalian lakukan padaku!
"Danu, duduk!" ucap Nyonya Nathalie saat mereka sudah sampai ke rumah.
Tanpa jawaban, Danu mengikuti perintah ibunya untuk duduk.
"Apa maksudnya kalau Dion yang pertama kali mendapat kesucian Mia?" tanya Nyonya Nathalie.
Danu tidak bisa menjawab pertanyaan ibunya. Sebenarnya memang pertanyaan itu juga tidak perlu jawaban. Nyonya Nathalie hanya butuh sangkalan. Ia hanya berharap kalau ucapan Dion hanyalah sebuah bualan saja. Namun sepertinya harapan Nyonya Nathalie tinggal sebuah harapan. Diamnya Danu adalah jawaban untuk pertanyaan yang diajukannya.
"Danu, jadi semua itu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mami, berapa kali aku bilang. Jangan ikut campur urusan orang lain. Mia itu bukan siapa-siapa kita lagi. Dia orang asing untuk kita," ucap Danu.
Lelah rasanya menjadi Danu. Hidup tertekan untuk mengikuti semua keinginan ibunya. Namun sampai saat ini, ibunya tidak pernah mengerti perasaannya. Tidak banyak inginnya. Danu hanya ingin hidup normal tanpa bayang-bayang Mia.
Bukan risih, tapi kehadiran Mia selalu membuat luka itu kembali terbuka. Sakit itu tak kunjung sembuh. Danu ingin perlahan merelakan Mia untuk Dion. Ia hanya ingin menjadi manusia munafik, yang ikut bahagia dengan kebahagiaan Mia. Meskipun hanya sebuah kepura-puraan, namun paling tidak ia berhasil membuktikan ucapannya. Kalau Mi memang berhak bahagia.
Ya, konyol memang. Ucapannya hanya sebuah tameng atas rasa bersalahnya pada Mia.
Kenapa sulit sekali menjadi manusia munafik? Aku ingin bibirku tersenyum melihat kebahagiaan Mia, walaupun pada kenyataannya hatiku hancur berkeping. Namun untuk hal ini, aku menyerah. Aku tidak bisa menutupi rasa sedih dan penyesalanku. Mia, maafkan aku yang masih sangat mencintaimu.
"Jadi selama menikah, Mia tidak melayanimu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Kenapa kamu selalu membela Mia sih? Dia itu bukan siapa-siapa kamu lagi Danu. Hentikan semua ini!" ucap Nyonya Nathalie.
"Aku tidak membela siapapun Mami. Aku hanya mengungkapkan fakta yang terjadi saja. Mia memang tidak salah. Semua ini salahku. Mami juga pasti sudah tahu kan alasannya apa? Jadi aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan apapun ada Mami," ucap Danu.
"Danu, tolong katakan kalau semua ini adalah suatu kebohongan. Kamu tidak kenapa-kenapa Danu. Kamu baik-baik saja. Kamu punya dokter pribadi yang siap membantumu," ucap Nyonya Nathalie.
Genggaman tangan Nyonya Nathalie ada Danu adalah suatu protes seorang ibu pada anak. Kenapa semua ini harus terjadi pada Danu? Apa salah Danu? Kenapa Danu tidak berobat? Banyak sekali protes yang ingin dilontarkan Nyonya Nathalie pada Danu. Namun percuma, karena Danu tidak tahu jawabanya.
"Mi, aku sudah melakukan semuanya. Bahkan Mia adalah orang yang membantuku untuk kesembuhanku. Tapi Tuhan belum mengizinkan aku untuk sembuh. Tolong mengerti aku Mi. Aku terbebani dengan semua ini. Aku lelah," ucap Danu lemah.
Mata Danu terlihat berair. Beberapa kali Danu mengusap kasar wajahnya. Rambutnya yang sudah agak panjang terlihat sangat kusut.
"Mami membebani kamu? Begitu?" tanya Nyonya Nathalie.
"Bu-bukan begitu, Mi. Aku tidak bermaksud menyalahkan Mami," ucap Danu gugup.
Danu menggigit bibir Bawahny karena merasa dalam situasi terjepit. Maju kena mundur juga kena. Danu pasrah jika setelah ini, hubungannya dengan ibunya akan memburuk.
"Lalu apa? Kenapa Mami yang seolah-olah bersalah?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mami gak salah. Sama sekali gak salah. Yang salah itu aku, Mi. Aku yang salah. Kalau saja aku tidak sepert ini, semuanya akan baik-baik saja. Maafkan aku Mi," ucap Danu memeluk Nyonya Nathalie.
Air mata Nyonya Nathalie jatuh tak tertahankan lagi.
"Apa ini artinya aku tidak akan pernah bisa menggendong cucu?" tanya Nyonya Nathalie.
BRUGHH
"Mami?" teriak Danu.
Suasana di rumah Danu semakin tidak karuan saat Nyonya Nathalie pingsan. Dokter datang setelah Danu meneleponnya.
Di waktu yang sama, situasi berbeda sedang dirasakan oleh Mia dan Dion. Dion yang baru saja tahu tentang kehamilan Mia yang kdmbar begitu antusias, dan tak henti-hentinya berbahagia.
"Dion, ada apa ini?" tanya Nyonya Helen.
Hari ini Nyonya Helen pulang malam karena ada acara bersama Tuan Wira. Ia merasa terkejut karena di rumahnya banyak orang.
__ADS_1
"Ayo cepat ganti baju Ma. Kita mau foto keluarga," jawab Dion.
"Kok dadakan sih?" tanya Nyonya Helen.
"Kan kejutaaaaan," jawab Dion sangat bahagia.
"Tapi Mama kan cape, baru aja pulang. Belum mandi juga," ucap Nyonya Helen.
"Jadi gak mau nih? Padahal kita udah nunggu loh dari tadi," ucap Dion.
"A, gak boleh gitu. Kasihan Mama cape. Ya sudah sekarng kita aja dulu. Kan foto bareng sama Mama masih bisa besok lagi," ucap Mia.
Nyonya Helen menatap Mia dan menghela nafas panjang. Mia memang selalu mengerti keadaan dirinya. Ia baru bertemu dengan Mia ketika Dion akan menikahinya. Kurang lebih sekitar lima bulan yang lalu. Namun kasih sayang dan pengertian Mia, kadang terasa melebihi Dion. Mungkin meskipun Dion anak kandungnya, tapi karena Dion seorang laki-laki, jadi tidak sepeka Mia. Itu salah satu hal yang Nyonya Helen suka dari Mia.
"Mama ganti baju dulu ya!" ucap Nyonya Helen.
"Ma, besok lagi aja. Mama istirahat saja, pasti Mama cape kan?" tanya Mia.
"Mama bisa istirahat nanti. Tunggu sebentar ya!" ucap Nyonya Helen mengusap kepala Mia. "Ayo Pa!" ajak Nyonya Helen menarik tangan Tuan Wira.
"Mama gak cape?" tanya Tuan Wira.
"Capenya hilang Pa pas lihat Mia. Mana tega aku sama Mia? Semakin dia mengerti, semakin membuat Mama gak enak hati. Jadi foto dulu ya Pa. Papa mau kan?" tanya Nyonya Helen.
"Papa sih gimana Mama aja," jawab Dion.
"Ya udah ayo mandi," ajak Nyonya Helen.
"Mama duluan aja. Kalau mandinya bareng, durasinya bisa makin lama." Mata Tuan Wira sudah mulai menggoda Nyonya Helen.
"Ish, makin tua kok makin menjadi sih Papa," ucap Nyonya Helen sembari bergidik.
"Eh, makin tua itu makin matang." Tuan Wira tersenyum lebar.
"Awas terlalu matang bisa sampai busuk loh," jawab Nyonya Helen.
"Hiiih, mana bisa busuk. Ini matengnya natural. Jadi awet sepanjang masa," jawab Tuan Wira.
"Papa bahasannya jadi kemana-mana deh," ucap Nyonya Helen.
"Biarin, yang penting kalau malam gak kemana-mana. Kita muter-muter di kasur aja ya!" jawab Tuan Wira.
"Astagaaaa Papaaaa, inget umur. Udah tua juga," ucap Nyonya Helen.
"Yang penting urusan itu masih juara kan?" tanya Tuan Wira.
"Tahu ah, udah keriput juga." ucap Nyonya Helen.
"Emang Mama nggak?" tanya Tuan Wira.
"Papaaaaa," teriak Nyonya Helen.
"Husssst. Mama jangan berisik. Nanti Dion sama Mia ke sini lagi. Bahaya nanti disangkanya Mama jerit-jerit karena mengagumi keperkasaan Papa," ucap Tuan Wira.
"Ya ampuuuun. Makin gila si Papa ini. Udah mengekerut juga," ucap Nyonya Helen.
"Mengkerut? Dari orok juga mengkerut Ma. Mana ada yang berdiri tegak sepanjang masa? Ya mengkerut atau gak sih tergantung situasi," ucap Tuan Wira.
Iya juga ya? Kan waktu Papa muda juga kalau belum di apa-apain mengkerut dulu. Heh, ingat Helen. Kamu ditungguin sama Mia, kok jadi bahas mengkerut sih?
"Ma, lama banget sih?" tanya Dion saat Nyonya Helen sudah datang ke ruang foto.
"Tuh Papa kamu, bikin kesal saja." Nyonya Helen mendekat dan mencium Mia, lalu mengusap perut menantunya yang semakin membesar itu.
"Papa disalahin, Mama kamu yang salah. Segala mengkerut dibahas-bahas," ucap Tuan Wira.
"Apaan sih yang mengkerut?" tanya Dion.
"Papaaaaaa," teriak Nyonya Helen.
Tuan Wira hanya menahan tawanya, sedangkan Dion dan Mia hanya saling tatap. Mereka tidak mengerti apa maksud dari bahasan mengekrut itu, hingga memakan waktu hampir satu jam.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..