Janda Bersegel

Janda Bersegel
Belajar dari google


__ADS_3

keempatnya naik mobil yang sama. Dion yang menyetir dengan Mia yang duduk di sampingnya. Sedangkan di belakang kedua orang tua Dion duduk dengan cukup romantis. Berdekatan dan saling menggenggam tangan satu sama lain.


Mama dan papa udah tua juga masih romantis. Aku juga mau kayak gitu sama Mia. Keromantisan itu harus dipelihara sampai tua.


"Dion, kamu tahu kan alamatnya kan?" tanya Tuan Wira.


"Iya pa. Dion tahu kok. Tenang aja, gak bakal nyasar kok." jawab Dion.


Dion fokus ke jalan. Sesekali ia memang melirik ke arah istrinya yang sangat cantik itu. Duduk manis di sampingnya dengan pakaian yang simple namun terlihat berkelas. Kalau saja ada sopir, Dion pasti akan bersikap lebih romantis dibanding orang tuanya. Kali ini, Dion mengalah. Menunggu nanti malam, karena keromantisan sesungguhnya akan terjadi di kamar hotel.


Sepanjang perjalanan Mia nampak melihat jalanan. Sekilas nampak norak, tapi sebenarnya Mia hanya mengalihkan kebosanannya saja. Mia tidak bisa mengobrol apapun ada Dion karena canggung ada kedua mertuanya di belakang.


Sudah sampai di tempat makan. Mobil terparkir. Mia turun dengan penuh kekaguman. Mobil yang berjejer di sana adalah mobil-mobil mewah. Dapat dipastikan kalau yang hadir di sana adalah orang-orang kelas atas. Antara bersyukur dan insecure, Mia menggulung ujung dressnya.


"Ayo!" ajak Dion menggenggam tangan Mia.


Perlakuan inilah yang membuat Mia bisa dengan mudah membuka hatinya untuk Dion. Pria yang dulu sering memarahinya itu, ternyata memiliki sisi romantis yang luar biasa. Mia selalu saja tersanjung saat mendapat perlakuan itu dari Dion.


"Di sana saja," ucap Tuan Wira menunjuk salah satu meja di pojokan. Terlihat sangat mewah dan spesial.


Mia melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki suaminya. Seperti yang mengerti perasaan Mia, Dion tidak pernah sedetikpun melepas genggaman tangan Mia. Seolah Dion ingin meyakinkan kalau ada orang yang mencintainya di sisinya. Ada pria yang siap menjaga dan membelanya.


Empat orang itu duduk melingkar mengelilingi satu meja. Suasana romantis sangat terasa saat ada cahaya lilin dan beberapa tangkai bunga mawar di sekitar tempat makan mereka. Mia beberapa kali melihat ke sekeliling. Terlihat sangat kagum dan bahagia.


"Foto dulu yu!" ajak Dion.


Yes, akhirnya kamu mengerti mas. Mia memang ingin foto. Mia mau pamer sama Sindi. Mia mau curhat nanti. Bahagia banget ini mas.


"Ayo mas!" ucap Mia antusias.


Kamu senang kan Mi?


Beberapa foto diambil dalam kamera ponsel milik Mia. Dari fotonya yang sendiri sampai foto berempat, termasuk foto makanan yang tersaji di meja menjadi salah satu isi galeri ponsel Mia malam ini. Jujur saja, berfoto seperti ini sama sekali bukan kebiasaan Dion. Hanya saja demi Mia, hingga Dion melakukan hal itu.


Meskipun ini tidak menyenangkannya, tapi Dion sadar ada hati yang senang saat melakukan semua ini. Terlebih hati wanita yang sangat ia cintai. Apapun akan Dion lakukan demi membahagiakan Mia. Apalagi cuma hal kecil seperti ini.


"Mas, makasih ya!" ucap Mia.


"Iya," jawab Dion sambil merapikan rambut Mia.


"Sama papa gak makasih nih? Papa yang bayar loh makan malamnya," goda Tuan Wira.


"Eh, iya pa. Makasih banyak ya!" ucap Mia.


"Papa, gak bisa biarin anak lagi romantis. Ikut nyamber aja nih. Heran deh, kayak gak pernah muda aja," ucap Nyonya Helen.


Ucapan Nyonya Helen membuat Mia menatap Dion dengan wajah yang memerah. Iya, Dion memang romantis.


Ma, pa, makasih ya udah melahirkan dan mengurus pria ini menjadi sangat baik dan romantis. Mia sayang kalian semua.


Setelah sesi foto selesai, mereka berempat bersiap untuk makan. Namun pada saat mereka akan makan, pemandangan tidak menyenangkan nampak nyata di depan mereka.


"Eh, ada keluarga pemulung. Selamat makan ya, jeng!" ucap Nyonya Nathalie.


"Hey, apa maksudmu?" tanya Nyonya Helen kesal.


Meskipun suami mereka saling menenangkan istrinya, namun Nyonya Nathalie dan Nyonya Helen belum berhenti adu mulut.


"Loh, jangan marah dong. Kan kalian itu emmang keluarga pemulung. Kalian memungut Mia, wanita tidak berguna yang sudah kami buang. Dimana letak kesalahannya?" tanya Nyonya Nathalie.


"Kurang ajar dasar kamu wewe gombel. Mia itu bukan barang yang bisa kamu buang seenaknya. Lagi pula aku tidak malu memungut berlian seperti Mia. Dia itu berlian yang sudah kamu sia-siakan. Aku yakin nanti kamu pasti menyesal karena sudah membuang Mia," bela Nyonya Helen.


"Mi, sudahlah. Ayo! Kita kan ke sini mau makan. Bukan mau berdebat begini," ucap Danu.


Ini pertemuan pertama Mia dan Danu setelah mereka bercerai. Saat pernikahan Mia, hanya Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang hadir. Nyonya Nathalie pun datang karena tidak tahu kalau Mia yang tertera dalam undangan itu adalah mantan menantunya.


"Maaf Nyonya. Silahkan lanjutkan makan malamnya. Kami permisi," ucap Danu.


"Permisi," ucap Tuan Ferdinan sembari mengangguk hormat pada Tuan Wira.


Sebenarnya Tuan Ferdinan dan Danu tidak ada masalah sama sekali dengan Mia. Bahkan Danu masih menyimpan perasaannya untuk Mia. Namun entah mengapa Nyonya Nathalie begitu membenci Mia. Mungkin karena ia menutupi kesalahannya. Karena diakui atau tidak, dialah penyebab kecelakaan yang terjadi pada Danu.


Meja yang keluarga Nyonya Nathalie pilih cukup jauh dari meja yang ditempati oleh Nyonya Helen. Namun kedua keluarga itu maish bisa saling melihat satu sama lain. Hal itu membuat kedua wanita itu geram dan uring-uringan.


"Ma, sudahlah. Jangan begitu dong ah. Ini kan harusnya jadi makan malam romantis buat kita," ucap Tuan Wira.


Nyonya Helen semakin kesal saat melihat Mia mengusap sudut matanya.


"Mia, kamu ingin mama menampar wewe gombel itu hah?" tanya Nyonya Helen sambil berdiri.

__ADS_1


Mia segera berdiri dan menarik tangan Nyonya Helen.


"Duduk ma. Mia gak apa-apa kok. Mia cuma ingin makan sama mama," jawab Mia.


"Tapi kamu nangis Mia. Kamu pasti sakit hati kan sama ucapan si wewe gombel itu?" tanya Nyonya Helen kesal.


"Bukan karena itu ma. Mia nangis karena terharu atas sikap mama. Mia terharu atas perlakuan dan pembelaan mama terhadap Mia. Jujur saja, Mia memang merasa bagaikan terbuang dan tidak berarti. Mia hanya beruntung saja saat bertemu dengan mas Dion, yang akhirnya membawa Mia masuk dalam keluarga mama. Terima kasih ma," ucap Mia.


Nyonya Helen bangun dan mendekat ke arah Mia. Ia memeluk Mia dengan penuh kasih sayang.


"Mia, kamu itu anak mama sekarang. Kewajiban mama membela anak-anak mama. Mama sayang sama kamu, sama halnya seperti mama sayang sama Dion. Jadi kamu jangan sungkan-sungkan ya sama mama. Jangan pernah anggap mama itu mertua kamu. Anggap mama ini mama kandungmu Mia," ucap Nyonya Helen sambil mengusap kepala Mia.


Tangis Mia pecah seketika. Ucapan Nyinya Helen mampu meruntuhkan pertahanan air matanya. Tangis haru dan bahagia pun pecah saat Mia merasa wanita yang mendekapnya ini penuh ketulusan.


"Terima kasih ma," ucap Mia dengan bibir yang bergetar.


Ya, hanya ucapan terima kasih yang mampu Mia ucapkan. Mia kehabisan kata-kata karena terlalu bahagia dengan perlakuan dan ucapan Nyonya Helen.


Di sudut lain, nampak tiga pasang mata melihat adegan itu. Berbeda dengan Nyonya Nathalie yang marah dan terus menghina Mia, ada sepasang mata yang tengah menahan air matanya. Rasa cemburu dan bahagia bercampur menjadi satu. Danu, ya Danu mantan suami Mia. Pria yang sudah melepas Mia demi kebaikan Mia.


Di satu sisi, Danu bahagia saat melihat Mia bertemu dengan keluarga baru yang sangat mencintai dan menyayangi Mia. Tapi Danu tidak bisa membohongi perasaannya kalau ia juga sangat sakit. Danu cemburu.


Mia, berbahagialah. Aku ikut senang karena akhirnya kamu menemukan masa depanmu. Masa depan yang jauh lebih layak untukmu. Walaupun ada sakit yang tak bisa aku elakkan dalam hatiku.


Danu mengalihkan pandangannya dari Mia. Matanya menatap piring yang berisi makan malamnya, walaupun pikiran dan hatinya sepenuhnya diisi oleh bayangan Mia.


Sepasang tatapan tajam justru tengah mengamati sikap Danu. Dion bisa merasakan kalau mantan suami dari istrinya itu, masih sangat peduli pada Mia. Bagaimana Danu menenangkan ibunya dan menghindari cekcok dengan Mia, bagaimana mata Danu menatap Mia, itu semua membuat Dion sangat kesal.


Makan malam ini tidak sesuai dengan yang Dion harapkan. Meskipun ada sisi yang sangat manis bagi Mia. Saat ibu mertuanya memperlakukannya sangat baik, itu adalah momen indah yang tidak bisa Mia lupakan.


"Sudah selesai kan? Ayo kita ke hotel! Biar tidak terlalu malam," ucap Dion.


"Aduh pengantin baru sudah tidak sabar ma. Ayo, kasihan Danu ma." Tuan Wira menggoda anaknya.


Sengaja, Tuan Wira ingin mengalihkan suasana yang tidak mengenakkan itu. Sementara Dion memang sudah sangat tidak nyaman berada di sana. Melihat mantan suami dari istri tercintanya itu mencuri pandang pada Mia, membuat Dion ingin segera membawa Mia pergi dari sana.


"Eh, iya. Ayo pa. Mereka masih punya utang sama mama," ucap Nyonya Helen sembari tersenyum pada Mia.


Mia hanya bisa menunduk menahan malu atas ucapan mertuanya itu.


Keluarga Dion berlalu meninggalkan keluarga Danu yang masih menikmati makan malam di sana. Berharap kalau ini adalah pertemuan terakhirnya dengan Danu. Dion tidak ingin kalau bayangan Danu terus menghantui Mia. Jujur saja, ada rasa takut dalam diri Dion. Takut jika saja hati Mia kembali terbuka untuk masa lalunya itu.


Ah! Cukup Dion. Ini semua hanyalah ketakutan kamu saja. Mia adalah wanita setia dan baik-baik. Tidak mungkin ia mengkhianati kamu. Percaya pada Mia, tenangkan hatimu Dion. Tenanglah.


Tangan Dion kembali menggenggam tangan Mia saat akan memasuki hotel mewah milik teman Tuan Wira itu. Kedatangan Tuan Wira disambut baik oleh pemilik hotel secara khusus. Dua buah kamar terbaik disiapkan khusus untuk keluarga Tuan Wira. Bukan orang sembarangan, sehingga kedatangan Tuan Wira mampu menyita perhatian para petugas hotel.


Mia ikut dalam obrolan keluarga Tuan Wira dan pemilik hotel. Saat itu, Mia nampak sebagai wanita muda dari kalangan atas. Gaya bahasa yang Mia pakai, sangat berbeda dengan gaya bahasanya sehari-hari. Keluarga Dion nampak sangat terkejut saat Mia berhasil nyambung bicara bisnis dengan pemilik hotel itu.


Ya, memang Dion dan keluargany tidak terlalu memperhatikan riwayat pendidikan Mia. Hingga mereka tidak menyadari kalau Mia adalah seorang sarjana.


Pemilik perusahaan itu nampak asyik mengobrol dengan Mia dan Tuan Wira. Dion dan Nyonya Helen hanya mengamati walaupun sesekali mereka juga terlibat dalam obrolan itu. Sepertinya hanya Tuan Wira yang berhasil menyembunyikan rasa terkejutnya atas sikap Mia.


Saat obrolan basa basi hingga mengarah ke urusan bisnis itu selesai, mereka diantarkan langsung oleh pemilik hotel hingga ke depan pintu kamar mereka.


Ketika pemilik hotel sudah pergi, Tuan Wira dan Nyonya Helen merasa harus menuntaskan rasa penasaran mereka. Keduanya menemui Mia dan Dion untuk mendapat jawaban atas rasa penasarannya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Mia, Dion. Kalian belum mulai kan?" ucap Nyonya Helen setelah mengetuk pintu kamar Mia dan Dion.


"Mama ah, ada-ada saja. Jangan begitu dong nanyanya," ucap Tuan Wira.


Pintu terbuka dan membuat Nyonya Helen membatalkan perdebatan dengan suaminya.


"Mia, mana Dion? Mama dan papa boleh masuk kan?" tanya Nyonya Helen.


"Mas Dion sedang mandi ma. Ayo mari masuk," ajak Mia dengan sangat sopan dan ramah.


Tak butuh basa basi, Nyonya Helen langsung menodong Mia dengan pertanyaan yang membuatnya sangat penasaran. Mereka mendapat jawaban yang sangat memuaskan. Tak menyangka kalau menantunya itu benar-benar bagaikan berlian yang terabaikan.


"Kenapa kamu kerja di pabrik? Kenapa tidak di kantor saja?" tanya Tuan Wira.


Mia diam sebentar. Berpikir jawaban apa yang harus Mia ucapkan. Tidak mungkin jika Mia terang-terangan bahwa terjadi nepotisme dalam perusahaan barunya di Surabaya. Yang Mia tahu, Tuan Wira itu orang yang sangat menghargai pendidikan. Mia tidak ingin orang-orang di Surabaya akan kena imbas karena jawabannya.


"Mia melamar pakai ijazah SMA, pa. Soalnya ijazah S1 punya Mia ketinggalan," jawab Mia.


"Oh ya ampun Mia. Kamu hebat ya. Meskipun lulusan sarjana, tapi kamu masih mau kerja jadi buruh pabrik." ucap Tuan Wira dengan perasaan sangat bangga.


"Terima kasih pa," ucap Mia.

__ADS_1


"Mia, apa kamu ingin bekerja?" tanya Nyonya Helen.


Dion yang sudah selesai mandi langsung bergabung duduk dan mendengarkan perbincangan kedua orang tuanya dengan istrinya itu.


"Mia sih terserah mas Dion saja. Buat Mia, ijazah dan pendidikan yang Mia miliki tidak melulu harus Mia pakai untuk bekerja. Kalau suami Mia tidak mengizinkan Mia bekerja, Mia hanya harus menikmati hari-hari Mia di rumah." Walaupun sebenarnya itu adalah cita-citanya selama ini.


Dion nampak tersenyum. Sangat tersanjung dan terharu dengan jawaban istrinya. Dion tak menyangka kalau Mia akan menjawab dengan sangat bijaksana sekali.


"Kamu fokus di rumah saja ya! Aku tidak mau kamu terbebani," ucap Dion.


"Iya mas," ucap Mia.


Tuh kan. Apa Mia bilang? Mas Dion pasti gak mengizinkan kalau Mia mau kerja. Heemmm, ya sudahlah. Apa lagi sih yang Mia cari? Lupakan cita-cita itu Mia. Sekarang, nikmati saja semua yang ada di hadapanmu. Jangan memusingkan diri sendiri.


Dion senang saat Mia mengiyakan ucapannya. Jujur saja, Dion memang menginginkan wanita yang penurut. Ada rasa bangga yang luar biasa saat mengetahui kalau istrinya adalah orang yang berpendidikan, tapi tetap mengutamakan keputusan suami.


Beberapa obrolan sempat di bahas. Hingga mereka tidak menyadari kalau jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Ekhem, ekhem," deham Dion.


Tuan Wira segera menguap dan menutup mulutnya yang terbuka lebar.


"Duh papa sudah ngantuk Ma. Ayo ah tidur. Mia, terima kasih untuk ceritamu ya! Besok kita sambung lagi," ucap Tuan Wira sambil menarik tangan istrinya.


"Mia, jangan lupa semangat bikin cucu ya!" ucap Nyonya Helen sebelum ia benar-benar keluar dari kamar Mia dan Dion.


"Mas, kamu kode-kode begitu. Mia jadi gak enak sama mama dan papa," ucap Mia saat pintu kamar sudah tertutup.


"Lagian, mereka yang minta dibikinin cucu, tapi mereka malah menghabiskan waktu bulan madu kita," ucap Dion sambil mendekat ke arah Mia.


"Mas, sabar. Mia mau mandi dulu. Sebentar ya!" ucap Mia mendorong tubuh Dion.


Mia segera berlari menuju kamar mandi dan menguncinya. Dalam kamar mandi, Mia membuka ponselnya.


"Ok google, cara memuaskan suami saat bulan madu ceeek," bisik Mia pelan pada ponselnya.


Mia harus mengulangnya beberapa kali karena mungkin suara Mia yang tidak jelas, karena terdengar suara guyuran air di dalam kamar mandi. Mia sengaja menyalakan shower, agar Dion tidak mendengar apa yang diucapkannya. Mia sampai mengulang berkali-kali tapi tak ada hasil yang ia harapkan. Akhirnya Mia mengetik apa yang ingin ia ketahui dalam ponselnya.


Mia membuka matanya lebar-lebar dan membaca dari beberapa sumber. Mia sampai bergidik beberapa kali saat membaca apa yang muncul pada layar ponselnya.


"Miaaa, kamu gak tidur kan?" tanya Dion sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ah, gak mas. Ini sebentar lagi juga selesai," jawab Mia.


Mia segera menyimpan ponselnya dan memulai mandi.


"Kamu lama sekali, aku udah kebelet pipis dari tadi." Dion menggerutu kesal.


"Maaf mas," jawab Mia sambil menjauh dari kamar mandi.


Dion segera masuk ke dalam kamar mandi. Namun saat selesai buang air kecil, Dion curiga saat melihat ponsel Mia ada di dalam kamar mandi.


Apa yang Mia sembunyikan smapai ia harus membawa ponselnya ke dalam kamar mandi?Apa mungkin Mia diam-diam menghubungi mantan suaminya tadi?


Pikiran buruk Dion karena cemburu butanya membuat wajahnya memerah menahan marah. Dion meraih ponsel itu dan membuka aktivitas terakhirnya.


Hah? Google?


Dion membukanya. Seketika rasa cemburu dan kesalnya berubah menjadi senyum bahagia.


"Mas, sudah belum?" tanya Mia dari luar kamar mandi.


"Eh iya. Sebentar," jawab Dion.


Dion segera meletakkan kembali ponsel Mia di tempatnya semula. Dion keluar dan pura-pura tidak tahu kalau ada ponsel Mia di dalam.


"Kamu kenapa sih? Kebelet juga?" tanya Dion saat keluar dari kamar mandi.


"I-iya mas. Mia kebelet ini," jawab Mia gugup dan panik.


Ayolah Mia. Aku akan pura-pura tidak tahu. Kamu belajar yang baik ya! Terima kasih untuk usahamu membuatku bahagia Mia. Aku menunggu hasil belajarmu. Kamu akan mempraktekkan semua itu malam ini kan? Ayolah Mia. Aku sudah tidak sabar.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2