Janda Bersegel

Janda Bersegel
Daftar jadi emak tiri


__ADS_3

"Mi, kamu sabar ya!" ucap Sindi.


"Terima kasih," ucap Mia.


Mia masih diam. Ia tidak beranjak dari makam Pak Baskoro. Tangannya masih memegang kertas yang sudah mulai lusuh.


"Mi, kita pulang yu!" ajak Sindi.


"Aku bahkan gak tahu harus pulang atau justru pergi dari rumah," ucap Mia.


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Sindi.


Tanpa jawaban, Mia hanya memberikan kertas yang ada di tangannya pada Sindi.


"Apa ini?" tanya Sindi.


"Baca aja," jawab Mia.


Dengan ragu, Sindi mulai membuka kertas itu. Ia membacanya dengan seksama. Dari mulai dahinya yang berkerut hingga mulutnya terbuka lebar.


"Mia?" ucap Sindi dengan mata yang membulat sempurna.


Sindi menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Itu sebabnya aku gak mau pulang, Sin." Mia mengusap pipinya yang mulai basah kembali.


"Jadi bule yang tadi itu bapak kandung kamu? Pantas saja kamu cantik," ucap Sindi.


Mia terkejut mendengar ekspresi Sindi. Bukan itu yang ia inginkan. Tapi kenapa Sindi justru terdengar sangat bahagia dengan hasil test itu? Kenapa disaat ia merasa kecewa dengan hasilnya, Sindi malah kegirangan?


"Sindiiii," teriak Mia.


"Eh, kenapa Mi?" tanya Sindi.


"Kamu itu ya!" ucap Mia kesal.


Mia tidak melanjutkan ucapannya. Ia sudah bingung mau berkata apa lagi. Saat ini kepalanya sudah tidak bisa berpikir lagi. Yang Mia hanya menggunakan hatinya. Hati yang kecewa karena hasil test DNA itu tidak sesuai dengan keinginannya.


Sindi menanggapi kekecewaan sahabatnya. Bagi Sindi, seharusnya Mia bersyukur atas hasil test DNA yang sudah keluar itu. Mia yang selama ini tidak pernah mendapat kasih sayang dari Pak Baskoro, justru punya kesempatan untuk mendapat kasih sayang dari ayah kandungnya.


"Aku lihat Tuan bule itu baik loh, Mi. Dia itu humble banget. Aku tadi disambut baik sama Tuan bule," ucap Sindi.


"Tapi kamu gak tahu gimana dia bisa jadi ayah kandung Mia," ucap Mia.


"Memangnya kamu tahu?" tanya Sindi.


"Katanya dia memperkosa ibuku," jawab Mia sedih.


"Katanya? Kata siapa?" tanya Sindi.


"Kata almarhum Bapak," jawab Mia.


"Terus kata ibumu?" tanya Sindi.


Ibu? Bahkan ibunya tidak pernah sekalipun mendengarkan penjelasan tentang semua ini dari ibunya.


"Ibu gak pernah cerita apapun," jawab Mia.


"Jadi kamu harus tanya sama Tuan bule. Itu kan baru katanya. Nah sekarang ada orangnya. Kamu tanya langsung Mi," ucap Sindi.


"Hah? Gila kamu Sin," ucap Mia.

__ADS_1


"Loh, iya dong. Kamu akan dengar langsung dari orangnya. Jawabannya akurat. Udah bukan katanya lagi," ucap Sindi.


"Bisa aja dia bohong. Maling mana ada yang mau ngaku sih?" ucap Mia.


"Ya kamu lihat aja matanya. Masa kamu gak bisa bedain mana yang jujur sama yang bohong? Dia kan bukan artis. Jadi gak mungkin jago acting," ucap Sindi.


"Kalau jawabannya emang begitu?" tanya Mia.


"Ya gak apa-apa dong. Apapun yang terjadi, itu hanyalah masa lalu. Justru kamu harus senang karena kamu punya kesempatan buat mendapat kasih sayang seorang bapak. Selain itu kamu juga bisa berbakti pada Bapakmu. Bukannya itu yang kamu mau?" tanya Sindi.


Mia diam. Entah mengapa jika semua yang Sindi ucapkan itu mengena ke dalam hatinya. Namun ia masih dengan egonya. Sulit rasanya untuk menyatukan antara logika dan perasaannya.


Sindi membujuk Mia untuk pulang. Namun Mia tetap menolak. Ia belum siap untuk bertemu dengan Tuan Felix.


"Ya paling tidak kamu pulang demi Narendra dan Naura lah," ucap Sindi.


Narendra? Naura? Kepala Mia langsung memikirkan kedua anaknya yang ia tinggalkan sejak pagi. Ia juga tidak banyak memompa ASI untuk kedua anak kembarnya.


"Ayo pulang!" ajak Mia.


Mia berdiri dan menarik Sindi dengan semangat. Langkahnya begitu cepat hingga Sindi harus setengah berlari demi mengimbangi langkah sahabatnya itu.


"Nah begitu dong. Lagi pula kan Tuan bule itu ganteng. Tajir lagi. Katanya duda ya? Boleh kali aku daftar jadi emak tiri kamu Mi," ucap Sindi.


"Sindiiii," teriak Mia.


Langkah Mia terhenti. Matanya membulat sempurna dengan kedua tangannya di pinggang.


"Ya ampun Mi, becanda kali. Kamu ambekan," ucap Sindi.


"Mia gak suka becandaan kamu yang kayak gitu," ucap Mia.


"Ya udah kalau gak suka becanda, aku serius aja deh." Sindi melebarkan senyumnya pada Mia.


"Mi, tungguin hey." Sindi berteriak dan berlari mengejar Mia.


Sementara itu, nampak senyum lebar dari Dion dan Nyonya Helen. Akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Sindi berhasil membujuk Mia untuk pulang. Tanpa mereka tahu tragedi apa yang terjadi antara dua wanita itu.


"Sayang," panggil Mia.


"A Dion, Mama. Mia pikir kalian udah pulang," ucap Mia.


"Mana mungkin kami ninggalin kamu," ucap Nyonya Helen.


"Kita pulang sayang?" tanya Dion.


"Iya A," jawab Mia.


"Akhirnya. Ayo sayang masuk," ucap Dion.


Dion berjalan lebih cepat dan membukakan pintu untuk Mia.


"Eh, mau kemana kamu?" tanya Dion saat melihat Sindi mau ikut masuk ke dalam mobil.


"Mau pulang," jawab Sindi.


"Mobilnya penuh," ucap Dion.


"Loh Tuan, terus saya gimana?" tanya Sindi.


"Kamu ikut ke mobil itu!" jawab Dion.

__ADS_1


Dion menunjuk mobil yang tadi membawa Mia ke tempat itu. Sindi mengangguk dan menghampiri mobil yang ditunjuk Dion.


Huh, dasar orang kaya. Padahal cuma tiga orang. Aku juga harusnya masih bisa masuk. Tuan Dion gak tahu kalau naek angkot bisa sampai mepet-mepe**t.


"Eh Sin," panggil Dion.


"Iya, Tuan." Sindi berbalik dan menghapiri Dion.


"Terima kasih ya! Nanti aku kasih bonus karena kamu udah berhasil bujuk Mia pulang," ucap Dion.


"A, ayo buruan!" ucap Mia.


"Iya sayang," jawab Dion. "Ya sudah kamu juga pulang. Nanti ketemu di rumah ya!" ucap Dion pada Sindi.


"Baik, Tuan." Sindi mengangguk.


"Sin, kamu gak pulang?" tanya Mia dari dalam mobil.


"Dia sama sopir sayang," jawab Dion dengan cepet.


Mia melambaikan tangannya pada Sindi. Sindi juga membalas lambaian tangan dari Mia. Hingga mobil Mia berlalu, Sindi masuk ke dalam mobil yang ditunjuk Dion.


"Maaf, Anda siapa?" tanya sopir Mia.


"Lah, kamu gak tahu siapa saya?" tanya Sindi.


Sopir itu menggeleng. Sindi menepuk dahinya pelan dan menjelaskan tentang siapa dirinya. Melihat kerutan di dahi sang sopir, Sindi menghela napas panjang.


Kalau anak kambing, aku bakar ya kamu. Lumayan buat kambing guling. Bisa kebagain sekecamatan sih ini.


Sindi menjelaskan apa yang ia tahu tentang Mia dan Dion. Sampai akhirnya sopir itu percaya dan membawa Sindi pulang ke rumah Dion.


Saat mobil sudah sampai ke rumah Mia, nampak semua orang menyambut kedatangan Mia. Kabar hilangnya Mia membuat seisi rumah menjadi heboh. Hingga saat Mia pulang, mereka semua menyambutnya. Tidak terkecuali Rian dan Tuan Felix.


Berbeda dari biasanya, Mia berlalu tanpa menghiraukan siapapun. Hingga semu pekerja saling bertatapan satu sama lain. Mereka mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak berani mereka ungkapkan. Mia langsung menuju akamr Narendra dan Naura. Segera menggendong Narendra karena Naura sedang tidur. Ia menyusui Narendra dengan penuh kasih sayang.


Lama, Mia tidak keluar dari kamar bayi kembarnya. Dion yang berada di dalam hanya menemani Mia dan tidak berani bicara apapun. Dion menjaga perasaan Mia. Ia takut menyinggung perasaan istrinya yang tengah rapuh.


Sementara Nyonya Helen masuk ke kamarnya setelah meminta Mba untuk menunjukkan kamar Sindi. Merasa tidak mendapat jawaban, Tuan Felix meminta Rian mengikuti Sindi untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Mia.


"Kak Sindi, Kak Mia dari mana? Kenapa dia?" tanya Rian.


Sindi hanya menggeleng. Ia tidak bisa menjelaskan apapun.


"Nanti tanya aja sama Mia ya," ucap Sindi.


"Ya sudah selamat istirahat ya Kak," ucap Rian.


Rian pamit meninggalkan kamar Sindi. Ia kembali ke kamar Tuan Felix untuk mengabarkan jika dirinya gagal. Ia tidak mendapat informasi apapun dari Sindi.


Suasana rumah menjadi berbeda. Dingin. Tidak saling bicara satu sama lain. Mereka yang tidak pernah mendapati Mia bertindak dan bersikap seperti itu, menjaga tingkahnya agar tidak membuat kesalahan apapun.


Tuan Felix dan Ruan juga tidak keluar kamar. mereka hanya berdiskusi berdua. Saling menerka apa yang terjadi pada Mia, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2