Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tukang Karpet


__ADS_3

Keadaan rumah yang berbeda terjadi diantara rumah Dion dan rumah Danu. Rumah Dion yang sedang sangat hangat karena kehadiran bayi kembar Mia. Sementara rumah Danu sedang sunyi, dingin. Nyonya Nathalie yang tengah menyesali semua kelakuannya pada Mia di masa lalu, membuat suasana rumah Danu tidak sehangat biasanya.


Kalau urusan kepala, nampaknya Mia dan Danu justru memikirkan hal yang sama. Mia memang sudah tidak menyimpan perasaan apapun pada Danu, bahkan ia sering disakiti oleh Nyonya Nathalie. Namun melihat perubahan Nyonya Nathalie, Mia merasa terbebani. Ia ingin semuanya baik-baik saja tanpa ada hati yang terluka. Tapi sepertinya itu sulit. Begitu juga dengan Danu, ia tengah memikirkan tentang hubungan ibunya dan Mia.


Menurut Danu, langkah paling tepat adalah dengan tidak menghubungi Mia lagi. Tapi dengan begitu, Nyonya Nathalie justru merasa semakin bersalah. Dan itu membuat kondisinya semakin menurun.


Pagi ini Danu dan Tuan Ferdinan berangkat lebih pagi. Tuan Ferdinan yang pergi ke suatu tempat untuk meeting, sedangkan Danu hanya ingin menghindar dari ibunya. Tidak ada yang ia buru, kecuali meja kerjanya. Dalam ruangannya Danu tengah tertunduk saat kepalanya terasa berat dengan masalah lama yang kini terangkat kembali. Tangannya menyangga kepalanya. Sesekali memijatnya untuk sedikit menghilangkan rasa sakit itu.


Tanpa sepengetahuan Danu, Nyonya Nathalie kembali menemui Mia. Namun kali ini penjagaan di rumah Dion jauh lebih ketat. Nyonya tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk bisa menginjakkan kakinya bahkan di parkiran sekalipun.


"Saya ingin bertemu dengan Mia," ucap Nyonya Nathalie dengan memelas.


"Maaf Nyonya, tapi saya hanya menjalankan tugas. Nyonya Helen sedang tidak menerima tamu. Siapapun itu," ucap Satpam yang berjaga di pos depan.


Setelah berusaha dengan berbagai alasan namun gagal, Nyonya Nathalie memutuskan untuk duduk di sana. Menunggu siapapun yang keluar dari rumah itu. Ia yang tengah bersedih tidak tahu kalau di dalam rumah, justru Mia dan yang lainnya sedang berbahagia saat membahas nama untuk bayi kembar mereka.


"Jadi namanya siapa?" tanya Tuan Wira.


"Yang pasti bukan Samsudin Pa," jawab Nyonya Helen.


"Namanya Narendra dan Naura," ucap Mia.


Senyumnya mengembang sembari mengusap pipi halus Naura yang berada dalam gendongannya.


"Panggilannya Reren dan Uu ya?" tanya Tuan Wira.


Senyuman Mia mendadak hilang dari bibirnya. Kini bibir merah muda itu mengerucut. Matanya menatap Dion tajam.


"Kok aku? Kan yang bilang Papa," ucap Dion.


"Becanda Mia. Ya ampun kamu sensitif banget sih," ucap Tuan Wira. "Mana sini aku gendong bayi Naura yanh cantik ini," lanjutnya sembari mengangkat Naura dari gendongan Mia.


Tuan Wira sibuk mengajak Naura bermain. Hebohnya seperti ia sedang bicara dengan orang yang sudah mengerti apa yang ia bicarakan. Padahal Naura tidak meresponnya sama sekali.


"Pa, jangan keras-keras dong ngomongnya. Nanti Naura jantungan. Narendra juga sampai bangun," ucap Nyonya Helen.


"Ah, gak keras kok. Ini suara Papa sudah merdu banget. Mirip Iwan Fals," ucap Tuan Wira.


"Wira Fals. Menang fals nya aja," ejek Nyonya Helen.


"Mama kalau ngomong suka bener deh," timpal. Dion.


"Anak sama bapak sama aja. Kompak bener kalau udah urusan membully Papa," ucap Tuan Wira.


Gelengan kepala Mia dan senyumannya yang tertahan cukup untuk ikut menanggapi apa yang mereka bahas pagi ini.


Waktu semakin siang. Dion dan Tuan Wira pamit untuk berangkat ke kantor. Karena Naura dan Narendra sudah tidur, maka Mia dan Nyonya Helen mengantar Tuan Wira dan Dion sampai garasi.


"Aku berangkat ya!" ucap Dion.


Mia mencium tangan Dion, kemudian Dion mengusap kepala Mia dan mencium dahinya. Entah sengaja atau tidak sadar kalau di sana ada Tuan Wira dan Nyonya Helen. Keromantisan mereka ternyata menggugah jiwa muda Tuan Wira. Tuan Wira yang sudah masuk mobil lebih dulu turun lagi.


"Ma," ucap Tuan Wira.


Tangan Tuan Wira melengkung di hadapan istrinya. Tidak seperti Mia yang langsung menyambut tangan Dion, Nyonya Helen hanya menatap tangan Tuan Wira dengan kerutan di dahinya.


"Ma, ayo! Kita gak boleh kalah sama mereka," ucap Tuan Wira.


"Oh," ucap Nyonya Helen.


Nyonya Helen segera menyambut tangan Tuan Wira dan menciumnya. Selanjutnya, seperti Dion, Tuan Wira mengusap kepala Nyonya Helen dan menciun dahinya.


"Ah, Papa rambut Mama jadi acak-acakan nih. Pelan-pelan dong," ucap Nyonya Helen.


"Ya ampun Ma. Papa juga pelan-pelan kok. Kerja sama dong. Jangan bikin Papa malu. Mama gimana sih," ucap Tuan Wira kesal.


"Lagian, mau romantis kok nyontek? Gak kreatif banget sih," ejek Dion.


Mia hanya bisa menahan tawa dan melambaikan tangannya saat melihat Dion masuk ke dalam mobil. Hanya beberapa detik, Dion turun lagi saat mendengar seorang wanita memanggil nama istrinya.


"Miaaaaa," teriak wanita itu berkali-kali.


Ya, suara yang memang sudah tidak asing itu memang milik Nonya Nathalie. Dion menghela nafas panjang saat melihat raut wajah Nyonya Helen sudah berubah saat mendengar teriakan Nyonya Nathalie.


"Ma, masuk! Biar aku yang urus," ucap Dion.


"Gak bisa. Mama harus bikin perhitungan sama wanita itu. Mau ngapain lagi sih dia? Selalu saja cari gara-gara. Bikin kesal aja," ucap Nyonya Helen.


Nafasnya mulai memburu, Dion tahu jika dibiarkan maka akan terjadi pertengkaran besar. Bahkan lebih besar dari sebelumnya. Dion memberi kode pada Mia agar membawa Nyonya Helen masuk ke dalam rumah.


"Mia, Mia, tunggu sebentar! Aku mau bicara. Aku cuma mau minta maaf. Aku janji tidak akan menyakitimu," teriak Nyonya Nathalie.


Hati Mia sakit saat mendengar teriakan Nyonya Nathalie. Ia yang sudah tidak punya ibu merasa selalu mudah tersentuh saat berurusan dengan wanita seumuran ibunya. Apalagi saat melihat tangan Nyonya Nathalie dipegang erat oleh satpam, bak tahanan. Ingin sekali ia melepaskannya dan memeluknya. Mia bahkan sudah lupa kalau tangan itu sempat menunjuk-nunjuk wajahnya, merendahkannya bahkan hampir menamparnya di depan umum.

__ADS_1


Mia menelan salivanya. Menguatkan hatinya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak ingin masalah semakin panjang dan runyam.


Maaf Nyonya. Mia harap Nyonya pulang dan istirahat. Mia sudah memafkan Nyonya jauh sebelum Nyonya memaafkan Mia.


Mia berjalan menjauh membawa Nyonya Helen masuk dan menyembunyikan rasa sakitnya.


"Tolong Pak, saya mau bicara dengan Mia. Sebentar saja," ucap Nyonya Nathalie.


Tanpa malu dan peduli dengan harga dirinya Nyonya Nathalie terduduk bersimpuh meminta kesempatan. Tapi apa boleh buat, Mia memang sudah masuk ke dalam rumah.


Dion yang masih merasa kesal saat mengingat semua perlakuan Nyonya Helen, seketika iba. Bagaimanapun ia memiliki Nyonya Helen. Ia tidak sanggup jika membayangkan wanita di hadapannya adalah ibunya sendiri.


"Nyonya, bangunlah!" ucap Dion.


Dion memegang bahu Nyonya Nathalie dan membantunya berdiri.


"Dion, tolong. Saya hanya ingin bertemu dengan Mia," ucap Nyonya Nathalie.


Dion diam. Ia memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Dion tahu betul kalau Nyonya Helen sangat menyayangi Mia layaknya anak kandungnya sendiri. Wajar rasanya jika ingatannya tentang perlakuan Nyonya Nathalie pada Mia, menentukan sikap Nyonya Helen sekarang.


"Dion, saya mohon. Saya hanya ingin bertemu dengan Mia. Saya ingin meminta maaf. Saya ingin memeluknya," ucap Nyonya Nathalie dengan berderai air mata.


Melihat air mata Nyonya Nathalie, hatinya tidak bisa menolak. Ia mengusap kedua pipi Nyonya Nathalie dan mengangguk.


"Tapi tidak sekarang ya! Dan tidak di sini. Tolong hargai ibu saya. Nyonya tuliskan nomor ponsel di sini, nanti saya hubungi jika saya keluar bersama Mia," ucap Dion.


Nyonya Nathalie mengambil ponsel Dion dengan sangat antusias. Senyumnya mulai tergambar dalam guratan bibir pucatnya.


"Terima kasih, terima kasih," ucap Nyonya Nathalie berulang-ulang dan memberikan kembali ponsel Dion.


"Sama-sama. Sekarang lebih baik Nyonya pulang saja. Istirahat," ucap Dion.


Anggukan kepala Nyonya Nathalie dilanjutkan dengan langkah kakinya yang semakin menjauh dari rumahnya. Dion masih mengamati Nyonya Nathalie. Jalannya yang terseok-seok membuat Dion khawatir. Apalagi saat Dion tidak melihat satupun mobil yang membawanya pergi dari sekitar rumah Dion.


Tuan Wira tidak ikut campur. Bukan tidak peduli, tapi ia melihat apa yang akan dilakukan oleh Dion. Ternyata sesuai apa yang ia harapkan.


Kamu semakin dewasa dan bijaksana Di. Narendra dan Naura pasti bangga memiliki ayah sepertimu.


"Di," panggil Tuan Wira.


"Iya Pa," jawab Dion.


Saat Tuan Wira mengajaknya untuk berangkat bersama, tiba-tiba Dion menolaknya. Ia memilih untuk membawa mobil sendiri. Ia ingin memastikan kalau Nyonya Nathalie benar-benar sampai ke rumahnya dengan selamat.


Seolah mengerti dengan niat Dion, Tuan Wira tidak banyak bertanya. Ia hanya mengiyakan dan berangkat lebih dulu meninggalkan Dion. Setelah mobilnya melewati Nyonya Nathalie, Tuan Wira mengangguk. Rasa bangganya pada Dion semakin besar.


Dion mengamati jalanan. Matanya mencari ke seluruh jalanan yang masih sejuk di pagi ini. Nyonya Nathalie tidak ada.


"Apa mungkin dia sudah ada yang jemput?" gumam Dion.


Dion menghentikan mobilnya saat mengingat sesuatu. Ia meraih ponsel dalam saku celananya dan memanggil nomor Nyonya Nathalie.


Sampai tiga kali, tidak ada jawaban sama sekali. Dion menyerah. Ia menyimpan kembali ponselnya dan kembali memacu mobilnya. Baru saja beberapa detik, ia orang-orang sedang berkumpul di sebuah warung.


"Ada apa itu?" tany Dion pada dirinya sendiri.


Melihat jam di pergelangan tangannya, Dion mengurungkan niatnya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ini sudah siang. Ia bisa terlambat. Namun tiba-tiba seseorang melambaikan tangannya dan meminta bantuan untuk mengantarkan orang yang pingsan. Dilema, di satu sisi ia harus ke kantor. Tapi di sisi lain, rasa kemanusiaannya tergugah.


Kasihan kalau tidaj ditolong. Ah tapi aku tidak kenal siapa orang itu.


Batinnya terus berperang saat mengingat waktu semakin cepat. Hampir saja Dion kembali memacu mobilnya, namun ia mengurungkannya. Karena ternyata, rasa kemanusiaannya lebih besar.


Dion turun dan mempersilahkan orang itu masuk ke dalam mobilnya. Namun saat orang yang diangkat itu semakin dekat, matanya membulat sempurna.


"Nyonya Nathalie?" ucap Dion spontan.


"Anda mengenalnya?" tanya salah seorang yang menolong Nyonya Nathalie.


"Oh iya. Biarkan saya saja yang membawanya. Terima kasih sudah membantunya," ucap Dion.


Dion kembali memacu mobilnya. Tidak ke rumahnya. Ia memilih mengantarkan Nyonya Nathalie ke rumah sakit.


Pantas saja dia tidak ada. Ternyata dia pingsan. Anda kenapa Nyonya? Apakah semua ini karena Mia? Jangan sampai anak dan suamimu menyalahkan Mia atas kejadian ini.


"Dimana ini?" tanya Nyonya Nathalie dengan suara parau.


"Anda sudah sadar, Nyonya?" tanya Dion.


"Dion?" tanya Nyonya Nathalie.


"Iya. Tadi Anda pingsan. Bersabarlah, saya akan membawa Anda ke rumah sakit." Dion kembali fokus menyetir.


"Tidak, tolong antarkan saya pulang." Pinta Nyonya Nathalie.

__ADS_1


"Tapi Anda sedang tidak baik-baik saja. Biarkan Dokter memeriksa Anda dulu sebelum pulang," ucap Dion.


"Sudah ada obat dari dokter di rumah. Jadi tolong antarkan saya pulang," ucap Nyonya Nathalie.


"Baik," jawab Dion setelah kepalanya berfikir.


Dion tak habis fikir kalau Nyonya Nathalie menemui Mia sendirian dalam keadaan ia sedang sakit.


Mia kamu memang orang baik. Bahkan kamu sendiri bisa menyaksikan orang yang menjahatimu menyesali semua itu. Ia bahkan rela sampai memohon dan kehilangan harga dirinya hanya karena butuh kata maaf dari kamu.


Sesampainya di rumah Nyonya Natahlie, nampak mobil Danu hendak keluar dari rumah itu. Melihat Nyonya Nathalie keluar dari mobil Dion, Danu dan Tuan Ferdinan memburunya. Ternyata kabar kepergian Nyonya Nathalie sudah sampai ke telinga Danu dan Tuan Ferdinan, hingga mereka pulang untuk menanyakan bagaimana bisa mereka lengah menjaga Nyonya Nathalie.


"Mami, Mami kenapa? Mami gak apa-apa kan? Mami kenapa gak bilang sama aku kalau mau keluar? Kenapa Mami harus kabur?" tanya Danu.


Kabur? Seperti itukah perjuangan seorang Nyonya Nathalie untuk mendapatkan maaf dari Mia?


Dion mengamati sikap Danu. Begitu khawatir dan sangat panik. Dion bisa menilai rasa cinta Danu pada ibunya. Di mata Dion, Danu sangat baik. Bagi Dion, orang mencintai ibunya maka dia adalah orang yang sangat baik. Meskipun hatinya tidak rela, tapi Danu memang masuk dalam kriteria itu.


"Saya permisi pulang," ucap Dion.


Danu tidak menjawab. Setelah kepanikannya melihat kedatangan Nyonya Nathalie, wajahnya kini berubah menjadi dingin. Tidak marah dan tidak pula menyambut Dion.


"Dion, saya tunggu kabar dari kamu ya! Sampai kapanpun akan saya tunggu," ucap Nyonya Nathalie.


Dion mengangguk hormat pada Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan tanpa menghiraukan Danu sama sekali.


Dia adalah mantan suami Mia. Meskipun aku yang sudah mendapatkan harta berharga Mia, tapi paling tidak kan dia sudah melakukan cicilan selama hampir satu tahun. Dih, udah kayak tukang karpet aja dia.


Ah. Dion gelisah. Kepalanya panas saat membayangkan semua masa lalu Mia dan Danu.


"Dion," panggil Danu.


Apa lagi sih tukang karpet?


Dion menatap sumber suara tanpa menjawabnya.


"Terima kasih," ucap Danu.


Masih tidak menjawab. Hanya senyum penuh paksaan yang sudah ia tunjukkan pada Danu, sebelum ia benar-benar masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, kepalanya terus memikirkan masa lalu Mia dan Danu. Frustasi, rasanya tidak mau jika Mia harus bertemu dengan Nyonya Nathalie. Namun saat mengingat apa yang dilakukan Nyonya Nathalie, ia tidak tega.


Sementara di tengah kegalauan Dion, Danu justru nampak sedang menyimak cerita Nyonya Nathalie tentang kebaikan Dion. Sebagai seorang ibu yang berusaha sebijak mungkin, Nyonya Nathalie tidak menceritakan semua yang terjadi tadi pagi. Ia hanya menceritakan semua kebaikan Dion padanya. Hal ini tentu ia. lakukan agar suasana tidak semakin keruh. Nyonya Nathalie ingin semua bebam di hatinya bebas. Karena sampai saat ini, hidupnya merasa sangat terbebani karena kesalahannya di masa lalu.


"Dion itu baik. Ia mengusap air mata Mami, mengantar Mami pulang dan janji mau bawa Mia ketemu sama Mami," ucap Nyonya Nathalie.


"Iya. Ini udah kedua kalinya Mami cerita begini," ucap Danu kesal.


Danu memang sempat tersentuh dengan kebaikan Dion, tapi mendengar Nyonya Nathalie kembali mengulang semua itu, Danu menjadi cemburu.


"Kok kamu marah sih sama Mami?" tanya Nyonya Nathalie.


"Kenapa kalau marah? Karena Dion gak marah tadi sama Mami? Dih males. Aku balik ke kantor ya!" ucap Danu.


Tuan Ferdinan tetap berada di samping Nyonya Nathalie. Menguatkan istrinya dan mengingatkannya dengan cara halus dan sangat lembut. Menata bahasa sebaik mungkin agar sampai dengan enak di telinga Nyonya Nathalie. Bagaimanapun, saat ini istrinya sedang tertekan. Tapi Danu juga bisa tertekan saat hal ini terus diulang oleh Nyonya Nathalie.


"Pi, nanti kalau Mami mau ketemu sama Mia, Papi ikut gak?" tanya Nyonya Nathalie.


"Iya nanti Papi temani Mami ya!" jawab Tuan Ferdinan.


"Tapi kita beli dulu kado buat bayi kembarnya Mia ya!" pinta Nyonya Nathalie.


"Iya. Mami tenang aja. Nanti kita beli hadiahnya ya! Sekarang itu yang paling penting Mami sehat. Mami makan ya!" ucap Tuan Ferdinan.


"Gak ah Pi. Mami gak nafsu makan," ucap Nyonya Natahlie.


"Gimana Mami mau sehat kalau Mami gak mau makan? Terus kalau tiba-tiba Mia ngajak Mami buat ketemu gimana? Mami harus sehat dulu," bujuk Tuan Ferdinan.


Mendengar ucapan Tuan Ferdinan, Nyonya Nathalie langsung menyambar piring yang ada di tangan Tuan Ferdinan.


"Sini Mami makan sendiri Pi. Biar Mami cepat sembuh. Bahaya kalau Mia ngajak ketemu pas Mami masih sakit. Bisa-bisa Mia gak jadi nemuin Mami karena takut ketularan!"


Tuan Ferdinan mengamati apa yang dilakukan oleh istrinya. Mia benar-benar membawa dampak besar bagi Nyonya Nathalie. Istrinya sampai sakit karena Mia, dan hanya Mia pula yang bisa membuatnya semangat untuk sembuh.


Mia, seandainya masa kelam itu tidak kita lewati mungkin saat ini kami akan menjadi keluarga paling berharga. Tapi saat ini kamu sudah bahagia dengan keluarga barumu. Aku hanya bisa mendoakan agar kamu lebih dan selalu bahagia.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2