Janda Bersegel

Janda Bersegel
Sembuh? Sakit apa?


__ADS_3

Mia mulai masuk ke dalam ruangan akad. Kepalanya terasa berat dengan hiasan kepala yang sangat besar. Mia berjalan dengan memegang tangan Danu. Saat memasuki ruangan, ia dibuat tercengang. Apa ini?


Dekorasi yang sangat mewah, kue pengantin yang berukuran besar, tamu undangan yang begitu banyak, membuat Mia seakan berhenti bernapas. Mia menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Danu.


"Kok begini?" tanya Mia.


"Apanya?" tanya Danu.


"Ini kok ramai begini?" tanya yang terlihat panik.


"Ini hanya staf dan beberapa kerabat dekat papi, Mia. Sesuai permintaan kita. Ini hanya pernikahan sederhana saja," ucap Danu.


Mia menatap Danu tak percaya. Mungkin Mia belum terbiasa berada di tengah keluarga Danu yang berbeda kasta dengannya. Dulu, saat Mia menikah dengan sederhana, benar-benar tidak banyak orang yang menghadiri pernikahannya. Hanya ada sekitar dua puluh orang saja. Itu juga sudah termasuk penghulu dan Pak Kades. Yang banyak itu hanya penonton. Bukan karena mereka ingin menyaksikan kebahagiaan Mia. Tapi mereka ingin memastikan kalau Mia benar-benar menikah dengan pria yang berbeda usia tiga puluh tahun. Untuk apa lagi kalau bukan untuk bahan gosip, saat berkumpul di warung.


Di sini, untuk pernikahan keduanya ia merasa ini lebih dari pernikahan pertamanya. Kalau di kampungnya, nikahan yang dianggap sederhana oleh keluarga Danu ini adalah pernikahan mewah.


"Mia," panggil Danu yang melihat calon istrinya itu masih terdiam.


"Eh iya mas," jawab Mia.


"Ayo!" ajak Danu untuk segera duduk di meja akad.


Mia duduk di samping Danu dan menghadap ke arah penghulu. Mia menggunakan wali hakim untuk menikah. Tangan Danu mulai menjabat tangan wali hakim itu. Dengan bimbingan dari penghulu, Andra mulai mengucapkan ijab kabul. Ia mengucapkan janji suci nuntuk Mia. Dengan sukarela menikahinya dan akan membimbingnya hingga akhir hayatnya.


"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.


"SAAAAHHHHH," teriak beberapa orang yang menyaksikan pernikahan mereka.


Suara yepuk tangan dan riuhnya teriakan dari orang-orang yang menghadiri pernikahan itu, membuat suasana gedung menjadi semakin ramai.


Danu dan Mia mengangkat tangannya untuk berdoa dan bersyukur atas apa yang sudah dijalaninya. Pernikahan pertama bagi Danu, dan pernikahan kedua bagi Mia. Namun mereka berharap kalau ini adalah pernikahan terakhir bagi mereka berdua.


Meskipun dalam hati Danu penuh keraguan dengan kehidupan rumah tangganya nanti, namun Danu berusaha tenang. Ia pasrah, menyerahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Danu tidak tahu bagaimana menjalani hidup dengan Mia. Danu yang selama tiga puluh lima tahun terbiasa hidup sendiri itu, kini akan memulai babak baru di kehidupannya.


Danu sungkem pada ibunya.


"Mi, Mami adalah malaikat tak bersayapku. Aku tidak tahu harus berkata apa karena menurutku ucapan terima kasih, bahkan berkorban nyawa saja rasanya tidak akan cukup untuk membalas semua kebaikan dan pengorbanan Mami padaku," ucap Danu.


"Sayaaaang," ucap Nyonya Nathalie segera memeluk erat anak kesayangannya.


"Mami," ucap Danu.


"Selamat sayang. Sekarang kamu adalah pemimpin untuk Mia. Ajari dan didik Mia sebisamu. Mami tidak meminta apapun darimu, Mami hanya ingin kau bahagia. Perlakukan Mia sebaik mungkin. Jangan sakiti lahir dan batinnya. Karena jika kamu menyakiti Mia, itu sama artinya kamu juga menyakiti Mami." ucap Nyonya Nathalie.


"Danu akan selalu membahagiakan Mami dan Mia. Kalian adalah dua wanita yang melengkapi hidupku," ucap Danu.


Kini giliran Mia yang sungkem pada Nyonya Nathalie.


"Mi, terima kasih sudah mendidik mas Danu hingga seperti ini," ucap Mia.


"Mia, sayangi dan bahagiakan Danu ya! Kebahagiaan Mami adalah saat melihat Danu bahagia. Mami hanya bisa mendidik Danu menjadi seperti ini. Seiring berjalannya waktu, Mami yakin dengan kehadiran kamu, Danu akan jauh lebih baik lagi," ucap Nyonya Natahalie pada Mia.


"Mia akan berusaha untuk selalu membahagiakan mas Danu. Meskipun Mia tidak tahu apa yang harus Mia lakukan," jawab Mia.


"Lakukan apa yang kamu bisa setulus mungkin. Mami yakin itu akan membuat Danu bahagia," ucap Nyonya Nathalie yang mencium kedua pipi menantunya.


Danu sungkem di kaki Tuan Ferdinan.


"Pi, terima kasih sudah membimbing dan mengajarkan aku segala hal yang belum aku tahu hingga aku menjadi tahu. Dari apa yang tidak aku bisa, hingga aku mengusai semua itu," ucap Danu pada Tuan Ferdinan.

__ADS_1


"Selamat menempuh hidup baru sayang. Ini memang akhir dari pencarianmu, tapi adalah awal untuk menjalani kehidupan baru. Jadilah suami yang bisa memimpin rumah tanggamu Jadilah pria yang selalu dirindukan oleh istrimu. Jadilah bahu yang selalu siap untuk menanggung semua beban keluarga kecilmu," ucap Tuan Ferdinan sambil memeluk anak semata wayangnya.


Danu tak mampu menjawab lagi ucapan Tuan Ferdinan. Yang bisa ia lakukan adalah memeluk ayahnya sebagai wujud terima kasih yang sedalam-dalamnya.


Selama ini, Tuan Ferdinan adalah orang yang paling memaksa Danu untuk segera menikah. Banyak drama yang dilalui mereka akhir-akhir ini. Mereka bisa saling mengejek dalam konteks becanda. Dan itu justru menjadikan Tuan Ferdinan merasa lebih dekat dengan anaknya itu. Semua berkat wanita yang ada di samping Danu. Ya, diakui atau tidak, Mia memang membawa dampak besar bagi keluarga Tuan Ferdinan.


Kini giliran Mia yang sungkem di kaki Tuan Ferdinan.


"Pi, terima kasih sudah menjadi ayah terbaik untuk Danu dan untukku. Aku berharap papi bisa menyayangiku sama seperti papi menyayangi Danu. Jangan sungkan tegur aku jika aku salah, karena sekarang aku adalah anak papi," ucap Mia.


"Mia, aku seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena sudah bersedia menjadi pendamping hidup anakku," ucap Tuan Ferdinan pada Mia.


Mia mengangguk dan memeluk ayah mertuanya itu. Matanya berlinang, ia merasa sangat terharu atas ucapan dan perlakuan dari Tuan Ferdinan.


"Mia juga berterima kasih karena kalian sudah mau menerima segala kekurangan dan keterbatasan yang Mia miliki," ucap Mia.


"Mulai sekarang, kita adalah keluarga. Segala bentuk kekurang dan kelemahan, harus bisa saling menerima dan menutupi satu sama lain," ucap Tuan Ferdinan sambil mengusap punggung Mia.


Mia tersenyum bahagia saat melihat dan mendengar kesungguhan yang diucapkan oleh ayah mertuanya itu.


Saat acara akad dan sungkem sudah selesai, kini giliran pesta yang menurut keluarga Danu sederhan itu dimulai. Meskipun dekorasi dan tamu undangannya sederhana, tapi jamuan makannya nampak istimewa. Nyonya Nathalie meyiapkan makanan terbaik untuk semua tamu undangannya.


Mia mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan. Nampak setiap orang sedang menikmati jamuannya dengan wajah yang sangat bahagia. Mia tidak menyangka kalau ia bisa menjadi bagian dari keluarga Danu. Menjadi menantu dari anak semata wayangnya keluarga Tuan Ferdinan itu menjadi beban tersendiri bagi Mia. Mia harus bisa belajar dengan cepat bagaimana meyesuaikan diri untuk berada di lingkungan Tuan Ferdinan. Mia mempelajari bagaimana tamu-tamu itu mengenakan pakaiannya ketika mengunjungi pesta, bagaimana cara berjalan, dan bersikap, sampai Mia mempelajari bagaimana cara makan saat mengunjungi sebuah pesta.


Mka adalah anak yang cerdas, yang bisa belajar kapan saja dan dimana saja. Termasuk di saat pernikahannya sedang berlangsung.


Waktu terus berjalan dan berlalu. Tamu undanga mulai pamit satu per satu, hingga akhirnya mereka hanya tinggal berempat. Semakin lama, ia semakin sedih. Di saat hari yang membahagiakan dalam hidupnya, ternyata Mia tidak dihadiri oleh keluarganya satupun. Mia hanya melihat orang-orang yang tak dikenalnya berlaku lalang menikmati setiap hidangan dan beberapa pertunjukan sederhana.


Ibunya yang sudah tiada, ayahnya yang tak pernah menganggapnya anak itu juga tidak datang. Jangankan saat pesta pernikahannya saat Bu Ningsih meninggal saja, Pak Baskoro tidak datang untuk melayat. Setelah bercerai dengan Bu Ningsih, Pak Baskoro memang sudsah memutus segala bentuk hubungan dengan Mia dan ibu kandungnya itu.


Satu-satunya orang yang ia anggap keluarga adalah Haji Hamid. Mia sudah berkomunikasi dan meminta Haji Hamid untuk menghadiri pernikahannya. Meskipun Haji Hamid tidak berjanji akan hadir, tapi ia tidak menolaknya. Haji Hamid berkata kalau ia akan mengusahakannya. Namun setelah acara selesai pun, Haji Hamid tidak terlihat batang hidungnya.


Mia berusaha menutupi semua kesedihannya. Mia tidak ingin terlihat sedih di hari bahagianya. Bahkan setelah selesai berganti pakaian pun, Mia masih bisa menahan air matanya.


"Mami pulang duluan ya, ngantuk." Nyonya Nathalie berusaha untuk menyembunyikan semuanya agar tidak membuat Danu dan Mia menjadi panik.


Danu dan Mia yang tidak curiga sedikitpun, mengiyakan saja. Karena Mia juga belum selesai mengganti seluruh pakaiannya. Setelah pakaiannya diganti, penata rias itu meninggalkan Danu dan Mia. Saat di ruangan itu menyisakan mereka berdua, tangis Mia pecah. Mia tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya.


"Mia ada apa?" tanya Danu panik. "Apa kau merasa menyesal sudah menikah denganku?" tanya Danu kembali.


Mia menggeleng dan terus menangis di pelukan Danu. Danu memeluk dan mengusap halus kepala Mia dan sesekali mengecup pucuk kepala istrinya. Semakin lama, Mia semakin tenang dan tangisnya mulai mereda. Danu tidak bertanya lagi tentang apa yang menyebabkan Mia menangis. Sekarang, yang dilakukan Danu adalah menenangkan dan meyakinkan istrinya kalau ada Danu sekarang. Danu akan selalu siap menjadi teman bicara Mia dalam segala hal.


"Mia sedih karena tidak ada satupun keluarha Mia yang menghadiri bahagia ini," ucap Mia.


"Loh, Mami sama Papi kan sudah jadi keluarga kamu. Masa kamu tidak menganggap mereka keluargamu?" tanya Danu.


"Bukan seperti itu Mas, tapi Mia malu sama tamu undangan. Mereka pasti berpikir kenapa tidak ada satupun keluarga Mia yang datang," ucap Mia sedih.


"Mia, dengarkan aku! Kita hanya memiliki dua tangan. Kita tidak bisa membungkam mulut mereka satu per satu. Yang bisa kita lakukan adalah menggunakan kedua tangan kita untuk menutup kedua telinga kita. Jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Lakukan seperti ini!" Danu mengangkat kedua tangan Mia ke telinganya.


Mia tersenyum dan memeluk suaminya.


"Terima kasih ya mas. Mas sudah membuat Mia merasa jadi orang yang sangat beruntung," ucap Mia.


Danu membalas pelukan Mia dengan erat.


"Mia, kau tidak perlu menjelasakan tentang apa dan siapa dirimu pada orang lain. Mereka yang membencimu tidak akan percaya, dan mereka yang menyayangimu dengan tulus, tidak membutuhkan semua itu. Lakukan yang terbaik menurutmu. Jangan hiraukan omongan mereka," ucap Danu.


"Iya Mas. Tapi Mia kecewa saja karena Pak Haji tidak datang. Padahal Pak Haji sudah janji akan datang," ucap Mia.


Danu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mia.

__ADS_1


"Pak Haji?" tanya Danu.


"Iya. Karena selama ini hanya Pak Haji yang Mia anggap sebagai keluarga," ucap Mia.


Jadi yang membuat Mia menangis dan kecewa itu Pak Haji? Sebegitu berartinya mantan suaminya itu untuk Mia? Bahkan di hari pernikahannya saja, Mia masih memikirkan mantan suaminya. Kini bukan hanya Mia, tapi Danu juga merasa kecewa.


Tak lama suara ketukan pintu terdengar sangat nyaring.


"Siapa?" tanya Danu.


"Mia nya ada?" tanya seseorang di balik pintu.


"Pak Hajiiii," teriak Mia saat mendengar suara itu.


Tanpa melihat wajahnya, Mia sudah tahu suara yang sudah sangat akrab di telinganya itu. Mia menghambur dan memeluk pria paruh baya itu.


"Pak Hajiiii," ucap Mia. "Dev?" ucap Mia tak percaya saat melihat Dev ikut bersama Haji Hamid.


Mia menatap keduanya secara bergantian. Tatapannya penuh tanya. Apa mungkin mereka kembali seperti dulu? Padahal yang Mia tahu kalau Haji Hamid sudah sembuh.


"Miaaaa," teriak Dev.


Haji Hamid dan Dev mengucapkan selamat pada Mia secara bergantian. Mereka juga membeberkan alasan keterlambatan mereka. Haji Hamid mengantar Dev untuk menjenguk dulu calon istrinya yang sedang di rawat karena sakit typus.


"Calon istri?" tanya Mia.


Haji Hamid mengangguk.


"Alhamdulilaaaaah. Selamat ya Dev. Jangan lupa undang aku kalau kalian menikah ya!" ucap Mia yang berteriak kegirangan.


"Pak Haji mana calonnya? Masa kalah sama Dev sih?" ejek Mia.


"Istriku tidak ikut. Dia sedang mengurus anakku yang sedang sakit," ucap Haji Hamid.


"Hah? Istriku? Anakku?" tanya Mia tidak percaya.


"Aku sudah menikah Mia. Aku menikah dengan mantan pacarku dulu. Sebelum menikah denganku, dia sudah memiliki tiga orang anak. Tapi aku menyayangi mereka seperti anakku sendiri," ucap Haji Hamid.


"Waah.. aku senang sekali. Akhirnya kalian sembuuh juga," ucap Mia.


"Sembuh?" tanya Danu.


Mia segera membungkam mulutnya. Saking bahagianya mereka lupa kalau ada Danu di sana. Dev dan Haji Hamid yang panik segera menyerahkan kado dan pamit untuk pulang.


"Mia, sakit apa mereka?" tanya Danu.


"Ayo pulang mas. Udah sore," ucap Mia yang berusaha mengalihkan pembicaraannya untuk menutupi kegugupannya.


"Mia kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Danu menahan tangan Mia.


"Nanti Mia jawab di rumah ya. Mia janji akan menjawab semuanya pertanyaan mas. Mia tidak akan menyembunyikan apapun dari mas. Mia janji. Suerrr deh," ucap Mia sambil mengangka jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Ok. Janji?" Danu meyakinkan dirinya dengan mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji," jawab Mia sambil mengaitkan jati kelingkingnya ke kelingking Danu.


Setelah merasa yakin dengan janji Mia, Danu mengikuti Mia untuk segera keluar dari gedung itu untuk segera pulang ke rumahnya.


####################


Goyangin jempolnya tipis-tipis yuk. Tap like, vote, rate bintang 5 nya ya kak.. Jangan males gitu ahh jempolnya! Jempol kalian sangat berarti buat semangat berimajinasiku.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca sampai part ini. Happy reading ya....


__ADS_2