
Langkah gontai Mia membawanya tanpa tujuan. Air matanya menyatu dengan air hujan. Tubuhnya basah kuyup. Ketika semua orang mencari tempat untuk meneduh, Mia justru ingin bersahabat dengan hujan. Ah tidak, Mia juga meneduh sebentar di sebuah warung. Bukan untuk menghangatkan tubuhnya dengan membeli kopi atau teh hangat. Mia justru membeli plastik untuk membungkus ponselnya. Saat ini ponselnya jauh lebih berguna dibanding dengan dirinya.
Pasalnya ponsel itu pemberian dari Kalin dan Dev. Mia merasa harus menjaganya dengan sangat baik. Kalau saja ponsel itu hasil jerih payahnya sendiri, tentu ia tidak peduli dengan nasib ponselnya. Bahkan mungkin ia akan membiarkannya rusak dan mati. Seperti hatinya kini. Rusak, bahkan hampir mati Bagaimana tidak? Suami yang sangat ia cintai, tidak mengenalnya sama sekali. Bukankah ini sangat menyakitkan? Padahal Mia sudah menunggu dan menjaga cintanya.
Hujan semakin lebat. Mia melanjutkan kembali langkahnya yang tak tentu arah itu. Kali ini, hujan akan menjadi sahabat yang akan menutupi kesedihannya dari orang lain. Mau kemana? Yang pasti pulang bukan ide yang tepat. Berdiam diri di kamar sendirian hanya akan membuat Mia semakin sedih.
Ke rumah Kalin? Tidak. Mereka sudah sangat membantu Mia. Mia tidak ingin jika harus selalu menggantungkan hidupnya pada orang lain. Mia lebih memilih untuk mengikuti langkah kakinya kemanapun ia melangkah.
Tiiiiiiiid
Mia terkejut saat klakson panjang menghujam telinganya. Mata Mia terbelalak saat melihat sebuah mobil hampir menabraknya. Tubuh Mia bergetar dalam dinginnya guyuran air hujan dan rasa terkejutnya. Tak bisa menghindar karena rasa lemas, Mia malah menjatuhkan tubuhnya saat mobil itu sudah berhenti di depan tubuhnya.
"Mia?" ucap dokter Leoni dengan nada suara yang tinggi berusaha mengimbangi suara deras hujan.
Mia melihat ke sumber suara.
"Dokter Leoni?" tanya Mia.
"Apa yang kamu lakukan? Ayo masuk!" ajak dokter Leoni.
"Tapi badanku basah," ucap Mia.
"Tidak apa-apa. Ayo masuk!" ajak dokter Leoni.
"Terima kasih dokter," ucap Mia.
"Ini pakai jaket. Sebentar lagi kita sampai ke rumah ku. Ganti baju di rumah saja ya!" ucap Dokter Leoni.
Mia hanya mengangguk dan memakai jaket itu. Sesampainya di rumah dokter Leoni, Mia turun. Masih dengan tatapan kosongnya, Mia mengikuti pemilim rumah dan mengganti bajunya. Dokter Leoni meyakini kalau Mia sedang ada masalah. Tapi dia tidak yakin kalau Mia akan mau berbagi masalah dengannya. Tidak masalah. Tapi paling tidak, sekarang Mia harus merasa lebih tenang dulu.
"Dokter," panggil Mia.
"Hey, ayo sini! kita makan dulu," ucap dokter Leoni.
Agar Mia tidak menolak, dokter Leoni memberikan sebuah piring dan langsung diisi dengan makanan untuk Mia.
"Makan," ucap dokter Leoni.
"Terima kasih," ucap Mia.
Mia makan dengan lahap. Meskipun Mia sedang banyak masalah, namun dokter Leoni tidak khawatir saat Mia makan dengan lahap.
"Dokter," ucap Mia.
"Selesaikan dulu makannya. Ayo!" ucap Dojter Leoni.
Mia mengangguk.
Setelah selesai makan, Mia menatap dokter Leoni. Dokter Leoni masih berpura-pura acuh, berusaha menyembunyikan rasa ingin tahunya yang begitu besar.
"Dokter," panggil Mia.
"Kamu kenapa? Tidak baik membiarkan masalah mengusai dirimu. Itu hanya akan membahayakanmu Mia," ucap Dokter Leoni.
"Apa dokter tahu kalau mas Danu masih hidup?" tanya Mia.
DEG.
Dokter Leoni langsung pucat saat mendengar pertanyaan Mia.
"Kenapa dokter tidak memberi tahu Mia?" tanya Mia.
"Mia, menurutku sebaiknya kau tinggalkan Danu." Entah dari mana keberanian Dokter Leoni muncul begitu saja.
"Apa maksud dokter? Apa dokter tahu kalau kami saling mencintai?" tanya Mia.
"Aku tahu Mia. Tapi Danu itu orang baik. Dia anak satu-satunya untuk keluarga Tuan Ferdinan," ucap Mia.
__ADS_1
"Apa masalahnya? Apa karena Mia orang miskin? Kenapa harta selalu jadi tolak ukur kebahagiaan?" tanya Mia sambil menangis.
"Mia, kau harus tahu. Danu orang baik dan tidak akan pernah memandang harta. Tapi dia adalah anak satu-satunya dari Nyonya Nathalie. Hingga mau tidak mau, Danu akan menuruti semua kebahagiaan ibunya. Kau harus tahu bagaimana bencinya dia padamu saat kalian kecelakaan. Bahkan dia meninggalkanmu yang tidak memiliki keluarga. Begitu kejamnya dia padamu," ucap Dokter Leoni yang merasa ikut sakit dan sedih saat mengingat kecelakaan Mia.
"Tapi Mia mencintai Mas Danu, dokter. Walaupun sekarang, mas Danu tidak mengenal Mia. Apa mungkin itu alasan mas Danu tidak mengenal Mia, tapi mas Danu sangat mengenal orang tuanya? Itu alasan mas Danu agar aku menjauhinya?" tanya Mia.
Dokter Leoni tidak tahu pasti apa alasan Danu bersikap seperti itu. Bisa saja ia memang terkena amnesia karena benturan keras di kepalanya. Karena saat kecelakaan itu, Danu memang mengalami luka parah di bagian kepalanya. Tapi bisa jadi ini hanya alasan Danu untuk menjauhi Mia. Entahlah. Dokter Leoni juga tidak bisa memastikan kemungkinan yang terjadi.
"Maafkan aku Mia. Maafkan atas kelancanganku. Lakukan apapun berdasarkan hatimu. Sungguh, kamu berhak bahagia," ucap Dokter Leoni.
"Dokter, bolehkah malam ini aku tidur denganmu?" tanya Mia.
"Itu bukan sebuah pertanyaan Mia. Masuklah ke kamarmu," jawab Dokter Leoni.
"Terima kasih," ucap Mia sambil melangkah menuju kamarnya yang dulu.
Dalam kamar berukuran besar dan dominan dengan warna putih itu, Mia merasa sangat kecil dan kotor. Dia merasa tidak punya harga diri. Masih berani mencintai pria yang bahkan sudah tidak mengenalnya sama sekali.
"Apakah aku harus mengikuti ucapan Dokter Leoni?" tanya Mia pada dirinya sendiri.
Mia menyeringai sinis. Membayangkan betapa ia tidak tahu hidupnya akan seperti apa. Dalam bayangan yang semakin kacau, entah bagaimana dan kapan Mia terlelap seolah melupakan semua beban hidupnya. Untuk sementara waktu. Ya, sementara waktu. Karena besok pagi, Mia sudah kembali ke dunia nyatanya. Dunia yang penuh dengan kepahitan.
"Dokter," panggil Mia.
"Duduklah. Sarapan dulu!" ucap Dokter Leoni.
"Tidak, saya mau pulang. Ini sudah terlalu siang. Terima kasih sudah menampungku di sini," ucap Mia.
"Menampung? Bahasa apa itu? Aku sunggug tidak menyukai bahasamu Mia. Berucaplah lebih baik," ucap Dokter Leoni.
Mia tersenyum pilu. Bahasa apa? Bukankah itu pantas untuknya setelah ia merasa sangat hina di mata keluarga Danu?
"Mia, bersemangat lah. Ini bukan dirimu. Kamu tidak seperti ini," ucap Dokter Leoni menepuk bahu Mia.
Dokter Leoni berusaha meyakinkan dan menguatkan Mia. Meskipun ia sendiri tidak mengenal betul Mia itu seperti apa. Tapi ia berusaha menguatkan Mia.
Setelah pamit, Mia melambaikan tangannya pada dokter Leoni.
"Mia, aku tahu kamu pasti bisa melewati semua ini. Kamu pasti akan bahagia," gumam dokter Leoni.
Seakan menjadi doa yang mengiringi langkah Mia, ucapan dokter Leoni membuat Mia semakin kuat dalam melangkah. Mia mengepalkan tangannya. Membulatkan tekadnya.
Apapun yang terjadi ini adalah jalan hidupku. Tidak perlu diratapi. Akh hanya harus menerima semuanya dan melanjutkan hidupku.
"Mia, kamu dari mana saja? Dari kemarin aku tidak bisa menghubungimu. Aku dan Dev mencari dan menunggumu di apartemen tapi kamu tak kunjung pulang. Jam berapa kamu kembali?" tanya Kalin saat melihat Mia sudah ada di ruangan kerjanya.
"Jam tujuh. Mia ganti baju dan langsung berangkat ke sini. Maaf sudah membuatmu khawatir dan merepotkanmu, Kalin." senyum mengembang mengikuti ucapannya.
Jujur saja, ada rasa senang yang sangat besar dalam hatinya. Paling tidak, masih ada yang peduli padanya.
"Tidur dimana?" tanya Kalin.
"Dokter Leoni," jawab Mia.
Syukurlah. Kalin merasa tenang saat mendengar jawaban Mia. Ia kembali ke ruangannya dan mulai bekerja. Menyingkirkan dulu rasa penasarannya karena ada pekerjaan yang harus selesai siang ini. Kalin hanya meyakini kalau Mia akan selalu bersama orang-orang yang peduli padanya.
#############
Di kediaman Danu, Tuan Ferdinan duduk berhadapan dengan anaknya. Nyonya Nathalie sedang mengecek bisnis hotelnya di Pangandaran. Ada waktu yang leluasa bagi keduanya untuk bicara saling jujur.
"Danu, mungkin kamu belum mengingat semua masa lalumu. Tapi kamu harus tahu, wanita yang bernama Mia itu sangat mencintaimu." Tuan Ferdinan berusaha mengingatkan masa lalu anaknya.
"Aku sudah mengingatnya," jawab Danu setelah mendengar ucapan ayahnya.
"Apa?" tanya Tuan Ferdinan tidak percaya.
"Ya, bahkan aku mengingatnya sebelum aku mengingat Papi dan mami," jawab Danu dengan senyum miris.
__ADS_1
Hati Danu hancur saat melihat ibunya semakin membenci Mia. Danu memang berhak untuk pergi membawa Mia. Hidup bahagia dengan Mia. Tidak. Bahagia hanya untuknya. Tidak untuk Mia dan ibunya. Keduanya hanya akan sama-sama tersiksa karena kebencian ibunya yang semakin besar untuk Mia.
"Lalu kenapa kamu tidak menemui Mia? Apakah perasaanmu sudah berubah?" tanya Tuan Ferdinan kecewa.
Danu menceritakan semua alasannya. Tuan Ferdinan hanya menatapnya penuh kasih sayang. Betapa baiknya Danu, hingga ia harus menjadi korban keegoisan ibunya sendiri.
Waktu terus berjalan. Kini Danu sudah bisa berjalan, bahkan berlari. Danu mengingat janjinya dulu kalau ia akan mencari Mia dan membawanya lari dari hidupnya. Tapi Danu berpikir kembali. Benarkah ia akan membawa Mia pergi dan meninggalkan ibunya yang sudah mengurusnya?
Bahkan Nyonya Nathalie rela pulang pergi mengurus Danu agar Mia tidak curiga kalau Danu masih hidup. Ibunya salah, Danu sadari itu. Tapi bagaimanapun, ibunya adalah wanita pertama yang mengenalkannya dengan cinta. Siapkah ia harus kehilangan cinta pertamanya? Lagi pula, hidup selamanya bersama Mia hanya akan membuatnya sengsara. Mia adalah wanita normal. Sementara sejak kejadian itu, penyakit seksu*l Danu semakin parah. Dokter sudah memvonisnya tidak akan sembuh.
Baik Mia maupun Danu tidak ada yang saling mencari. Itu berita baik untuk Nyonya Nathalie, namun sakit bagi Mia dan Danu.
Dengan segala pertimbangan, Danu bicara dengan ayah dan ibunya secara serius.
"Aku ingin bercerai dengan Mia," ucap Danu.
Dua ekspresi berbeda terpasang di wajah orang tua Danu. Ibunya dengan segala kebahagiaan, namun ayahnya dengan segala kebingungannya.
"Danu mengingatnya? Benarkah? Ah peduli apa. Yang penting Danu ingin bercerai dengan Mia. Dan itu cukup bagiku," batin Nyonya Nathalie.
"Tapi ada beberapa syarat," ucap Danu.
"Apa? Sebutkan saja. Mami akan memenuhi semua syaratmu, sayang." Nyonya Nathalie mengusap kepala Danu.
"Setelah aku bercerai dengan Mia, aku mohon jangan pernah menyakiti Mia lagi. Biarkan dia hidup dengan dunianya. Biarkan Mia bahagia dengan jalannya dan jangan pernah mencampuri urusannya. Apapun itu," ucap Danu dengan mata yang menatap kosong.
"Bukan masalah. Itu sangat mudah sayang," jawab Nyonya Nathalie dengan cepat dan penuh suka cita.
"Papi, aku mohon. Berikan Mia uang. Bukan untuk membelinya, tapi untuk ucapan terima kasihku. Bisa kan?" tanya Danu.
"Apa kamu yakin?" tanya Tuan Ferdinan.
"Lakukan saja pi," ucap Danu.
Sama seperti ayahnya, Danu bahkan tidak percaya dengan ide gilanya ini. Tapi paling tidak, niatnya baik. Ia ingin Mia memiliki bekal untuk melanjutkan hidupnya. Walaupun mungkin, Mia justru akan merasa terhina dengan perlakuannya.
Danu menghela napas panjang dan segera meninggalkan orang tuanya untuk menyembunyikan air matanya. Dalam kamarnya, Danu merasa semua tembok di kamarnya menunjukkan senyum ceria Mia. Kepolosan dan ketulusan Mia yang selalu membuatnya rindu. Namun seketika matanya harus ditutup saat bayangan ibunya yang kini menghiasi kamarnya.
Masih sangat jelas wajah sedih ibunya saat Danu bertanya tentang Mia. Danu yang saat itu masih berpura-pura tidak mengenal Mia, bisa menangkap maksdu ibunya. Mungkin rasa takut yang besar, kalau Mia akan mengadukan semuanya pada Danu menjadi alasan utama. Tapi Danu berpikir, kini kebencian itu justru mengakar dan menjalar kemana-mana. Percuma Mia bersikap baik, itu tidak akan mengubah sikap ibunya pada Mia.
Danu juga membuka surat dokter yang menyatakan penyakit sialnya itu semakin parah. Kalau saja Danu bisa memilih, ia ingin mati saja sat kecelakaan itu. Percuma hidup dengan tersiksa seperti ini. Danu meremas surat itu dan membuanganya ke sembarang arah.
Danu menutup mulutnya dengan bantal dan berteriak sekuat tenaga. Ia merasa dadanya sangat sesak. Bayangan Mia semakin membuatnya begitu sakit dan kecewa. Danu menyesal sudah menyeret Mia masuk dalam kehidupannya yang tidak sehat ini. Hingga akhirnya, bukan hanya Mia. Tapi Danu sendiri ikut terjerembab dalam kesalahannya itu.
Kalau saja Danu bisa mengulang waktu, ia tidak ingin mengenalkan Mia untuk dijadikan tumbal pada keluarganya. Rasanya Danu salah target. Danu pikir, setelah ia memilih Mia, ia akan aman. Tapi ternyata mereka justru melibatkan hati. Cinta yang bersemi diantara keduanya hanya mengantarknan mereka ke dalam masalah besar seperti ini.
"Mia, ini yang terbaik buat kita. Kamu berhak menemukan kebahagiaanmu Mia. Kamu berhak. Mungkin kamu akan membenciku seumur hidupmu setelah ini, namun aku akan tetap mencintaimu hingga ujung nafasku." gumam Danu yang tanpa disadari, air matannya mengalir begitu saja.
Pada waktu yang sama, Mi memeluk foto Danu. Kerinduannya semakin membuncah. Beberapa kali Mia mengurungkan niatnya untuk menemui Danu. Masih terbayang jelas bagaimana Danu tidak mengenalinya. Ini semakin sulit saat ia harus berjuang sendirian. Bukan hanya mengahadapi ibu mertuanya, tapi juga menghadapi suami yang bahkan tidak mengenalnya.
Tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat sebuah email masuk.
"Papi?" ucap Mia tidak percaya.
Tanpa menunggu lama, Mia segera membaca email itu.
"Besok, kami ingin bertemu denganmu. Apakah kamu ada waktu? Jika bisa, kami menunggumu di cafe X jam sebelas siang."
Kami? Mia mencoba menafsirkan kata kami. Apakah hanya Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie? Atau justru dengan Danu. Dada Mia berdebar. Apakah ini pertanda baik atau justru pertanda buruk? Sejujurnya Mia sangat bahagia dengan undangan ini. Mia akan bertemu dengan suaminya, tanpa bersusah payah harus memohon pada ibu mertuanya yang sudah sangat membencinya.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
__ADS_1
Terima kasih..