Janda Bersegel

Janda Bersegel
Syndrom kepo


__ADS_3

Pesta itu dimulai pukul sebelas siang. Pukul sepuluh, Dion sudah mandi. Mia juga sudah menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh Dion ke pesta itu.


"Mas, Mia ikut apa gak?" tanya Mia.


"Kamu di rumah saja ya! Istirahat, bayi kita pasti cape," ucap Dion sambil mengusap perut Mia.


Usia kandungannya baru dua bulan, namun sudah banyak perubahan pada fisik Mia. Termasuk di bagian perutnya. Mungkin karena Mia tidak mengalami morning sickness seperti yang dialami ibu hamil pada umumnya.


Mia bahkan hampir dua kali lipat dari porsi biasanya. Mia juga jarang sekali mual dan pusing sejak dinyatakan positif oleh dokter. Hanya saja Mia sering mudah lelah. Padahal dulu itu Mia adalah wanita yang sangat produktif.


"Mas, nanti kalau ketemu Nyonya Nathalie jangan ditanggapi ya omongannya! Kalau bisa mas menghindar saja biar gak ketemu sama Nyonya Nathalie," ucap Mia mengingatkan.


"Iya kamu tenang saja. Aku juga gak mau berurusan sama ibu-ibu rempong kayak dia. Bikin naik darah," ucap Mia.


Mia menahan tawanya dan menggelengkan kepalanya. Meskipun memang benar, ucapan Nyonya Nathalie laksana bensin yang hadir dalam percikan api. Menyambar dan mudah membakar.


"Mas, satu hal yang harus mas ingat. Apapun yang terjadi, dia itu seorang wanita dan ibu. Mas harus tetap menjaga sikap dan ucapan. Ingat, mas juga punya Mama Helen. Mia cuma gak bisa bayangin kalau Mama Helen ada yang menyakiti. Mia juga pasti ikut merasa sakit," ucap Mia.


Ya, Dion mengerti maksud Mia. Mungkin Mia takut dengan adanya karma. Mia sangat meminta Dion untuk menjaga sikap, agar orang lain juga menjaga sikap pada Nyonya Helen.


"Iya sayang, iya. Kamu jangan banyak mikirin hal-hal kayak gitu ah. Tugas kamu makan yang bernutrisi. Biar anak kita sehat ya!" ucap Dion.


"Siap mas," ucap Mia.


Ya, Dion adalah tipe suami yang sangat perhatian dan mengerti keadaan istrinya. Saat belum tahu Mia hamil, Dion selalu meminta jadwal pertempuran dalam kurun waktu yang sangat padat. Namun setelah tahu Mia hamil, Dion tidak lagi berani untuk memaksakan jadwal itu. Karena Mia tidur lebih siang dari biasanya. Dion tidak tega kalau sampai mengganggu istirahat Mia.


"Mas, nanti kalau pulang Mia mau dibeliin rujak ya!" ucap Mia.


"Terus mau apa lagi?" tanya Dion.


"Itu aja mas," tanya Mia.


"Nanti aku beliin ya kalau sudah pulang," ucap Dion mencium pipi Mia.


Perjalanan dari rumah ke tempat pestanya sekitar dua puluh menit. Namun Tuan Wira dan Dion betangkat tiga puluh menit sebelum acara dimulai. Jaga-jaga kalau sampai di jalan ada masalah yang tidak diinginkan.


"Mia gak ikut?" tanya Tuan Wira.


"Gak pa. Mia istirahat saja. Takut kecapean," jawab Dion.


"Iya. Mia itu harus banyak istrirahat. Apalagi trimester pertama. Mi harus benar-benar manjaga kesehatannya,"ucap Tuan Wira.


"Iya Pa siap. Oh ya, Mama kemana?" tanya Dion.


"Gak ikut," jawab Tuan Wira.


"Gak jadi ikut? Padahal Mama kenal cukup baik dengan yang punya pesta," ucap Dion.


"Katanya takut ketemu wewe gombel," ucap Tuan Wira sambil tertawa keras.


"Gak ada wewe gombel tengah hari," timpal Dion sambil tertawa sangat puas.


"Hey, pelankan suara kalian," ucap Nyonya Helen saat melihat suami dan anaknya tengah tertawa terbahak.


"Iya ma, maaf." Tuan Wira menyikut Dion agar berhenti tertawa.


"Apa yang kalian tertawakan hah?" tanya Nyonya Helen.


"Wewe gombel yang keluar siang bolong," jawab Tuan Wira.


"Ih, papa kok bahas si wewe gombel sih? Awa ya! Nanti mama gak kasih jatah nih," ucap Nyonya Helen kesal.


"Ya kalau mama gak kasih jatah, papa juga gak kasih jatah bulanan. Mau?" tanya Tuan Wira.


"Ehh jangan. Ya sudah jatah buat papa full deh, tapi jatah buat Mama tambahin ya!" ucap Nyonya Helen.


"Aman kalau begitu," jawab Tuan Wira sambil mengangkat jempol tangannya.


Dion hanya menggelengkan kepala dan menahan tawanya melihat tingkah kedua orang tuanya.


"Mana Mia?" tanya Nyonya Helen.


"Ada di kamar," jawab Dion.


"Ya sudah cepat berangkat! Nanti gak kebagian nasi," ucap Nyonya Helen sambil meninggalkan suami dan anaknya.


"Dih, emang kamu ke sana cari nasi?" tanya Tuan Wira pada Dion.


"Gak," Jawab Dion.


"Terus cari apa?" tanya Tuan Wira cari aqua gelas," jawab Dion sambil tertawa keras.


Sementara Tuan Wira dan Dion pergi ke pesta, Nyonya Helen tengah mengobrol bersama Mia.


"Mi, kamu ada keluhan gak?" tanya Nyonya Helen.


"Gak Ma. Sejauh ini Mia gak banyak perubahan. Hanya saja Mia mudah lelah. Maunya tidur aja," jawab Mia.


"Baguslah. Wajar kalau lelah. Kamu itu sekarang gak sendiri. Ada kehidupan di dalam perut kamu," ucap Nyonya Helen.


Mia mengusap perutnya. Bibirnya mulai merekah, dan matanya berbinar. Ya, benar apa kata ibu mertuanya. Ada kehidupan di dalam perutnya. Bayinya, anaknya. Terkadang, Mia masih tidak menyangka kalau ia bisa mengandung anak dari Dion. Mia berpikir kalau pernikahannya dengan Dion akan tetap menjadi sekedar kekonyolan.


Namun saat ini kenyataannya jauh lebih indah. Keikhlasannya menjalani setiap takdir Tuhan mengantarkan Mia pada kebahagiaan yang sesungguhnya. Menikah dengan pria yang mencintainya.


"Mia, kok kamu mau sih punya mertua kayak si wewe gombel?" tanya Nyonya Helen.


Pertanyaan Nyonya Helen membuyarkan lamunan Mia. Ini bukan kali pertama Nyonya Helen menanyakan hal itu. Namun entah mengapa Mia masih saja bingung dengan jawaban yang harus ia keluarkan.


"Namanya juga takdir Ma," jawab Mia.


Mia tidak mungkin menceritakan kalau dulu Nyonya Nathalie sangat baik padanya. Mia takut Nyonya Helen tersinggung. Bagi Mia, semua masa lalunya akan ia tutup rapat. Cukup hanya Dion yang berhak tahu tentang semua itu.


"Iya sih. Tapi gimana caranya kamu bisa lepas dari si wewe gombel?" tanya Nyonya Helen.

__ADS_1


Hah? Apa maksudnya mama bertanya tentang alasan perceraian Mia? Mia jawab apa ya?


"Jangan jawab takdir lagi ya!" ucap Nyonya Helen.


Ish mama udah kayak dukun deh. Baru aja Mia mau jawab itu. Gimana dong ini?


Tok.. Tok.. Tok..


"Siapa?" tanya Mia.


"Saya Nyonya," jawab seseorang dari balik pintu.


Tanpa menyebut siapa namanya, Mia. mengenali suara itu. Suara wanita yang selalu melayaninya dengan tulus. Membantu Mia di setiap urusannya.


"Oh mba. Masuk mba, pintunya gak dikunci." Mia melihat ke arah pintu kamar.


"Permisi, Nyonya. Ada telepon untuk Nyonya Helen," ucap Mba.


"Dari siapa?" tanya Nyonya Helen.


"Katanya dari teman Nyonya," jawab Mba.


"Oh baiklah. Mama keluar dulu ya! Kamu istirahat saja. Tidur," ucap Nyonya Helen sambil melambaikan tangannya.


Akhirnyaaaaa Mia selamat juga dari pertanyaan itu. Masa iya Mia harus jawab kalau mas Danu menceraikan Mia karena mas Danu gak bisa menghamili Mia? Kan bisa heboh nanti. Terima kasih sudah membantu Mia, Tuhaaaan.


Mia memegang dadanya dan melihat ke arah pintu. Berjalan membuka pintu kamarnya, memastikan kalau Nyonya Helen sudah pergi dari kamarnya. Menutup kembali pintu kamarnya dan berbaring di atas ranjangnya.


Baru saja Mia mau memejamkan matanya, ponselnya berdering.


"Mas Dion?" gumam Mia.


"Mia?" panggil Dion saat teleponnya sudah terhubung.


"Mas, ada apa?" tanya Mia.


Mia cemas. Mia takut Dion menghubunginya karena bertemu dan bertengkar dengan Nyonya Nathalie.


"Buka pesan aku. Aku tutup ya panggilannya," ucap Dion.


Sambungan telepon itu tertutup walaupun tanpa persetujuan dari Mia. Mia membuka pesan dari Dion.


"Lagi apa?" pesan Dion.


"Lagi tiduran mas. Memangnya ada apa?" balasan Mia.


"Mia, aku kangen. Kirim foto ya!" balas Dion.


"Hah? Mas apaan sih? Baru gak ketemu beberapa jam juga. Kan di ponsel mas juga banyak banget foto Mia," balas Mia.


"Mau foto kamu sekarang. Yang lagi tiduran itu, Mi. Kirim ya!" balas Dion.


"Mending video call saja mas," balas Mia.


Mia menghubungi Dion, namun panggilan videonya ditolak oleh suaminya itu. Mia cemberut dan kesal pada Dion.


"Ya sudah nanti juga ketemu kok," balas Mia.


"Miaaa, kangen." balas Dion.


Mia tersenyum geli membayangkan Dion yang terus merengek manja pada Mia.


"Kamu kenapa sih? Aneh banget," balas Mia.


"Aku tuh lihat teman aku bawa istrinya yang lagi hamil. Kamu tahu gak? Mereka itu romantisnya kelewatan. Masa di depan aku usap-usap perut istrinya? Kan aku jadi langsung kangen kamu," balas Dion.


Mia tersenyum. Dengan segera Mia masuk ke dalam selimut. Mia hanya mengeluarkan tangannya untuk berselfi, lalu Mia kirimkan pada Dion.


Miaaaaa, kamu itu keterlaluan. Masa kirim aku foto buntelan begitu. Awas ya kamu. Aku kangen wajah kamu, ini malah di kirim foto begini.


Dion tidak membalas pesannya lagi. Hanya wajah yang cemberut yang kini menghiasi wajahnya. Ponselnya sudah masuk kembali ke dalam saku celananya.


Sementara Mia sedang tertawa saat melihat pesannya hanya dibaca tanpa dibalas. Mia tahu Dion pasti sedang kesal dengan foto yang diterimanya.


Dan benar saja, Dion memang sedang kesal. Kekesalannya bukan hanya karena foto yang Mia kirimkan, tapi kekesalannya juga terjadi karena Nyonya Nathalie menghampirinya.


Dion sudah berusaha untuk menghindar dari Nyonya Nathalie. Apa lagi saat perasaannya sedang kacau, Dion tidak ingin tersulut emosi di tempat ramai.


"Mau kemana kamu?" tanya Nyonya Nathalie.


Dion tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya saja.


"Mana istrimu itu? Kenapa tidak di bawa? Kamu malu kan bawa wanita seperti dia?" tanya Nyonya Nathalie.


Wajah Dion memerah saat mendengar penghinaan untuk wanita yang sangat ia cintai. Tangannya sudah mengepal, bibirnya sudah bergetar. Ingin rasanya Dion memukul bibir Nyonya Nathalie yang seenaknya mengucapkan kata-kata hinaan seperti itu.


"Jaga mulut Anda, Nyonya." Dion mengingatkan Nyonya Nathalie.


"Kenapa? Itu kan memang kenyataan," ucap Nyonya Nathalie.


"Aku tidak malu sama sekali memiliki istri seperti Mia. Dia wanita baik-baik. Dia sedang hamil dan baru sampai dari Surabaya. Makanya aku tidak mengajaknya," jawab Dion.


"Ah, alasan saja kamu ya!" ucap Nyonya Nathalie.


"Cukup! Aku tidak ingin berdebat dengan Anda, Nyonya. Permisi," ucap Dion.


"Tunggu!" ucap Nyonya Nathalie menarik tangan Dion. "Kamu pantas mendapat wanita yang jauh lebih baik dan terhormat," lanjut Nyonya Nathalie.


Mata Dion menatap tajam dengan tangan mengepal kuat. Kalau saja yang ada di hadapannya itu adalah seorang pria, sudah pasti akan Dion habisi saat itu juga.


"Ayolah! Kamu jangan munafik. Kamu itu tampan dan kaya. Lalu Mia? Siapa dia? Dia bukan siapa-siapa. Sekarang dia hamil? Apa kau yakin bayi yang ada di perutnya itu anakmu? Kau bisa tes DNA jika ragu," ucap Nyonya Nathalie.


BRAAAK

__ADS_1


Dion menggebrak meja dengan sangat keras. Tentu saja hal itu menarik banyak perhatian dari tamu undangan, termasuk Danu dan Tuan Ferdinan.


"Mami, ada apa ini?" tanya Tuan Ferdinan menghampiri.


"Dia itu anak kurang ajar. Tidak tahu sopan santun," ucap Nyonya Nathalie sambil menunjuk Dion.


"Kamu itu harusnya bisa menahan emosi. Bagaimana mungkin kamu bisa bersikap keterlaluan seperti itu?" ucap Danu yang membela ibunya.


Ya begitulah sejatinya seorang anak. Sejahat apapun seorang ibu, sosok itu tetap yang terbaik untuk anaknya. Itu juga yang terjadi pada Danu. Danu tahu kalau ibunya memang berubah akhir-akhir ini, tapi ia tetap tidak rela saat ada yang bersikap tidak sopan pada ibunya.


"Keterlaluan? Harusnya kamu juga mendengar apa yang ibu kamu katakan. Jauh lebih keterlaluan dari pada perlakuanku. Bisa-bisanya dia merendahkan istriku," jawab Dion kesal.


Mia? Mami masih saja membuat masalah tentang Mia. Apa yang harus aku katakan?


"Tapi kamu kan bisa bicara baik-baik," ucap Danu yang mulai melunak.


"Ibumu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kalau kamu berhak melindungi ibumu, aku juga berkewajiban menjaga harga diri istriku. Siapa yang rela jika istrinya dianggap wanita tidak baik? Jangan salahkan aku jika aku bertindak lebih dari ini, jika ibumu terus menggangguku." Dion meninggalkan Danu dan orang tuanya.


Setelah kepergian Dion, Danu juga pergi meninggalkan pesta itu. Nyonya Nathalie juga pergi menyusul Danu. Sedangkan Tuan Ferdinan masih tetap di sana, menyelesaikan pesta itu hingga akhir.


"Danu, tapi itu kan kenyataan." Nyonya Nathalie membela diri.


"Mi, cukup. Aku gak mau lagi ngomongin Mia. Aku juga minta mami stop membahas Mia. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Mia," ucap Danu kesal.


Nyonya Nathalie tidak menjawab ucapan Danu. Ia hanya mengikuti Danu masuk ke dalam mobilnya.


"Danu, jangan marah sama Mami dong. Maafin Mami ya!" rengek Nyonya Nathalie.


Danu masih diam tidak menjawab. Saat mobilnya hendak keluar dari parkiran, Danu melihat Dion sedang duduk di parkiran. Ternyata Dion tidak berniat meninggalkan pesta itu, Dion hanya butuh waktu untuk sendiri.


Aku pikir kamu akan pulang. Seandainya tidak ada Mami di sini, aku akan turun. Aku akan menemuimu, meminta maaf atas perlakuan ibuku dan memberikan selamat atas kehamilan Mia. Meskipun aku sakit, tapi aku tidak ingin terlihat lemah di mata kalian.


"Danu, kamu kenapa sih? Ayo mau pulang atau masuk lagi?" tanya Nyonya Nathalie.


Danu tersentak. Tanpa jawaban, Danu langsung pergi meninggalkan pesta itu. Bayangan Mia semakin nyata di kepalanya. Membuat Danu semakin sakit.


"Danu, Danu," ucap Nyonya Nathalie mengguncang bahu Danu.


"Apa sih Mi?" tanya Danu.


"Kamu ini, Mami ajak ngomong diam saja. Mami mau ke supermarket dulu," ucap Nyonya Nathalie.


"Gak bisa. Supermarket tutup," jawab Dion.


"Mana bisa begitu? Tadi Mami lihat buka kok," ucap Nyonya Nathalie.


"Lagi ada pemeriksaan jadi tidak boleh ada pengunjung," ucap Danu.


"Ah, sejak kapan bisa begitu? Lagi pula tadi banyak pengunjung," ucap Nyonya Nathalie.


"Gak ada pengunjung sama sekali kok," ucap Danu.


"Banyak kok," jawab Nyonya Nathalie.


Cekiiiit


Mobil berhenti mendadak.


"Aw, Danu kamu ini kenapa?" tanya Nyonya Nathalie.


"Mami lihat banyak pengunjung tadi?" tanya Danu cemas.


Danu memegang dahi dan pipi Nyonya Nathalie.


"Iya. Memangnya kenapa? Kamu ini apa-apaan sih?" tanya Nyonya Nathalie sambil melepaskan tangan Danu.


"Mami jangan kebanyakan ngurusin hidup orang. Jadi begini kan? Mami berhalusinasi. Tidak ada pengunjung sama sekali," ucap Danu sambil menggelengkan kepalanya.


"Ah, masa sih? Mami yakin kok. Gak mungkin berhalusinasi," ucap Nyonya Nathalie.


"Tapi gak ada Mi. Aku gak lihat satupun orang di sana. Mami jangan-jangan kena syndrom," ucap Danu.


"Hah? Ada syndrom begitu?" tanya Nyonya Nathalie.


"Ada. Bahaya loh Mi," ucap Danu.


"Ah masa sih? Emang iya?" tanya Nyonya Nathalie.


"Iya Mi. Harus ke psikiater. Tapi nanti kalau sampai ada yang tahu Mami ke psikiater, disangkanya Mami gila. Kalau gak ada yang mau temenan sama Mami gimana ya?" tanya Danu.


"Ah, gak mau. Mami gak mau kena syndrom itu Danuuu," ucap Nyonya Nathalie.


"Makanya jangan ngurusin hidup orang ya!" ucap Danu.


"Iya, gak lagi deh. Memangnya syndrom apa sih Danu?" tanya Nyonya Nathalie.


Syndrom kepo. Hahah


"Aku lupa sih, apa mau ke psikiater sekarang ditanyain?" tanya Danu.


"Ish, gak mau. Ayo cepat pulang!" ajak Nyonya Nathalie.


"Oke," ucap Danu.


Maaf ya Mi. Lagian Mami gak berhenti ngurusin hidup Mia sih. Eh tapi ini dosa gak ya?


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2