Janda Bersegel

Janda Bersegel
Kapan Rian dijemput?


__ADS_3

Mia menidurkan Naura yang sudah menyusu padanya. Setelah sebelumnya Narendra yang lebih dulu menyusu. Melihat kedua anaknya tidur dengan nyenyak, Mia tersenyum. Benar, rasa sakitnya memang terobati. Seakan ia lupa kalau sempat hidup menderita.


Semakin lama menatap bayi kembarnya, Mia merasa bayangan Rian semakin kental dalam kepalanya. Jelas dan semakin nyata. Tangis Rian dalam pelukannya terdengar sangat nyaring.


"Sayang," panggil Dion.


Lamunan Mia buyar saat suara Dion memecah keheningan malam. Tatapannya langsung pada sumber suara. Wajah yang selalu tersenyum padanya, kini tengah menatapnya penuh kasih.


"A," sahut Mia.


"Istirahat yu!" ajak Dion.


Mia tersenyum dan berdiri. Menggandeng tangan suaminya dan meninggalkan kamar bayi kembarnya.


"Tidur," ucap Dion.


"Belum ngantuk A," ucap Mia.


"Mau aku bawain makanan?" tanya Dion.


Biasanya kalau Mia sedang tidak dalam keadaan baik, Mia membutuhkan banyak makanan agar bisa tidur nyenyak. Tapi kali ini Mia menolak. Ia merasa tidak berselera untuk makan.


"Aa tidur duluan saja," ucap Mia.


"Bareng yu!" ajak Dion.


Sebenarnya Dion juga belum ada tanda-tanda mengantuk, namun ia berusaha untuk mengajak Mia agar tidur. Mia harus istirahat.


"Mia belum ngantuk," ucap Mia.


Mia turun dari ranjang dan mendekat ke kursi dekat jendela kamarnya. Membuka gorden kamarnya dan menampakkan suasana malam yang begitu indah. Bintang menghiasi angkasa, mempercantik langit malam. Angin yang berdesir perlahan, membuat Mia menutup kembali jendela kamarnya.


"Dingin?" tanya Dion.


Mia menggeleng. Dion mendekat dan memeluk Mia dari belakang. Sedikit kecupan di leher Mia membuat Mia mengangkat bahunya. Dion tahu istrinya tidak nyaman dengan perlakuannya saat ini.


"Mi, cerita sama aku. Biar kamu gak menyimpan beban ini sendirian," ucap Dion.


Cerita? Bahkan Mia sudah menceritakan semuanya pada Dion. Tidak ada lagi yang Mia sembunyikan tentang hidupnya.


"Mia udah cerita semua ke Aa," jawab Mia.


"Sini!" ucap Dion.


Dion menepuk dadanya. Mia menatapnya beberapa detik lalu berangsur menggapai dada suaminya. Mia memeluknya erat. Dan tidak menunggu lama, air mata itu tumpah seketika.


"Apa Mia salah A?" tanya Mia.


"Setiap orang punya sudut pandang yang berbeda. Saat ini, aku mengerti keadaanmu. Sudah kubilang, kamu tidak sendiri Mia," ucap Dion.


Dion menepuk pelan punggung Mia. Meyakinkannya kalau ada dirinya yang selalu menemani Mia.


"Jadi Mia harus gimana A?" tanya Mia.


"Jadilah dirimu sendiri. Ikuti apa kata hatimu. Aku yakin kamu tahu yang terbaik, tanpa melukai dirimu sendiri." Dion mengeratkan pelukannya serta mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Mia.


Mia memejamkan matanya dan berpikir tentang apa yang tidak ingin ia pikirkan. Bayangan Rian memang selalu muncul di kepala Mia. Namun saat mengingat ketidakadilan Pak Baskoro, Mia benar-benar berusaha menghilangkan bayangan Rian di kepalanya.


"Mia mau tidur," ucap Mia.


Dion mengajak Mia ke atas ranjang. Membantu menyelimutinya hingga batas perut. Merapikan rambutnya yang terlihat sedikit berantakan. Mengusap pipinya yang masih lembab karena air mata.

__ADS_1


Dion memperhatikan wajah Mia. Matanya memang sudah terpejam. Namun ia yakin Mia belum benar-benar tidur. Sepanjang mengenal Mia, Dion rasa ini adalah titik terlemah Mia. Tidak pernah Dion melihat Mia serapuh ini.


Tubuhku pegal sekali.


Dion menggeliat, meregangkan sedikit ototnya yang terasa kaku. Tak lama, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Mia. Tanpa memeluknya, Dion rasa Mia butuh aliran oksigen yang lebih bebas di tubuhnya.


A Dion udah tidur.


Mia membuka matanya dan membalikkan badannya. Kini tubuhnya menghadap tubuh Dion. Pria yang sedang tidur terlentang itu sedikit ngorok.


"Aa pasti cape," gumam Mia.


Mia mengusap pelan pipi suaminya. Ucapan terima kasih berkali-kali terucap dari bibirnya. Pria yang ada di hadapannya saat ini selalu ada untuknya. Selalu terlihat kuat, walaupun harus menyembunyikan rasa lelahnya.


Waktu terus berlalu. Mia melihat jam di dinding kamarnya, sudah menunjukkan pukul dua. Sementara matanya tidak juga bisa terpejam. Mia turun dari ranjangnya. Keluar kamar, tapi masih bingung akan pergi kemana.


Tangis bayi mmebuat langkahnya menjadi terarah. Mia tersenyum saat melihat perawatnya begitu sigap saat bayinya menangis.


"Biar Mia yang menyusuinya," ucap Mia.


Perawat itu memberikan Naura kepada Mia. Air mata bayi itu begitu deras. Mia merasa kalau Naura merasakan kegelisahan yang ia rasakan.


Mia harus bahagia, agar Narendra sama Naura juga bahagia. Jangan sampai mereka gelisah hanya karena ibunya gelisah.


"Mimi yang banyak ya sayang," ucap Mia.


Selesai menyusui dan mengembalikan Naura ke dalam box bayi, Mia keluar. Menuju dapur karena tenggorokannya terasa kering.


"Nyonya, mau saya buatkan teh hangat? Atau susu?" tanya Mba.


"Mba gak tidur?" tanya Mia.


Mia baru tahu jika di rumah itu dua puluh empat jam dijaga ketat. Mereka bahkan tiduer bergantian hanya karena takut jika salah satu penghuni rumah bangun dan butuh pelayanannya.


"Mba tidur aja. Malam ini biar Mia yang jaga," ucap Mia.


Mba hanya terkekeh mendengar ucapan Mia.


"Kalau Nyonya tidak ingin tidur, mungkin Nyonya butuh sesuatu?" tanya Mba.


"Gak, Mia gak butuh apapun. Mia cuma mau minum," jawab Mia.


Baru saja Mia membawa sebuah gelas kosong, Mba sudah menyambar gelas yang ada di tangannya.


"Apa saya lupa menyiapkan air minum di kamar Nyonya?" tanya Mba.


"Gak Mba. Di kamar ada air minum kok. Tapi tadi Mia dari kamar Narendra dan Naura. Jadi Mia ke sini," ucap Mia.


"Oh syukurlah," ucap Mba mengsuap dadanya. "Ini minumnya Nyonya," lanjutnya sembari memberikan segelas air pada Mia.


Dengan tatapan yang belum teralihkan, Mia mengambil gelas itu dan meminumnya. Lalu memberikan kembali gelas itu.


"Tambah lagi, Nyonya?" tanya Mba.


Mia menggeleng. "Terima kasih," ucap Mia.


Mba hanya tersenyum dan mencuci gelas yang sudah diberikan oleh Mia.


"Mba, belum ngantuk?" tanya Mia.


Menyembunyikan kebohongan, Mba menggeleng.

__ADS_1


"Bisa temani Mia ngobrol?" tanya Mia.


"Tentu jika Anda membutuhkan saya, Nyonya." Mba menunduk hormat.


"Mba, bersikaplah biasa sama Mia. Mia kok merasa gak nyaman sih kalau begini? Memangnya jadi orang kaya harus selalu diperlakukan seperti ini ya?" tanya Mia.


"Ah tidak begitu Nyonya. Mungkin ini hanya kebiasaan saya saja," jawab Mba.


Mia menghela napasnya. Baru saja ia ingin bercerita pada Mba, suara Nyonya Helen menggagalkan semuanya.


"Mia," panggil Nyonya Helen.


Seperti Mia, Nyonya Helen juga tidak bisa tidur. hanya saja, penyebabnya yang berbeda. Jika Mia masih merasa gelisah antara harus membawa Rian ke rumah ini dan berdamai dengan egonya? Ataukah ia membiarkan dulu semuanya sampai hatinya benar-benar sembuh? Tapi entah sampai kapan.


Sementara Nyonya Helen tidak bisa tidur karena merasa bersalah pada Mia.


"Mama, belum tidur?" tanya Mia.


Mendengar Mia lebih lembut dan menerimanya, Nyonya Helen mendekati Mia dan memeluknya.


"Maafkan Mama Mia," ucap Nyonya Helen.


Mia berusaha menahan tangisnya. Ia yang berusaha untuk tidak membahas masalah itu, namun harus kembali hanyut dalam kenyataan hidupnya.


"Mia yang harusnya minta maaf sama Mama," ucap Mia yang kembali memeluk Nyonya Helen.


Tidak ingin kembali berseteru dengan Mia, Nyonya Helen melupakan bahasan tentang Rian. Ia membahas tentang Narendra dan Naura, yang emmang mood booster bagi Mia.


"Mama kemarin gendong Naura dan Narendra, sekarang mereka tambah berat Mi. Pasti nyusunya makin banyak ya?" tanya Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Mia dengan mata yang mulai berbinar.


"Kamu harus makan yang bergizi. Biar ASInya makin banyak ya!" ucap Nyonya Helen.


"Iya Ma," jawab Mia dengan senyumnya.


Merasa Mia masih belum sembuh sepenuhnya dari masalah tadi siang, Nyonya Helen menyudahi obrolannya. Ia tahu Mia masih butuh waktu untuk sendiri.


"Mama tidur duluan ya! Kamu jangan tidur malam-malam. Jaga kesehatan," ucap Nyonya Helen.


"Ma," panggil Mia saat Nyonya Helen mulai menjauh.


"Kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Kapan Rian dijemput?" tanya Mia.


Nyonya Helen kembali mendekat dan menggenggam bahu Mia.


"Mia, maafkan Mama. Mama tidak mungkin menggadaikan kebahagiaanmu hanya karena rasa iba Mama," ucap Nyonya Helen.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2