
Ide Mia muncul pada waktu yang tepat. Mia dan Haji Hamid keluar dari kamarnya melalui jendela. Satu jam sudah berlalu. Jam 9 pagi. Bu Ningsih yang merasa sangat sepi dan penasaran membuatnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Haji Hamid.
"Permisi. Pak Haji, Mia, bangun. Sudah jam 9. Tidak baik tidur sampe siang begini. Nanti rejekinya di patuk ayam. Ayo bangun dulu! Nanti siang bisa tidur lagi kalau masih ngantuk," ucap Bu Ningsih.
Masih tak ada jawaban. Bu Ningsih mengetuk lagi pintu kamar Haji Hamid.
"Mia, ibu sudah masak buat sarapan. Itu sudah dingin, nanti tidak enak. Ayo bangun dulu!" ucap Bu Ningsih lagi.
Bu Ningsih menggelengkan kepalanya. ia kesal pada Haji Hamid karena sudah menyiksa anaknya. Pertempuran malam tadi membuat Mia belum bangun jam 9. Padahal biasanya Mia bangun paling telat jam 6 pagi. Ternyata Haji Hamid membawa pengaruh buruk untuk anaknya.
Ketika Bu Ningsih sedang menggerutu di depan pintu kamar Haji Hamid, Mia menyapanya.
"Ibu, sedang apa?" tanya Mia.
"Mia?" Bu Ningsih sangat terkejut saat melihat Mia membawa dua kantong kresek berisi sayuran.
"Iya, ibu sedang apa di sana?" tanya Mia.
"Dari pasar?" tanya Bu Ningsih yang berusaha mengalihkan pertanyaan dari Mia.
"Iya. Ini, Mia beli sayuran buat stok minggu depan!" ucap Mia menunjukkan kantong kresek yang masih ditentengnya.
"Oh, iya. Ibu sudah masak buat sarapan. Ayo makan dulu! Kamu pasti rindu masakan ibu, kan?" tanya Bu Ningsih.
Benar! Sudah beberapa bulan ini Mia memang tidak pernah memakan masakan Bu Ningsih. Mia tersenyum dan mengangguk. Bu Ningsih yang merasa senang karena Mia tidak membahas lagi tentang dirinya, yang berdiri di depan pintu kamar segera menghampiri Mia.
Dengan sangat perhatian dan penuh kasih, Bu Ningsih menyiapkan piring dan sarapan untuk Mia dan Haji Hamid.
"Bu, jangan begitu. Biar aku saja!" ucap Mia menahan tangan Bu Ningsih yang menyendokkan nasi untuk dirinya.
Namun Bu Ningsih tetap melakukan semua itu. "Ibu merindukan masa-masa ini, Nak. Ibu rindu saat menyiapkan sarapanmu, karena kamu harus bekerja pagi sekali. Ibu merindukan semua itu, Mia." Mata Bu Ningsih terlihat berkaca-kaca.
__ADS_1
Mia merasa hatinya sakit. Sayatan kecil tapjli dalam, mamou merobek pertahanan air mata yang Mia bendung dari tadi. "Ibu, Mia juga merindukan semua itu. Terima kasih sudah menjadi ibu terbaik untuk Mia. Dan maafkan Mia, karena Mia belum bisa membahagiakan ibu." Tangis Mia pecah saat dirinya memeluk Bu Ningsih.
Haji Hamid melihat semua adegan itu dengan penuh iri. Mia memang beruntung memiliki orang yang sangat menyayanginya. Sedangkan Haji Hamid? Satu-satunya yang menyayanginya adalah Dev. Dan keputusannya untuk memperbaiki diri, membuat Haji Hamid yakin kalau Dev juga akan menjauhinya.
Setelah adegan haru itu selesai baru mereka bertiga sarapan. Mungkin menuju makan siang. Karena waktu sudah semakin siang karena banyak gangguan.
Selesai makan, Haji Hamid pamit untuk istirahat di kamarnya. Wajah Dev selalu terbayang dalam benaknya. Bagaimana hubungan yang sudah lama terjalin itu harus pupus begitu saja. Dev? Dia pasti akan sangat membenci Haji Hamid. Tapi itu adalah resiko dari keputusannya.
Dev, pria yang sedang ada dalam pikirannya ternyata sedang merindukannya. Panggilan video, namun diabaikan oleh Haji Hamid. Pikirannya menolak meskipun hati kecilnya benar-benar merindukan sosok itu.
Setelah panggilan Dev berakhir, Haji Hamid mengirimi Dev sebuah pesan. Isinya tentang keputusannya. Dev hanya membalas pesannya tanpa membalasnya. Haji Hamid tahu, Dev pasti marah dan sangat kecewa. Namun Haji Hamid mencoba untuk menerima semua keputusan Dev.
Saat Haji Hamid tengah bersedih di dalam kamarnya, tak lama Mia masuk dan mata yang sembab.
"Kau kenapa?" tanya Haji Hamid.
"Dev menuduh Mia dan ibu mempengaruhi Pak Haji. Dev bilang mau ke sini untuk membuat perhitungan dengan Mia. Mia harus bagaimana Pak Haji?" ucap Mia dengan terisak.
Mia mengangguk. Haji Hamid segera memeluk Mia. "Maafkan aku, Mia. Kau tenang saja ya! Aku janji Dev tidak akan melakukan apapun padamu dan Bu Ningsih." Haji Hamid merasa sangat kecewa pada Dev.
Haji Hamid tak menyangka kalau Dev akan setega itu melibatkan Mia atas keputusannya.
"Apakah aku salah, Mia?" tanya Haji Hamid setelah melepaskan pelukannya.
Mia menggeleng. "Pak Haji sudah melakukan keputusan yang sangat tepat." Mia mencoba memberi tanggapan pada Haji Hamid.
"Lalu kenapa semuanya jadi begini? Apakah ini hukuman untukku?" tanya Haji hamid.
"Pak Haji, setiap kita melakukan kebaikan pasti akan ada rintangannya. Dan Alloh tidak akan memberikan cobaan di atas kemampuan umat-Nya. Mia yakin Pak Haji bisa menghadapi semua ini. Mia yakin," ucap mia meyakinkan Haji Hamid.
"Apa kau yakin aku bisa?" tanya Haji Hamid.
__ADS_1
"Bisa Pak Haji, Mia yakin." jawab Mia.
"Mia dengarkan aku! Kuliah dengan sungguh-sungguh. Dan setelah kau lulus, aku akan tenang meninggalkanmu sendirian." Haji Hamid merasa kini Mia harus belajar benar-benar mandiri.
"Apa maksud Pak haji?" tanya Mia sedih.
"Kau sudah mengerti maksudku, Mia. Maafkan aku. Aku hanya ingin membuatmu bebas Mia. Status janda akan membawamu bertemu dengan pria yang benar-benar bisa mencintaimu setulus mungkin," ucap Haji Hamid.
Mia tak bisa menahan air matanya dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Pak Haji jahat sama Mia. Pak Haji jahat," ucap Mia dalam tangisnya.
Haji Hamid tak meresponnya. Ia hanya duduk di sofa kamarnya. Hatinya sakit saat melihat Mia yang biasanya selalu ceria, kini menangis. Dan yang lebih menyakitkan, tangis itu karena ulahnya.
"Mia, kau boleh membenciku. Tapi kau harus tahu, selama aku bersamamu Dev akan mengincarmu. Dev akan selalu berpikir kalau kau adalah penyebab keputusanku," ucap Haji Hamid.
"Itu hanya sebuah alasan basi Pak Haji. Mia tidak takut sama Dev. Mia tidak peduli akan semarah apa Dev pada Mia. Asal Pak Haji jangan ninggalin Mia," ucap Mia.
Haji Hamid menggeleng. "Maaf Mia. Aku harus membebaskanmu dari ancaman Dev. Aku tak bisa membuatmu menanggung semua beban ini. Kau sudah cukup menderita dengan semua yang terjadi dalam hidupmu. Kau berhak bahagia." Haji Hamid meyakinkan Mia.
"Pak Haji salah. Mia akan lebih menderita kalau Pak Haji ninggalin Mia. Tetaplah di sini. Kita akan menghadapi semuanya sama-sama." Mia memohon.
"Mia, aku merasa kau adalah anakku. Aku ingin kau bahagia. Aku sudah cukup membuatmu menderita. Sudah waktunya kamu harus bahagia dengan hidup yang bebas, Mia." Haji Hamid sudah tak sanggup menatap gadis yang terpaut usia 30 tahun itu.
"Pak Haji, Mia mohon." Mia masih terus memohon agar Haji Hamid mengubah keputusannya.
Haji Hamid tak menjawabnya. Ia lebih memilih untuk mendekati Mia dan mendekapnya. Kasih sayang itu sudah ada, tapi bukan cinta. Tidak seperti suami pasa istri, melainkan dari kakak pada adik. Atau mungkin dari ayah pada anak.
Maafkan aku Mia. Aku ingin yang terbaik untukmu. Aku tidak mungkin membiarkanmu selalu dalam hidupku yang penuh liku. Ada banyak yang harus aku perbaiki, sedangkan usiaku tak muda lagi. Kau berhak bahagia Mia. Aku yakin kau akan mendapatkan suami yang benar-benar mencintaimu, dan bisa memperlakukanmu selayaknya seorang suami pada istrinya. Dan orang itu bukan aku. Maaf Mia, maafkan aku.
###############
like dan votenya boleh kakak..
__ADS_1
Terima kasih...