
"Kalin, Kalin," pangil Mia sambil mengetuk kaca mobil.
"Mia," panggil Kalin dari belakang tubuhnya.
Mia terperanjat dan hampir saja menjerit saat Kalin memanggil namanya. Untung saja Mia menutup mulutnya hingga ia tak berteriak. "Kalin, kau mengagetkanku saja. Ayo cepat masuk!" ucap Mia tergesa-gesa.
"I-iya ayo Mia," ucap Kalin segera membuka mobilnya yang terkunci.
Mia terlihat sangat tegang. Napasnya tidak teratur, wajahnya agak pucat dan berkeringat. Kalin memberikan Mia sebotol air mineral. Dengan tangan bergetar Mia mengambil botol itu dan meminum beberapa teguk. Mia mengatur napasnya yang terengah-engah. Perlahan, napasnya semakin membaik dan normal kembali.
"Mia, kau kenapa? Apakah kau disakiti?" tanya Kalin pura-pura tidak tahu.
Mia menggeleng.
"Apa kau merasa terancam?" tanya Kalin.
Mia juga masih menggeleng.
"Kamu dari mana Kalin? Kamu tidak tahu kan bagaimana aku berhadapan dengan Nyonya Nathalie? Katanya kamu janji akan membantuku kalau ada apa-apa," ucap Mia.
"Aku dari toilet tadi. Maafkan aku Mia. Tapi kamu baik-baik saja kan? Nyonya Nathalie melakukan apa padamu?" tanya Kalin.
Masih dalam kepura-puraan. Bukan bertujuan buruk, justru Kalin ingin agar Mia merasa ia benar-benar bisa dan biasa menghadapi Nyonya Nathalie sendiri. Meskipun tadi Kalin mengamati mereka sejak awal hingga akhir. Tapi suatu saat, ada kalanya Mia benar-benar sendiri. Tidak mungkin Kalin terus-terusan ada di samping Mia.
"Tidak, Mia yang menggertaknya!" Mia menjawab dengan sangat percaya diri.
"Benarkah?" tanya Kalin.
Sikap Mia yang begitu percaya diri membuat Kalin sangat senang. Banyak sekali perubahan pada wanita lemah itu. Wanita polos itu kini sudah menjadi wanita berani. Ya, paling tidak ia berani menyembunyikan ketakutannya. Dan itu kemajuan pesat untuk Mia.
"Ya, tapi Mia tidak tahu ini akan berhasil atau tidak." Mia menunduk, tiba-tiba saja ia merasa tidak percaya diri.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kalin.
Mia menceritakan apa yang memang Kalin lihat. Tapi Mia menyembunyikan satu hal dari Kalin. Mia tidak bilang kalau Nyonya Nathalie yang membohongi Danu dengan menyebutkan Tuan Ferdinan sedang di rumah sakit.
"Tapi Mia takut Nyonya Nathalie sakit karena sikap Mia yang berontak seperti ini. Nyonya Nathalie pasti shock karena Mia berubah jadi tidak sopan padanya," lanjut Mia.
Kalin mencari tahu apa penyebab Mia merahasiakan itu darinya. Akhirnya Kalin menyimpulkan kalau Mia tidak ingin mertuanya terlihat salah di mata orang lain. Bagaimanapun Mia masih menyayangi Nyonya Nathalie. Hal ini terbukti dari kekhawatiran Mia atas kesehatan Nyonya Nathalie.
"Doakan saja agar Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan baik-baik saja," ucap Kalin.
Mia mengangguk.
Setelah obrolan itu, Mia tampak lebih pendiam. Kalin tidak membawanya pulang ke apartemen miliknya. Ia membawa Mia ke pemakaman.
"Mia, turun!" ucap Kalin.
"Kalin, apa-apaan ini?" tanya Mia terkejut saat menyadari kalau ia berada di sebuah pemakaman.
"Turun dan cari makam suamimu di sini!" ucap Kalin.
"Tidak ada," ucap Mia menggeleng.
Sebelumnya, Mia sudah ke Pemakaman ini dan tidak ada nama suaminya di sana.
"Cari dan pastikan kalau makam suamimu tidak ada di sana. Kalau perlu, kau rekam percakapanmu dengan penunggu makam itu!" pinta Kalin sambil menunjuk seseorang.
"Apakah itu harus?" tanya Mia.
"Harus. Kau harus benar-benar meyakinkan dirimu kalau di sana memang tidak ada makam suamimu," ucap Kalin.
Meskipun Mia tidak mengerti maksud Kalin, tapi ia mengikuti apa yang Kalin pinta. Yang Mia yakini kalau Kalin melakukan semua ini untuknya. Mia turun dan memastikan tentang makam suaminya. Dan seperti keyakinannya, kalau di sana tidak ada makam suaminya. Mia terlihat berjalan gontai saat memasuki mobil Kalin.
"Kenapa kau sedih begitu?" tanya Kalin.
"Mas Danu tidak ada di sana," ucap Mia.
"Ya sudah, kita cari di pemakaman yang lain ya!" ucap Kalin menenangkan Mia.
Mia mengangguk dan mengusap sudut matanya.
"Jangan menangis begitu. Kau terlihat lemah sekali. Tetaplah berjuang. Berusaha selagi masih ada kesempatan. Kita akan cari sampai menukan suamimu ya!" ucap Kalin.
Mia menatap Kalin dengan senyum yang lebar.
"Terima kasih banyak Kalin. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berterima kasih padamu," ucap Mia.
Kalin menatap Mia dengan lekat.
"Kau yakin ingin berterima kasih padaku?" tanya Kalin.
"Ya," jawab Mia.
"Berubahlan menjadi wanita yang kuat dan tangguh. Meskipun berapa banyak cobaan hidup datang menghampirimu, kamu harus buktikan kalau kamu bisa melewati semua itu. Itu cukup bagiku," ucap Kalin.
"Kaliiiiiin," ucap Mia terharu.
Kalin kembali memacu mobilnya untuk menuju pemakaman yang lain. Hasilnya masih tetap sama. Bahkan Kalin membawa Mia ke semua lokasi pemakaman di wilayah Jakarta, tapi hasilnya nihil. Mia sama sekali tidak menemukan makam Danu.
Kalin dan Mia menghabiskan waktu hingga malam. Mia malah terlihat sudah lelah. Entah lelah fisiknya atau mungkin lelah secara psikis karena hasilnya masih sama.
__ADS_1
"Sudah Mia bilang tidak ada, Kalin." Ucapan Mia terdengar menyerah dan kesal.
"Hey, kenapa kau marah?" tanya Kalin.
"Ah, tidak begitu Kalin. Mia tidak marah sama Kalin, kok. Mia hanya merasa sedih saja," ucap Mia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Sedih? Harusnya kamu bahagia Mia," ucap Kalin mengguncang bahu Mia.
Mia membuka tangannya dan menatap Kalin tajam.
"Kalin cukup! Kamu tidak tahu rasanya jadi Mia. Bagaimana bisa Mia bahagia kalau makam suami Mia saja, Mia tidak tahu. Mengertilah Kalin!" ucap Mia.
"Mia sadarlah. Kamu ini wanita cerdas. Kenapa kamu tidak bisa menganalisis semua masalah yang kamu hadapi ini?" tanya Kalin.
"Apa lagi maksudmu Kalin? Mia sama sekali tidak mengerti," ucap Mia.
"Kalau kamu tidak bisa menemukan makam suamimu di setiap pemakaman, maka artinya suamimu masih hidup." Kalin meyakinkan Mia.
Kalin juga tidak begitu yakin dengan ucapannya, namun hatinya berpikir begitu. Entah benar atau tidak, tapi kenyataannya memang tidak ada makam suami Mia itu.
"Kaliiin," ucap Mia.
"Apa?" tanya Kalin.
"Kau benar. Aku yakin mas Danu masih hidup," ucap Mia.
Mia terlihat jauh lebih bersemangat. Kalin tenang saat melihat Mia kembali ceria.
"Sekarang kita pulang ya! Ini sudah malam," ucap Kalin.
Mia mengangguk. Kalin mengantarkan Mia kembali ke apartemennya.
"Makasih ya!" ucap Mia sambil melambaikan tangannya pada Kalin.
Kalin mengangguk dan tersenyum. Suara klakson terdengar sesaat sebelum mobil melaju meninggalkan Mia.
Dev yang sudah menanti Kalin, bukan bertanya kenapa bari pulang. Tapi dia bertanya tentang bagaimana keadaan Mia. Kalin memang selalu melaporkan apa yang ia lakukan pada Dev. Bukan karena Dev posesif, tapi karena Kalin yang tidak ingin membuat Dev khawatir saja.
"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Kalin pada Dev.
"Oleh-oleh?" goda Dev.
"Ini lebih berkualitas dari oleh-oleh. Dan aku yakin kamu pasti suka," ucap Mia.
"Apa sih?" tanya Dev.
"Ini!" ucap Kalin memberikan ponselnya.
"Ponselmu?" tanya Dev.
"Ya," jawab Kalin.
"Untukku?" tanya Dev.
"No," jawab Kalin sambil tertawa.
"Lalu?" tanya Dev.
Kalin menghampiri Dev dan memeluk punggung Dev. Kalin mengambil ponselnya dan mempelihatkan video Mia saat di pesta tadi. Dev nampak memperhatikan video itu. Setelah video selesai, Dev membalikkan badannya dan memeluk Kalin.
"Terima kasih sayang. Berkat kamu, aku tidak mengenali Mia sama sekali. Dia seperti terlahir kembali. Kau sangat hebat. Sekarang kau bantu Mia untuk melaporakan wanita itu ke dalam penjara," ucap Dev.
"Tidak Dev," jawab Kalin.
"Loh, kenapa?" tanya Dev.
"Mia sangat menyayangi Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Tidak mungkin tega jika harus melihat mereka di penjara," jawab Kalin.
"Setelah apa yang wanita itu perbuat, Mia masih menyayangi mereka? Terbuat dari apa hati Mia. Dia terlalu baik," ucap Dev kesal.
"Ya, begitulah Mia." ucap Kalin.
"Lalu untuk apa kau mengambil video ini? Apa untungnya?" tanya Dev.
"Aku mengambilnya tanpa sepengetahuan Mia. Ini hanya untuk jaga-jaga saja. Mereka bukan orang jahat, tapi buktinya Nyonya Nathalie berani bersikap seperti itu pada Mia. Aku khawatir Nyonya Nathalie memanfaatkan kebaikan Mia, jawab Kalin.
"Sayang, aku percaya Mia akan semakin kuat di tanganmu. Aku titip Mia. Dia memang bukan saudaraku, tapi dia wanita baik. Mungkin dia tidak bisa membalas kebaikanmu, tapi dia tidak akan melupakan kebaikanmu." Dev meyakinkan Kalin.
"Tanpa dijelaskan olehmu, aku sudah tahu semua itu. Lagi pula aku tidak pernah berpikir untuk meminta balasan dari Mia. Saat melihat dan mendengar kisah Mia, aku merasa melihat diriku saat itu. Masa lalu yang kelam dan sulit untuk keluar dari rasa takut itu. Sampai akhirnya aku bertemu dengan kamu. Mia pun sama, Mia butuh orang yang harus mengubah dirinya. Dan entah mengapa aku merasa bertanggung jawab," ucap Kalin.
"Syukurlah kalau kau berpikir seperti itu," ucap Dev menggenggam tangan Kalin.
Orang yang sedang dibahas oleh Dev dan Kalin, ternyata sedang memikirkan mereka juga. Mia duduk termenung mengingat semua kebaikan yang sudah dilakukan oleh Kalin. Mia menatap wajahnya dari pantulan cermin. Ia menyibakkan rambutnya yang berantakan.
Tiba-tiba saja ia kembali mengingat ucapan Kalin tentang Danu. Benarkah Danu masih hidup? Besar harapannya jika semua itu memang kenyataan. Tapi jujur saja, ia tak ingin merasa terlalu kecewa saat tahu kalau Danu memang sudah tidak ada.
"Seandainya mas Danu sudah meninggalkan Mia, Mia yakin mas masih bisa melihat Mia. Mia harus bisa seperti yang mas Danu mau. Mia mandiri, tidak polos dan dewasa. Mia bisa mas," gumam Mia.
Mia mengambil tasnya dan mengambil kartu ATM. Ia berpikir jika uangnya akan ia belikan mobil. Mia akan belajar menyetir agar bisa lebih mudah mencari Danu, meskipun Mia juga tidak tahu harus mencari Danu kemana.
Mia merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Meraih ponselnya utnuk menceritakan keinginannya. Namun Mia mengurungkan niatnya saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
__ADS_1
"Besok saja di kantor," gumam Mia.
Mia kembali menyimpan ponselnya di atas nakas dan segera tidur agar besok tidak kesiangan. Meskipun bayang kejadian bersama Nyonya Nathalie tadi belum bisa enyah dari kepalanya, Mia berusaha untuk bisa tidur malam ini.
Keesokan paginya, Kalin mencari Mia di ruangannya. Tidak seperti biasa, pagi ini Mia belum datang. Kalin tidak menjemput Mia karena kemarin Mia bilang tidak perlu dijemput.
Kalin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul delapan kurang sepuluh menit tapi Mia belum juga sampai. Kalin menghubungi Mia, namun dering ponselnya sudah terdengar oleh Kalin.
"Mia?" tanya Kalin.
"Kalin, maaf ya Mia telat." Mia terengah-engah.
"Kamu kenapa?" tanya Kalin.
"Tadi mobilnya mogok, jadi Mia turun di depan dan lari. Maaf ya!" ucap Mia.
"Kamu naik grab?" tanya Kalin.
"Nebeng sama tetangga," jawab Mia.
"Yang kemarin?" tanya Kalin.
"Iya, yang kemarin. Kalin lihat orangnya kan?" tanya Mia.
"Dia tidak punya istri?" selidik Kalin.
"Tidak, dia masih bujangan. Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Kalin.
"Tentu, dia orang baik. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya," ucap Mia.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Kalin.
"Cinta?" tanya Mia.
"Ya, apa kamu mencintainya Mia?" tanya Kalin.
"Pertama kali Mia merasakan itu saat bersama Mas Danu. Dan rasa itu juga masih ada meskipun mas Danu sudah tidak ada lagi. Tapi saat dengan tetengga Mia itu, Mia tidak merasakan hal itu," ucap Mia.
"Jauhk dia," pinta Kalin.
"Kenapa? Dia kan orang baik," ucap Mia.
"Jangan pernah memberikan harapan palsu pada pria, Mia. Itu akan menyulitkanmu nanti," ucap Kalin.
"Harapan apa? Kami hanya berteman," ucap Mia.
"Tidak ada pertemanan yang tulus antara pria dan wanita dewasa. Kamu harus menjaga nama baikmu sendiri Mia. Orang lain tidak akan bisa menerima kenyataan pertemanan kalian. Kamu tidak ingin mas Danu kecewa kan?" bujuk Kalin.
Kalin khawatir Mia yang polos itu akan dimanfaatkan oleh orang lain. Jika saja tetangganya itu baik, tapi anggapan orang lain belum tentu baik. Terutama Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan.
"Berarti Mia harus belajar bawa mobil ya? Biar tidak merepotkan orang lain dan menimbulkan fitnah," ucap Mia.
"Ya, menurutku itu lebih baik." ucap Mia.
Mia meminta Kalin mencarikan kursus menyetir, namun Kalin menawarkan diri untuk mengajarkan Mia jika memang ingin belajar. Bagi Kalin, uang Mia harus disimpan dengan baik, karena masih banyak Kebutuhanny ke depan.
"Kapan kita mulai?" tanya Mia.
"Besok ya! Kita latihan setiap malam," jawab Kalin.
"Kamu gak cape?" tanya Mia.
"Kamu juga cape kan? Tapi kamu tetap semangat. Aku juga ingin bersemangat sepertimu," ucap Kalin.
"Ah Kalin. Baru pertama kali ada yang ingin seperti Mia. Padahal di kampung, jangankan ingin seperti Mia, yang ada Mia selalu saja dihina. Kalin, bertemu denganmu bagaikan bertemu dengan malaikat. Mia merasa sangat beruntung," ucap Mia memeluk Kalin.
"Jangan selalu berpikir kalau kamu adalah wanita paling terpuruk. Kamu itu lebih beruntung dibanding dengan banyak sekali wanita di luar sana. Kamu harus semangat ya!" ucap Kalin.
Mia mengangguk dan masuk ke dalam ruangannya. Mulai membuka laptop dan berkas yang harus ia kerjakan. Baru sepuluh menit, tiba-tiba ada email masuk ke dalam ponselnya. Mia mengambil ponselnya dan melihat email masuk.
"Tuan Ferdinan?" gumam Mia.
Mia segera membuka email itu.
'Mia, aku tidak tahu apa yang membuatmu begitu berubah. Kalaupun marah, seharusnya aku yang marah padamu. Aku ingin bertemu denganmu. Aku menunggumu nanti malam jam delapan di cafe X. Terima kasih.'
Sebuah email yang sudah Mia baca membuatnya meneteskan air mata.
"Papi," gumam Mia.
###################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1